
Walaupun tamparan ini tidak menggunakantenaga, tapi juga tidak lemah sama sekali. Darah segar mengalir keluar dari sudut bibir Yara.
Wahh!
Seluruh aula langsung heboh.
“Sampah, Wahyu, kenapa kamu begitu?”
“Wahyu, jangan ngak tahu diri. Kamu akan menyinggung 4 keluarga besar.”
“Dasar miskin, lepaskan tanganmu. Dia itu benar-benar suka sama Tuan Muda keluarga Lazuardi.”
Wanita tercantik di kelas desain 86 ditampar oleh Wahyu.
Yang membuat orang marah adalah ketika Wahyu menamparnya, Yara tidak marah dan melihat Wahyu dengan tatapan penuh cinta.
Hal ini membuat orang tidak bisa menerimanya.
Monita juga kaget, “Wahyu.”
Wahyu menoleh ke belakang, “Kak, jangan bicara.”
“Aku…oke!”
Di saat ini, tiba-tiba muncul sebuah perasaan aneh dari hati Monita, pria yang berdiri di depannya ini bukan lagi anak kecil.
Juga bukan pria tampan yang terlihat ceria. Dia seperti seekor serigala, sombong, dingin, berdarah dingin, kejam dan penuh dengan aura mendominasi.
Setelah menamparnya, Wahyu seperti tidak punya rasa kasihan, dia bertanya lagi,“Katakan dengan lantang, apa kamu menyukainya?”
“Aku…”
“Aku tanya untuk terakhir kali, kalau kamu mencintainya, aku akan pergi, mulai sekarang kita tidak saling kenal. Kalau kamu tidak mencintainya, katakan dengan lantang.
“Aku sudah bilang, aku akan mengubah nasibmu. Ucapan itu berlaku selamanya. Sekarang katakan dengan lantang, apa kamu mencintainya?”
Yara merasa ragu untuk menjawab pertanyaan terakhir. Wahyu melepaskan Yara dan berbalik pergi. Dia bisa menyelamatkan seseorang, tapi tidak akan menyelamatkan orang yang sudah kehilangan jati dirinya.
Jika orang itu tidak bisa sadar dari dalam hatinya, kamu hanya bisa menyelamatkannya sesaat dan tidak bisa selamanya. Jadi Wahyu sangat tegas.
Detik selanjutnya, Yara merasa hatinya seperti dicongkel, dia seperti kehilangan sesuatu yang penting di dalam hatinya. Hati yang tertekan itu akhirnya meledak, “Jangan pergi, aku tidak mencintainya…”
Teriakan yang begitu tajam terdengar di seluruh ruangan.
Setelah berteriak dengan lantang, seluruh badannya seperti terkuras sampai kosong. Namun, hatinya tiba-tiba terasa ringan, seperti sebuah batu besar yang telah diletakkan, semua tekanan batin menghilang.
Saat ini, dia sudah menyelesaikan perubahan dalam hidupnya, transformasi yang indah karena berhasil keluar dari bayangan 4 keluarga besar.
“Bagus! Ini baru Yara yang ingin aku lihat.”
Selanjutnya, gerakan Wahyu sekali lagi membuat aula menjadi sunyi.
Wahyu langsung berjongkok dan memeluk Yara dengan erat. Dia menggunakan bibirnya yang kasar untuk mencium bibir Yara yang lembut…
Waktu seperti membeku dan berhenti di saat itu.
Ada belasan wanita cantik yang bertepuk tangan, mereka sudah ditaklukkan oleh kekasaran dan keberanian Wahyu.
Apa yang dinamakan pria, inilah yang disebut pria sejati!
Selama hidupnya selalu lancar, apa yang diinginkan selalu didapatkan, bersikap sombong dan angkuh karena kekuasaan keluarganya, emang kenapa? Hanya dengan kuat dari dalam hati yang bisa disebut benar-benar hebat!
Apa yang dinamakan cinta?
Inilah yang dinamakan cinta sejati. Sampai laut kering dan batu membusuk, walaupun berhadapan dengan kematian, tapi bisa menghadapinya dengan senyuman dan keberanian, inilah cinta!
“Wahyu, aku mendukungmu.”
“Wahyu, aku mencintaimu.”
“Wahyu, rebut kembali barang milikmu. Yara, kamu harus tahu, siapa sebenarnya yang kamu cintai!”
Kehidupan ini sangat pendek, penuh dengan kebahagiaan dan kesedihan. Nyawa selalu mengalir setiap saat, jadi jangan meninggalkan penyesalan seumur hidup.
Pada akhirnya, setelah mereka berdua berpisah, tatapan Yara menjadi sangat fokus, tegas dan tidak bergantung lagi.
Dalam waktu singkat, dia melakukan transformasi yang hebat menjadi seorang wanita kuat. Dia menoleh ke belakang dengan percaya diri, dan bahkan tersenyum dengan tenang, “Andre, aku ingkar janji.
“Aku tidak mencintaimu, jadi pernikahan kita dibatalkan. Kamu boleh pergi.”
Sialan, apa yang terjadi?
Andre masih terlena dalam pemikirannya sendiri, tidak disangka kondisinya berubah begitu cepat. Ketika dia sadar kembali, dia sudah mendengar Yara berkata, “Aku ingkar janji, kamu pergi saja!”
Wanita ini menolak dirinya? Dan pelakunya adalah seorang bocah dengan pakaian pinggir jalan?
Bocah ini berani mencium tunangannya di depannya langsung?
Andre langsung marah besar. Namun, orang ini termasuk lebih mapan. Dia tidak begitu impulsif seperti Faisal, dia menunjuk Wahyu dan bertanya dengan dingin, “Kamu merusak hal baikku?”
Wahyu tersenyum penuh arti, “Kamu terlalu banyak berpikir, bukan aku yang merusak hal baikmu, tapi kamu yang merusak hal baikku. Jadi maaf, kamu sudah mengganggu urusanku. Kamu harus membayarnya karena itu.”
Puft!
Yara yang berdiri di samping Wahyu hampir saja mencubit paha Wahyu karena kesal. Pria ini masih berpikir untuk menggoda dirinya.
Ucapannya langsung membuat Andre marah besar. Seorang tuan muda dari salah satu 4 keluarga besar, identitasnya terpampang jelas di situ, tidak mungkin dia tidak marah dan menunjukkan kehebatannya.
“Pelayan, bunuh bocah ini.”
Membunuh satu orang, seperti menginjak seekor semut bagi 4 keluarga besar.
Setelah Andre bersuara, 2 orang pelayan langsung berlari ke arah Wahyu.
“Tenang saja, hotel ini milikku. Aku tidak akan membiarkan darah kotor kalian mengotori hotelku.”
Wahyu mengangkat kaki dan menendang kereta kue di depannya. Kedua wanita yang masih memegang bunga segar langsung kabur dari sana.