Aku Dicintai 7 Kakak Cantik

Aku Dicintai 7 Kakak Cantik
Rahasia Wahyu yang Kedua


“Untung saja tidak membuat malu.”


Setelah memberikan hadiah serangkaian kembang api terakhir, Wahyu menggumamkan sesuatu kemudian menutup ruangan siaran langsung, dia menelepon Monita. “Halo, Kak, Kakak sedang sibuk tidak, bisa tidak mengirimkan 2 setel pakaian untukku, barang kaki lima saja.”


Pakaian Wahyu sedang dicuci oleh Monita, saat ini dia mengenakan baju tidur Monita, selain itu ukurannya tidak pas, tidak ada bedanya dengan memakai jubah mandi.


Bagaimana dia bisa keluar?


 Monita yang sudah dalam perjalanan pulang tertawa: “Jangan khawatir, aku hampir sampai rumah.”


10 menit kemudian, Maserati merah berhenti di depan rumah Monita, Monita keluar dari dalam mobil, tangannya membawa 2 kantung plastik berisi 2 setel pakaian.


Semuanya adalah pakaian mahal, model terbaru dari Monita’s Clothes Group, setelan jas pria.


Menurut Monita Wahyu pasti akan menyukainya, namun saat Wahyu melihatnya, dia terlihat tidak menyukainya.


Sedari kecil Wahyu selalu membeli baju yang sederhana, baju atasan tidak pernah lebih dari 100 ribu rupiah.


Dia merasa baju yang seperti itu lebih nyaman, santai dan bebas untuk dikenakan olehnya.


Melihat setelan jas yang mahal itu, Wahyu langsung sakit kepala, awalnya dia tidak berencana memakainya, namun Monita memakaikannya ke tubuh Wahyu secara paksa: “Wahyu, kamu harus berpakaian sedikit rapi, kita pergi menemui Sabrina, bagaimana bisa kamu memakai pakaian jelek?”


Dengan begitu Wahyu didandani seperti seorang pengantin pria, mereka berdua mengendarai Maserati menuju ke Rumah Sakit Siloam Sabrina.


“Tunggu sebentar.”


Setelah turun dari mobil, Monita menahan Wahyu. “Wahyu, bagaimana kalau kita memberikan sebuah kejutan kepada kakak keempatmu?”


“Kejutan apa?”


“Begini saja, kamu berpura-pura menjadi seorang pasien yang pergi berobat, kemudian berikan dia sebuah kejutan.”


Wahyu menyeringai. “Tidak usah, aku kuat seperti seekor sapi, semua orang pasti bisa melihatnya, apalagi kakak keempatku yang memiliki mata yang tajam seperti itu.”


“Aku bukan menyuruhmu untuk berpura-pura menjadi pasien seperti itu.”


“Kalau begitu kakak mau aku berpura-pura menjadi pasien yang seperti apa?”


Monita membisikkan sesuatu di telinga Wahyu.


Wajah Wahyu sangat hitam bagaikan pantat panci. “Kakak keempat adalah seorang wanita terhormat, kakak yakin kakak keempat tidak akan marah jika aku melakukannya?”


Monita menggeleng dan tertawa. “Tenang saja, jika dia melihatmu, dia pasti akan sangat gembira, mana mungkin marah.”


“Baiklah! Jika terjadi sesuatu kakak yang tanggung jawab.”


Wahyu tiba-tiba menutupi celananya dengan tangannya.“ Akhh, sakit, sakit sekali.”


Sudah dimulai, Monita segera memapah Wahyu masuk ke dalam rumah sakit, Wahyu berjalan sambil mengerang dengan sangat keras! Suara erangannya mengagetkan beberapa orang suster, mereka segera mengelilinginya. “Ada apa, apa yang terjadi padanya?”


Monita berkata dengan cemas. “Adikku sakit, segera panggilkan dokter, sakitnya sangat serius, minta Direktur kalian untuk menanganinya secara langsung.


“Baik baik, kalian tunggu sebentar, kami segera pergi memanggil Direktur kemari.”


Suster-suster yang melihat penampilan Monita yang elegan serta ekspresi Wahyu yang sangat kesakitan tidak berani berlama-lama, 1 orang mencari orang untuk memanggil Sabrina, sisanya membawa Wahyu ke atas brankar lalu mendorongnya ke dalam ruang UGD.


Kemudian Monita mencari alasan untuk pergi dari sana. Tidak lama kemudian, seorang wanita cantik yang terlihat sopan dan elegan masuk ke dalam ruang UGD.


Seperti yang Wahyu katakan, Sabrina adalah seorang wanita terhormat, jika di jaman kuno dulu, dia mungkin adalah seorang nona bangsawan dari keluarga kaya yang tidak boleh sembarangan keluar dan bertemu dengan orang lain.


Akan tetapi sikapnya dalam menghadapi pasien selalu sangat serius, saat mendengar ada kasus darurat, dia segera datang dengan tergesa-gesa ke dalam UGD lalu segera bertanya, “Bagaimana keadaannya?”


Suster berkata terbata-bata. “Sepertinya terjadi masalah dengan itunya.”


“Itunya?”


“Itunya.” Suster menggunakan jarinya menunjuk ke salah satu bagian tubuh Wahyu.”


“Baiklah, kalian keluar saja, aku yang akan menanganinya.”


Di mata seorang dokter, pasien tidak membedakan pria ataupun wanita, Sabrina menyuruh 2 orang suster untuk keluar, kemudian dia mendekat ke ranjang dan bertanya kepada Wahyu. “Sudah berapa lama?”


  Wahyu berkata: “18 tahun.”


“Belum pernah, dulu tidak sakit, tapi hari ini tiba-tiba sakit.”


“Lepaskan celanamu.”


“itu… sepertinya kurang baik.”


Wajah Sabrina langsung muram. “Jangan banyak bicara, aku menyuruhmu lepaskan maka lepaskan saja.”


“Baiklah!”


Wahyu membuka sabuk celananya kemudian menurunkan celananya…


Awalnya Sabrina terkejut, kemudian wajahnya berubah, kemudian lagi dia mundur beberapa langkah, mata besarnya yang indah berputar-putar lalu bertanya, “Kamu bilang sakit ini kamu derita 18 tahun yang lalu?”


Wahyu berkata: “Iya!”


Tiba-tiba Sabrina tersenyum simpul, akan tetapi bibirnya malah menghela napas.“Kamu sudah sedikit terlambat, kondisimu sudah memburuk, hanya bisa dioperasi saja.


Kemari, bawa pisau operasiku kemari.”


“Baik, Direktur.”


Dua suster yang ada di depan pintu masuk ke dalam sambil mendorong troli kecil, di dalamnya penuh dengan peralatan medis. 


Sabrina mengambil satu buah pisau operasi dari dalam troli kemudian berjalan cepat ke arah Wahyu.


“Kak, maafkan aku.”


Wahyu bahkan tidak menaikkan celananya, dia langsung melompat dari atas ranjang.


  Sabrina terus mengejarnya.“Jangan pergi, sakitmu sangat parah, jika tidak dioperasi maka kamu tidak akan tertolong lagi.”


“Kak, Kakakku tersayang, aku tidak berani lagi.”


“Diam, aku bukan kakakmu tersayang.”


Mereka berdua berjalan memutari sebuah ranjang, akhirnya Wahyu berdiri diam dan tidak bergerak sama sekali.


“Kak…”


“Wahyu…”


Sabrina membuang pisau operasinya lalu menangis dengan sangat keras!


Bagaimana dia bisa mengenali Wahyu?


Di tubuh Wahyu ada sebuah rahasia.


Waktu kecil Wahyu mencuri bakpau orang lain, kemudian dia digigit oleh anjing yang dilepaskan oleh pemiliknya itu, dia mengigitnya tepat di atas “barang”milik Wahyu. 


“Barang” milik Wahyu tidak sama dengan orang lain, di atasnya ada bekas gigitan anjing, selain itu dengan berlalunya waktu, bekas gigitan anjing itu ternyata semakin membengkak dan mengelilingi “nya”.


Tanda ini tidak ada dan tidak akan pernah dimiliki oleh orang lain, sebagai seorang dokter, Sabrina langsung dapat mengetahuinya setelah melihatnya sekilas, karena itu dia yakin kalau pria yang ada di hadapannya ini adalah adiknya yang hilang 18 tahun yang lalu. 


“Kak, ini bukan ideku, ini adalah ide Kakak pertama.”


Setelah mereka menangis sambil berpelukan, Wahyu segera menjelaskannya.


Sabrina menendang bokong Wahyu. “Memangnya aku tidak tahu kakak pertama orang yang seperti apa, kamu malah berani memfitnah kakak pertama, hati-hati aku menonjokmu.” 


Yang benar saja! 


Wahyu benar-benar merasa diperlakukan dengan tidak adil, untung saja ada kakak pertama yang akan menjadi saksi baginya, dia segera berteriak. “Kak, kamu kemari dan jelaskan kepada Kakak keempat kalau Kakaklah yang berkata ingin memberikan sebuah kejutan kepada Kakak keempat saat kita datang kemari, kemudian…”


“Wahyu, apa yang kamu katakan?”Monita memasang wajah tidak berdosa“Kamu bilang mau bertemu dengan Lakak keempat, jadi aku menemanimu datang kemari, lalu aku pergi membelikan air mineral untukmu, sebenarnya apa yang terjadi?”


Wahyu akhirnya mendapatkan sebuah pelajaran kalau jangan melihat orang dari penampilan luarnya saja, harus tetap waspada, tidak ada yang tahu apa yang dipikirkan oleh lain.


Dirinya dikerjai habis-habisan oleh Kakak pertama.