Aku Dicintai 7 Kakak Cantik

Aku Dicintai 7 Kakak Cantik
Membunuh Orang dengan Mudahnya


“Monita? Siapa dia?”


  Melihat Monita dan Wahyu yang terlihat mesra, Jhonny merasa sangat cemburu.


  Monita menjelaskan. “Kamu jangan salah paham, Wahyu adalah…”


  “Aku adalah suaminya, namaku Wahyu.”


  Perkataan Monita dipotong oleh Wahyu, dia menatap Jhonny sambil tersenyum mengejek. “Suami?” Jhonny tersenyum sinis. “Bocah, kamu siapa, kamu tidak pantas untuk Monita, lebih baik kamu tahu diri dan enyah dari sini.”


  “Oke, terus terang, aku suka orang yang terus terang, tapi orang yang mengatakan hal ini harus mampu menanggung akibat perkataannya. Kamu maju selangkah.” Wahyu menggunakan jarinya menunjuk Jhonny.


  “Bocah, untuk apa aku harus maju selangkah?”


  “Tidak apa-apa, aku mau menghabiskan kamu.”


  Wahyu menampar wajah Jhonny, kaca mata Jhonny langsung terlempar jauh, tubuhnya miring dan terpental cukup jauh, sudut bibirnya mengeluarkan darah.


  Hal ini bukan karena Wahyu berbaik hati.


  Hal ini dikarenakan Jhonny tidak mempunyai ilmu bela diri, jika dia bisa bela diri, dia akan lebih sial lagi, bisa-bisa giginya rontok semua.


  Monita terbelalak menatap Wahyu.


  Anak ini terlihat tampan dan tidak berbahaya, tetapi ternyata dia begitu tegas dan brutal.


  Akan tetapi hal ini tidak membuat Monita antisipasi, malah semakin membuat Monita menyayangi Wahyu. “Beberapa tahun belakangan ini adikku pasti telah banyak menderita di luar sana, karena itulah dia menjadi protektif kepadaku dan ingin melindungiku.”


  Monita menoleh dan berkata kepada Jhonny. “Jhonny, kamu pergi saja, kita tidak mungkin bersama, tidak sekarang, tidak juga nanti.”


  “Tidak mungkin? Monita, aku sudah bersusah payah mengejarmu selama 3 tahun ini, tapi kamu malah begitu kejam, apa kamu kira dengan bersama dengan pria perlente ini kamu bisa lepas dariku? jangan harap, tunggu pembalasan dariku.”


  Wajah Jhonny terlihat murka, dia memegang pipinya sambil menatap Wahyu dengan sangat tajam, kemudian dia berbalik pergi tanpa mengambil kacamatanya.


  Setelah Jhonny pergi, barulah Wahyu bertanya,“Kak, siapa orang itu?”


  Monita berkata,“Seorang anak orang kaya, karena ayahnya adalah pemasok bahan baku untuk perusahaan kami, jadi dia sering datang untuk menggangguku, karena memandang wajah ayahnya, aku tidak pernah mengatakan hal yang terlalu kasar kepadanya, tapi aku tidak menyangka kalau dia akan semakin keterlaluan. Wahyu, tidak usah membicarakannya, ayo kita pergi makan.”


  10 menit kemudian, kakak beradik itu masuk ke dalam sebuah restoran sambil bergandengan tangan, Monita memesan beberapa macam menu masakan: ikan gurami asam manis, ayam goreng, sapi lada hitam, udang goreng tepung…


  Wahyu hampir meneteskan air liurnya saat melihat makanan-makanan yang ada di atas meja, sudah 18 tahun berlalu, akhirnya dia bisa merasakan rasa yang seperti ini lagi, dia benar-benar sangat bahagia. “Kak, apa waktu kecil kakak membeli makanan di restoran ini?”


  Monita tertawa dan berkata, “Sangat menggoda kan, saat aku baru lulus, aku pernah bekerja sebagai pelayan di sini, kemudian setelah mendirikan perusahaan yang ternyata jaraknya tidak jauh dari sini, aku kadang-kadang datang kemari.”


  Kedua kakak beradik itu baru bertemu kembali setelah berpisah sekian lama, jadi mereka memesan sedikit alkohol, mereka minum sambil mengobrol, membicarakan banyak hal, akhirnya Wahyu bahkan lupa mereka sudah membicarakan apa saja.


  Wahyu sangat bahagia, sepanjang ingatannya, ini adalah pertama kalinya Wahyu mabuk.


  Dia membuat pemilik restoran kaget, Wahyu sudah meminum 18 botol alkohol, selain itu dia berkata dengan mabuk. “Kak, selama 18 tahun ini aku berhutang satu permintaan maaf pada kalian semua, ayo, satu tahun satu botol, aku bersulang untuk kalian.”


  Monita juga sudah mabuk, kedua kakak beradik itu berangkulan keluar dari restoran sambil berjalan terhuyung-huyung, saat keluar mereka dihadang oleh beberapa orang.


  “Bocah, kau sudah berani menyinggung Tuan Muda Jhonny, hari ini kami akan membuat kalian tahu kehebatan kami, hajar dia, bawa pergi yang wanita, habisi yang laki-laki.”


  Ada belasan preman, setelah Jhonny dipukul, dia benar-benar marah, dia mencari beberapa orang untuk membalas Wahyu.


  Monita memelototi mereka dengan mabuk. “Menghabisi dia? Coba saja jika kau berani menyentuh adikku, bahkan jika hanya ujung jarinya saja, aku akan melenyapkan kalian semua, jika tidak namaku bukan Monita.”


  Wanita yang elegan juga bisa mengeluarkan taring.


  Tidak mudah bagi Wahyu untuk kembali, Monita tidak akan membiarkan dia pergi lagi, Monita melemaskan pinggangnya lalu mau maju , tetapi karena sudah minum terlalu banyak, kakinya terhuyung, hampir saja terjatuh jika tidak ditahan oleh lengan kuat yang ada di belakangnya.


  Wahyu tertawa dan berkata, “Kak, ini adalah urusan lelaki, wanita berdiri di belakang saja.” Kemudian Wahyu berjalan terhuyung-huyung ke arah mereka.  


  “Bocah, kamu sendiri yang cari mati.”


  Yang datang adalah sekumpulan preman dan penjahat, yang berdiri di paling depan memegang sebilah pisau lalu langsung berusaha menusukkannya ke perut Wahyu.  


  Orang itu berteriak kesakitan lalu terbaring di atas tanah, tidak bergerak lagi. 


  Belasan preman lain yang melihatnya, langsung terbengong-bengong.


  Meskipun mereka adalah seorang penjahat, jika dihadapkan kepada keadaan genting, siapa yang tidak sayang nyawa. 


  Satu orang yang maju sudah mati, preman-preman itu langsung lari berhamburan melarikan diri sambil berteriak ketakutan. 


  “Lari, mau lari ke mana? Aku habisi kalian semua.” 


  Wahyu bangkit berdiri dengan terhuyung-huyung ingin mengejar mereka, kemudian dia jatuh telungkup tidak bergerak di atas tanah. 


  Wahyu sudah minum terlalu banyak, meskipun tubuhnya tidak sama dengan orang kebanyakan, saat efek alkohol naik ke kepalanya, dia tetap merasa sangat tidak nyaman, dia sudah mabuk. 


  Wahyu dan Monita tidak tahu bagaimana caranya mereka pulang. 


  Mereka berdua bagaikan sedang berjalan dalam tidur, Monita membopong Wahyu kembali ke rumah mereka, setelah itu mereka bahkan tidak mandi, langsung telungkup di atas ranjang dan tertidur.


  Sampai jam 3 subuh, ponsel Monita berdering. 


  Wahyu yang mendengarnya terlebih dahulu, saat dia membuka mata dan melihat di atas dadanya ada sebuah kaki yang putih dan panjang, dia memindahkannya pelan-pelan, setelah itu barulah dia memiliki sedikit kesadaran, Wahyu mendorong Monita yang ada di sampingnya “Kak, Kak, teleponmu.” 


  Monita masih sedang bermimpi, dia mengigau. “Jangan bergerak, aku mau minum segelas dengan Wahyu, ayo ayo ayo, bersulang…” 


  “Kak.” 


  Wahyu mencubit bokong Monita yang menungging dengan pelan, barulah Monita sadar, “Wahyu, Wahyu.” 


  “Kak, aku di sini, teleponmu berdering.”


  “Wahyu, kamu benar-benar ada di sini, aku tidak sedang bermimpi.” Monita kembali dari lamunannya, dia mengangkat teleponnya, dari dalam telepon terdengar suara wanita yang terdengar kesal. “Kak, apa yang kamu lakukan? Kamu tidak memberitahuku kalau sudah terjadi hal yang sebesar ini.” 


  “Laila, memangnya apa yang terjadi padaku?” 


  “Kak, kamu tidak berencana untuk juga menyembunyikan hal itu dariku, kan?”


  “Laila, kapan aku pernah menyembunyikan sesuatu darimu, sebenarnya apa yang sudah terjadi?”


  “Kak, kamu tidak ingat apa yang sudah terjadi kemarin malam?”


  “Kemarin malam aku mabuk, tidak ingat apa pun, apa yang terjadi?”


  “Kak, kamu sekarang ada di mana?”


  “Di rumah.”


  “Tunggu aku di rumah, jangan bergerak sedikit pun.”


  Setengah jam kemudian, sebuah mobil polisi muncul di depan rumah Monita, Laila bahkan tidak mengetuk pintu, dia mengeluarkan kunci lalu masuk ke  rumah, kemudian langsung ke dalam kamar Monita.  


  Begitu masuk ke dalam kamar, Laila langsung tertegun. 


  Apa yang terjadi? Kakak pertamanya yang selalu terlihat elegan dan anggun di matanya itu sedang melakukan apa? 


  Tidak hanya pakaiannya berantakan, di atas ranjang juga ada seorang lelaki? 


  “Kak…”


  Laila mendekat lalu menarik Monita ke dalam kamar mandi.