Aku Dicintai 7 Kakak Cantik

Aku Dicintai 7 Kakak Cantik
Tujuh Kakak Perempuan


Di dalam ruang tamu, ada satu orang tua dan satu anak muda sedang berbincang-bincang.


  Wahyu menceritakan kepada Pak Tua apa yang sudah dialaminya selama 18 tahun ini, akan tetapi dia menyembunyikan cukup banyak kejadian yang tidak bisa diceritakannya.


  Dikarenakan identitasnya yang saat ini cukup istimewa, jika Pak Tua tahu terlalu banyak, mungkin bisa mendatangkan bahaya baginya.


  Pak Tua menghela napas dan berkata,“Nak, ini pasti berat untukmu, untung saja kamu tidak mati di luar sana.”


  Wajah Wahyu terlihat kesal, dia menjawabnya dengan sarkastik. “Pak Tua, kau juga jangan terlalu nafsu, jangan sampai diperas sampai kering oleh wanita itu.”


  “Dasar anak kurang ajar, perhatikan ucapanmu, Tante Lina adalah pengasuh di keluarga kita.”


  “Iya iya iya! Pengasuh, pengasuh, aku mengerti!”


  “Dasar anak kurang ajar, kamu minta dihajar ya.” Pak Tua berdiri dengan emosi dan ingin memukulnya, tapi pada akhirnya tidak jadi melakukannya.


  Wahyu terkekeh. “Tidak tega, bukan? Sudah, aku tidak menggodamu lagi, aku ingin berbicara hal yang serius, bagaimana kabar 7 kakakku saat ini?”


  “Makanya jangan iseng.” Pak Tua menarik tangannya kembali lalu berkata, “Semuanya sudah berhasil, saat ini mereka semua sangat hebat, semuanya berhasil dalam keluarga maupun karir mereka.”


  “Apa maksudmu dengan berhasil dalam keluarga maupun karir? Pak Tua, kau bilang mau menikahkan ketujuh kakakku denganku, kenapa kau malah mengingkarinya?”


  “Nak, kamu jangan panik dulu, maksudku dengan berhasil dalam keluarga dan karir adalah mereka semua mempunyai pekerjaan yang bagus dan juga rumah, tapi mereka belum menikah.”


  “Kakak pertamamu, Monita, mendirikan sebuah perusahaan, sepertinya adalah perusahaan garmen, aku juga tidak terlalu mengerti.”


  “Kakak keduamu, Yania, seharian begitu misterius, sangat jarang pulang, aku juga tidak tahu apa pekerjaannya.”


  “Kakak ketigamu, Salma, menjadi seorang pramugari, sering bepergian ke sana ke mari.”


  “Kakak keempatmu, Sabrina, membuka sebuah rumah sakit, dia benar-benar sangat ahli, rumah sakitnya selalu dipenuhi dengan antrian pasien.”


  “Kakak kelimamu, Laila, bekerja di Mabes Polri, dengar-dengar dia sebagai kepala di sana.”


  “Kakak keenammu, Lana, sama seperti kakak keduamu, setiap hari sangat misterius, aku juga tidak tahu apa pekerjaannya.”


  “Kakak ketujuhmu, Ningrum, dia hebat sekali, dengar-dengar dia adalah seorang aktris papan atas, jika sedang tidak ada pekerjaan, dia akan mengadakan siaran langsung, fans-nya sangat banyak, kadang-kadang datang ke rumah untuk membuat keributan…”


  Wahyu bertanya,“Apakah mereka sering pulang ke rumah? Mereka cantik tidak?”


  Pak Tua tersenyum dan menggodanya. “Cantik, semuanya sangat cantik, tapi selain kakak kedua dan keenammu, yang lainnya kadang-kadang pulang ke rumah, aku juga tidak menyalahkan mereka, mereka sangat sibuk, mereka mempunyai karir mereka sendiri.”


  “Saat ini aku tidak mempunyai keinginan yang lain, hanya berharap kamu memberikan beberapa orang cucu untukku, atau kakak-kakakmu memberikan cucu untukku, aku sudah sangat puas.”


  Mereka berdua terus mengobrol.


  Wahyu sampai di rumah jam setengah 11 siang, lalu mereka mengobrol sampai tengah hari, sebentar lagi waktunya makan siang.


  Wahyu berkata,“Pak Tua, aku tidak makan di rumah, aku mau pergi menemui Kakak pertama dan yang lainnya.”


  “Pergilah. Pak Tua juga tidak menahannya.“18 tahun tidak bertemu, berikan kejutan untuk mereka.”


  “Pak Tua, kau harus menjaga kesehatanmu dengan baik, nanti aku akan memberikan cucu untuk kau gendong.”


  Wahyu berpamitan dengan Pak Tua, lalu menuruni tangga.


  Saat dia sampai di depan pintu, dia kebetulan bertemu dengan Nyonya Tua itu. “Tunggu sebentar” . Wahyu memanggil Nyonya Tua itu: “Namamu Lina, kan?”


  “Iya.”


  Wahyu berkata,“Aku akan memanggilmu Tante Lina dulu, aku orangnya kalau berbicara sangat terus terang, tidak suka menyembunyikan apa pun, aku akan langsung mengatakan apa yang ingin aku katakan.”


  “Aku melihat kalau wajahmu berbunga-bunga, sudut matamu terangkat, terlihat sedikit menggoda, motifmu datang ke tempat ayah angkatku tidak sesederhana itu, kan? Aku tidak peduli kamu siapa dan apa yang dulu pernah kamu lakukan. Mulai saat ini, singkirkan motifmu itu, selama aku masih ada di sini, maka kamu harus bekerja dengan jujur, jangan mempunyai pikiran yang lain, jika tidak jangan salahkan aku jika aku tidak segan-segan padamu.”


  “Tuan Muda, Anda sudah terlalu banyak berpikir, aku bukan orang yang seperti Anda bayangkan.”


  “Aku harap seperti itu, jika tidak kau akan lebih memilih mati.”


  Setelah mengatakan hal itu, Wahyu keluar dari rumah dengan Langkah lebar.


  Di belakangnya, mata Nyonya Tua menyiratkan sedikit kebencian. “Bocah bau kencur, memangnya kau siapa, berani-beraninya mengatur urusanku.”


  Monita’s Clothes Group milik Monita masuk ke dalam 10 perusahaan terbesar di Yogyakarta, sangat terkenal.


  Tidak susah untuk mencari Monita, setengah jam kemudian, Wahyu sudah sampai di depan Monita’s Clothes Group, setelah dia mendaftar di bagian keamanan, dia melangkah ke dalam lalu langsung mengarah ke depan resepsionis yang ada di lobi.


  Di balik meja resepsionis berdiri 3 wanita cantik, salah satunya berkata. “Permisi, Anda mencari siapa?”


  Wahyu tersenyum dan berkata,“Mencari Monita.”


  “Apakah Anda sudah membuat janji?”


  “Sudah.”


  “Kapan membuat janjinya?”


  “18 tahun yang lalu.”


  Saat beberapa wanita yang berada meja resepsionis mendengar hal ini, Wahyu sudah menghilang dari hadapan mereka.


  Setelah masuk ke lift, Wahyu membuka ponselnya, dari dalamnya segera terdengar suara yang seperti mesin “Bos, Monita’s Clothes Group berdiri 6 tahun yang lalu, karena desainnya yang sangat unik dan juga modelnya yang baru dan original, hanya dalam waktu 2 tahun sudah masuk ke dalam 10 perusahaan terbesar yang ada di Yogyakarta.


  Sekarang nilai pasarnya 4 triliun, harga sahamnya 80 ribu rupiah, perusahaannya memiliki gedung sendiri, di bawah lantai 25 semuanya diisi oleh karyawan, 20 lantai diisi oleh bagian desain, penjualan, bagian PR dan yang lainnya, lantai 27 diisi oleh bagian personalia, ruangan Presiden Direktur dan juga beberapa direktur yang lainnya berada di lantai 20…”


  Setelah selesai menelepon, lift sudah sampai di lantai 20, Wahyu keluar dari dalam lift.


  Koridor dibersihkan dengan sangat bersih, di samping setiap ruangan tergantung papan nama, jadi dia tidak usah bersusah payah mencari ruangan Presiden Direktur.


  Tok tok tok!


  Wahyu mengetuk pintu dengan pelan, dari dalamnya terdengar suara yang indah.    “Pintunya tidak dikunci, silahkan masuk.”


  “Suara kakak pertama sangat indah sekali.”


  Suaranya membuat Wahyu teringat kepada peran ratu yang ada di film kolosal, mengalun dengan indahnya.


  Wahyu membuka pintu lalu masuk.


  Ruangannya sangat besar, akan tetapi didekor dengan sangat sederhana, di dekat dinding sebelah utara diletakkan sebuah meja besar, kursi yang ada di belakang meja pindah ke samping, di depan meja berdiri seorang wanita cantik.


  Dia memakai setelan kerja yang putih bersih dan berkelas, rambutnya yang panjang bagaikan air terjun tergerai di punggungnya.


  Karena dihalangi oleh komputer, Wahyu tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, Wahyu juga tidak ingin menggunakan kemampuan tembus pandangnya, meskipun sudah berlalu 18 tahun, meskipun sosoknya saat itu masih sangat lemah dan kecil, namun sosok itu sangat dikenalnya.


  Tapi saat Wahyu melihat sosok yang ada di hadapannya saat ini, sosok kecil dan lemah yang pernah menggunakan tangan kecilnya yang putih untuk menyuapinya roti itu langsung muncul di pikirannya.


  “Itu dia! Kakak pertama!”Wahyu berseru dari dalam hatinya yang terdalam. 


  Wahyu tidak duduk melainkan berjalan perlahan-lahan ke belakang sosok itu.


  Di layar komputer ada sebuah gambar 3 dimensi, sepertinya itu adalah gambar desain pakaian, Monita sedang termenung di depan gambar 3 dimensi itu, sepertinya sedang berpikir tentang sesuatu.


  Wahyu berkata dengan pelan dari belakangnya. “Kamu bisa merancang gambar simulasi manusia ke dalamnya, jadi saat konsumen membuka komputer dan menginput ukuran tubuhnya sendiri, maka akan muncul penampilannya saat memakai pakaian itu, sehingga konsumen akan bisa mencobanya sendiri!”


  “Bagus sekali! Apa yang kamu katakan sangat bagus.”


  Monita menepuk dahinya, jarinya yang lentik segera membuat sketsa beberapa data di halaman komputer, setelah itu dia menghela napas lega.


  Monita sepertinya baru teringat kalau ada orang yang masuk ke ruangan, baru saja dia mau menoleh, tiba-tiba saja dia menyadari kalau pinggangnya dipeluk dengan sangat erat oleh sepasang tangan yang seperti baja.


  “Siapa?”Reaksi pertama Monita adalah mengangkat kaki kanannya kemudian menendang punggung Wahyu dengan menggunakan hak sepatunya yang setinggi 10 cm itu, kemudian menggunakan siku kirinya untuk menyikut dada Wahyu.


  Gerakannya dalam sekali jalan, reaksinya sangat cepat, hak tinggi dan tangan kirinya secara bersamaan mencapai posisi yang dia tuju.


  Sayangnya semua ini sia-sia.