
Setelah berpisah dengan Laila, Wahyu tidak langsung kembali ke rumah Monita, melainkan membeli 2 setel pakaian olahraga di kios kaki lima, setelah itu baru kembali ke rumah.
Setelah Wahyu melepaskan setelan jasnya lalu mengganti bajunya dengan baju olahraga, dia segera merasa jauh lebih nyaman. Dia meminum 2 botol air mineral lalu berbaring di atas sofa sambil membuka ponselnya, dia berencana untuk melihat kakak ketujuhnya lagi Ningrum, ternyata Ningrum sedang syuting, tidak sedang siaran langsung.
Saat dia mematikan tiktok, ada panggilan masuk di ponselnya, terdengar suara yang mengalun indah dari dalamnya. “Halo! Apakah kau adalah Akulah Yang Terhebat?
“Kau siapa?????”
“Halo! Aku adalah Hanna, apakah kita bisa bertemu?”
“Hanna? Kau sangat efisien sekali.”
Wahyu tidak merasa terkejut sama sekali.
Pendaftaran akun tiktok membutuhkan otentikasi nomor ponsel, bagi seorang Host yang memiliki kemampuan, sama sekali tidak sulit jika ingin mencari nomor telepon penggemar. Wahyu tersenyum simpul. “Bisa.”
Hanna berkata. “Baik! Apakah bisa bertemu sekarang?”
Wahyu berkata. “Kapanpun aku bisa, kirimkan saja alamatmu.”
“Kalau begitu sampai jumpa, aku akan segera mengirimkan alamatku kepadamu.”
Setelah memutuskan sambungan telepon, segera terdengar bunyi pesan masuk, itu adalah bunyi permintaan pertemanan di Line, Wahyu menekan layarnya lalu langsung tersambung.
Tidak peduli urusan bisnis atau pun pribadi, dia tidak menyukai Hanna ini, tapi dia sangat ingin tahu untuk apa Hanna mencari dirinya.
Selanjutnya, sebuah pesan pribadi muncul di layar chat, itu adalah alamat Hanna, yang mengejutkan adalah Hanna ternyata juga berada di Yogyakarta, alamatnya: jalan Anggrek no 18, di kafe sahabat.
……
Sementara itu.
Di jalan Anggrek.
Kafe sahabat.
Di depan pintu terparkir sebuah mobil Porsche.
Mobil sport buatan Jerman, dengan 650 tenaga kuda, dapat berakselerasi dari 0 sampai 100 km/jam dalam 3 detik dan dari 0 sampai 200 km/jam dalam 9 detik.
Panjangnya 4.46 meter, lebarnya hampir 2 meter dan tinggi 1.24 meter.
Mobil jenis ini juga menunjukkan simbol barbarisme dan kekuasaan.
Di sampingnya juga ada beberapa Lamborghini.
Di dalam kafe ada seorang pemuda dengan setelan jas biru tua sedang duduk, tangannya memegang cangkir teh dan meminumnya dengan santai sambil kadang-kadang mendongakkan kepalanya.
Jika Wahyu berdiri di sini, dia akan menyadari satu hal, pemuda ini tidak tahu di mananya, tapi dia terlihat mirip dengan Wahyu.
Akan tetapi orang biasa tidak akan menyadarinya, hanya orang yang memiliki kemampuan seperti Wahyu yang bisa menyadarinya.
Di belakang pemuda itu, belasan pemuda sedang berdiri dengan pakaian yang berbeda-beda.
Selain itu ada seorang gadis cantik berpakaian mewah duduk di hadapan pemuda itu.
Seluruh kafe hanya diisi oleh orang-orang itu, bukannya kafe itu tidak ramai, akan tetapi mereka menyuruh orang-orang lainnya untuk keluar.
Mereka sedang mengobrol, si rambut merah di belakang pemuda itu berkata, “Kak Faisal, menurutku langsung lenyapkan saja, untuk apa berbasa-basi lagi dengannya.”
Pemuda itu tidak mengatakan apapun, gadis cantik di hadapan pemuda itu memarahinya. “Tutup mulutmu, kamu hanya tahu hajar dan bunuh orang saja, hal itu tidak akan membuat kita mendapatkan hasil apapun, dengarkan Kak Faisal saja.”
Setelah pemuda yang duduk santai itu meneguk tehnya, barulah dia berkata, “Apa yang Hanna katakan benar sekali, jangan hanya tahu membunuh orang saja, kita menggunakan cara yang halus dulu baru keras, berikan dia kesempatan, jika tidak berhasil baru turun tangan.”
Baru saja dia selesai berkata seperti itu, suara deruan mobil sport terdengar dari pintu depan, sebuah mobil Lamborghini merah melesat datang, kemudian terdengar suara decit rem dan mobil itu terparkir dengan sempurna di parkiran.
“Tempat yang cukup bagus.”
Wahyu keluar dari dalam Lamborghini, karena kebiasaan profesinya, dia melihat sekilas ke lingkungan di sekitarnya, kemudian masuk ke kafe dengan santai, dia tidak berkata apapun, hanya mencari sebuah tempat duduk lalu duduk dengan mantap, setelah itu barulah dia berkata, “Bos, segelas kopi ditambah gula.”
“Apa!”
Seorang pemuda berbaju kotak-kotak memarahinya lalu berjalan cepat ke arah Wahyu.
Hanna mengibaskan tangannya. “Kakak tampan, apa kau adalah Akulah Yang Terhebat?”
Wahyu mengangguk. “Iya.”
Hanna tersenyum kemudian bangkit berdiri. “Aku akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu, namaku Hanna, ini adalah temanku Faisal, mereka adalah teman-temanku.”
“Kami memintamu datang kemari tidak ada maksud lain, hanya ingin langsung menuju pokok pembicaraan, kami akan memberikanmu 20 miliar, mulai sekarang tinggalkan Ningrum, jangan ikut campur urusan di antara kami.”
Wahyu menggeleng sambil menggoyangkan jari telunjuk kanannya. “No.”
Faisal menatap Wahyu dengan tatapan meremehkan, dia mengeluarkan 4 jari.“40 miliar.”
Wahyu menggoyangkan jarinya sekali lagi. “No.”
Faisal tertawa mengejek.“Teman, jangan dikasih hati minta jantung, 60 miliar.”
Wahyu terkekeh. “Aku akan memberikanmu 6 triliun, tapi tinggalkan perempuan ini, bagaimana?”
“Bocah, kamu tidak datang untuk bernegosiasi bukan?”
Beberapa pemuda yang ada di samping Faisal terlihat marah.
Wahyu tertawa.“Aku memang datang untuk bernegosiasi, tapi harga yang kalian berikan terlalu rendah!”
Hanna menatap Wahyu dengan menggoda, kemudian perlahan-lahan berjalan mendekatinya, dia menggenggam tangan kiri Wahyu dengan lembut, lalu membawanya ke depan hidungnya untuk menciumnya. “Jika ditambah dengan aku bagaimana?” Wahyu terbahak-bahak. “Aku tidak mempunyai kebiasaan berhubungan dengan anjing.”
“Bocah, kamu berani menghinaku?”
Wajah Hanna seketika berubah pucat, dia menggunakan hidungnya untuk mencium bau tangan Wahyu tapi malah disamakan dengan anjing olehnya.
Perkataannya bagaikan pengumuman perang.
Hanna mendengus kesal kemudian berbalik dan pergi.
“Bocah, kelihatannya kamu memilih cara yang keras daripada lembut.”
Terlihat tatapan membunuh di wajah Faisal, dia berkata dengan dingin: “Tinggalkan sedikit tanda padanya.”
“Kak Faisal, dari tadi kami menunggumu berkata seperti ini.”
2 orang pemuda segera menghambur ke arah Wahyu.
Wahyu menendang sebuah bangku kecil lalu bangku itu terbang dan menimpa kepala pemuda yang ada di sebelah kiri, pemuda itu menjerit kesakitan sambil memegang kepalanya dan jatuh di atas lantai.
Pemuda kedua maju, gerakannya cukup cepat, dia mengarahkan tinjunya ke samping telinga Wahyu, Wahyu menghindar dengan santai, pukulannya meleset, Wahyu mengulurkan tangannya lalu menarik rambut orang itu dan menariknya seperti anjing mati ke depan sebuah meja kemudian bugh, dia menghantamkan kepala orang itu dengan keras ke atas meja.
Mejanya langsung hancur berkeping-keping, pemuda itu bahkan tidak mampu bersuara lagi, langsung terbaring tidak bergerak di atas lantai.
“Ternyata bisa bela diri? Teman-teman, habisi dia.”
Belasan pemuda yang tersisa berteriak marah, mereka semua langsung menyerang maju ke arah Wahyu.
“Sepertinya kalian semua yang hari ini kurang beruntung tidak tahu akan kehebatanku.”
Wahyu bukan saja tidak marah, malah tersenyum aneh, dia mengulurkan tangannya untuk mengambil sebuah kaki meja, lalu menghindar ke luar kafe, dia melambaikan tangannya ke orang-orang yang ada di dalam. “Keluar.”
“Bocah, kamu cari mati ya?”
Meskipun kafenya cukup besar, tapi dalamnya dipenuhi dengan meja dan kursi, dia tidak dapat bergerak bebas untuk menghabisi sekumpulan preman ini, sekumpulan lebah itu ikut menerjang keluar.
Tapi mereka sama sekali tidak mengira kalau yang menunggu mereka adalah kematian.
Wahyu sangat jarang membunuh, tapi begitu mulai membunuh, seluruh alirannya darahnya seperti memperoleh stimulus, sangat susah jika ingin menyuruhnya berhenti.
“Bunuh!”
Pemandangan selanjutnya membuat semua orang gemetar, Wahyu memegang kaki meja kemudian menerjang ke antara preman-preman itu, tidak lama kemudian terdengar suara jeritan kesakitan pertama.