
Pertanyaan Monita membuat Wahyu bengong.
“Kapan aku ngomongnya?”
“Tidak peduli kamu ngomong atau tidak, yang penting hari ini kamu harus pergi.”
“Baiklah.”
Wahyu mematikan teleponnya dengan murung.
Namun, sebelumnya dia harus memakai baju dulu, dia tidak mungkin pergi dengan telanjang.
Wahyu datang ke depan lemari, dia langsung bengong ketika pintu lemari terbuka.
Semuanya adalah pakaian wanita dan juga kebanyakan berwarna putih. Dari gaun pesta, jas wanita, dan berbagai jenis gaun, dan juga ada beberapa baju dengan ukuran yang sangat mengagetkan.
Orang tua tidak tahu diri.
Ini koleksi Yitno?
Wahyu menutup lemarinya dengan perasaan jijik, dia tidak tahu bahwa ini tidak ada hubungan sama sekali dengan Yitno.
“Oh iya, di kertasnya tertulis kalau bajuku ada di balkon.”
Karena tidak menemukan baju di lemari, Wahyu langsung datang ke balkon dan kembali terbengong.
Di balkon juga tergantung banyak pakaian wanita, tapi tidak ada baju olahraganya yang murah itu.
Sialan, Yitno benar-benar tidak bisa diandalkan, apa ini rumah pacarnya?
Wahyu mengutuknya dalam hati, kemudian berjalan ke arah toilet. Karena masih pagi, dia ingin segera buang air kecil.
Dia juga tidak melihatnya dengan seksama dan langsung membuka pintu toilet dan berjalan masuk.
Setelah buang air kecil, tiba-tiba dia mendengar ada suara dari dalam.
Kamar mandi terdiri dari dua ruangan, satu ada toilet dan satunya lagi tempat mandi.
Ada orang?
Wahyu mendorong pintu kamar mandi.
Wow!
Kedua mata Wahyu langsung bersinar terang.
Astaga! Ada bonus rupanya? Yitno baik sekali.
Di dalam kamar mandi berdiri seorang wanita, sepertinya baru selesai mandi. Dia sama seperti Wahyu, telanjang bulat, tangan kirinya memegang cermin dan tangan kanannya sedang menyisir rambutnya.
Cantik sekali!
Kulit yang mulus, seperti baru keluar dari mandi susu. Masih ada butiran air di bahu yang putih dan halus itu.
Dari mulutnya bisa terdengar suara nyanyian.
Dia berdiri serong ke depan, tapi badan yang indah serta lekukan yang montok itu seketika menggetarkan hati Wahyu.
Sebagai seorang penembak jitu berpengalaman, Wahyu sangat mengerti tentang struktur tubuh manusia.
Karena ada banyak faktor dalam desain penembak jitu, titik jatuh peluru juga sangat penting.
Jika ingin menembak mati dalam 1 menit, pertama adalah bagian tengah alis, kemudian bagian tengah dada.
Posisi bagian tengah alis terlalu kecil, lawan gampang untuk menyembunyikannya. Walaupun bagian tengah dada adalah pilihan kedua, tapi kemungkinan untuk kena lebih besar.
Tetapi di dalam hal ini terkait beberapa poin penting.
Pria lebih gampang kena karena dada yang rata.
Wanita membutuhkan teknik, karena kembang kempis dada berbeda tiap orang, hal ini akan mempengaruhi senjata yang dipilih.
Senjata yang sama, ketika dada wanita berkembang semakin tinggi, kemungkinan hidup akan semakin tinggi.
Terutama wanita yang berolahraga secara teratur, memiliki ketahanan yang meningkat terhadap peluru, dan sangat elastis, dan mereka memiliki perlindungan sendiri.
Wahyu sering meneliti tentang ini, jadi dia sangat mengerti tentang data tubuh wanita.
Dalam sekali lihat, dia langsung bisa tahu wanita ini memiliki tubuh dengan proporsi paling bagus di dunia.
Wahyu mengira ini adalah sarapan yang disiapkan Yitno untuknya, dia menyandarkan diri ke kusen pintu dan menyapa wanita itu dengan berlagak ganteng.
Ah…
Jiwa Santika hampir saja terbang keluar dari tubuhnya, cerminnya terjatuh ke lantai. Tangan kanannya langsung menarik handuk di samping dan menutupi tubuhnya. Kakinya bergerak secepat kilat, tinju kiri langsung mengarah ke Wahyu.
Di pergelangan tangan kiri Santika yang seputih salju, ada sebuah kantong aneh. Tiba-tiba sebuah pedang keluar dari kantong aneh itu dan langsung menuju ke jantung Wahyu. Dia berteriak dengan dingin, “Bajingan, mengapa kamu ada di rumahku?”
Hei hei hei!
Sebodoh apapun Wahyu juga tahu ada yang salah.
Sekarang semuanya sudah terlambat, kilauan pedang seperti bintang jatuh yang melesat datang. Kedua sisi adalah kusen pintu, Wahyu tidak bisa menghindarinya. Dia langsung menjatuhkan badan ke arah belakang.
Ngomong-ngomong, Wahyu, cara kamu ini benar-benar sangat genit!
Wahyu sedang telanjang bulat, tubuhnya tiba-tiba dijatuhkan ke belakang, jadi bagian itunya…
Pose seperti ini sungguh mencengangkan.
Tapi sangat efektif!
Pedang Santika tidak berhasil mengenainya, ujung pedang melintasi perut Wahyu. Melihat pose Wahyu yang begitu tidak elegan, Santika berkata: “Jalang.” Kemudian, ujung pedang langsung dihunus ke ************ Wahyu.
Sialan!
Wahyu langsung membaringkan tubuhnya ke lantai, kedua kakinya membentuk sudut 90 derajat dan berpapasan dengan pedangnya. Setelah berdiri kembali, dia langsung menghentakkan kakinya dengan kuat dan membuat tubuhnya terbang ke belakang dengan cepat.
“Bajingan, hari ini kalau bukan kamu yang mati, berarti aku.”
Santika merasa kaget karena tidak berhasil menebas dalam 2 kali serangan, tapi api amarah sudah membakar akal sehatnya. Tatapannya semakin dingin, dia membawa pedangnya dan berlari keluar kamar mandi.
Sialan, ini benar-benar kesalahpahaman, siapa yang menjebakku?
Wahyu ingin sekali menangis, tapi sekarang dia sudah mengerti.
Ini pasti jebakan, wanita ini bukanlah sarapan, tapi pisau tajam yang bisa mencabut nyawa kecilnya!
Namun, dalam mimpi sekalipun, Wahyu tidak akan menyangka bahwa ini adalah jebakan, sebuah jebakan yang ajaib.
Ada yang bilang di dunia ini, setiap kelahiran sebuah nyawa baru, selalu dimulai dengan detak jantung. Setiap bunga cinta yang mekar, dimulai dengan pertemuan awal. Setiap jebakan, adalah permulaan dari ribuan kebetulan yang disatukan.
Jebakan Wahyu ini disebut ajaib, karena memang disebabkan oleh ribuan kebetulan.
Di atas meja makan, Yuda memang menjebaknya, tapi Yuda tidak punya maksud lain. Dia sudah menyuruh Yitno membawanya pergi.
Siapa sangka Yitno malah tiba-tiba pergi karena ada urusan!
Karena Yitno dan Lesti ada urusan, jadi Abraham terpaksa mengantar Wahyu pulang.
Yang tidak disangka-sangka adalah, Abraham juga pergi karena ada urusan. Sehingga dia membawa Wahyu ke tempat Santika.
Itu juga tidak masalah, tapi Abraham tidak menyangka Santika yang bilang akan pulang beberapa hari lagi, akan pulang hari ini.
Sudahlah, tidak masalah kalau dia pulang. Santika pulang terburu-buru, dan setelah pulang dia langsung pergi mandi tanpa memeriksa kamarnya sendiri.
Semua kebetulan ini akhirnya menjadi sebuah jebakan untuk Wahyu.
Jika Wahyu bisa memikirkan semua itu, jangankan dia, walaupun tokoh pahlawan yang hebat dalam merencanakan taktik perang terlahir kembali, mungkin beliau juga tidak bisa melakukan apapun!
“Jangan kabur.”
Alis Santika semakin tegak, dia membawa pedangnya dan terus mengejarnya.
Wahyu benar-benar sangat pusing, dia berlari kembali ke kamar tidur Santika. Satu tangannya mengambil bantal dan diselipkan ke ************, sedangkan tangan kanannya mengambil Token Naga Hitam.
Akhirnya dia berhasil menutupi bagian vitalnya.
Wahyu yang sudah menutupi selangkangannya dengan bantal, langsung berteriak kepada Santika dengan berani, “Cantik, salah paham, ini benar-benar salah paham!”
Dia ingin lebih berani lagi, tapi tidak ada alasan logis untuknya. Dia sudah tidur semalaman di ranjang orang, belum lagi dia melihat tubuhnya dari atas sampai bawah.
Salah paham? Salah paham kepalamu...
Santika bahkan rasanya ingin mati, bantalnya sendiri dipakai bajingan ini untuk menutupi selangkangannya, salah paham apa lagi, hah?