Aku Dicintai 7 Kakak Cantik

Aku Dicintai 7 Kakak Cantik
Pria Tua Yang Angkuh


Tiga wanita cantik ini benar-benar panik, Wahyu adalah orang paling penting bagi mereka. Kalau terjadi sesuatu dengan Wahyu, tiga orang ini tidak akan memaafkan diri mereka, jadi mereka terus ribut ingin kemari.


Tetapi ini acara ulang tahun orang lain, bukan acara pertumpahan darah, kenapa harus pergi ramai-ramai? Wahyu dengan susah payah berhasil menenangkan tiga wanita cantik ini. Mereka bertiga setuju menunggu satu hari, Wahyu harus kembali ke rumah besok, kalau tidak mereka akan datang merebutnya.


Setelah meletakkan ponselnya, terdengar suara ketukan pintu. Wahyu membuka pintu dan melihat Lesti berjalan masuk, dia memanggilnya dengan ramah, “Wahyu, bagaimana dengan tidurmu?”


“Tante Lesti, tidurku cukup baik. Kita berangkat sekarang?”


“Iya, mobil sudah disiapkan. Kita akan berangkat sekarang, aku juga sekalian kasih tahu, usahakan jangan mengungkit masa lalu dengan ayahku, usahakan untuk membuatnya mabuk dan tugasmu akan selesai.”


“Aku mengerti.”


Mobil sudah berada di depan, sebuah mobil mewah HQ dan supir pribadi. Mereka berdua masuk ke dalam dan pergi dari sini.


Jakarta adalah Ibukota Indonesia, luasnya tidak terbayangkan, seseorang pernah mengukurnya, dan luasnya pasti tidak kurang dari 300.000 kilometer persegi.


Supir Lesti adalah supir tua, cara mengendarai mobilnya sangat stabil dan cepat. Walaupun begitu, mereka juga mendekati jam 12 baru sampai di tempat tujuan.


Sebuah rumah kuno muncul di depan mata.


Rumah ini terbagi menjadi tiga area, area tengah adalah halaman besar yang langsung mengarah ke kamar utama.


Kedua sisi halaman yang besar ada dua pintu, mengarah ke dua halaman yang lebih kecil. Di masing-masing pintu tertulis sebuah tulisan “Dilarang Masuk”.


Lesti menunjuk ke arah dua halaman kecil itu dan berkata, “Itu adalah tempat pelatihan dua orang senior, mereka tidak suka diganggu, kamu berhati-hati lah.”


Iya!


Wahyu mengangguk dan tidak bertanya lagi, dia mengikuti Lesti masuk ke aula utama, dan waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang.


Wahyu tahu keluarga ini tidak sederhana, seharusnya banyak yang datang memberikan ucapan, tetapi ternyata tidak.


Di aula utama ada sebuah meja bulat, terlihat tiga orang pria dewasa duduk mengelilingi meja bulat itu.


Salah satunya adalah Yitno, ketika Wahyu masuk, mereka bertiga langsung berdiri.


Yitno mengeluh, “Kakak, kenapa baru datang sekarang?”’


Lesti tersenyum pahit dan berkata, “Kalian beberapa tidak ada urusan dan bisa santai. Aku sangatlah sibuk, bisa datang tepat waktu sudah sangat bagus.


Kakak, adik keempat, aku perkenalkan, anak muda ini bernama Wahyu, 23 tahun, orang kota Yogyakarta, baru pulang dari luar negeri…”


Sambil dikenalkan Lesti, Wahyu mengangguk kepada mereka.


Yitno pernah melihatnya, jadi tidak ada ekspresi apapun, tetapi dua orang lain membuat hati Wahyu bergejolak.


Di sebelah kiri adalah seorang pria yang terlihat sangat stabil, ekspresinya ramah, dan dia terlihat baik. Setelah kilatan kejutan melintas di matanya, dia kembali tenang dengan cepat, dan mengangguk ke Wahyu, “Anak baik.”


Yang satunya lagi tidak setenang itu, ketika melihat Wahyu, pupil matanya menyusut dan dia terus menatap Wahyu, matanya terlihat sangat kaget.


Pada saat yang sama, Wahyu merasakan fenomena aneh itu lagi dari dua orang itu, dia dan dua orang itu sepertinya sudah saling kenal sebelumnya, dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak bergumam pada dirinya sendiri, “Sial, aneh sekali ini.”


Kalau bukan Wahyu sangat percaya dengan matanya sendiri, dia pasti curiga dirinya memiliki hubungan dengan beberapa orang ini.


Tetapi Wahyu pernah menggunakan jurus Mata Emas untuk memeriksanya, di dalam tubuh beberapa orang ini tidak mengalir garis keturunan Serigala Darah.


Yang juga berarti, mereka memang tidak memiliki darah yang sama dengan dirinya.


“Wahyu, duduk duduk duduk. Adik keempat, cepat persilahkan Ayah keluar.”


Yitno menunjuk ke arah pria yang terlihat kaget itu, kemudian orangnya berdiri dan berjalan pergi. Dia kemudian berkata, “Wahyu, orang itu adalah ayahnya Faisal, kamu harus menjaga ucapanmu nanti.”


Lalu, perkumpulan keluarga kami hanya para senior saja. Para junior tidak diperbolehkan hadir karena terlalu ramai. Kalau ada waktu, aku akan memperkenalkannya.


“Kata yang bagus.” Lesti bertepuk tangan sambil berkata, “Itu adalah pepatah yang terkenal di Indonesia. Tetapi Wahyu, kamu harus ingat kata selanjutnya. Kalau orang lain menggangguku, aku pasti akan melawannya.”


Wahyu berkata, “Betul kata Tante Lesti.”


Mereka terus berbicara tetapi sambil berdiri, tidak ada yang duduk, semuanya bersabar menunggu. Setelah sesaat, terdengar suara orang yang berbicara, “Aku sudah tua, kenapa harus diadakan acara ulang tahun.”


Dari depan masuk dua orang, satunya adalah Budiman Hutomo, ayahnya Faisal yang berjalan keluar tadi. Satunya lagi seorang pria tua, walaupun sudah tua, tetapi masih terlihat semangat dan memiliki tatapan yang berenergi.


Perasaan Wahyu langsung bergejolak.


Dengan kekuatan matanya, dia bisa melihat sekilas bahwa usia pria tua itu jauh melampaui usianya yang terlihat, dan jika dia benar, seharusnya berusia sekitar 109 tahun.


Tetapi selain masih bersemangat, punggung yang tegak lurus, dia berjalan masuk ke aula dengan tatapan yang begitu mendominasi.


Seharusnya dia berlatih semacam bela diri.


Pria tua itu berjalan masuk dan tidak mempedulikan Yitno mereka. Dia hanya menunjuk Wahyu dan berkata, “Namamu Wahyu?”


Wahyu sedikit membungkuk dan memberikan hormat, “Namaku Wahyu, aku diajak oleh Paman Yitno dan Tante Lesti untuk datang mengucapkan selamat ulang tahun kepada anda. Karena terlalu terburu-buru, aku tidak membawa apapun, mohon dimaafkan.”


Iya!


“Kalau sudah datang, semuanya adalah tamu, buat apa membawa hadiah, duduklah. Hari ini temani aku minum.”


Melihat pria tua tidak marah, Yitno mereka merasa lega. Setelah itu mereka kembali duduk di posisi masing-masing.


Pria tua juga sangat baik, dia langsung mengangkat gelas alkohol yang sudah disiapkan di meja. “Ayo anak muda, temani aku minum segelas.”


“Selamat ulang tahun untuk Anda.”


Wahyu mengangkat gelas dan meneguknya sampai habis.


“Selamat ulang tahun Ayah.”


Anak pertama Abraham Hutomo, anak kedua Lesti, ketiga Yitno dan yang keempat Budiman, semuanya mengangkat gelas bersama dan meneguk sedikit tanda simbolis saja.


“Dasar pengecut semua.”


 Setelah pria tua selesai minum dan melihat gelas mereka berempat, dia langsung memarahi mereka karena minumnya terlalu sedikit.


Lesti berkata, “Ayah, kamu tidak gampang mabuk, tetapi kami tidak sehebat Anda, jadi kami hanya minum sedikit.”


Pria tua marah, “Kalau tidak sanggup minum, kenapa datang mengucapkan ulang tahun.”


Melihat pria tua yang semakin bicara semakin kesal, Wahyu langsung berkata, “Pertama kali bertemu, biar aku bersulang untukmu.”


Dia kemudian menuangkan segelas untuk dirinya dan meneguknya langsung.


“Bagus! Hebat, kamu Wahyu kan, aku akan mengingatmu. Kalian tuangkan minumnya, tidak sanggup minum apakah juga tidak sanggup menuangkannya?”


Pria tua mengangkat gelas yang dituang oleh Abraham dan meneguknya.


Segelas alkohol sekitar 200 ml, dua gelas artinya mereka sudah meneguk 400 ml alkohol ke dalam perut. Berdasarkan peraturan di Indonesia, setiap kali jamuan harus dibuka dengan tiga gelas alkohol. Wahyu mengangkat gelas ketiga dan berkata, “Semoga Anda sehat dan panjang umur selalu.”


Dalam sekejap mata mereka sudah menghabiskan 600 ml alkohol.


Lesti diam-diam mendorong Yitno dan berkata, “Adik ketiga, bocah ini hebat juga!”


Yitno berkata dengan kaget, “Aku juga tidak menyangka bocah ini peminum handal, sepertinya kita sudah mencari orang yang tepat.”


Mereka tidak makan, pria tua dan anak muda ini terus meneguk alkohol, tidak sampai setengah jam, mereka sudah minum lebih dari 1 liter alkohol.