
Malam ini ada pesta lelang.
Setelah Wahyu dan kedua gadis cantik itu selesai makan, dia langsung tertidur. Dia tertidur dengan sangat nyenyak, tapi kedua gadis cantik itu sangat cemas.
Sabrina selalu dikenal sebagai gadis yang lemah lembut, sifatnya tenang, namun hari ini dia tidak dapat tenang, dia duduk termenung di atas sofa.
Laila semakin seperti cacing kepanasan, bibirnya tidak berhenti bergumam: “Bagaimana ini? Bagaimana ini?”dia terus menggosok tangannya sambil bolak-balik di dalam rumah.
Sabrina memegang dahinya dengan tangan. “Laila, kamu bisa diam sebentar tidak?”
Laila berkata dengan tertekan. “Bagaimana aku bisa tenang, kamu tidak tahu seberapa seriusnya masalah ini, 7 nyawa, jika hal ini benar-benar ditelusuri lebih dalam lagi, bahkan aku juga tidak bisa membantunya.”
“Ya sudah ya sudah, nanti pasti akan ada jalan keluarnya, 18 tahun yang lalu anak itu bahkan tidak mati, hari ini dia juga tidak akan mati.”
Mereka melihat jam dinding dan detik demi detik yang harus mereka lalui benar-benar bagaikan penderitaan, akhirnya mereka tahu apa yang dinamakan dengan sehari bagaikan setahun.
Kemudian saat mereka melihat Wahyu tidur seperti babi mati, mereka sangat ingin menarik Wahyu dan menonjoknya dengan sangat keras.
Waktu pelan-pelan berlalu, pada sore hari, akhirnya mereka mendapatkan kabar berita.
Kepolisian Mabes Polri mengeluarkan sebuah berita. “Pagi ini terjadi insiden berdarah di Jalan Anggrek, pihak kepolisian sudah mendalaminya, untuk tahap awal sudah diputuskan kalau ini terjadi akibat perselisihan antara 2 kelompok mafia, di kedua belah pihak ada yang terbunuh dan terluka. Silahkan melihat berita untuk mengetahui perkembangan lebih lanjut mengenai kasus ini.”
“Sudah selesai!”
Begitu kabar berita ini keluar, akhirnya Laila bisa merasa tenang dan bernapas lega.
Karena ini kasus yang tidak ada penyelesaiannya, biasanya Mabes Polri tidak akan mengungkapkannya ke publik. Karena dikatakan bahwa ini terjadi karena perseteruan dua kelompok mafia, maka itu menunjukkan kalau mereka tidak bermaksud untuk mengusutnya lagi.
Sebenarnya dari awal Laila sudah tahu. Jika pihak kepolisian berencana untuk mengusutnya, mereka pasti sudah meneleponnya dari tadi, sedangkan teleponnya dari tadi tidak berbunyi sama sekali, hal itu menunjukkan kalau pihak kepolisian tidak berencana untuk memperbesar efek dari masalah ini. Akan tetapi semua itu hanyalah perkiraan, saat informasinya sudah keluar, barulah dia bisa merasa tenang.
“Bocah itu benar-benar sangat hebat!”
Laila melihat Wahyu yang masih tertidur nyenyak, kemudian dia menepuk pantatnya dan berkata “Sudah, sudah tidak ada masalah lagi, aku pergi dulu.”
Sabrina juga menghela napas lega. “Karena sudah tidak ada masalah, kamu makan di sini dulu saja, setelah itu baru pergi.”
“Tidak, sore ini aku belum pergi ke unitku, sekarang aku mau ke sana sebentar, sekalian ingin mengetahui duduk persoalan masalah ini untuk melihat apakah ada celahnya.”
Selesai berbicara Laila langsung pergi.
Kehidupan Sabrina sangat biasa saja, saat di rumah sakit dia sangat sibuk, namun setelah pulang ke rumah dia sangat santai.
Selain itu dia juga sangat hemat, melihat Wahyu masih tidur, dia memasak sedikit bubur, memotong sebuah timun lalu menumisnya dengan bawang bombai, kemudian dia juga memasukkan kacang tanah ke dalamnya.
Setelah itu dia juga menumis kentang yang dipotong tipis-tipis, kemudian barulah dia membangunkan Wahyu.
“Tidurnya enak sekali, Kakak kelima mana?”
“Kakak kelimamu pergi ke unitnya.”
“Oh, sekarang sudah jam berapa?”
“Jam 7 lewat 10, kenapa?”
“Waduh! Hampir saja lupa, jam 8 aku masih ada sedikit urusan.”
“Urusan apa?”
“Urusan kecil, membantu teman.”
“Bocah, jika kamu masih tidak mau mengatakannya, hati-hati aku mencubit bokongmu sampai biru-biru.”
Wahyu tidak berdaya, dia tersenyum pahit, “Baiklah, jam 8 aku mau pergi ke sebuah acara pelelangan.”
“Pelelangan apa?”
“Tanah terbaik di Yogyakarta.”
“Apa?”
Sabrina hampir saja tersedak potongan timun yang baru saja dimasukkan ke dalam mulutnya.“ Wahyu, harga tanah itu setidaknya bisa mencapai 60 triliun.
Kamu beritahu Kakak, sebenarnya apa pekerjaanmu, apa tujuanmu kembali kali ini, jika tidak kamu jangan memanggilku kakak lagi, aku bukan kakakmu.”
Di antara 7 bersaudara itu, meskipun Sabrina bukan yang paling tua, tapi dialah yang paling terlihat seperti nona bangsawan, dia sangat jarang bercanda, setiap perkataannya sangat serius.
Perkataannya sangat berarti bagi Wahyu, tidak kalah dari perkataan Monita saat dia sedang marah.
Wahyu langsung menyerah. “Kak, aku bukannya tidak mau memberi tahu kalian, tapi karena masalah ini sangat rumit, jika aku memberi tahu kalian maka akan mendatangkan masalah yang tidak perlu bagi kalian. Kak, apakah kamu tahu Sang Penakluk Dunia?”
“Tahu, dengar-dengar itu adalah kelompok mafia yang paling kejam di Amerika, dibentuk 10 tahun yang lalu, tapi kemudian bisa memiliki kekuatan yang besar, hanya dalam waktu beberapa tahun saja sudah menjadi rival Yakuza dan Sindikat Capone.”
Wajah Wahyu menghitam. “Kak, akulah yang mendirikan Sang Penakluk Dunia, tapi kami bukan kelompok mafia yang paling kejam, kami semua melakukan pekerjaan yang halal!”
Setelah Wahyu berkata seperti itu, sendok di tangan Sabrina terjatuh.
Dia sudah menebak kalau Wahyu melakukan pekerjaan yang tidak baik, hal ini dapat dilihat dari hadiah-hadiah yang diberikan Wahyu kepada Ningrum, karena Laila sudah memberitahukannya kepada Sabrina.
Namun bahkan dalam mimpi sekalipun Sabrina tidak pernah menyangka kalau pemuda tampan yang terlihat tidak berbahaya yang berada di hadapannya ini ternyata adalah bos besar dari kelompok mafia paling kejam di dunia.
Mereka berdua terdiam cukup lama.
Lama sesudahnya, barulah Sabrina berkata. “Apa tujuan kepulanganmu kali ini?”
Wahyu tidak menutupinya lagi, dia berkata jujur. “Yang pertama, aku mau melebarkan sayapku di dalam negeri, meskipun perkembanganku di luar negeri cukup bagus, tapi biar bagaimanapun itu adalah tanah orang lain, aku tidak bisa mendapatkan kekuasaan untuk melakukan hal-hal yang aku inginkan, hanya dengan mendirikan bisnisku di dalam negeri, barulah aku bisa benar-benar bersaing dengan Yakuza dan Sindikat Capone. Yang kedua, aku mau mengetahui latar belakang kita yang sebenarnya, apa yang sudah terjadi 20 tahun yang lalu. Yang ketiga, aku ingin melindungi ketujuh kakakku, aku tidak akan membiarkan mereka terluka sedikitpun.”
Perkataanya bisa dibilang benar-benar sangat mengejutkan, ini bukan permainan rumah-rumahan seorang anak kecil, hal ini setidaknya bisa menimbulkan pertumpahan darah di kancah internasional.
Hal ini juga kemungkinan besar akan membuat perubahan yang tidak dapat diprediksi dalam bisnis dalam lingkup yang besar.
Keberadaan mafia bagi sebuah negara bukannya tidak memberikan keuntungan sama sekali, contohnya, ketika cara yang diambil beberapa pelaku bisnis membuat negara khawatir, kemunculan kekuatan mafia bisa membuat negara menghela napas lega.
Kenapa beberapa kelompok mafia di negara barat semakin lama semakin besar, bahkan mendapatkan persetujuan dari negara, itu dikarenakan hal ini.
Contohnya adalah, jika terjadi gesekan di antara pebisnis di 2 negara dan hal itu sudah masuk ke ranah hukum negara atau dikarenakan beberapa alasan maka negara tidak bisa turun tangan, maka bisa meminta kelompok mafia untuk menggantikannya.
Semua orang mengerti tentang teori-teori ini, tapi tidak bisa mengatakannya secara gamblang.
Oleh karena itu, keberadaan kelompok khusus kadang-kadang bukan merupakan penyakit kronis, melainkan adalah sebilah pisau tajam bagi negara, selain itu mereka selamanya akan mengabdi kepada negara.
Jika saudara-saudara yang lain mendengar pemikiran Wahyu ini, mereka pasti akan meledak, namun setelah keterkejutan Sabrina berlalu, dia kembali tenang, dia hanya mengatakan, “Makan pelan-pelan, sehabis makan bawalah mobilku, masih keburu.”
Kemudian keduanya mengobrol, Wahyu menceritakan semua yang sudah dia alami selama 18 tahun ini secara singkat, selesai makan dia membawa kunci mobil dan keluar dari ruang makan.
“Wahyu, pulang lebih cepat, Kakak pertama sering tidak pulang ke rumah, di sana tidak ada orang, malam ini kamu tidur di sini saja.”
Sebelum Wahyu keluar rumah, Sabrina berteriak di belakang Wahyu.
Wahyu tidak menoleh, karena dia tidak bisa memastikan apakah air matanya akan mengalir atau tidak, dia melambaikan tangannya kepada orang di belakangnya. “Tenang saja Kak.”