Suddely Became A Child

Suddely Became A Child
Eps 66


"Ini aneh."


Tiga orang pria sedang duduk bersama di dalam sebuah ruangan sederhana.


Menatap selembar kertas yang berisi tentang peta dari wilayah timur laut kerajaan Xinlaire, mereka masing-masing memiliki ekspresi serius di wajahnya.


Curran mengetuk jarinya ke meja. Jasvier mengerutkan keningnya. Farenzo memiliki ekspresi aneh di wajahnya. Dan Blue menatap ketiganya dengan lesu.


"Sepertinya tuan Morgan salah dalam menuliskan informasi, tidak ada tambang emas di wilayah ini."


Jasvier berkomentar yang membuat sepasang mata menatap ke arahnya.


Mereka telah melakukan riset hampir setengah hari untuk mencari keberadaan dari tambang yang dimaksud, namun hasilnya nihil.


Tidak ada tambang emas di wilayah timur laut.


"Sepertinya begitu."


Curran mengangguk setuju pada ucapan Jasvier. Seharusnya dia fokus pada pembangunan wilayah daripada mencari sesuatu yang tidak ada sejak awal.


Farenzo memiliki ekspresi kaku.


Dia tidak mengerti mengapa tidak ada tambang emas di wilayah ini? Padahal di kehidupan sebelumnya wilayah ini memiliki tambang emas yang cukup besar di banding tambang emas dari kerajaan lain.


Karena emas yang berada di wilayah ini merupakan emas murni yang harganya cukup mahal.


Apa karena dia mengulang waktu? Atau memang tidak ada sejak awal?


Farenzo menghela napas.


Sepertinya memang tidak ada tambang emas di wilayah ini, saat itu mungkin hanya trik dari organisasi Bloody Moon.


Setelah di pikir-pikir, banyak perubahan dan kejadian yang berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Kalau terus mengandalkan pengetahuan tentang kehidupan masa lalu, dia tidak berkembang.


Farenzo telah membuat keputusan untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan sekarang, dan mencoba memperbaiki kekurangan diri di kehidupan sebelumnya.


Ketuk ketuk ketuk.


Sepasang mata tertuju pada suara ketukan pintu.


"Masuk."


Mendapatkan konfirmasi dari dalam, Eren membuka pintu hingga menampilkan tiga orang pria tampan dengan seekor kucing hitam.


"Tuan Curran, sebagian rumah telah selesai di bangun."


"Aku akan melihatnya."


Curran bangkit dari posisinya, di ikuti kedua pria lainnya.


Mereka bertiga memang berada di wilayah para half Ork tinggal untuk mencari lokasi keberadaan tambang emas, sekaligus memantau pembangunan rumah para half Ork yang sempat terbakar saat itu.


Keluar dari ruangan, Curran berjalan sedikit sudah terlihat rumah-rumah yang telah selesai di bangun untuk para half Ork tinggal.


Rumah-rumah tersebut memiliki bentuk melingkar seperti lingkaran dengan bagian atasnya yang sedikit runcing ke atas.


Bentuk lingkaran memiliki filosofi tentang sebuah ikatan yang kuat dalam sebuah hubungan, baik keluarga maupun pertemanan.


Itu juga seperti menggambarkan karakter para half Ork yang selalu melakukan kerjasama tim dengan baik.


"Kau melakukannya dengan baik Drax."


Mendengar perkataan Curran yang memujinya membuat Drax memiliki mata berkaca-kaca. Dia merasa terharu saat usahanya dihargai.


"Terima kasih Tuan."


Drax membalas dengan sepenuh hati. Keputusan untuk mengikuti manusia ini adalah pilihan yang tepat.


Rumah yang dia impian akhirnya terwujud setelah sekian, pembangunan rumah tersebut pun terkesan singkat karena di lakukan secara bersama-sama.


Dan berkat manusia bernama Curran, bangsa half Ork memiliki tempat yang layak untuk tinggal.


Eren tersenyum kecil, dia menepuk pundak Drax sebagai bentuk apresiasi dari usahanya.


Sayangnya kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, detik itu juga tanah yang mereka pijak bergetar dengan hebat.


"A-apa yang terjadi?"


"Ada apa ini?"


Para half Ork dan kelompok Curran segera memasang sikap waspada.


Blue memiliki ekspresi bingung. Dia merasakan kekuatan yang cukup besar dari suatu tempat, dan dia mengenali kekuatan itu.


Apa yang membuat Moku harus mengeluarkan kekuatan sebesar ini?


DUUUAAAARRRRRR!!!


Ledakan yang cukup besar terdengar oleh telinga mereka. Beberapa batu berukuran besar melayang ke arah mereka.


"Berlindung!"


"Aaaaaaa!!"


Curran segera memberikan sihir perisai untuk para half Ork agar terhindar dari serangan batu.


Braakk.


Braakk.


Bruukk.


"Tidakkkkk!"


Drax berseru dengan putus asa melihat rumah yang baru saja di bangun kini hancur tertimpa batu besar.


Rumah yang di bangun dalam waktu singkat, justru dengan waktu singkat pula rumah itu hancur.


"Apa yang terjadi? Apa kita sedang di serang?"


Curran tidak menjawab pertanyaan dari Jasvier, karena dia juga tidak tahu pasti tentang ini.


"Tuan Curran, Blue bilang kalau ini berasal dari kekuatan Moku."


Curran terdiam mendengar ucapan Farenzo.


Moku?


Kalau Moku yang melakukan semua ini, itu artinya telah terjadi sesuatu pada Rein.


Curran mengeratkan rahangnya.


"Kendrick!"


"Saya di sini Tuan."


Kendrick menjawab panggilan Curran dengan melindungi para half Ork yang masih kecil.


"Bawa Yang mulia putra mahkota kembali ke kediaman, dan periksa apa tempat itu juga terkena dampaknya."


"Baik, Tuan."


Jasvier tidak berkomentar mendengar perintah dari Curran, karena dia merasakan suasana hati Curran sedang tidak bagus.


"Drax."


Drax memasang wajah serius. Ucapan Curran sangat benar. Dia mengepalkan tangannya dengan erat.


"Saya mengerti, saya akan melindungi yang lain."


"Itu bagus."


Curran mengangguk puas pada respon Drax yang cepat tanggap dalam situasi genting seperti ini.


"Blue, pimpin jalan."


Blue mengubah ukuran tubuhnya menjadi besar, dia melirik ke arah Farenzo lalu ke arah Curran. Kemudian berlari dengan cepat menuju lokasi dari kekuatan Moku berasal.


Curran dan Farenzo berlari mengikuti di belakangnya.


Uhuukk uhukk uhukk.


Serpihan debu berterbangan menutupi pandangan. Sedikit demi sedikit hembusan debu hitam secara perlahan memudar, menampilkan seekor rubah berukuran besar yang memiliki sembilan ekor berdiri di tengah-tengah lubang besar.


Croft menghela napas lega karena dirinya berhasil memberikan perisai pada dark elf dan kelompoknya, sedikit saja dia terlambat mungkin saja mereka akan terbakar habis di tempat ini.


Melihat seberapa besar lubang tanah yang menghitam, sepertinya para dark elf tinggal di bawah gunung. Dan Moku baru saja meledakkan gunung tersebut.


Apa mungkin debu hitam yang berterbangan itu adalah monster yang mereka lawan?


Croft tidak ingin memikirkan hal itu, dia kembali terbang mendekati Rein dan menyalurkan kekuatan padanya yang sempat tertunda.


"Wow, langit itu indah."


Dara berkomentar begitu melihat langit luas yang memiliki semburat kemerahan.


"Hahaha, sepertinya kita di takdirkan untuk tinggal di atas tanah."


Lais tertawa canggung dengan suasana yang cukup tegang tadi.


Para dark elf menghiraukan ucapan Lais, mata mereka terpesona oleh keindahan langit yang begitu luas.


"Aku tidak menyangka langit begitu indah."


Tora memegang tangan Mey yang melihat langit dengan tatapan berbinar.


Vira tertegun. Warna langit yang sebelumnya dia lihat berwarna biru, namun kali ini memiliki warna merah. Keajaiban alam memang sangat luar biasa.


Yuda memiliki ekspresi kaku melihat kekuatan dari Moku.


Tubuh Kinara membeku melihat kekuatan yang berasal dari seekor rubah merah. Tanpa di sangka kekuatannya sangat kuat, kalau tahu seperti itu dia tidak akan berlari menuju Rein.


Joy menjatuhkan rahangnya melihat kekuatan Moku yang berhasil menghancurkan sebuah gunung.


Moya melihat seekor rubah berekor sembilan dengan tatapan rumit.


Pantas saja dia merasa aneh melihat monster yang cukup pintar seperti Moku, ternyata Moku bukanlah seekor monster melainkan makhluk Kitsune.


Bagaimana bisa makhluk Kitsune berada di dunia tengah?


"Moku!!"


Moku mendengar suara yang tidak asing, dia menoleh ke belakang dan melihat Curran, Farenzo serta Blue yang sedang berlari.


Moku mengecilkan ukuran tubuhnya, dia menghilangkan delapan ekor hingga tersisa satu, lalu menghampiri Curran.


"Curran, Rein terluka, Myuu."


Ekspresi wajah Curran mengeras. Dugaannya benar. Dia berlari lebih cepat ke arah sekelompok makhluk yang sedang berkumpul, menghiraukan fakta bahwa Moku bisa bicara.


Farenzo sempat terkejut mendengar suara Moku, tapi mendengar bahwa adik kecilnya terluka dia segera berlari meninggalkan Blue di belakang.


Blue berlari dengan keadaan linglung setelah melihat Moku yang memiliki ekor sembilan.


Dia memelankan langkahnya. Bila Moku benar-benar memiliki ekor sembilan, itu artinya perbedaan antara mereka terlalu besar.


Seharusnya sejak awal dia tidak menaruh perasaan pada Moku.


Blue berjalan dengan kepala yang tertunduk lesu. Sebuah kebenaran telah menyadarkan dirinya pada kenyataan pahit. Haruskah dia menyerah?


"Rein!"


Wajah para dark elf wanita memerah begitu Curran berjalan melewati tempat mereka berdiri.


Tora mengerutkan keningnya. Dia memeluk tubuh Mey dengan posesif. "Aku lebih tampan darinya."


Mey melirik ke arah Tora, dia tersenyum lalu menyahuti ucapannya. "Iya, kau tampan."


Tapi manusia itu ...


Mey hanya tersenyum, dia tidak mengatakan tentang pemikirannya pada Tora.


Mata Dara melebar melihat seorang manusia rambut merah. Dia menggigit bibirnya dan menjerit di dalam hati.


Lais mengerutkan kening melihat tingkah Dara yang terlihat aneh.


"A-apa yang terjadi pada Rein?"


Curran bertanya dengan gugup melihat Rein yang terbaring lemah di tanah.


~ "Huhuhu, manusia merah, tubuh Cutie pie patah."


Croft sedikit linglung mendengar ucapan Joy yang memberitahu kondisi Rein pada Curran. Setahunya dia mengatakan bahwa ada tulang Rein yang patah, mengapa jadi tubuh?


Ekspresi wajah Curran menjadi kaku, tatapan matanya menjadi tajam. Netra hijau emerald miliknya berubah menjadi merah, dan aura api menguar dari tubuhnya.


"Siapa yang melakukan ini pada putraku?"


Moku mengelus kepalanya pada tangan Curran untuk menenangkan dirinya.


"Curran, Moku sudah membunuh mereka, Myuu."


"Kita harus mengobati Rein secepatnya, Myuu."


Curran menghela napas panjang. Dia menghilangkan aura api yang menguar dari tubuhnya, namun netra matanya tetap berwarna merah yang menandakan bahwa dia masih marah.


Curran menyentuh tubuh Rein dengan hati-hati, lalu menggendong ke dalam pelukan. Tatapan matanya melihat para dark elf yang sedang menatap ke arahnya.


Croft yang tahu arah pandang Curran segera menjelaskan poin intinya.


[ Moku melenyapkan rumah mereka untuk menyelamatkan Master.]


"Farenzo."


"Ya, Tuan."


"Mereka telah kehilangan tempat untuk tinggal, tolong urus mereka."


"Baik, Tuan."


Farenzo mengangguk mengerti. Dia melihat kepergian Curran dan yang lainnya. Lalu tatapan matanya tertuju pada Blue yang sedang berjalan dengan kepala tertunduk.


'Sepertinya Blue merasa kelelahan akibat berlari tadi.'


Farenzo memiliki tatapan pengertian di matanya. Dia pun menoleh lalu menatap ke sekelompok para dark elf.


"Mari, saya akan mengantar kalian ke tempat tinggal yang baru."