
"REIN!!!"
Rein menegang mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Dia lupa, niat awalnya 'kan dia hanya merampok harta para penjahat kecil lalu membiarkan Curran yang melawan mereka.
Namun, yang terjadi sekarang.
Para penjahat kecil dan monster milik mereka, sudah terbakar dalam kekuatan api Moku dan menjadi debu.
"Rein!"
Rein berbalik saat suara Curran terdengar dekat dengannya. Dia melihat Curran yang berdiri di kobaran api Moku dengan kaku.
[ Saya lupa tentang Curran, Master. ]
Rein memiliki ekspresi aneh di wajahnya, karena dia juga telah melupakan Curran sejenak.
Di sisi lain, Curran mematung di tempat melihat putranya berlumuran darah kembali di tengah-tengah kobaran api yang membara.
Ini persis seperti dirinya.
Saat dirinya di lecehkan oleh para pria dewasa yang ingin menjualnya ke pasar gelap untuk dijadikan budak.
Saat itu dia merasa marah. Marah pada dirinya sendiri karena lemah, hingga tidak bisa melawan mereka yang menyiksanya.
Kebencian, kemarahan, dan keputusasaan yang menyelimuti hatinya membuat dia ingin membunuh para bajingan yang melukainya.
Hingga saat itulah, tubuhnya merasakan panasnya api yang membara. Lalu api merah menyala mulai menyelimuti seluruh tubuhnya.
Tidak melewatkan kesempatan. Dia membunuh para bajingan itu dengan api kemarahan miliknya.
Hingga, Gilbert datang menemukan dirinya yang berlumuran darah di kobaran api yang membara.
Sejak saat itu dia memiliki kemampuan atribut api, dan tidak bisa disentuh oleh siapapun. Atau tangan mereka akan terbakar oleh api miliknya.
'Beginikah perasaan ayah saat menemukan ku dulu?'
Air mata mengalir membasahi pipi Curran. Dia merasa sesak di hatinya melihat anak satu-satunya yang dia miliki terluka kembali karena dia terlambat datang.
"Re-Rein."
Suara Curran bergetar saat memanggil nama putranya. Dia menggigit bibirnya, dia merasa takut.
'Apakah aku masih bisa memeluknya?'
Pertanyaan itu terus berputar di pikirannya. Dia merasa takut, takut bila jawabannya adalah tidak.
"Bisakah aku memelukmu?"
Napas Curran tercekat saat mengatakan kalimat tersebut. Mau tidak mau dia harus menerima jawaban dari Rein meskipun... Meskipun...
"Tentu."
"Huh?"
"Mengapa Ayah tidak bisa memeluk ku?"
Curran menatap Rein dengan ekspresi kosong. Dia melihat Rein yang melangkah demi selangkah mendekatinya.
Lalu...
Bruukk.
Curran merasakan Rein yang memeluk kakinya. Dengan ragu-ragu dia menyentuh kepala Rein lalu mengusapnya dengan lembut.
"Ayah, maafkan aku."
Rein meminta maaf karena melupakan Curran. Dia sungguh lupa tentang niat awalnya.
Curran memejamkan matanya, dan setetes air kembali mengalir membasahi pipinya. Dia pun mengangkat tubuh Rein lalu memeluknya dengan lembut.
"Tidak Nak, ini salah Ayah. Maafkan Ayah yang datang terlambat."
Suara Curran terdengar serak. Dia merasa kecewa pada dirinya sendiri, dia sudah membiarkan putranya berlumuran darah untuk kedua kalinya.
"Maafkan Ayah."
Rein mengerutkan keningnya.
'Dia menangis?'
Rein melirik ke arah Croft dan bertanya padanya. Yang di balas anggukan kepala oleh Croft.
Rein yang dipeluk dalam gendongan, pun menjaga jarak untuk melihat wajah Curran.
"Mengapa Ayah menangis? Aku baik-baik saja."
Rein menghapus air mata di wajah Curran.
"Benarkah?"
"Tentu saja, semua penjahatnya di bakar oleh Moku jadi aku tidak terluka."
Moku segera membusungkan dadanya mendengar pujian yang diberikan oleh Rein padanya.
~ Myuu! Myuu!
Moku berseru senang.
Curran terkekeh kecil. Dia menurunkan Rein, lalu mengusap kepala Moku.
"Terimakasih ya Moku, karena sudah melindungi putraku."
~ Myuu! Myuu!
Moku mengibaskan ekornya ke kanan dan ke kiri.
"Moku, kapan kau padamkan apinya?"
Rein bertanya, dia merasa tidak nyaman melihat kobaran api terus menerus.
~ Myuu.
Moku mengetuk lantai dengan kaki depannya, lalu kobaran api yang menyala langsung segera padam. Dan terlihat rata dengan tanah yang menghitam.
~ "Cutie pie!"
Mark dan Joy yang menunggu api padam, langsung segera mendekati mereka berdua.
"Paman Mark."
Mark segera terdiam melihat Rein yang kembali berlumuran darah. Dia memaksakan diri untuk tersenyum tenang, namun berbeda dengan tatapan matanya yang kian menajam.
"Tuan muda Rein, syukurlah akhirnya kami menemukan anda."
Entah hanya perasaan Rein, atau memang nada suara Mark yang terdengar menyeramkan. Lalu secara tiba-tiba dia merasa merinding.
'Apa roh para bajingan itu yang melakukannya?'
Rein segera menepis pemikiran itu.
~ "HUUUAAAAA ...."
Rein meringis mendengar suara jeritan histeris milik Joy.
Joy menangis histeris melihat Rein yang berlumuran darah.
~ "Kenapa Cutie pie berdarah lagi? Ini salah Joy, harusnya Joy Hpmmhh."
Croft memasukkan permen coklat pada mulut Joy.
[ Suaramu berisik. ]
Joy mengemut permen dengan sesegukan.
Croft menghela nafas. Dia menepuk-nepuk kepala Joy.
[ Itu bukan darah Master, itu milik penjahatnya. Mengerti? ]
Joy mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, dia bertekad di dalam pikirannya untuk tidak meninggalkan Rein atau dia akan berdarah lagi.
"Ayah, para paman itu membuat mereka bekerja."
Rein menunjuk ke arah para anak-anak yang masih di bawah mantra tidur dan perisai pelindung yang Croft berikan.
Curran melihat apa yang Rein tunjukkan.
[ Aku menyembuhkan setiap luka yang mereka derita, kecuali rasa lapar. Aku tidak bisa mengatasinya. ]
Curran mengerutkan kening. Dia pikir hanya para penjual manusia yang ada, ternyata ada juga yang memperkerjakan anak kecil di wilayah Duchy.
"Mark, urus mereka. Beri mereka makanan terlebih dahulu lalu antarkan mereka pulang."
"Sesuai perintah anda Tuan muda."
Curran menggendong Rein.
"Mari kita kembali."
"Tentu."
~ Myuu.
Curran merobek gulungan kertas teleportasi, dan meninggalkan Mark untuk melaksanakan tugasnya.
* * *
Yuda muncul di sebuah rumah yang cukup mewah. Dia berjalan masuk ke dalam dengan tatapan datar dan tanpa ekspresi.
Seorang penjaga membukakan pintu untuknya, lalu memberi hormat padanya.
"Tuan muda kedua, apa yang terjadi pada anda?"
Ben, seorang pelayan yang melayani Yuda datang menghampirinya. Lalu bertanya tentang kondisi Yuda yang datang dengan berlumuran darah.
Yuda menghiraukan ucapan Ben, dia tetap melangkah maju menuju ke kamarnya.
"Ben, beritahu ayahku, bahwa aku akan mengunjunginya sebentar lagi."
Setelah mengatakan kalimat tersebut, Yuda masuk ke dalam kamar dan menutup pintu sebelum Ben bisa memasukinya.
"Saya mengerti Tuan muda."
Setelah beberapa menit berlalu, Yuda sudah berganti pakaian dengan yang lebih bersih di banding sebelumnya.
Dia pun keluar dari kamar menuju ruang kerja milik ayahnya. Ben, mengikuti Yuda di belakangnya.
Tok tok tok.
"Masuk."
Yuda segera masuk ke dalam setelah mendapat persetujuan dari pemilik ruangan. Ben, berjaga di depan pintu menunggu tuan mudanya.
Sreettt.
Sebuah benda tajam melayang ke arah wajah Yuda. Sebelum benda tajam tersebut mengenai wajahnya, Yuda menghindar dengan cepat.
Yang membuat benda tersebut menancap di tembok.
"Apa itu sambutan?"
Yuda bertanya dengan suara datar, melihat seorang pria dewasa yang memakai pakaian hitam sedang duduk di kursi.
"Anggap saja begitu."
Suara berat milik pria dewasa itu terdengar dingin.
Morgan Horation, seorang pria dewasa berusia 42 tahun. Memiliki rambut biru dan mata biru pucat. Dia datang ke wilayah Crimson karena mendapat permintaan pembunuhan dari temannya.
"Apa yang ingin kau katakan?"
Morgan bertanya dengan suara berat khas miliknya.
"Aku bertemu dengan seorang anak kecil yang memiliki warna rambut dan mata yang sama dengan ibu."
"Hm?"