
[ Oh dia akhirnya datang. ]
Wajah Rein menghadap ke depan, matanya menyipit untuk melihat siapa yang dimaksud Croft akan datang.
Mark yang memperhatikan Rein sejak tadi merasa bingung saat melihat Rein menatap ke depan saja.
Mark mencoba mencari tahu apa yang di lihat oleh Rein, sayangnya dia tetap tidak melihat apapun yang mencurigakan.
Namun, beberapa menit kemudian Mark menyadari perubahan suasana yang ada di dalam hutan. Angin sedikit demi sedikit mulai membentuk sebuah putaran yang semakin kuat di detik berikutnya.
Seketika Mark teringat, bahwa kejadian seperti ini pernah terjadi sebelumnya saat dia dan Curran memasuki hutan hijau.
Mark secara refleks ingin meraih tangan kecil Rein, namun sesuatu yang tak terlihat membuat dirinya terpental menjauh.
"Tuan muda Rein!"
~ "Hihihihi, menarik ini menarik."
Sesosok makhluk mungil yang memiliki rambut lebat warna abu-abu, terbang mengelilingi tubuh Rein. Yang membuat Rein melayang di udara.
"Wooaahh, apakah ini rasanya terbang?"
Rein berdecak kagum melihat kakinya tidak menyentuh tanah, melayang di udara. Dia selalu melihat Croft melayang kesana kemari, hingga terbesit sebuah pertanyaan dalam benaknya tentang bagaimana rasanya saat dia terbang.
Dan rasanya sangat menyenangkan.
~ "Hihihihi, apa kau menyukainya?"
"Tentu saja, ini rasanya menyenangkan."
Rein membalas dengan senyum merekah di wajahnya.
Makhluk mungil itu terkejut dengan ucapan Rein, sangat berbeda dengan beberapa manusia yang sempat dia buat terbang untuk bermain.
~ "Hihihi, kau manusia pertama yang mengatakan hal tersebut."
Mata Rein berkedip polos.
"Sungguh?"
~ "Hihihi, kau terlihat sangat imut manusia."
Wajah Rein langsung berubah aneh saat mendengar kata imut, belum lagi Croft yang cekikikan di atas kepalanya.
"Tuan muda Rein."
Rein menunduk ke bawah, dan melihat Mark yang sedang menatap dirinya dengan tatapan khawatir.
"Bisakah kau turunkan aku?"
~ "Hihihi, bisa. Hihihi, tapi setelah itu kita bermain."
"Baiklah."
Rein menyetujuinya, karena dia pun masih ingin merasakan terbang lagi. Dan, Rein memiliki gambaran kasar saat Croft bilang bahwa roh angin ini menarik.
~ "Hihihihi."
Roh angin secara perlahan menurunkan Rein, hingga mendarat ke tanah dengan selamat.
"Paman Mark."
Tap tap tap.
Mark memeriksa ke kanan dan kiri untuk memastikan bahwa tidak ada luka di tubuh Rein.
Rein menatap kosong atas tindakan Mark, yang membuat beberapa tanaman berteriak histeris.
"Syukurlah tidak ada luka di tubuh anda."
Rein merasa bingung dengan semua perhatian dan kasih sayang yang dia peroleh secara tiba-tiba.
Meskipun Rein berusaha untuk menyesuaikan diri, tetap saja dia masih merasa canggung mendapatkan kasih sayang secara mendadak.
"Paman Mark, aku ingin bermain dengan roh angin. Bisakah Paman menungguku di sini?"
Kening Mark mengkerut mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Rein.
Mark berjongkok untuk menyesuaikan tinggi tubuhnya dengan Rein.
"Tuan muda Rein, apa itu tidak berbahaya? Bagaimana kalau anda terjatuh?"
~ "Hihihi, aku tidak pernah menyakiti manusia."
Rein menoleh ke samping saat mendengar sahutan dari roh angin.
'Apa dia selalu tertawa dulu sebelum bicara?'
[ Saya tidak tahu. ]
Croft mengangkat bahunya.
"Tenang saja Paman, aku berjanji tidak akan terluka."
Lagipula Rein sudah memiliki Croft di sampingnya, akan aneh bila dia tetap terluka di saat ada sistem.
Mark merasa ragu untuk membiarkan Rein bermain dengan roh angin, namun sebagai kepala pelayan dia tidak berhak untuk menolak keputusan tuan mudanya.
"Baiklah, saya harap anda berhati-hati saat bermain."
"Tentu."
~ "Hihihihi."
Rein merasa tubuhnya sangat ringan saat roh angin mengelilingi dirinya, hingga perlahan-lahan dia mulai melayang di udara.
"Paman, aku akan kembali."
"Baik Tuan muda Rein."
Mark tersenyum tenang, matanya terus memperhatikan Rein yang melayang ke dalam hutan. Tatapannya berubah serius saat Rein jauh dari jangkauan matanya.
"Haruskah, aku melaporkan pada Tuan muda Curran?"
* * *
William Osmond, seorang pria dewasa yang berusia 50an sedang duduk di kursi ruang kerja miliknya.
Netra biru milik William menatap setiap kata yang tertulis di gulungan kertas dengan cermat.
Beberapa kali kening William berkerut, matanya menyipit dengan tajam, bibirnya menutup garis tipis, dan helaan nafas panjang keluar saat William selesai membacanya.
William menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu jarinya mengetuk meja beberapa kali. Menutup mata sejenak, kemudian membukanya lagi.
"Darimana kau mendapatkan informasi ini, Jasvier?"
Suaranya berat dan memiliki bobot, membuat Jasvier sedikit menegang saat mendengarnya. Namun dia tetap menjawab pertanyaan William.
"Mohon maaf Yang mulia, saya tidak bisa memberitahu informasi tentang orang itu."
Untuk keamanan Rein, Curran meminta padanya untuk tidak memberitahu tentang kemampuan Rein yang bisa berkomunikasi dengan pohon.
Jasvier pun menyetujui hal itu, karena bagaimanapun Rein masihlah anak-anak yang butuh perlindungan.
Tuk tuk tuk.
Suara ketukan jari William semakin terdengar keras, lalu berhenti seketika.
"Berapa harga yang kau bayar atas informasi ini?"
"10.000 koin emas Yang muli- Ah."
Tiba-tiba tubuh Jasvier jatuh dan berlutut, sebelum dia dapat menyelesaikan kalimatnya. Tekanan yang dia rasakan sangat menekan dirinya, bahkan tangan kanannya bergetar.
Jasvier mengeraskan rahangnya, dan berusaha untuk bertahan dari tekanan yang telah ayahnya berikan.
"Pangeran mahkota, apa menurutmu 10.000 koin emas setara dengan nyawa warga kerajaan Xinlaire?"
"Tidak Yang mulia."
"Kalau begitu, apa kau tahu seberapa berharganya informasi ini?"
"Saya minta maaf Yang mulia, saya telah melakukan kesalahan."
William menghela nafas, lalu menarik kembali tekanan yang telah dia berikan pada Jasvier.
William mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu menatap Jasvier yang masih berlutut di hadapannya.
"Jasvier, aku akan memberimu sebuah pertanyaan. Kemudian, renungkan jawabannya sampai besok."
Jasvier mengerutkan keningnya. Dia merasa bingung pertanyaan apa yang membuat dirinya sampai harus merenungkan selama itu.
"Silahkan ajukan Yang mulia, saya akan mendengarkan."
William terdiam sejenak, sebelum mengajukan pertanyaan.
"Pilih di antara kedua hal ini. Mengorbankan satu nyawa untuk menyelamatkan banyak nyawa, atau mengorbankan banyak nyawa untuk menyelamatkan satu nyawa. Mana yang akan kau pilih?"
Jasvier tertegun di tempat, dia mengerti arah pembicaraan dari ayahnya. Ayahnya meminta dirinya untuk memilih antara nyawanya atau keselamatan rakyat kerajaan.
Jasvier menarik nafas dalam-dalam, lalu mulai berbicara;
"Saya minta maaf Yang mulia, tapi sepertinya saya bisa menjawab pertanyaan yang anda berikan saat ini juga."
"Apa jawaban mu?"
"Saya akan memilih keselamatan rakyat kerajaan."
"Jelaskan."
"Mohon maaf atas kelancangan saya Yang mulia, tapi anda masih memiliki seorang putri yang akan memimpin kerajaan Xinlaire."
Hening.
Terjadi keheningan saat Jasvier menyelesaikan ucapannya.
Jasvier sudah memutuskan bahwa dia akan mementingkan keberlangsungan hidup rakyatnya dibanding dirinya.
Tidak ada penyesalan atas kalimat yang telah dia ucapkan. Sebagai seorang putra mahkota, sudah menjadi kewajibannya untuk melindungi wilayah dan rakyatnya.
William menutup mata sejenak, lalu membukanya kembali.
"Kembalilah."
"Saya izin permisi Yang mulia."
Jasvier memberikan hormat pada William dan seorang pria dewasa yang berada di belakang ayahnya. Kemudian, dia pergi meninggalkan ruangan tersebut.
William menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Apa kau mendengarnya Andrew?"
Andrew Mallory, seorang pria berusia 40an yang menjadi perdana menteri kerajaan Xinlaire.
"Saya mendengarnya Yang mulia."
Andrew menjawab dengan suara tenang, setenang air.
"Putraku sudah dewasa."
"Anda benar Yang mulia, putra mahkota semakin bijaksana."
"Ini akan menjadi perang pertamanya, hm ... Haruskah aku menyebutnya sebagai perang?"
"Mohon maaf atas kelancangan saya Yang mulia, bukankah akan cukup berbahaya bagi putra mahkota untuk melawan penyihir itu?"
William mengarahkan pandangannya pada gulungan kertas yang berisi sebuah informasi, jarinya mengetuk kertas tersebut.
"Kau tau Andrew, anda yang lebih berbahaya dari sebilah pedang dan sihir."
"Saya mengerti Yang mulia."
William mengangguk, lalu memberikan perintah pada Andrew.
"Buat surat undangan untuk rapat besok, topik yang akan dibahas adalah hadiah festival perburuan."
"Sesuai perintah anda Yang mulia."
* * *