Suddely Became A Child

Suddely Became A Child
Eps 60


Vira memasang sikap waspada, telinganya mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Dia mengeluarkan batu cahaya lalu menekannya.


Tap.


Sring.


Kinara menoleh ke samping. Terlihat Vira sedang menahan sebuah benda yang bersinar dari dark elf pria yang memiliki kulit kecoklatan dan rambut hitam.


"Paman Lais."


"Vira."


Vira menarik kembali tangannya. Lalu menekan senjata yang berada di tangannya untuk kembali ke bentuk semula menjadi batu.


Hal itu juga di lakukan oleh Lais, sang dark elf pria.


"Vira, siapa pria itu?"


Vira menoleh ke belakang, lalu tersenyum.


"Kinara, ini Pamanku namanya Paman Lais. Dan Paman, ini temanku Kinara."


Lais melotot. Terkejut saat Vira memperkenalkan gadis kecil di depan sebagai teman sebayanya.


Itu artinya Vira baru saja kembali dari dunia luar.


"Halo perkenalkan namaku Kinara Osmond, salam kenal."


Kinara menarik sedikit gaunnya, lalu menundukkan pandangannya dan mulai memperkenalkan diri.


"Ah, hm, itu, salam kenal juga, namaku Lais."


Lais merasa canggung dengan sikap gadis kecil bernama Kinara yang terlihat anggun. Mengambil langkah lebih dekat, Lais mulai memeriksa keadaan tubuh keponakannya.


Dan dia tidak menemukan luka dari tubuhnya.


Lais menghela napas. "Kau tahu, bila Mey tahu tentang kau yang pergi ke dunia luar. Aku yakin dia akan khawatir."


"Tapi aku baik-baik saja Paman."


"Aku tahu itu."


Lais mengusap-usap kepala Vira. Dia menyadari bahwa ponakannya sangat penasaran dengan dunia luar.


Namun sebelum bisa melihat luasnya langit, kau harus berhadapan dengan monster besar yang bisa melakukan regenerasi.


Oh benar, Lais baru ingat bahwa dia datang kemari untuk mengecek keadaan karena mendengar suara keributan terjadi.


Lais mengalihkan pandangan dari dua gadis di depannya, menoleh ke samping dan...


Lais menjatuhkan rahangnya.


Tercengang? Tentu saja.


Melihat dua orang anak kecil dan satu hewan besar sedang bertarung secara berutal dengan monster Bufo Asper yang memiliki kemampuan regenerasi.


"Me-mereka."


"Mereka juga temanku Paman."


"O-ouh."


Menghela napas panjang, Lais mengambil batu cahaya. Lalu mengubahnya menjadi sebuah tombak panjang yang tajam di ujungnya.


Battle dance, sebuah senjata yang diciptakan oleh bangsa dark elf. Terbuat dari cristal magis alami dan memiliki bentuk layaknya batu dengan warna cerah bercahaya.


Senjata Battle dance di buat untuk memudahkan para dark elf dalam menghadapi setiap monster yang datang menyerang tempat tinggal mereka.


Di beri nama Battle dance, karena senjata itu akan mengubah bentuknya sesuai keinginan pengguna saat terjadi pertarungan. Dan membutuhkan darah untuk mengaktifkannya.


"Tetaplah di sini, biar Paman yang akan membantu mereka."


Vira menatap dalam diam, sebelum akhirnya mengangguk. "Baik, Paman." Vira memiliki keinginan untuk bertarung bersama, namun dia perlu melakukan tugasnya melindungi Kinara.


Lais melompat terjun ke bawah, tangannya berpegang erat pada tongkat tombak. Ujung tombak mengenai kulit monster Bufo Asper, Lais mendorongnya dengan kuat hingga berhasil merobek tubuh monster itu menjadi dua.


Setelah itu Lais melompat menjauh lalu mengubah tombak menjadi sebuah pedang dan menebas monster Bufo Asper yang melompat mendekatinya.


Di detik berikutnya, Lais mengubah kembali senjatanya menjadi sebuah busur panah dan menembakkan beberapa anak panah hingga menembus salah satu tubuh monster.


Vira menatap dengan mata berbinar. Dia ingin mencoba menyerang monster, tapi segera dia mengurungkan niatnya.


Bila dia menyerangnya, maka monster itu akan mengetahui lokasi persembunyian mereka berdua.


"Apa?" Kinara merasa bingung melihat Vira yang tiba-tiba menatapnya.


"Bukan apa-apa."


Vira menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Sekali lagi, dia mengurungkan niatnya untuk bertarung.


"Wow Paman, senjata mu sangat keren."


Lais terkekeh kecil.


Mengubah sebuah busur panah menjadi pedang, lalu menarik tangan anak kecil tersebut untuk berada di belakangnya. Kemudian menebas monster Bufo Asper yang mendekat pada mereka.


"Kita tidak boleh lengah saat sedang bertarung, Nak."


Rein mengangkat satu alisnya.


Dia memiliki Croft yang ada bersamanya, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Bila dengan adanya Croft, dia masih tetap terluka.


Betapa tidak bergunanya.


[ Master, saya dapat mengetahui apa yang anda pikirkan. ]


Croft memasang ekspresi wajah datar.


Rein menghiraukan ucapan Croft, dan mengajukan pertanyaan pada dark elf pria di dekatnya.


"Paman, apa kau masih memiliki senjata yang serupa dengan milik mu?"


"Masih banyak senjata lainnya di rumah ku."


"Gratis?"


Lais terkekeh geli. "Tentu saja." Lais memotong monster di depan dengan satu tangan dan tangan yang lainnya melindungi anak kecil rambut merah muda.


"Aku akan memberikannya gratis kepada mu, bila kita selamat dari sini," ucap Lais melanjutkan.


Rein mengangkat satu alisnya, lalu tertawa.


"Hahaha."


Karena berada di ruangan tertutup, tawa Rein bergema dengan keras di dalam ruangan bawah tanah yang sedang mereka tempati. Hal itu membuat yang lainnya dapat mendengar suara tawa tersebut.


"Kata-katamu sangat lucu, Paman."


Lais mengerutkan kening. Dia merasa tidak ada kalimatnya yang terdengar lucu.


"Bila kita selamat dari sini? Kata-katamu seolah mengatakan bahwa kita tidak akan selamat."


Rein mengambil jarak dari pria dark elf, hembusan angin menerbangkan helaian rambut Rein.


Tak lama kemudian, terbentuklah sebuah pusaran angin yang mengelilingi mereka berdua dan menerbangkan setiap monster yang ingin mendekat.


Lais tercengang melihat kekuatan dari anak kecil rambut merah muda.


"Paman."


Lais memandang wajah anak kecil yang memanggilnya.


"Jangan memikirkan sebuah hasil saat bertarung, tetapi bertarung lah hingga mendapatkan hasilnya."


Pusaran angin kencang menghempaskan monster-monster yang berada di sekitar Rein. Sudah cukup baginya untuk bermain-main, Rein merasa lelah dan mengantuk. Untuk itu, dia perlu mengakhiri pertarungan ini.


Bola-bola air mulai terbentuk dalam jumlah banyak dan berada di sekitar Rein.


"Mari kita akhiri ini."


Splash splash splash.


Serangan bola air beruntun menerjang monster Bufo Asper tanpa memberikan mereka waktu untuk beregenerasi, namun ukuran tubuh mereka tetap mengecil begitu terkena serangan.


Hingga monster itu tidak bisa melakukan regenerasi yang mengakibatkan tubuhnya meledak. Ledakan demi ledakan bergema di dalam tempat itu.


Ekspresi wajah Lais menjadi kaku.


Rein menghela napas lega. Monster yang dia hadapi telah meledak semua. Rein mengalihkan pandangannya untuk melihat keadaan yang lainnya.


Kening Rein berkerut melihat tubuh Yuda berlumuran darah hijau. "Jangan dekati aku dengan tubuh kotor mu itu."


Yuda yang sedang berjalan ke tempat Rein berada, segera menghentikan langkahnya. Dia melihat tubuhnya yang terdapat cairan hijau.


Sepertinya dia terlalu asik membunuh hingga tak menyadari kondisi tubuhnya.


~ "Moya akan membantu."


Sebuah suara renyah terdengar oleh telinganya, di susul tumpahan air mengalir yang membasahi seluruh tubuhnya.


Yuda memasang wajah tabah.


Setidaknya dia menjadi bersih kembali.


Moku mengelus kepalanya pada kaki Rein yang baru saja mendarat kembali ke tanah.


Rein berjongkok untuk mengelus bulu halus Moku yang bersih, lalu tatapannya tertuju pada sebuah benda yang terdapat di mulut Moku.


"Apa itu?"