
Rein membuka matanya. Dia melihat pohon, pohon, dan pohon lagi.
Croft yang melihat Rein sudah membuka matanya, langsung bertanya.
[ Master, anda sudah sadar? ]
'Belum.'
[ Eh? Tapi anda sudah membuka mata. ]
'Berarti sudah.'
[ .... ]
~ "Cutie pie!!!"
Joy memekik heboh.
Rein meringis mendengar teriakkan kencang dari Joy. Curran melayangkan tatapan tajam ke arahnya. Croft menatap dengan datar. Dan Moku, monster api terkejut hingga pemuda yang berada di atas tubuhnya terpental lalu terbentur pohon.
"Ugh, aku siapa? Aku dimana?"
Pemuda tersebut berujar dengan linglung.
[ Berisik! ]
Croft membalas dengan wajah tidak senang, dan nada yang tajam.
Joy memasang wajah cemberut, lalu memalingkan wajahnya ke samping.
"Ayah."
"Kenapa hm? Ada yang sakit?"
Curran yang menghentikan langkahnya, bertanya dengan lembut saat Rein memanggil dirinya dengan sebutan ayah tanpa harus dia memintanya terlebih dahulu.
"Aku lapar."
Rein merasa sangat lapar. Ternyata monster yang perlu dia jinakkan lumayan banyak. Awalnya dia mengira, dia perlu menjinakkan monster tidak lebih dari 100 karena banyak para bangsawan yang telah bertarung melawan monster.
Namun, dia tidak menyangka monster yang perlu dia jinakkan ternyata hampir mencapai 500. Hal itu menyebabkan tenaganya terkuras, dan dia kelaparan.
Rein ingin makan untuk mengisi kembali tubuhnya.
[ Bagaimana dengan daging tusuk? ]
"Berikan."
Rein menjawab dengan lemah.
Croft segera membeli daging tusuk di fitur market.
[ Master, ulurkan tangan anda. ]
Rein mengulurkan kedua tangannya ke depan, tak lama sebungkus daging tusuk muncul di hadapannya.
Senyum cerah terlukis di wajah Rein. Dia mengambil satu daging tusuk, lalu memakannya dengan lahap.
"Enak."
Rein berseru kecil merasakan daging yang lembut saat di gigit.
'Apa kau yang melakukannya?'
Curran merasa heran melihat keanehan yang terjadi, jadi dia pun bertanya pada Croft.
[ Tentu saja. ]
Croft berkata dengan bangga. Lalu menambahkan kalimat selanjutnya.
[ Untuk Master, apapun akan aku lakukan. ]
Curran merasa tenang mendengar kalimat yang Croft ucapkan.
'Terima kasih telah menjaga putraku.'
Curran mengusap kepala Rein dengan lembut.
Croft tersenyum kecil, kemudian mengangguk. Lalu dia merasakan ada yang menarik-narik pakaian miliknya.
Croft pun menoleh ke samping dan melihat Joy yang sedang menatapnya dengan mata berbinar.
~ "Joy juga mau makanan yang di makan Cutie pie."
Croft menghela nafas.
[ Ulurkan tanganmu. ]
Joy mengulurkan tangannya seperti yang di minta, dan tak lama muncul makanan di atasnya.
~ "Wuuooohhhh."
Joy mengikuti cara bagaimana memakan daging tusuk seperti yang Rein lakukan.
Croft mendecakkan lidahnya. Dia memunculkan tissue dari tangannya, lalu mengusap wajah Joy yang kotor akibat cara makannya yang terburu-buru saking enaknya.
[ Makan tuh pelan-pelan, nanti tersedak. ]
Joy mengedipkan matanya beberapa kali, lalu mengangguk. Dia pun mulai makan secara perlahan.
"Tuan muda Curran! Di samping anda ada monster!"
Curran mengalihkan pandangannya ke samping, dia melihat seorang pemuda yang memiliki raut wajah khawatir sedang menatap ke arahnya serta monster api Moku di sampingnya.
'Aku lupa tentang keberadaannya.'
"Tuan muda Agler, anda tenang saja. Saya sudah menjinakkannya."
"Hm?"
Rein mengerutkan keningnya.
Croft yang melihat ekspresi kebingungan Rein, segera menjelaskan padanya.
[ Saya memberitahu ayah anda, bahwa anda memiliki kemampuan yang bisa menjinakkan monster. Namun kemampuan itu memiliki efek samping yang dapat membuat anda muntah darah. ]
[ Mendengar hal itu, ayah anda berniat untuk menyembunyikan kemampuan anda agar tidak ada yang berniat untuk memanfaatkan anda serta anda tidak perlu muntah darah lagi. ]
[ Dan, karena monster api memiliki kekuatan yang sama dengan ayah anda. Itu memudahkan ayah anda untuk mengaku bahwa dia telah menjinakkannya. ]
[ Moku, itu nama monster api yang telah saya berikan. ]
'Aku mengerti.'
Rein tersenyum kecil pada Moku yang sedang menatapnya, lalu lanjut makan daging tusuk.
"Tentu saja."
Curran menjawab dengan tenang.
"Begitu."
Pemuda tersebut menghela nafas lega.
Hans Agler, seorang pemuda berusia 20 tahun. Merupakan putra kedua dari keluarga bangsawan Count Agler yang berada di wilayah Barat Daya, perbatasan dengan Kekaisaran.
"Tuan muda Agler, apa anda ingin membunuh monster ini?"
~ Myu! Myu!
Moku merasa tidak senang dengan pertanyaan yang diajukan oleh Curran pada Hans. Dia adalah monster terkuat di hutan Volker, bagaimana bisa manusia lemah seperti Hans bisa membunuhnya.
Hans terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh Curran secara tiba-tiba.
"Kesatria milik keluarga telah di bunuh oleh monster ini. Jadi, apa pendapat anda?"
Moku langsung menoleh ke arah Hans, dia melayangkan tatapan tajam serta menunjukkan taring tajam miliknya.
Wajah Hans berubah kaku, melihat tampilan monster api yang terlihat menyeramkan. Memang, semua prajurit milik keluarganya telah tewas oleh monster itu, tapi Curran lah yang sudah menyelamatkan nyawanya.
"Saya sangat berterima kasih atas perhatian anda, namun saya tidak ingin membunuh monster yang sudah anda jinakkan. Belum lagi, karena anda lah saya berhasil selamat dari serangannya."
"Begitu."
"Itu benar. Kalau begitu, saya izin permisi."
"Silahkan."
Hans pergi dari sana dengan perasaan lega.
"Tuan muda!!"
Curran dan Rein menoleh ke samping, mereka melihat Mark dan Kendrick sedang berjalan menuju ke arahnya.
"Paman Mark."
"Tuan muda Rein, saya senang melihat anda baik-baik saja."
Mark tersenyum tenang, melihat Rein yang langsung menyapanya. Namun, tatapannya sedikit tajam melihat darah yang menempel di pakaian milik Rein.
"Kerja bagus."
Curran berkomentar puas melihat keduanya baik-baik saja, dan tidak memiliki luka di tubuhnya.
"Tuan muda Ran, saya ingin melapor-"
Curran mengangkat telapak tangannya, yang membuat ucapan Kendrick berhenti.
"Croft, apa kau bisa membuat mereka berdua dapat melihatmu dan Joy?"
Mark dan Kendrick, sudah berada di sampingnya sejak dia masih kecil. Jadi, Curran ingin mereka juga bisa melihat Croft serta Joy.
[ Sayangnya tidak bisa, mereka tidak memiliki kemampuan atribut yang membuat mereka bisa melihat kami. ]
"Bagaimana dengan mendengar suaranya saja?"
Croft terdiam sejenak, sebelum menyahuti ucapan Curran.
[ Aku akan mencobanya. ]
"Tentu."
Mark dan Kendrick merasa kebingungan melihat Curran yang berbicara sendiri, sedangkan Rein menghiraukan percakapan mereka dan lanjut makan.
Namun kebingungan mereka segera berhenti, saat sebuah suara terdengar oleh mereka.
[ Halo, apa kau bisa mendengar suaraku? ]
"Saya bisa mendengarnya."
"Saya juga bisa mendengarnya."
[ Itu bagus, perkenalkan namaku Croft. Roh pelindung milik Master Rein, salam kenal. ]
~ "Namaku Joy, roh angin temannya Cutie pie dan manusia merah."
"Senang bisa mendengar suara kalian."
Mark menyahuti dengan tenang, sedang Kendrick menjawab dengan hormat.
"Baiklah, mari kita kembali."
"Sesuai keinginan anda Tuan muda Curran."
Curran yang ingin melangkahkan kakinya terhenti oleh suara yang di kenal memanggil namanya.
"Curran."
Wajah Curran berubah menjadi datar.
Farenzo datang bersama dengan Jasvier, karena Hoka perlu kembali ke ruang dimensi agar kemampuan Rein tidak di ketahui oleh orang lain
"Adik kecil, apa kau baik-baik saja? Yang mulia bilang kau pergi menyusul Tuan muda Curran sendirian."
Farenzo bertanya dengan wajah khawatir.
Tatapan Curran menjadi teduh, mendengar kalimat yang diucapkan oleh Farenzo.
"Aku baik-baik saja, dan berhenti memanggilku adik, aku bukan adikmu."
Rein menjawab dengan ketus, karena waktu makannya terganggu oleh Farenzo.
Farenzo terkekeh kecil. Wajah marah Rein terlihat imut di matanya.
"Aku merasa senang kalian berdua baik-baik saja."
Jasvier berkata dengan senyum lembut yang terlukis di wajahnya.
"Hm."
Curran mengambil langkah besar, lalu dengan cepat meninggalkan tempat tersebut. Mark dan Kendrick yang menyadari perubahan suasana hati Curran, hanya mengikuti dari belakang.
Farenzo ikut dengan kelompok Curran, dan sibuk menjahili Rein yang sedang makan.
Jasvier mengedipkan matanya beberapa kali.
"Apa Curran baru saja mengabaikan ku?"