Suddely Became A Child

Suddely Became A Child
Eps 50


~ "Elle, apa yang ingin kau lakukan?!"


Mizu bertanya dengan keras melihat tanaman-tanaman beracun yang ada di sekelilingnya.


"Aku ingin membuat ramuan."


Ellena membalas ucapan Mizu tanpa melihat ke arahnya. Dia telah membeli berbagai tanaman beracun saat menemukan surat yang berisi ancaman.


Pilihannya tidak salah, tanaman ini sangat berguna.


~ "Ramuan macam apa yang terbuat dari tanaman beracun?!"


Mizu menatap dengan tajam.


~ "HENTIKAN ELLE!!"


Ellena menghentikan pergerakan tangannya, dia menatap tajam ke arah Mizu.


"Mizu, mereka telah mengusik keluargaku. Mereka menyentuh putraku! AKU HARUS MEMBALASNYA!"


Ellena melanjutkan aksinya. Dia berniat membuat racun mematikan, yang bisa membunuh dalam waktu beberapa detik.


~ "MIZU BILANG HENTIKAN!!"


Braakk.


Mizu menjatuhkan wadah untuk membuat racun, dia juga menghancurkan semua tanaman beracun agar tidak dapat di gunakan lagi.


"APA YANG KAU LAKUKAN MIZU?!!"


Ellena berteriak dengan marah, saat barang-barang yang telah dia siapkan di hancurkan begitu saja.


~ "ITULAH YANG INGIN MIZU KATAKAN! APA YANG KAU LAKUKAN ELLE?!!"


Mizu membalas teriakan marah Ellena. Dia memiliki tatapan tajam, dan napas yang menggebu-gebu.


~ "Kau berjanji pada Mizu, bahwa kau akan menggunakan kekuatan Mizu hanya untuk menyelamatkan orang dan membantu banyak orang."


~ "Racun tidak di gunakan untuk menyelamatkan orang, melainkan membunuh mereka. Kau tahu itu 'kan!!!"


"ITULAH YANG INGIN AKU LAKUKAN!!"


Ellena membalas dengan mata yang memerah, dimatanya terdapat air mata yang siap jatuh kapan saja.


"Aku ingin membunuh mereka semua! Aku ingin membunuh mereka yang mencoba menyakitkan anakku!!"


Byuurr.


Mizu memberikan bola air yang membuat seluruh tubuh dan pakaian yang di gunakan Ellena basah.


~ "SADAR ELLE!!"


~ "Gilbert, sedang menyusul Curran."


~ "Kau harus percaya padanya, bahwa dia akan berhasil menyelamatkan Curran."


~ "Dan, Curran akan baik-baik saja."


~ "Berhenti melakukan hal konyol, Elle."


~ "Lagipula, memangnya kau tahu tentang mereka yang telah menculik Curran."


Pupil mata Ellena bergetar, dia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskan secara perlahan.


Ellena memejamkan matanya sejenak, dia berusaha untuk menenangkan dirinya agar tidak mengambil tindakan impulsif.


"Maafkan aku."


Mizu terbang mendekati Ellena yang telah menenangkan dirinya, dia memeluk Ellena.


~ "Tidak apa-apa Elle."


* * *


Ellena berjalan mondar-mandir menunggu kedatangan rombongan suaminya yang sudah menemukan Curran. Dia telah mengganti pakaiannya yang basah, begitu mendengar informasi tersebut.


"Nyonya, itu Tuan Duke sudah tiba."


Ellena segera menatap depan gerbang kediaman begitu mendengar suara Mark yang memberitahu kedatangan mereka.


Dia melihat putranya yang berlumuran darah berjalan di paling depan rombongan, lalu melihat suaminya yang berjalan di belakang dengan pandangan rumit.


"Curran."


Mizu melihat Ellena yang berlari menuju mereka. Namun, dia segera membeku di tempat begitu tatapannya jatuh pada seorang anak kecil yang berlumuran darah.


~ "Ellena berhenti!!"


"Jangan sentuh aku, Ibu."


Langkah kaki Ellena terhenti mendengar teriakkan Mizu dan suara dingin putranya.


Ellena menghiraukan Mizu, dia menatap wajah putranya yang tanpa ekspresi dan tatapan kosong.


"Kenapa sayang? Kenapa Ibu tidak boleh memeluk putra Ibu sendiri, hm?"


"Aku tidak ingin menyakitimu, Ibu."


Curran pergi meninggalkan Ellena yang terdiam di sana. Dia memastikan tidak ada seorangpun yang menyentuhnya.


"Tuan muda Curran."


"Menjauh dariku, Mark!!"


Mark tertegun mendengar suara bentakan keras dari Curran yang belum pernah dia dengar sebelumnya.


"Sa-sayang, apa yang terjadi pada putra kita?"


Ellena menyentuh tangan Gilbert, dia menatap wajahnya untuk meminta jawaban.


Gilbert menyandarkan kepalanya pada pundak Ellena.


"Maafkan aku, maafkan aku."


Ellena tidak mengerti dengan permintaan maaf yang terus suaminya gumamkan. Dia memandang ke arah para kesatria Crimson yang ikut dalam menyelamatkan putranya.


Sayangnya, tak ada yang mengatakan sepatah katapun. Mereka semua menundukkan kepalanya.


Ellena menatap ke arah Mizu untuk meminta penjelasan.


Mizu menggigit bibirnya.


~ "Elle, Curran memiliki aroma alam di tubuhnya, yaitu api."


~ "Api tersebut, telah menjadi kekuatan, senjata, dan pelindung bagi tubuh Curran."


~ "Tidak ada yang bisa menyentuhnya."


~ "Bila kau tetap menyentuhnya, maka tanganmu akan terbakar oleh api yang melindungi Curran."


Mizu menutup matanya setelah dia selesai memberikan penjelasan pada Ellena.


Api yang berada di dalam tubuh Curran merupakan api kehancuran. Api tersebut akan membakar apapun yang menyentuh pemiliknya.


Hanya kekuatan itu yang dapat menyentuh pemilik api kehancuran, sayangnya dia tidak mungkin menurunkan kekuatannya pada manusia.


Ellena mematung di tempat begitu mendengar penjelasan dari Mizu. Dia menggigit bibirnya, dan memiliki mata yang berkaca-kaca.


Dia tidak bisa memeluk putranya sendiri?


Bagaimana putranya akan berinteraksi dengan orang lain?


Bagaimana putranya bermain dengan anak seusianya?


Mengapa harus putranya?


Dia harus mencari tahu apa yang terjadi pada putranya, sehingga putranya memiliki kekuatan seperti itu.


* * *


"Nyonya, anda ingin pergi kemana?"


"Mark, jangan biarkan siapapun masuk ke dalam hutan yang ada di belakang kediaman. Ini perintah!"


"Saya mengerti, Nyonya."


Mark menyaksikan kepergian Ellena yang masuk ke dalam hutan hijau. Dia segera kembali ke tempat Curran yang mengurung diri di kamarnya.


"Mizu, aku ingin tahu yang putraku alami sehingga dia mendapatkan kekuatan itu."


Ellena telah berada di tengah-tengah hutan hijau yang penuh dengan tanaman herbal.


~ "Mizu mengerti."


Mizu merentangkan tangannya. Dia memanggil kumpulan air yang berada di lokasi tempat Curran di culik.


Kumpulan air tersebut membentuk bola air berukuran besar, dan mulai menampilkan gambar seseorang dengan suara-suara di dalamnya.


Jadi, dia anak wanita itu.


Itu benar.


Sialan! Gara-gara wanita itu, bisnis ramuan kita tidak laku dan hampir bangkrut.


Bangunkan dia.


Siap Tuan.


Byuurr.


Bangun!!


Siapa kalian?!!


Berisik kau!!


Plak.


Sialan! Jangan rusak wajahnya.


Dia bisa kita jual ke pasar budak.


Maafkan saya Tuan.


Bajingan kalian!! Beraninya sama anak kecil!!


Diam kau!!


Bugh.


Aaarrrgghhh.


Pupil mata Ellena bergetar, melihat perut putranya di pukul oleh pria bajingan.


Lepaskan ikatanku!! Akan ku bunuh kalian semua!!


Sialan bocah ini sangat sombong!!


Beri aku cambuk!!


Ini Tuan.


Splash.


Aaarrrgghhh.


Ellena mencengkeram kedua tangannya hingga berdarah, mendengar suara jeritan kesakitan putranya yang berkali-kali di cambuk oleh tangan kotor milik pria bajingan.


Uhukk uhukk.


Hei berhenti! Kalau anak ini mati, kita tidak bisa menjualnya.


Cih, baiklah.


Aaarrrgghhh.


Apa, apa yang terjadi?


Ma-matanya berwarna merah.


Ikatanku sudah lepas, ada kata-kata terakhir?


Sialan! Bunuh anak itu!


Sring.


Sring.


Aaarrrgghhh.


Sial, sihir es tidak mempan!!


Kekuatan apa yang dia miliki?!!


Kita harus melarikan diri-


Aaarrrgghhh.


Teriakan mu seperti alunan melody di telingaku.


Lepaskan aku!


Sring.


Maaf, telingaku sepertinya sedikit tuli.


Sring.


Sring.


Aaarrrgghhh.


Aararghhhhhh.


Mata Ellena berkaca-kaca, melihat putranya yang berlumuran darah saat membunuh para bajingan itu.


Tanganku kotor.


Aku yang membunuh mereka semua?


Aku membunuh mereka?


Apa aku seorang pembunuh?


Ibu maafkan aku, putramu telah menjadi seorang pembunuh.


Setetes air mata membasahi pipi Ellena, dia menggelengkan kepalanya.


"Tidak nak, putra Ibu bukanlah seorang pembunuh. Mereka pantas menerimanya."


Curran, Curran, apa kau di dalam nak?!


A-ayah.


Curran!


Menjauh dariku Ayah.


Aku tidak ingin menyakitimu.


Byuurr.


Bola air pecah seketika sehingga membasahi setiap hal yang berada di bawahnya.


Mizu mengedipkan matanya beberapa, saat dirinya tidak sengaja memecah bola air tersebut.


Untuk pertama kalinya dia melihat dunia yang berbeda, setelah melihat memory yang di sampaikan oleh air.


Dia merasa bahwa yang di alami oleh Curran sangatlah tidak adil.


Curran hanyalah seorang anak kecil, mengapa seorang anak kecil sepertinya harus merasakan penyiksaan seperti itu.


Bukankah bila kita berbuat baik, maka kebaikan kita akan dibalas dengan kebaikan juga.


Tapi mengapa?


"Aararghhhhhh ...."


Mizu melihat Ellena yang berteriak dengan air mata yang membasahi pipinya.


"Kau bodoh Ellena! Kau bodoh!"


"Kenapa Ellena?! Kenapa?!!"


"Kau berhasil menyembuhkan orang lain!!"


"Kau berhasil menyelamatkan orang lain!!!"


"Kau berhasil membantu orang lain!!"


"Tapi kenapa Ellena?!! Kenapa?!!"


"Kenapa kau sekali lagi gagal melindungi keluargamu?!"


Dengan pakaiannya yang basah, Ellena menangis histeris. Dia merasa tidak berguna, percuma memiliki kekuatan yang hebat kalau dia sendiri gagal melindungi keluarganya sendiri.


"Putraku ... Maafkan Ibu nak."


Ellena menangis karena dirinya merasa gagal sebagai seorang Ibu.


"Ellena."


Ellena terdiam mendengar suara yang tidak asing baginya, lalu dia merasakan pelukan dari belakang.


"Maafkan aku."


Gilbert memeluk Ellena dari belakang. Dia menyusul istrinya yang masuk sendirian ke dalam hutan.


Namun yang dia temukan, sebuah bola air yang menampilkan penyiksaan putranya sebelum dia datang.


Tubuhnya membeku di tempat, hingga dirinya di sadarkan oleh teriakan istrinya yang histeris.


Gilbert menyesal, seharusnya dia bisa datang lebih cepat sehingga dapat menyelamatkan putranya. Sayangnya di lokasi tersebut, terdapat monster kuat yang perlu dia habisi atau rekan anggotanya akan banyak yang tewas.


"Maafkan aku Ellena."


Mizu menyaksikan sepasang suami istri yang menangis satu sama lain. Dia telah mengambil sebuah keputusan.


Mizu terbang mendekati Ellena.


~ "Elle, Mizu akan mendukung apapun keputusan yang kau ambil."


Mendengar suara Mizu yang ingin mendukungnya, mata Ellena berkilat tajam.


Sekelompok orang tidak mungkin berani menganggu keluarganya yang memiliki pangkat Duke, belum lagi dirinya masihlah anggota keluarga Kerajaan.


Siapapun mereka, Ellena telah merencanakan balas dendam. Dia tidak terima atas apa yang dialami oleh putranya.


Dia akan balas dendam.


* * *


"Bu, itu darah bukan susu."


"Tidak sayang, ini susu. Coba kamu lihat baik-baik, ini susu warnanya putih."


Curran yang menyelimuti seluruh tubuhnya kecuali bagian kepala, melihat kembali gelas yang di pegang oleh ibunya.


"Bu, itu darah, aku tidak ingin meminumnya."


Ellena menahan diri untuk menangis.


Sudah hampir sebulan putranya selalu berhalusinasi kalau susu yang diberikan padanya merupakan cairan darah, sedangkan daging yang dia makan merupakan bagian tubuh manusia.


Ellena bergantian menjaga putranya dengan Mizu. Dia bertugas untuk mengawasi putranya saat pagi hingga sore hari, dan mencoba membujuknya untuk makan.


Sedangkan Mizu, menjaga putranya saat malam hari. Karena saat malam hari putranya secara tiba-tiba mengamuk hingga membakar apapun yang ada di sekitarnya.


Mizu bertugas untuk memadamkan kebakaran tersebut, dan mencoba menenangkan Curran dengan berbicara dengannya. Sayangnya, Curran seperti tidak dapat mendengar suaranya meskipun dia memiliki aroma alam.


Ellena sudah mencari informasi terkait kelompok yang menculik putranya, dia pun sudah menyiapkan banyak hal untuk mengejutkan mereka.


Ellena mengedipkan matanya untuk menghalau airmata yang ingin turun.


"Curran, dengarkan Ibu nak. Coba kamu perhatikan baik-baik, ini susu sayang, warnanya putih bukan darah."


"Ibu tidak mungkin, memberikan darah untuk kamu minum sayang."


Curran kecil menundukkan kepalanya.


"Bu, aku seorang pembunuh."


Ellena menggelengkan kepalanya.


"Tidak sayang, kamu hanya membela diri nak."


"Coba sini lihat Ibu."


Curran kecil dengan ragu-ragu melihat wajah Ellena.


"Dengarkan Ibu, putra Ibu bukanlah seorang pembunuh. Kamu tetap putra kecil Ibu."


"Di minum dulu yuk susunya, kamu haus 'kan?"


Ellena tersenyum kecil, melihat putranya yang mau meminum susu dengan perlahan.


~ "Elle."


Mizu terbang mendatangi Ellena, dia telah selesai melakukan tugasnya.


~ "Semuanya telah siap, Elle."


Mata Ellena berkilat tajam. Hari yang telah dia tunggu-tunggu akhirnya tiba.


"Mark."


"Saya di sini Nyonya."


"Aku ada urusan penting, pastikan putraku makan dengan baik."


"Di mengerti, Nyonya."


Ellena memandang wajah Curran dengan sayang.


"Curran sayang, Ibu ada urusan sebentar. Nanti kita ketemu lagi, kamu makan ya."


Curran kecil menganggukkan kepalanya.


Ellena tersenyum lembut. Dia pergi meninggalkan kamar Curran.


* * *


"Eh kamu tahu nggak, kalau tuan muda Curran sekarang gila."


Rosaly menghentikan langkah kakinya, mendengar nama kakaknya disebut oleh para pelayan yang sedang berkumpul.


Emma yang bertugas menjadi pelayan pribadi nona muda keluarga Crimson, menghela napas mendengar pelayan yang sedang bergosip. Dia berharap masih melihat pelayan tersebut besok hari.


Karena, keluarga Crimson telah berubah sejak kejadian hilangnya tuan muda Curran. Mereka sangat menyeramkan.


"Sut, kamu tidak boleh bicara seperti itu."


"Heh, memang benar sih. Coba kamu pikir, warna susu tentu saja putih. Tapi, tuan muda Curran bilangnya itu darah."


"Terus, daging yang sudah di potong, masa di bilang jari tangan. 'Kan aneh."


Tatapan Rosaly menjadi gelap.


"Emma, seret pelayan itu kemari."


"Di mengerti, Nona."


Rosaly diam di tempatnya, menyaksikan Emma yang sedang menyeret pelayan yang mengatakan bahwa kakaknya sudah gila.


Dia memang tidak tahu tentang kejadian yang dialami oleh kakaknya, tapi dia memiliki penilaian setelah melihat kondisi kakaknya yang menyedihkan.


"Nona muda maafkan saya, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi."


Rosaly memandang dengan ekspresi datar melihat pelayan yang baru saja menghina kakaknya gila, memohon-mohon padanya.


Mengapa sikap manusia langsung berubah begitu dia ketakutan? Harusnya mereka berubah saat masih ada rasa kasih sayang yang mereka terima.


Jleb.


"Aararghhhhhh."


Rosaly menusuk tangan pelayan tersebut menggunakan belati.


Para pelayan yang melihat pun segera menundukkan kepalanya.


"Mengapa kau berteriak? Aku tidak tuli."


"Ma-maafkan saya Nona muda."


Rosaly menghiraukan ucapan pelayan tersebut. Dia mencabut belati dari tangan pelayan, lalu menaruhnya kembali ke dalam saku.


Pelayan tersebut menggigit bibirnya, menahan diri untuk tidak berteriak.


Rosaly menyentuh darah dari pelayan tersebut dengan kedua tangannya. Kemudian dia menarik rambut pelayan itu.


"Jawab aku, apa warna cairan ini?"


"Me-merah Nona muda."


"Dasar bodoh."


"Aaarrrgghhh."


Pelayan itu berteriak kesakitan, saat tangannya yang terluka di injak-injak oleh nona mudanya.


"Cairan ini warnanya putih, kau buta ya!"


"Maafkan saya, Nona muda."


"Sekali lagi kau bilang kakakku gila, bukan tanganmu yang ku tusuk melainkan jantungmu. Mengerti?"


"Me-mengerti Nona muda."


Rosaly menginjak sekali lagi tangan pelayan itu, lalu pergi meninggalkan mereka menuju kamar kakaknya.


Rosaly berdiri di depan kamar kakaknya, dia melihat Mark yang mencoba untuk membujuk kakaknya agar mau makan.


Kakaknya telah mengurung diri di kamarnya sejak hari itu. Dia tidak memiliki masalah bila dia tidak bisa menyentuh atau memeluk kakaknya, setidaknya kakaknya bisa bersikap seperti semula.


Rosaly mengambil langkah maju.


"Kak Ran."


Curran melihat ke arah sosok adiknya yang datang dengan linglung.


Seulas senyum kecil terlukis di wajah Rosaly.


"Lihat, tangan Ocha berdarah. Ini bukan darah Ocha, ini darah pelayan yang sudah menghina kakak."


"Lihat, Ocha tidak sedih meskipun tangan Ocha berdarah."


Rosaly duduk di lantai dekat dengan kasur milik Curran.


"Kak Ran, sudah ya kak."


"Kakak melakukan itu hanya untuk membela diri, Ocha juga akan melakukan hal yang sama seperti kakak."


"Sudah ya kak, Kakak tidak perlu merasa bersalah."


"Berbuat baik itu bagus, tapi kita harus bersikap tegas agar tidak diinjak-injak dan direndahkan."


Curran memandang wajah Rosaly dengan tatapan rumit.


"Kak Ran, kakak tidak sendirian. Ada Ocha di samping kakak, ada ibu dan ayah juga."


"Kakak tidak sendirian."


Pikiran Curran menjadi rumit. Mengingat kejadian saat tragedi itu, dia melihat ayahnya masuk ke dalam kobaran api hanya untuk mencarinya.


Dia juga mengingat ibunya yang dengan sabar membujuk dirinya untuk makan.


Dia juga mengingat suara renyah halus yang selalu menenangkan dirinya saat kekuatan api miliknya menjadi liar.


Dia mengingat Mark yang tetap berada di sampingnya, di saat pelayan lain menjauh.


Dan, adiknya Rosaly yang selalu datang ke kamarnya untuk mengajaknya mengobrol.


Tatapan mata Curran yang awalnya kosong, kini mendapatkan sinarnya kembali. Secara perlahan-lahan, dia mengeluarkan tangannya dari dalam selimut.


Curran melihat tangannya yang berlumuran darah, di detik berikutnya dia melihat tangannya yang kecil bersih tidak memiliki darah setitik pun.


Dia menoleh melihat ke arah adiknya yang masih menunduk, dia membungkus tangannya dengan selimut lalu menyentuh kepala Rosaly.


"Ocha sudah besar ya."


Curran segera menarik kembali tangannya, begitu dia merasakan kekuatan api miliknya ingin membakar kepala adiknya.


Rosaly tertegun, dia mendongak menatap Curran yang memiliki senyum kecil di wajahnya. Senyum yang sudah lama tidak dia lihat.


Mark terharu melihat tuan mudanya yang sudah kembali tersenyum.


"Kak Ran."


Rosaly menatap wajah Curran dengan mata berkaca-kaca, air matanya jatuh membasahi pipinya. Dia bahagia melihat senyum kakaknya kembali.


"Cengeng."


Rosaly mengembungkan pipinya, dengan air mata yang masih mengalir.


"Nyebelin."


Curran terkekeh kecil.


* * *


Malam harinya.


Ellena memandang wajah suaminya yang sedang tertidur setelah melakukan penyerangan terhadap orang-orang yang melakukan perdagangan manusia untuk di jadikan budak.


"Aku minta maaf Gilbert."


Ellena telah siap dengan pakaiannya yang serba hitam, dia berniat menyelinap malam ini juga.


~ "Elle, apa kau siap?"


"Tentu saja."


Ellena tidak akan membiarkan orang-orang yang telah melukai putranya bahagia, setelah apa yang telah mereka perbuat.


Ellena meminum ramuan yang dapat mengecilkan tubuh dan pakaiannya. Setelah tubuhnya menyusut menjadi kecil.


Mizu mengelilingi tubuh Ellena dengan gelembung air, lalu membawanya pergi keluar meninggalkan kediaman Crimson.