Suddely Became A Child

Suddely Became A Child
Eps 48


Tap tap tap.


Seorang gadis sedang berlari masuk ke dalam hutan. Memiliki rambut blonde panjang, dan netra biru cerah. Dia terus berlarian di dalam hutan, hingga matanya melihat sebuah danau.


Gadis itu menghentikan langkahnya, dia mulai berjalan mendekati danau dengan napas yang memburu.


"Wahai roh air! Aku datang kemari untuk bertemu denganmu! Temui aku! Aku membutuhkanmu kekuatanmu!"


Gelembung-gelembung kecil muncul di danau yang tenang, lalu membentuk bola air berukuran kecil dan melayang di udara. Tak lama, bola air tersebut memperlihatkan makhluk mungil yang memiliki rambut biru panjang.


~ "Mengejutkan."


~ "Ini pertama kalinya aku bertemu dengan manusia yang dapat melihatku."


~ "Kau bahkan tidak memiliki aroma alam di dalam tubuhmu."


~ "Darimana kau tahu lokasi keberadaan ku?"


Gadis itu memandang roh air dengan takjub, namun dia segera menepisnya dan mengatakan maksud dari tujuannya.


"Roh air, kerajaan ku sedang terkena wabah penyakit yang menular. Setiap hari selalu ada korban jiwa yang meninggal dunia akibat wabah tersebut."


"Para tabib istana tidak ada yang mengetahui tentang wabah tersebut. Mereka mencoba untuk melakukan penelitian, sayangnya sekali lagi terdapat korban jiwa yang meninggal saat melakukannya."


"Roh air, aku membaca informasi tentang mu. Kekuatan mu dapat membuat berbagai macam jenis ramuan yang dapat mengobati penyakit."


"Roh air, aku membutuhkan kekuatan mu untuk membuat ramuan penyembuh, agar tidak ada korban lagi."


Roh air terdiam mendengar penjelasan dari gadis tersebut. Dia menghiraukan perilaku gadis itu yang mengabaikan pertanyaan darinya.


Masalah yang terjadi sangat berat, dia juga melihat gadis itu terlihat putus asa.


~ "Manusia, siapa namamu?"


"Ellena Osmond."


Ellena telah menghabiskan waktu selama berhari-hari di perpustakaan istana, untuk mencari obat yang dapat menyembuhkan para warganya dari wabah.


Namun, yang dia temukan adalah selembar kertas kuno berisi informasi tentang roh air. Dia memiliki kemampuan yang dapat melihat dan berkomunikasi dengan para roh.


Hal itu membuat dirinya mengambil keputusan, bahwa dia harus mencari tahu keberadaan roh air dengan kemampuannya.


Meskipun dia hanya memiliki peluang 50:50 untuk bertemu dengan roh air, tidak ada salahnya mencoba karena ini sebuah peluang yang dapat mengobati warganya dari wabah.


Tempat ini merupakan lokasi terakhir dari hasil pencariannya selama kurang lebih tujuh hari, dan benar saja dia berhasil bertemu dengan roh air.


~ "Ellena, aku mengizinkan mu untuk menjadi kontraktor ku. Tapi aku memiliki sebuah syarat."


"Apa itu?"


~ "Berjanjilah padaku, bahwa kau akan menggunakan kekuatanku hanya untuk menyelamatkan dan membantu seseorang yang membutuhkan."


"Aku berjanji."


Roh air melayang mendekati Ellena. Dia melayang di depan wajahnya.


~ "Beri aku nama."


"Mizu."


Roh air menutup matanya. Tak lama dirinya berubah menjadi bola cahaya kecil berwarna biru, lalu bola cahaya tersebut masuk ke dalam tubuh Ellena.


"Ugh."


Ellena menahan diri saat kekuatan air mencoba untuk menyatu dengan tubuhnya. Beberapa saat kemudian, dia dapat merasakan kekuatan air di dalam tubuhnya.


Tak lama kemudian, bola cahaya biru keluar dari tubuh Ellena. Lalu, membentuk wanita muda yang memiliki rambut biru panjang dengan tanda air di keningnya.


~ "Namaku Mizu, aku akan membantumu Ellena.


"Terimakasih Mizu."


* * *


Tuk tuk tuk.


Trang.


Dua prajurit yang berjaga di depan gerbang istana, mencegat pergerakan seseorang yang memakai jubah dengan kuda hitam.


"Maaf, bisa anda tunjukkan identitas diri."


"Ini aku."


Ellena membuka jubah bagian atas kepalanya, rambutnya yang panjang tergerai bebas.


"Saya memberi salam kepada bulan kerajaan."


Dua prajurit membungkuk hormat begitu mengetahui identitas dari pemilik jubah tersebut.


"Buka gerbang."


"Baik Tuan putri."


Ellena masuk melewati gerbang istana. Dia mengerutkan keningnya, suasana istana terlalu sepi dari sebelumnya.


~ "Wow, istana benar-benar indah."


Mizu yang duduk di pundak Ellena berkomentar. Dia menatap istana dengan tatapan berbinar.


Jantungnya berdetak kencang. Perasaan khawatir dan gugup mulai memenuhi dirinya.


Ellena menggigit bibirnya, dia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan. Dia mengarahkan kudanya kesana.


Tap.


Ellena menuruni kuda, lalu segera masuk ke dalam istana. Dia menemukan pelayan pribadi miliknya menangis.


"Emeli, kenapa kamu menangis?"


Pupil mata Emeli bergetar melihat tuan putrinya yang pergi selama beberapa, telah kembali.


"Tu-tuan putri."


Ellena meninggalkan pelayan pribadi miliknya yang baru menyadari kehadirannya. Dia mengambil langkah besar menuju tempat ibunya berada.


Ellena berharap apa yang ada di pikirannya tidaklah benar.


Mizu melayang di dekat Ellena, dia tidak mengerti situasi yang sedang terjadi di sini.


"Yang mulia, kita harus segera menguburkan jasad yang mulia ratu bersama dengan yang lainnya."


George Osmond, sang Raja kerajaan Xinlaire memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya kembali.


"Lakukan segera."


"Baik, Yang mulia."


Langkah kaki Ellena terhenti, tubuhnya membeku di tempat. Mendengar percakapan sang ayah dengan tabib istana.


Mizu menutup mulutnya.


"Tidak! Tidak mungkin, aku pasti salah dengar."


Ellena meyakinkan dirinya bahwa yang baru saja dia dengar pasti sangat keliru. Tapi, matanya menjadi berembun dan cairan bening membasahi pipinya.


Semua mata langsung tertuju pada seorang gadis yang berdiri mematung dengan jubah yang menutupi gaun indah miliknya.


George mengusap air matanya. Dia berjalan menghampiri putrinya yang sudah kembali.


"Ellena, putriku."


"Ayah, ibu masih hidup. Ibu tidak mungkin meninggalkan kita, Ayah."


George memeluk putrinya dengan lembut, dia mengecup kepala Ellena, lalu berbisik.


"Tidak apa-apa Nak, ada Ayah di sini."


Ellena menangis dengan kencang di dalam pelukan sang ayah.


William berjalan mendekati keduanya. Dia memeluk sang ayah dan adiknya yang menangis.


"Menangis lah Elle, ada kakak disini untukmu."


Para prajurit dan pelayang yang menyaksikan anggota keluarga Kerajaan menangis dengan berpelukan, mereka segera menundukkan kepalanya.


Mizu mengusap air matanya. Dia terbang meninggalkan Ellena, dia harus mencari tahu wabah seperti apa yang ada di kerajaan ini.


* * *


Ellena menangis di samping makam ibunya. Dia merasa menyesal karena tidak berada di samping ibunya di saat-saat terakhir.


~ "Elle, Mizu sudah tahu wabah seperti apa yang di alami oleh kerajaan ini."


~ "Dan, Mizu mengetahui ramuan yang dapat menyembuhkan mereka."


Ellena menggigit bibirnya. Dia memejamkan matanya untuk menahan kesedihannya. Dia harus melakukan sesuatu agar kerajaannya terbebas dari wabah.


Dia membuka matanya kembali, tatapannya tidak sengaja melihat seorang pria rambut merah yang berdiri di depan dua makam.


Ellena mengalihkan pandangannya, dia melihat di antara warga sedang berkumpul di depan makam anggota keluarganya.


"Mizu, mari kita buat ramuannya."


~ "Mizu mengerti."


William melihat adiknya yang pergi meninggalkan makam ibunya. Dia menatap makam ibunya dengan ekspresi kosong.


"Andrew."


"Saya di sini Yang mulia."


Seorang pria rambut coklat berdiri tepat di samping William.


"Kita teman dekat 'kan?"


"Itu benar Yang mulia."


Andrew menjawab dengan tenang pertanyaan yang diajukan oleh William, sang putra mahkota.


"Tapi ... Ibuku sudah meninggal, mengapa ibumu masih hidup? Bukankah kita teman?"


Andrew memiliki ekspresi tabah di wajahnya.


'Jual temen dimana ya?'