
"Hidup itu seperti roda yang berputar. Kadang di bawah, kadang di bawah tanah."
🌹🌹🌹
"Jadi, lima ratus tahun yang lalu pernah terjadi gelombang monster yang cukup besar. Para dark elf terdahulu sangat kewalahan harus terus-menerus menghadapi para monster yang tiada habisnya."
"Banyak para dark elf yang kehilangan nyawanya aku akibat peristiwa itu. Hingga, seorang manusia datang dengan kekuatan yang hebatnya."
"Sayangnya, manusia itu pun belum cukup untuk melawan para monster yang terus berdatangan."
"Jadi, manusia itu mengajak para dark elf terdahulu untuk bersembunyi di dalam tanah untuk menghindari gelombang monster."
"Tempat ini di bangun oleh manusia hebat itu, dia juga yang mengajari kami cara untuk bertahan hidup. Beberapa tahun kemudian, manusia itu berniat untuk melihat dunia luar untuk memastikan apakah gelombang monster sudah berakhir atau belum."
"Setelah manusia hebat itu meninggalkan tempat ini, dia tidak pernah kembali lagi kesini. Para dark elf terdahulu mengira bahwa dia sudah mati akibat gelombang monster yang belum juga berakhir."
"Beberapa dark elf memutuskan untuk menyusulnya manusia hebat. Tapi, entah itu manusia hebat atau dark elf yang menyusul tidak ada yang kembali. Akhirnya para dark elf terdahulu memutuskan untuk tetap tinggal di tempat ini, dan bertahan hidup hingga saat ini."
Tora mengakhiri ucapannya dengan helaan napas panjang. Kemudian dia memperhatikan setiap ekspresi yang di tampilkan oleh ketiga anak manusia.
"Melihat Vira yang datang kembali bersama dengan kalian, sepertinya gelombang monster telah berakhir."
Rein memiliki tatapan rumit. Tanpa di sangka para dark elf harus hidup di dalam tanah selama ratusan tahun, namun berhasil menciptakan alat canggih.
Kalau di pikir-pikir itu masuk akal.
Tempat ini terbilang cukup kecil dengan permukaan. Hal itu membuat pada dark elf memiliki satu titik fokus hanya dalam jangka kecil.
Sayangnya, itu juga menjadi kelemahan mereka karena kurangnya pengetahuan tentang dunia luar.
Hal itu membuat bangsa dark elf terancam punah karena tidak memiliki informasi tentang monster yang mereka lawan.
Mereka sibuk membuat berbagai macam senjata, tanpa mencari tahu kelemahan dari monster yang mereka lawan.
~ "Sepertinya manusia hebat yang di maksud adalah manusia yang melakukan kontrak dengan roh bumi."
Suara Moya terdengar, membuat Rein melirik ke arahnya.
Moya yang melihat Rein menatapnya pun mencoba untuk menjelaskan.
~ "Hm, sebenarnya gelombang monster terjadi seribu tahun yang lalu."
~ "Sepertinya para dark elf salah menghitung waktu karena terlalu lama tinggal di dalam tanah."
Moya melihat wajah Rein yang memiliki ekspresi kebingungan.
~ "Itu benar Rein, Moya tidak berbohong."
~ "Seribu tahun yang lalu memang pernah terjadi gelombang monster yang cukup besar hingga memenuhi hampir 80% dataran bumi."
~ "Dan makhluk yang hampir punah saat itu adalah manusia."
Joy menimpali ucapan Moya.
~ "Itu karena manusia sangat lemah."
Moya mengangguk.
~ "Manusia adalah makhluk terlemah di antara makhluk lainnya."
~ "Itu sebabnya para roh alam diizinkan melakukan kontrak dengan manusia untuk membantu mereka."
~ "Yang mengejutkan, populasi mereka terbilang cukup cepat hingga melebihi makhluk lainnya."
Rein tidak memiliki komentar pada perkataan Moya. Mungkin itu cukup di mengerti.
~ "Dan untuk roh bumi-"
~ "Dia tukang tidur."
Joy berkomentar dengan wajah cemberut.
~ "Dia selalu tidur, tidur, dan tidur."
~ "Sudah berapa kali Joy berusaha membangunnya untuk mengajak bermain, tapi tidak bangun-bangun."
Moya menutup mulutnya mendengar gerutuan Joy. Itu karena yang di katakan oleh Joy memang benar.
Rein melirik ke arah Croft yang juga sedang menatapnya. Sudut mulut mereka berdua berkedut. Sepertinya mereka memiliki gambaran kasar tentang karakter dari roh bumi.
"Paman."
Tora menoleh ke samping mendengar panggilan dari Vira.
"Langit itu sangat luas. Dia memiliki warna biru cerah yang terlihat cantik. Udara di permukaan juga terasa sangat segar dengan banyaknya tanaman hijau."
Vira menatap wajah Tora dengan mata yang berbinar.
"Paman, bisakah kita hidup di permukaan tanah mulai sekarang?"
Hati kecil milik Tora tergelitik mendengar permintaan dari Vira. Dia melirik para dark elf untuk meminta pendapat mereka yang di balas dengan senyuman maupun anggukan kepala.
Tora menghela napas panjang. Bibirnya melengkung membentuk senyuman.
Ucapan Tora terhenti saat telinganya mendengar suara langkah kaki yang cukup banyak sedang bergerak mendekati tempat mereka.
Para dark elf yang memiliki pendengaran sensitif pun segera bangkit dari posisinya.
"Ada apa dengan kalian semua?"
Kinara bertanya karena merasa bingung melihat para dark elf yang secara serempak berdiri bersamaan.
Namun tak satu pun dari mereka ada yang menjawab pertanyaannya.
"Lima, sepuluh, dua puluh, sial! Banyak banget."
Lais menggerutu saat dirinya mencoba menghitung sesosok mahkluk yang ingin datang ke tempat ini.
Pupil mata Mey bergetar. Mengapa sekelompok monster harus datang di saat mereka sedang makan?
Mey tersentak pada pemikirannya. Dia segera melihat ikan yang sudah di masak oleh para dark elf. Mey menutup mulutnya.
"Ikan! Kita makan ikan!"
Mendengar suara Mey yang cukup keras. Para dark elf segera menyadari kesalahan mereka. Seharusnya mereka tidak boleh memakan makanan yang terbuat dari hewan atau daging.
Hal itu akan membuat para monster di dalam tanah akan mencium aroma makanan tersebut, itulah sebabnya mereka hanya makan dari tanaman hijau yang tidak di sukai oleh monster.
Rein memiliki ekspresi aneh.
"Apa yang salah dengan ikan?"
"Aroma dari ikan telah mendatangkan monster ke tempat ini."
Giri menjawab pertanyaan Rein, lalu menurunkan tubuh Rein dari pangkuannya.
"Vira, bawa teman-temanmu keluar dari tempat ini."
Pupil mata Vira bergetar mendengar perintah dari Tora. Dia selalu saja tidak di ajak untuk ikut dalam pertarungan hanya karena dirinya masih kecil.
Vira menggigit bibirnya. Dia mengingat bagaimana Rein dan Yuda yang bertarung melawan monster meskipun mereka berdua masih kecil.
Vira mengepalkan tangannya. Lalu menatap wajah Rein dengan tatapan berbinar.
"Rein, apa kita akan bermain?"
"Vira!!"
Vira menghiraukan teriakan dari Tora yang terdengar marah. Dia mengulangi pertanyaannya.
"Apakah kita akan bermain?"
Bibir Rein melengkung membentuk senyuman. "Tentu saja, kita akan bermain."
Vira tersenyum mendengar jawaban dari Rein, tapi senyumnya segera membeku lalu menoleh menatap Kinara yang memiliki ekspresi gugup.
Kinara melihat tatapan yang diarahkan Vira kepadanya. Dia sebenarnya cukup takut, tapi mengingat mereka yang berhasil mengalahkan monster sebelumnya.
Seharusnya mereka memiliki peluang untuk menang kali ini.
"Aku akan tetap di sini."
Vira tersenyum cerah pada perkataan Kinara. Dia menatap wajah Tora, lalu berkata.
"Tidak ada dari kita yang akan pergi, kita akan melawannya bersama."
Tora mengerutkan kening.
"Itu cukup berbahaya untuk kalian."
"Paman."
Panggilan Rein membuat Tora menatap ke arahnya.
"Kita yang membawa ikan kemari, jadi kita juga yang akan bertanggung jawab."
"Tetap saja-"
"Tora."
Kini tatapan Tora mengarah pada Giri yang berada di dekat Rein.
"Aku yang akan menjaga mereka."
Tora menghela napas panjang mendengar ucapan Giri. "Baiklah, kalian boleh ikut."
Vira memiliki tatapan berbinar mendengar ucapan Tora. Dia segera mengambil batu cahaya lalu mengubahnya menjadi sebuah panah.
"Siapkan senjata kalian."
Croft mengerutkan keningnya.
Mengapa dia memiliki firasat buruk?