
"Tuan muda, apa anda yakin ingin masuk ke dalam?"
Eren mengajukan pertanyaan, melihat sebuah goa yang terlihat tidak terawat berada di hadapannya.
Dia mulai bertanya-tanya dalam pikirannya, permainan apa yang dilakukan oleh seorang anak kecil di dalam goa?
"Bagaimana bila kita ke tempat yang lain?"
"Tidak, aku akan tetap masuk ke dalam."
Rein menolak saran half Ork yang bernama Eren.
Bukan tanpa alasan dia menolaknya. Itu karena di dalam goa ini terdapat roh air.
Bila dia melakukan kontrak dengan roh air, dia akan dapat membuat ramuan penyembuh seperti yang di temukan oleh Croft.
Meskipun, hal itu hanya memiliki peluang 50%.
Rein memiliki kepercayaan untuk mencobanya.
Lagipula, apa yang perlu di takutkan saat dia memiliki Croft, Joy, Moku, dan Bell. Belum lagi, ada Yuda yang saat ini menjadi kesatria pribadinya.
"Bibi Eren, kau bisa kembali bila takut. Aku dan yang lain akan masuk ke dalamnya."
Eren menatap wajah seorang anak laki-laki rambut pink yang baru saja menyuruhnya untuk kembali.
"Saya bertugas untuk melindungi anda. Jadi, saya tidak mungkin meninggalkan anda di sini."
Eren tidak mungkin meninggalkan anak kecil dari seseorang yang telah menyelamatkan desanya.
"Lakukan sesukamu."
Rein mengambil satu langkah masuk ke dalam goa, diikuti Croft dan Joy yang berada di pundaknya.
Moku berjalan anggun di samping kaki Rein, dengan membawa Bell yang berada di atas punggungnya.
Lalu, Yuda yang berjalan di belakang Rein.
Kemudian, Eren yang menempati posisi terakhir. Khawatir bila ada serangan dadakan dari belakang.
~ "Ini aneh, Joy merasakan sesuatu yang familiar. Tapi, Joy tidak tahu apa itu."
Joy menyuarakan isi pemikirannya.
Set.
Puluhan anak panah yang memiliki panjang sekitar 30 cm, datang dengan cepat menghampiri mereka.
Netra emas milik Croft berkilat tajam, dia merentangkan tangannya ke depan. Setipis cahaya keemasan transparan muncul mengelilingi kelompok Rein.
Trang. Trang. Trang.
Sebagian dari mereka mematung di tempat, terkejut dengan kejadian yang terjadi dalam beberapa detik.
Sudut mulut Rein berkedut. Dia mengambil anak panah yang terjatuh. Anak panah tersebut memiliki ukuran yang kecil dan sangat runcing.
'Menarik.'
Rein semakin penasaran dengan roh air yang akan dia temui.
[ Berhati-hatilah Master, ada beberapa anak panah lagi yang akan muncul. ]
Rein mengeluarkan belati emas dari ruang inventori.
"Bersiap."
Mendengar suara Rein, Bell turun dari punggung Moku karena sudah waktunya untuk bermain-main.
Moku mengibaskan ekornya, dia memeriksa kondisi kukunya agar menjadi lebih tajam di banding sebelumnya.
Yuda mengeluarkan belati kembar berukuran kecil, agar dia menjadi lebih nyaman saat bertarung nanti.
Joy melakukan peregangan otot pada tangannya, dia memiliki ekspresi serius di wajahnya.
Eren memiliki ekspresi kosong melihat dua anak kecil dan monster seperti sedang melakukan pemanasan.
Dia pun segera mengeluarkan belati dan pisau kecil yang dia selipkan di pinggangnya.
[ Mereka datang. ]
Set.
"Saatnya bermain."
Rein menendang tanah yang membuatnya melayang di udara, lalu dia melesat menghampiri puluhan anak panah yang datang.
Trang.
Rein menebas beberapa anak panah, lalu dia menginjak salah satu anak panah dan melompat di udara untuk menghindari anak panah lain yang datang.
~ Bell Bell Bell.
Bell melompat-lompat kesenangan menghampiri beberapa anak panah, dia melemparkan bola air berukuran kecil yang mengandung cairan asam ke arah anak panah.
Anak panah yang terkena bola air milik Bell, langsung melebur tanpa tersisa.
Moku berlari menginjak anak panah dengan ringan. Dan anak panah yang terkena kaki Moku berubah menjadi serpihan debu, karena kekuatan api miliknya langsung membakar anak panah yang dia injak.
Yuda ingin menyusul dan berada di depan Rein untuk melindunginya, namun lirikan tajam Rein seolah memperingati dirinya agar tidak menggangu aksinya.
Jadi, dia berlari di belakang Rein, dan mencoba menjaga jaraknya untuk tetap berada di sekitar Rein.
Dengan beberapa kali ayunan tangan, Yuda menebas anak panah dengan belati kembar miliknya. Yang dia lakukan saat ini persis seperti latihan, meski ini masih sangat ringan.
Terutama Joy, dia sibuk menghalau anak panah yang beberapa kali mengenai half Ork wanita bernama Eren.
Karena pergerakan Eren terlihat lebih lambat di banding dengan yang lainnya, itu sebabnya dia memiliki beberapa luka goresan di tubuhnya.
Tap.
Rein mendarat kembali saat serangan anak panah sudah berhenti.
[ Kita sudah berada di area tengah goa. ]
[ Dan, ada beberapa monster buatan yang bersembunyi di sini. ]
Rein mengerutkan keningnya mendengar informasi yang baru saja Croft berikan.
"Monster buatan?"
~ Myuu?
~ Bell?
Moku dan Bell memiringkan kepalanya, tidak mengerti maksud dari perkataan Rein.
Mereka berdua saling memandang sebentar, sebelum kembali menatap ke arah Rein.
"Tuan muda, apa anda baik-baik saja?"
Dengan terengah-engah, Eren memeriksa keadaan dua anak kecil dan monster yang terlihat bersih tanpa luka goresan.
Berbeda dengan kondisinya yang terlihat berantakan dan memiliki luka gores.
"Aku-"
Ucapan Rein terhenti setelah melihat kondisi half Ork wanita yang terlihat memprihatinkan.
Dia berjalan menghampiri Eren, lalu memegang tangannya.
"Bibi, sepertinya kondisi mu yang tidak terlihat baik."
Rein menyalurkan kemampuan atribut alam yang dapat memulihkan kondisi tubuh.
Dia bertanya-tanya, bagaimana bisa Eren mendapatkan luka gores sebanyak ini?
Dia telah memotong sebagian besar anak panah, lalu ada Yuda yang berada di belakangnya. Belum lagi Moku dan Bell, yang memiliki kemungkinan menghancurkan banyak anak panah.
Seharusnya, Eren yang berada di barisan paling belakang mendapatkan lebih sedikit serangan anak panah, karena sudah melewati mereka berempat terlebih dahulu.
Rein secara diam-diam melirik ke arah Joy.
~ "Gerakan makhluk hijau itu sangat lambat."
~ "Joy sudah banyak membantunya, namun dia tetap saja terluka."
Joy memiliki ekspresi cemberut di wajahnya, saat dia menjelaskan kepada Rein hal yang half Ork wanita bernama Eren alami.
Karena, seharusnya dia melindungi Rein agar tidak terluka bukan untuk melindungi mahkluk hijau.
[ Bangsa half Ork memiliki kecenderungan berkelompok saat bertarung. ]
[ Mungkin, dia belum terbiasa saat melawan serangan anak panah seorang diri. Karena, biasanya dia melawan secara bersama-sama. ]
Croft membantu Joy menjelaskan kepada Rein, tentang kondisi yang dialami oleh half Ork wanita bernama Eren.
Rein mengangguk kecil mendengar penjelasan dari Croft dan Joy.
Dia melihat luka-luka yang diperoleh Eren telah memudar, dan menghilang tanpa meninggalkan bekas luka.
Rein melepaskan tangan Eren, saat melihat kondisinya sudah lebih baik.
"Saya mengucapkan terimakasih, karena anda telah menyembuhkan luka yang saya terima."
Eren membungkuk hormat. Dia merasa tidak enak, karena telah di tolong oleh manusia beberapa kali.
Dia bertekad untuk membalas perbuatan baik mereka suatu hari nanti.
Rein mengangguk kecil.
Dia kemudian berbalik menatap tiga makhluk yang masih diam di tempat.
"Dari sini, kita akan bertarung secara kelompok. Bantu rekan kalian, dan pastikan kalian tidak terluka."
"Aku mengerti."
~ Myuu!
~ Bell!
Eren menggigit bibirnya. Dia merasa menjadi beban bagi mereka berempat.
Namun, dia bertekad untuk bertarung dengan sekuat tenaga agar dapat membantu mereka.
Dump Dump Dump.
Tanah yang mereka pijak bergetar.
Rein menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak terjatuh. Begitu juga dengan yang lainnya.
Bell memeluk kaki Moku agar tidak berguling-guling.
[ Master, mereka datang. ]