
Kinara memiliki ekspresi kosong melihat dark elf bernama Vira memakan ikan bakar untuk kesekian kalinya.
'Sepertinya dia sangat lapar.'
Kinara merasa kenyang meski hanya melihatnya makan sebanyak itu.
"Apa ikan bakarnya enak?"
"Enak, sangat enak." Vira berseru dengan semangat. "Ini pertama kalinya aku memakan sesuatu seenak ini," lanjutnya.
Kinara mengangkat satu alisnya. "Memang, makanan seperti apa yang biasanya kamu makan?"
"Bubur hijau."
Rein memiliki ekspresi aneh di wajahnya. Dia memikirkan sayuran hijau yang di buat menjadi bubur, dan itu menyebalkan.
Rein menepiskan semua pikiran tentang bubur hijau.
"Vira."
"Ya."
"Bagaimana kalau kita mengunjungi tempat mu? Kita akan membawa semua ikan ini agar keluarga mu juga bisa memakannya, Bagaimana?"
Vira terdiam.
Dia merenungkan permintaan dari Rein. Itu karena, tempatnya berada di dalam tanah dan dia perlu melewati sekolompok monster untuk bisa menyelinap keluar dari sana.
"Kalian yakin?"
"Tentu saja."
"Benar, aku juga ingin tahu dimana kau tinggal."
Vira memperhatikan tiga anak manusia di hadapannya dan seekor rubah merah yang juga memandanginya.
"Baiklah."
"Benarkah?"
"Ya, tapi pastikan kalian berada di dekat ku selama perjalanan."
Rein dan Kinara saling memandang, sebelum akhirnya mengangguk setuju.
"Baik."
"Aku mengerti."
Vira tersenyum senang. Dia senang, karena akhirnya memiliki seorang teman yang seumuran dengannya. Dan sepertinya, mereka tidak risih atau menghina dirinya yang berbeda dengan mereka.
~ "Apa kita akan bermain?"
~ "Sepertinya, kita akan mengunjungi tempat baru."
Moya menyahuti ucapan Joy.
~ "Sepertinya seru."
Joy merasa bersemangat setiap kali dia bepergian ke tempat baru bersama dengan Rein dan yang lainnya.
Moku juga bersemangat seperti Joy. Dia mengibaskan ekornya ke kanan dan ke kiri.
* * *
"Kau yakin ini jalan masuknya?"
Kinara mengerutkan keningnya, melihat lubang tanah yang memiliki diameter lingkaran sekitar 100 cm.
"Benar, ini jalannya."
Vira menjawab dengan yakin.
"Kalau begitu, ayo masuk."
Rein melompat masuk ke dalam lubang, di ikuti Yuda lalu Moku.
Kinara melotot terkejut, melihat dua anak laki-laki yang langsung masuk ke dalam padahal yang mengetahui jalan adalah Vira.
"Apa kau mau masuk?"
Kinara menatap wajah Vira sebentar, lalu mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan.
"Baiklah, ayo masuk."
Vira tersenyum. Dia memegang tangan Kinara, lalu melompat masuk ke dalam bersama.
Rein mengedipkan matanya beberapa kali. Dia melihat ruangan dengan bentuk persegi panjang, dan terdapat tempat air di sudut ruangan.
~ "Wow, ini keren."
~ "Kau benar."
Sahutan Joy dan Moya terdengar. Moya tidak menyangka akan ada sebuah ruangan yang berada di dalam tanah.
Moku menatap sekitar sebentar, lalu berjalan mendekati Rein yang menuju ke sudut ruangan.
"Darimana air ini berasal?"
[ Itu dari danau yang kita kunjungi tadi. ]
Rein mengerutkan kening. Seingatnya, air danau yang mereka kunjungi itu berwarna kehijauan. Namun, yang di lihatnya saat ini airnya sangat jernih.
Bruk.
Rein menoleh. Dia melihat Kinara dan Vira telah masuk menyusul mereka.
Yuda memutar matanya jengah. Dia sama sekali tidak menyukai kehadiran Kinara yang menurutnya sangat merepotkan.
"Dengarkan aku, jangan ada yang bersuara apapun yang terjadi. Paham?"
Kinara merasa gugup pada perkataan Vira, namun dia tetap mengangguk sebagai jawaban.
~ "Apa kita akan bermain?"
Sudut mulut Rein berkedut, mendengar pertanyaan Joy.
Croft menepuk-nepuk kepala Joy dan menjawab pertanyaan darinya.
[ Tentu. ]
Mata Joy berbinar. Dengan semangat, Joy terbang di samping Rein. Moku mengibaskan ekornya dengan melihat ke depan, yang terdapat terowongan gelap.
Yuda mengepalkan tangannya dengan erat. Dari suara yang dia dengar, itu artinya akan ada sesuatu atau monster yang perlu mereka hadapi.
"Ikuti aku."
Vira memimpin perjalanan mereka. Dia menggunakan kemampuannya yang dapat melihat dalam kegelapan, dan pendengarannya yang tajam.
Namun Vira merasa bingung, mereka datang berlima lalu kenapa dia hanya mendengar suara langkah yang mencakup tiga orang.
Dia pun menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang. Hal itu membuat Kinara dan Yuda menghentikan langkah kaki mereka.
Vira mengedipkan matanya beberapa kali. Dia melihat seekor rubah merah naik di atas pundak kanan Yuda, dan melihat Rein yang melayang dengan memegang pundak kiri Yuda.
Yah, sepertinya sekarang dia mengerti.
~ "Kenapa makhluk hitam itu menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Rein?"
Moya tercengang dengan nama panggilan yang Joy berikan untuk gadis bernama Vira.
[ Mungkin, karena Master tidak berjalan. ]
Croft menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Joy.
Penjelasan Croft, membuat Rein mengerti dengan ekspresi yang Vira tampilkan. Rein mengacungkan jari jempolnya untuk memberitahu bahwa dia baik-baik saja.
Sudut mulut Vira berkedut. Dia mengangguk pelan, dan kembali melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian, Vira melihat batas dari terowongan yang sedang mereka tempuh.
Dia pun berbisik.
"Jangan menjauh dariku."
Kinara mendekatkan dirinya pada tubuh Vira, begitu mendengar suara peringatan darinya.
Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya sampai di batas akhir dari terowongan. Terlihat ruangan yang lebih besar dan luas dari sebelumnya, dan di penuhi oleh sekelompok monster berukuran 2 meter.
Croft menggunakan kemampuannya untuk mencari informasi terkait monster yang ada di hadapan mereka. Lalu memberikan informasi tersebut kepada Rein.
+
Bufo Asper ( Rank A )
Skill : Regenerasi
Ciri fisik : Memiliki tubuh lebar dan besar. Kulit kering, tebal dan kasar. Kaki relatif pendek. Melompat dalam jarak rendah.
+
Layar tembus pandang muncul di hadapan wajah Rein. Sudut mulutnya berkedut dan matanya berbinar. Monster dengan kemampuan unik tengah berada di hadapannya.
"Mainan baru."
Mendengar suara bisikan kecil, Yuda melirik ke samping. Dia memperhatikan binar di mata Rein begitu melihat sekelompok monster di depan.
Mengorek mengorek mengorek.
Kinara menelan ludah. Melihat monster tepat di depan matanya, membuat tubuhnya langsung membeku di tempat.
'Bergerak! Bergerak! Bergerak!'
Kinara menjerit di dalam hatinya. Dia berusaha menyadarkan tubuhnya untuk bergerak dan melarikan diri.
Sepertinya keputusan untuk datang ke tempat dark elf bernama Vira bukanlah hal yang tepat. Dia ketakutan, rasanya ingin kembali dan berada di dekat kakaknya.
"Cepat jalan!"
Kinara tersentak. Dia melirik ke belakang dan melihat tatapan tajam Yuda. Dia menekan rasa takutnya dan mengambil langkah maju. Sayangnya, kaki Kinara tidak memiliki tenaga akibat terkejut. Hal itu membuatnya terhuyung ke depan.
Kinara menahan napas dan menutup matanya.
"Kak Kinara."
Kinara membuka matanya, mendengar suara Rein yang cukup dekat dengannya. Dan benar saja, Rein yang menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
Setetes air mata mengalir membasahi pipi Kinara. "Rein ... Kita pulang saja ya." Kinara menangis sesenggukan. "Aku takut," lanjutnya.
'Gadis ini!!'
Yuda mengerutkan kening, tatapan matanya tajam melihat Kinara yang menangis sesenggukan.
Kalau tahu bahwa dirinya penakut, bukankah lebih baik tidak perlu ikut.
Kehadirannya hanya menjadi beban dan menghambat perjalanan mereka.
Rein tertegun melihat Kinara yang menangis. Dia tidak mengira kalau Kinara akan menangis sesenggukan, padahal mereka telah sampai di tempat ini.
Hatinya menjadi bimbang.
Apakah mereka harus melanjutkan perjalanan atau kembali pulang?