
"Kalian mau permen 'kan? Kalau kalian mau permen, kalian berdua harus kerja dulu seperti mereka."
Sam berkata dengan membuka ikatan kain yang menutup mulut Rein dan Yuda.
Tatapan mata Rein menggelap.
'Croft, jelaskan!'
Croft yang menyadari perubahan suasana Rein, langsung menjelaskan informasi yang dia ketahui tentang situasi yang terjadi.
[ Ada sekitar 100 anak yang berusia di bawah 15 tahun. ]
[ Mereka di paksa membuat serbuk dari dari bunga, yang akan di edarkan ke dalam atau luar wilayah. ]
[ Bila mereka tidak melakukan, mereka akan menjadi makanan untuk monster yang sudah mengkonsumsi obat tersebut. ]
[ Sampai saat ini tidak ada dari anak-anak tersebut yang meninggal, namun ada 35 anak yang mendapat kekerasan fisik. 40 anak mengalami luka-luka, 15 anak mengalami kelaparan, dan 10 anak memiliki kesehatan yang buruk pada tubuh mereka. ]
Rein menundukkan kepalanya mendengar informasi yang diberikan oleh Croft.
Dia pernah mendapat penganiayaan fisik saat pertama kali bertemu dengan orang itu, namun saat itu usianya sudah 18 tahun. Dimana dia bisa melakukan perlawanan balik.
Namun, melihat anak-anak mendapatkan kekerasan fisik di usianya yang masih muda. Membuat pikiran Rein menjadi rumit.
Rein memejamkan matanya sejenak, sebelum membukanya kembali.
'Croft, rencana berubah.'
'Mari kita hancurkan para bajingan ini dan rampas hartanya!!'
Croft menyeringai.
[ Saya mengerti. ]
Sam yang baru saja selesai melepas ikatan pada Rein, lalu menyuruhnya untuk bekerja.
"Cepat! Kerjaan seperti yang mereka lakukan!!"
"Paman, aku lupa memberitahu mu tentang nama lengkap ku."
Suara Rein terdengar rendah dan tajam.
Namun Sam tidak memperhatikan hal itu. Dia pun membalas dengan nada keras.
"Kau pikir aku peduli!! Cepat kerja seka-"
Bang!
Bruukk.
Uhukk.
Ucapan Sam terpotong, karena Rein menggunakan kekuatan angin miliknya untuk melempar tubuh Sam ke tembok.
Suara keras tersebut membuat anak-anak yang sedang berkerja langsung menoleh ke asal suara.
Rein mengangkat kepalanya, kemudian menoleh dan menatap wajah Yuda.
"Lakukan sesukamu."
Tanpa menunggu respon dari Yuda, Rein berbalik dan melihat Sam yang kesakitan.
'Croft.'
[ Baik Master. ]
Croft menjentikkan jarinya, yang membuat anak-anak pindah dan berada di pojok ruangan. Lalu, dia membuat mereka tertidur dan menyembuhkan setiap luka yang mereka derita kecuali rasa lapar.
Setelah itu dia membuat perisai di setiap bangunan, agar tidak ada siapapun yang bisa masuk maupun keluar. Termasuk monster yang berada di dalam bangunan.
[ Sudah selesai Master. ]
Croft berseru dengan nada riang, karena setelah ini yang perlu dia lakukan adalah merampas harta milik mereka.
Mendengar suara Croft, Rein memasang wajah datar, lalu menatap Sam dengan acuh. Kemudian mengeluarkan belati pemberian Rosaly saat pertama kali dia menjadi bagian dari keluarga Crimson.
"Kau tidak peduli tentang namaku 'kan?"
Sam memasang sikap waspada, dan menyiapkan senjata di balik tangannya. Pikirannya kacau, namun satu hal yang pasti.
Anak kecil yang dia bawa, sama sekali tidak lemah.
"Aku pun begitu."
Rein menyelimuti belati dengan kekuatan angin, kemudian dia melemparnya ke arah Sam. Dengan skill melempar tingkat B, dan kekuatan angin. Kecepatan belati tersebut menjadi 2x lipat lebih cepat.
Jleb.
"Aaarrrgghhh!!!"
Suara teriakan kesakitan terdengar keras di ruangan tersebut.
Belati yang Rein lempar, menancap di paha Sam. Sebelum Sam sempat merespon untuk melawan.
Rein sengaja tidak langsung membunuhnya, karena dia malas berjalan lagi. Dengan membuat luka pada tubuh Sam, dan membuatnya berteriak kesakitan sudah cukup memanggil para bajingan yang berada di bangunan ini.
Suara langkah kaki terdengar berdesakan, seperti banyak orang yang akan berdatangan ke tempat tersebut.
Dan benar saja. Ada sekitar 50 pria dewasa datang ke tempat itu dengan membawa senjata tajam masing-masing di tangan mereka. Bahkan ada yang membawa monster gila yang sudah mereka jinakkan.
Rein berkomentar di dalam hati. Biasanya, bila ada sesuatu hal aneh para penjahat akan mengirim satu atau dua orang terlebih dahulu untuk mengecek keadaan.
"Aaarrrgghhh."
Rein mencabut belati yang menancap pada paha Sam dengan kekuatan angin. Kemudian, dia mengambilnya kembali.
Belati pemberian dari Rosaly kini terdapat tetesan darah yang mengalir ke bagian kecil belati tersebut. Tangan putih Rein memiliki bercak darah di lengan pakaiannya.
"Apa yang kau-"
Jleb.
Uhukk.
Rein melempar kembali belati yang dia pegang, kali ini belati itu menancap tepat di jantung Sam. Yang membuatnya mati seketika.
Seorang pria dewasa yang ucapannya terpotong, memiliki ekspresi ganas di wajahnya.
"Bunuh mereka berdua!"
Mendengar perintah dari pemimpin, lima orang dari mereka bergerak maju dengan senjata di tangannya.
Slash.
Slash.
Aaarrrgghhh.
Slash.
Slash.
Cruuaarrttt..
Yuda berdiri di tengah-tengah mayat dengan sabit kembar yang melengkung di kedua tangannya. Tubuhnya berlumuran darah dari kelima pria dewasa, tatapan matanya teduh dan tenang.
Genangan darah mengalir mengenai kaki Rein dan pria dewasa lainnya.
"Bila aku membantumu, apa kau akan memberitahu namamu?"
Suara Yuda terdengar di keheningan.
"Mungkin."
Jawaban Rein terdengar tidak pasti dan ragu-ragu.
Namun hal itu sudah membuat sudut mulut Yuda berkedut, tatapan matanya yang tenang terlihat lebih hidup.
"Aku mengerti."
Membunuh adalah hal mudah bagi Yuda.
Keluarganya merupakan seorang pembunuh. Sejak kecil, dia diajarkan dan di latih bagaimana cara membunuh dengan benar. Dia datang dengan ayahnya untuk membunuh seseorang di wilayah Crimson.
Yuda menguatkan pegangan pada sabit kembar miliknya. Kemudian, melesat pergi membantai beberapa dari mereka.
Pria dewasa yang menjadi pimpinan dari mereka, merasakan krisis melihat para bawahannya di bunuh tepat di depan matanya.
"Lepaskan monster gila itu!!"
"Baik bos."
Rein mengusap darah yang mengenai pipinya. Pakaiannya terdapat bercak darah akibat cipratan pria yang di bunuh oleh Yuda.
'Dia sangat brutal.'
Rein menatap dengan jijik potongan-potongan tubuh pria yang terbunuh. Saat dia membunuh seseorang, yang perlu dia lakukan ialah menusuk jantungnya. Karena jantung merupakan inti kehidupan.
Jadi, saat melihat Yuda yang dengan brutal membunuh mereka. Membuat perut Rein terasa mual.
Namun Rein tetap berdiri tegak, dengan sesekali melempar belati ke arah jantung salah satu di antara mereka.
Grraaaooowwww...
Yuda reflek mundur ke belakang melihat sesuatu yang datang ke arahnya, dia memang sikap waspada dan pertahanan. Kemudian, netra biru pucat miliknya melihat tiga monster yang menatapnya dengan agresif.
Lalu, Yuda merasakan sensasi angin menyelimuti seluruh tubuhnya. Dia merasa terkejut, namun segera rileks setelah tubuhnya melayang ke belakang dan berada di belakang tubuh Rein.
"Istirahat lah."
Yuda mengedipkan matanya merasa bingung. Ada tiga monster di hadapan mereka, dan anak kecil di depannya memintanya untuk beristirahat.
'Apa dia ingin melawan tiga monster sendirian?'
Rahang Yuda mengeras. Dia tidak mengerti dengan pikiran bocah rambut pink di hadapannya.
"Moku."
Yuda mengerutkan kening, mendengar suara bocah rambut pink yang kembali bersuara.
'Apa itu namanya?'
Namun perkiraan Yuda salah, lebih tepatnya setelah melihat seekor rubah berukuran besar muncul di samping bocah rambut pink.
"Bakar mereka semua!"
~ Myuu!!!