
"Ayah! Uhukk."
Curran menghentikan pergerakan tangannya, dan langsung menoleh ke belakang yang terlihat Rein sedang melayang dengan mengeluarkan batuk darah dari mulutnya.
"Rein!"
~ "Cutie pie!!"
Rein mengusap darah yang keluar dari mulutnya, akibat menggunakan skill hacker miliknya untuk monster api.
'Croft, bantu aku cari nama untuk monster itu.'
[ Eh, anda tidak ingin memberinya sebuah nama? ]
'Aku ingin menjinakkan monster yang lainnya .'
Meskipun Rein harus batuk darah untuk kesekian kalinya dalam satu hari, tapi hal ini memang perlu dia lakukan untuk kedepannya.
[ Baiklah. ]
"Rein, apa yang kau lakukan disini? Dan dimana Yang mulia?"
Rein menghiraukan pertanyaan yang diajukan oleh Curran. Dia mengangkat tangan kanannya ke atas, lalu mulai memejamkan matanya.
Dia mulai mencari inti magis dari setiap monster yang ada di dalam hutan Volker, dan berhasil menemukannya.
Kemudian, dia melakukan seperti yang dia lakukan pada sepuluh monster pertama yang berhasil dia jinakkan.
'Hack.'
Rein menahan darah yang berkumpul di mulutnya, lalu melanjutkan perbuatannya.
'Aku majikan kalian mulai sekarang.'
'Berhenti menyerang, aku sudah menyiapkan tempat untuk kalian, dan kembalilah.'
Rein membuka matanya, lalu mengeluarkan darah yang sudah di tahan.
Uhukk.
Tubuh Rein kehilangan kekuatannya setelah menggunakan skill hacker terlalu banyak, dia pun tidak bisa mempertahankan angin untuk menopang tubuhnya dan jatuh ke bawah dengan bebas.
"Rein!"
~ "Cutie pie!!"
Curran menangkap tubuh Rein yang lemah.
"Rein! Apa yang terjadi padamu!"
Uhukk.
Rein menatap wajah Curran yang terlihat khawatir padanya, hatinya terasa menghangat melihat ada orang yang peduli tentang dirinya.
'Croft, aku serahkan padamu.'
[ Baik Master. ]
Rein menutup matanya, dan mulai kehilangan kesadarannya.
Croft melayang lalu memasang perisai transparan di sekitar lokasi, setelah itu menyembuhkan setiap luka yang di derita oleh seorang pemuda yang berada disana. Kemudian, Croft membuatnya tertidur.
"Rein."
Pupil mata Curran bergetar melihat Rein yang menutup matanya, dan tidak bereaksi setiap dirinya memanggil.
"Rein!"
[ Tenanglah manusia. ]
Curran terkejut mendengar suara renyah yang terdengar menyenangkan sekaligus menenangkan.
Tak lama setelah itu, seberkas cahaya emas mengumpul di hadapannya, dan membentuk seorang pemuda berukuran mungil. Matanya yang berkilau, pipinya yang sedikit berisi, memakai seragam putih dengan perpaduan warna emas.
Tak hanya itu, angin yang berkumpul di depannya pun mulai membentuk seorang pemuda berukuran mungil lainnya. Wajahnya yang khawatir terlihat jelas oleh Curran.
"Siapa kalian?"
Joy mengedipkan matanya, lalu dengan cemas mengajukan pertanyaan pada Curran.
~ "Manusia merah, apa Cutie pie baik-baik saja? Kenapa dia tidak menyahut saat Joy memanggilnya?"
Curran tertegun di tempat mendengar suara yang sering dirinya dengar. Itu adalah suara roh angin yang selalu berbicara dengannya, namun kini dia melihat bagaimana rupa dari wajah roh angin tersebut.
Croft menghela nafas, dia mengelus kepala Joy.
[ Tidak apa-apa, Master hanya kelelahan akibat menggunakan kemampuan miliknya. ]
Wajah Joy langsung berubah kaku, dia terkejut saat Croft mengelus kepalanya. Ini pertama kalinya dia melakukan kontak fisik dengan Croft, karena biasanya Croft adalah roh yang sulit untuk di dekati.
Selalu memberikan getaran dingin dan tajam yang membuat Joy tidak berani berada di dekatnya, belum lagi Croft selalu diam saat Joy mencoba untuk berbicara dengannya. Dan lirikannya selalu membuat Joy takut.
Croft yang melihat Joy langsung terdiam saat dia mengelus kepalanya merasa lega, dia pun melayang ke depan dan mulai memperkenalkan dirinya.
[ Halo, perkenalkan namaku Croft. Roh pelindung putramu. ]
Croft melakukan perkenalan singkat, lalu melayang ke atas kepala Rein. Dia mengelus kepala Rein untuk menyalurkan kekuatan padanya, agar Rein cepat pulih dari efek samping setelah menggunakan skill hacker.
Pikiran Curran menjadi rumit, dengan semua kejadian yang terjadi dalam beberapa menit. Namun, dia menemukan sebuah kesimpulan dari kejadian tersebut.
"Apa Rein sudah mengakui ku sebagai ayahnya?"
Seulas senyum lembut muncul di wajah Curran mendengar jawaban dari Croft. Rein memang menceritakan kisah masa lalu miliknya, dan dia juga mengkonfirmasi informasi tersebut.
Namun, Curran selalu merasa ada tembok besar yang menghalangi setiap dia bersama dengan Rein.
Tatapannya jatuh pada Rein yang berada di pangkuannya.
"Bagaimana keadaannya?"
[ Hanya kelelahan, dia menggunakan kemampuan miliknya berulang kali pada hari ini. ]
"Kemampuan apa yang kau maksud?"
Setahu Curran, Rein hanya memiliki tiga kemampuan atribut alam. Pemulihan, Resistensi racun, dan terakhir suara. Apa Rein memiliki kemampuan selain ketiganya?
[ Penjinak, Master memiliki kemampuan yang bisa menjinakkan monster. Sayangnya, terdapat efek samping setelah Master menggunakannya. Bukankah kau sudah melihatnya? ]
Curran mengingat kembali saat dia menemukan Rein yang sudah berlumuran darah di tubuhnya.
'Apa saat itu dia baru saja menjinakkan monster?'
[ Benar. ]
Curran langsung menatap Croft saat pertanyaan yang baru saja dia pikirkan di jawab olehnya.
[ Kau bisa bicara denganku lewat pikiran saat ada orang lain di dekatmu. ]
Croft menjelaskan poin inti dari perbuatan yang telah dia lakukan.
"Aku mengerti."
Curran menyahuti ucapan Croft. Kemudian dia teringat monster api yang akan dia bunuh, dia pun menoleh ke samping dan mendapati wajah monster api yang sedang melihat Rein dengan sedih.
~ Myuu.
[ Mengapa kau tidak kembali? ]
Croft melihat ke arah monster api yang terlihat murung, dan bertanya padanya.
~ Myuu.
[ Master baik-baik saja, dia akan segera sadar. Lebih baik kau kembalilah. ]
~ Myuu!!
[ Terserah. ]
Curran tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan, tapi melihat ekor monster api yang bergoyang ke kanan dan kiri, sepertinya dia senang.
Di sini lain, Jasvier yang berada di atas tubuh Hoka memperhatikan area sekitar, dan mendengar suara pertarungan tak jauh darinya.
"Hoka, di sebelah sana."
~ Kyuu.
Hoka, burung putih besar terbang ke arah yang di tunjuk oleh Jasvier.
Disana Farenzo sedang bertarung melawan monster bertubuh besar dengan tanduk di atasnya, di bantu Black Tiger yang terus menyerang.
~ Kyaakk.
Sebuah gelombang suara menerjang monster besar yang membuatnya terpental jauh dengan beberapa luka sayat di tubuhnya.
Farenzo terkejut melihat monster yang sedang di lawannya terpental jauh, lalu dia mendongak dan melihat monster burung putih besar dengan Jasvier yang berada di atasnya.
"Yang mulia?"
Hoka mendarat ke bawah. Kemudian Jasvier melompat dari atas dan berjalan menuju Farenzo.
"Tuan muda Rexxon, apa anda baik-baik saja?"
"Yang mulia, apa yang anda lakukan disini? Dan dimana tuan muda Rein?"
Farenzo mengajukan pertanyaan disaat Jasvier bertanya tentang kondisinya.
"Rein sedang menyusul Curran."
Jasvier yang melihat tidak ada luka serius di tubuh Farenzo, menjawab pertanyaan dari Farenzo meskipun pertanyaan miliknya di hiraukan.
Kening Farenzo mengkerut, rahangnya mengeras. Pikirannya berkecamuk membayangkan Rein yang menyusul Curran dengan tubuhnya yang berlumuran darah.
Cengkeraman tangan Farenzo pada pedang mengencang, dia membalikkan tubuhnya lalu menaiki Black Tiger dan memberi perintah dengan tegas.
"Ayo pergi!"
~ Baik Tuan.
"Tuan muda Rexxon, anda mau kemana?!"
Jasvier mengerutkan keningnya, lalu mendecakkan lidahnya.
"Aku datang kemari untuknya, tapi dia malah meninggalkan ku! Apa aku bukan seorang putra mahkota lagi di matanya?!"
"Kalau tahu seperti ini, lebih baik aku bersama dengan Rein menyusul Curran."
"Haaahh!"
Hoka memiringkan kepalanya, melihat Jasvier yang menggerutu atas perlakuan yang dia dapatkan.
~ Kyuu??