
"Ayah- uhukk."
'Darah sialan!!'
Pandangan Curran berubah menjadi keruh, melihat putranya berlumuran darah. Dia mengambil langkah besar menuju Rein, lalu berjongkok agar tubuhnya setara dengan putranya.
"Aya-"
Curran menaruh jari telunjuknya di bibir mungil Rein.
"Tidak apa-apa, muntahkan saja."
Curran mengatakan kalimat tersebut dengan setenang mungkin, agar putranya tidak panik dan menahan darah yang ingin keluar dari mulutnya.
Rein berkedip polos, dia bingung sesaat sebelum mengikuti arahan dari Curran dengan memuntahkan darah akibat efek samping dari menggunakan skill miliknya.
~ "Da- darah, darah, Cutie pie berdarah!!"
Joy berkata dengan terbata-bata, dia syok melihat Rein yang berlumuran darah. Awalnya dia mengira meninggalkan Rein bersama dengan Croft akan membuatnya aman, karena Croft merupakan roh pelindung.
Namun dia tidak menyangka, bahkan dengan kehadiran roh pelindung di samping Rein tetap membuatnya terluka.
Joy menatap Rein dengan pandangan rumit.
Sedangkan Jasvier yang mengetahui bahwa temannya sedang marah hanya berdiam diri, dan menyiapkan sapu tangan miliknya untuk mengusap darah dari wajah Rein.
Rein menghela nafas lega saat dirinya berhenti batuk darah.
"Apa sudah selesai?"
Rein mengangguk pada pertanyaan yang diajukan oleh Curran.
"Ini, gunakan sapu tangan milikku."
"Terimakasih Yang mulia."
Jasvier menelan ludah, mendengar suara tenang Curran. Dia mengusap bagian belakang lehernya yang kedinginan.
Curran membersihkan darah yang ada di wajah Rein dengan sapu tangan tersebut. Setelah itu, memasukkan sapu tangan milik Jasvier ke dalam saku. Dan kemudian mengangkat Rein untuk menggendongnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Rein menatap Curran dengan wajah polos. Dia merasa bingung dengan jawaban apa yang akan dia berikan padanya.
~ "Cutie pie, kau harus menjawab pertanyaan dari manusia merah. Kenapa kau bisa ada disini? Bukankah kau harusnya bersama dengan manusia tua? Jadi, apa yang kau-"
[ Diam! ]
Croft melayangkan tatapan tajam pada Joy. Dia sama sekali tidak menyukai kata-kata Joy, yang seolah-olah menyudutkan Rein.
Joy mengembungkan pipinya, lalu memasang wajah cemberut, dan terbang ke belakang tubuh Curran untuk bersembunyi.
"Kenapa hm? Kok diam?"
Rein memiliki pikiran yang rumit, dia ingin berbohong pada Curran namun suasana yang terjadi di sekitarnya sama sekali tidak mendukung.
"Aku salah, ini keinginan ku."
Rein mengalihkan pandangannya dari tatapan Curran, dan menjawab dengan jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan yang diajukan.
Tidak mungkin Rein mengatakan yang sebenarnya, bahwa dia masuk ke dalam hutan untuk merampok tambang emas, menjinakkan monster, lalu menonton pertarungan yang berakhir dia menghilangkan sihir milik musuh.
Rein mempercayai Curran, tapi dia juga tidak mempercayainya. Dia melakukan itu, agar tidak mengharapkan lebih dari yang dia miliki. Sehingga dia tidak terjatuh terlalu dalam saat kehilangannya.
Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.
Seperti saat kita makan terlalu banyak, maka akan mengakibatkan sakit perut. Minum terlalu banyak, akan membuat perut kembung.
Itu yang dikatakan oleh orang itu padanya.
Curran menghela nafas panjang, dia meletakkan kepala Rein pada pundaknya.
"Kau harus di hukum."
"Aku mengerti, Ayah."
Rein menjawab dengan lesu, dia sudah memiliki gambaran kasar tentang hukuman yang akan diberikan oleh Curran.
[ Tidak apa-apa Master, sayuran itu baik untuk kesehatan tubuh anda. ]
Ekspresi Rein semakin lesu, mendengar suara Croft yang mencoba untuk menenangkan dirinya.
"Tidurlah."
Curran mengelus kepala Rein, dan memberikan mantra tidur padanya. Ada hal yang perlu dia lakukan setelah ini.
"Hm, apa yang terjadi pada Tuan muda Rein?"
Farenzo baru saja selesai menghan- menghilangkan masalah yang ada di hatinya. Hingga beban yang ada di pundaknya terasa lebih ringan dari sebelumnya.
Namun, yang ada di hadapannya saat ini ialah wajah tegang milik Jasvier, Rein yang sedang di gendong, serta Curran yang menggendong Rein dengan tatapan yang terlihat dingin.
"Tuan muda Rexxon, berikan mayatnya padaku!"
Jasvier yang melihat tatapan Farenzo mengarah padanya, menganggukkan kepalanya. Dia menyetujui permintaan dari Curran, lagipula penyihir itu sudah mati jadi dia tidak bisa melakukan introgasi padanya.
Farenzo menepuk kepala kucing hitam yang dia gendong.
"Keluarkan."
~ Baik Tuan.
Kucing hitam menjulurkan kaki depannya, tak lama sebuah pola terbentuk di tanah, dan muncul satu tubuh serta kepala di atasnya.
"Yang mulia, tolong lindungi putraku."
Curran melayangkan tubuh Rein dengan sihir, lalu memberikannya pada Jasvier.
Farenzo mengerutkan keningnya, melihat tubuh Rein berlumuran darah dan tak sadarkan diri.
"Apa yang terjadi pada Tuan muda Rein?"
"Kami tidak tahu, saat kami menemukannya dia sudah berlumuran darah."
Farenzo menggigit bibirnya. Pupil matanya bergetar, dia merasa bersalah atas kondisi yang menimpa Rein.
'Ini salah ku. Harusnya aku langsung menyadari keanehan saat berkomunikasi dengannya, tapi yang aku lakukan ....'
Curran membakar tubuh Denzel dengan api miliknya, lalu mengeluarkan pedangnya dan menyelimuti dengan api.
"Curran, apa yang ingin kau lakukan?"
"Bagaimana menurut anda?"
Curran membalas pertanyaan yang diajukan oleh Jasvier, dengan pertanyaan lainnya.
"Curran, aku tau kau sangat marah. Tapi membunuh semua monster bukanlah pilihan yang baik, bagaimana bila kau terluka? Apa yang akan aku katakan pada Rein nanti?"
Jasvier mencoba untuk menahan Curran untuk melakukan sesuatu yang berbahaya.
"Anda tenang saja Yang mulia, saya akan membantu Tuan muda Curran."
Farenzo membalas ucapan Jasvier dengan tenang, lalu menarik pedangnya kembali dan menyelimuti pedang tersebut dengan aura kegelapan.
Curran melirik Farenzo sebentar, sebelum melesat pergi dari tempat tersebut.
Joy menatap Rein yang berada dalam gendongan Jasvier.
~ "Manusia merah, aku akan membantumu membunuh para monster!"
Angin kasar menyelimuti seluruh tubuh Joy, lalu melesat mencari monster bersama dengan Curran.
"Blue."
Kucing hitam turun dari gendongan, lalu merubah tubuhnya menjadi besar.
Farenzo naik ke atas tubuh Black Tiger, dan memberi perintah untuk bergerak.
"Ayo."
Jasvier menghela nafas panjang, menatap kepergian mereka. Dia memiliki pikiran yang rumit.
"Ini tidak bisa di biarkan."
Meskipun mereka hanya monster, namun jumlah mereka masihlah terhitung ratusan.
Pandangan Jasvier jatuh pada sosok Rein yang sedang tertidur pulas di bawah mantra.
"Aku harus membangunkannya."
Jasvier menepuk-nepuk wajah Rein agar segera bangun.
"Rein, Rein, kau harus bangun. Kau harus menghentikan kegilaan ayahmu."
Jasvier mengerutkan keningnya melihat Rein yang tak kunjung bangun juga, dia pun mulai memeriksa keadaan tubuh Rein.
"Astaga ... Curran! Kau benar-benar gila!"
Jasvier tidak menyangka bahwa Curran akan memberikan mantar tidur pada putranya, pantas saja Rein tetap tertidur meskipun dia sudah berusaha untuk membangunkannya.
Jasvier membaringkan tubuh Rein di tanah, lalu berusaha untuk membatalkan mantra yang diberikan oleh Curran.
Croft duduk di atas pundak Jasvier, dan menghitung menggunakan jarinya untuk membuat keputusan.
[ Bangunkan, tidak, bangunkan, tidak, bangunkan. ]
[ Baiklah aku akan membangunkan Master. ]
Croft melayang di atas kepala Rein, lalu memberikan kekuatan padanya untuk membatalkan mantra tidur. Kemudian dia berteriak di dekat telinga Rein.
[ MASTER!! ADA BERLIAN JATUH!! ]
"Mana?!"