
Rein segera berhenti memberontak dari pelukan Curran. Dia mulai mengatur nafasnya yang memburu.
Curran merasa terkejut dengan kejadian yang baru saja terjadi. Tapi dia memiliki sebuah kesimpulan bahwa ini semua hanyalah kesalahpahaman.
Mark terdiam di tempat. Dia merasa terkejut dengan kejadian yang sangat cepat terjadi di depannya.
Uhukk uhukk.
Morgan mengeluarkan seteguk darah dari mulutnya. Hidungnya mimisan, dan tubuhnya terasa sakit akibat serangan yang tiba-tiba dia dapatkan.
Dan itu di sebabkan oleh seorang anak kecil yang memiliki warna rambut dan mata yang sama dengan mendiang istrinya.
Dia tidak pernah mengira pukulan dari seorang anak kecil akan sekuat itu. Padahal dia masih bisa menangkis serangan dari putra bungsunya.
"Moku, lepaskan pria itu."
Curran memberi perintah, agar sekertaris milik Morgan dapat membantu tuannya.
~ Myuu.
Moku mengubah ukuran tubuhnya menjadi kecil, lalu menginjak kepala Jhon yang membuat kepalanya kembali menghantam lantai.
Duk.
Moku berjalan dengan anggun mendekati Curran, dan berdiri di dekat kakinya.
Jhon meringis saat kepalanya kembali menghantam lantai. Dia pun segera berdiri, lalu mendekati Morgan yang belum bangun dari posisinya.
"Mark, siapkan kamar kosong."
"Itu tidak perlu Tuan muda Curran."
Morgan berdiri dengan bantuan dari Jhon. Netra biru pucat miliknya melihat seorang anak kecil yang berada di gendongan Curran.
"Kami akan tetap pergi, masih banyak pekerjaan yang perlu saya kerjakan. Dan ...."
Morgan menjeda ucapannya sejenak, lalu melanjutkan kembali dengan tatapan mata yang melihat ke arah Rein.
"Bukankah putra angkat anda, perlu bertanggung jawab atas kondisi saya."
"**** you off."
Rein memberikan jari tengah pada Morgan.
"Rein."
Curran menggenggam tangan Rein yang memberikan jari tengah, dia tidak tahu apa artinya. Namun, mendengar umpatan yang dikeluarkan oleh Rein, dia yakin itu bukanlah sesuatu yang baik.
"Mark, beritahu ayahku. Aku dan Rein akan pergi ke tempat Tuan Lester."
"Baik Tuan muda."
Mark pergi meninggalkan mereka, untuk melakukan perintah yang diberikan oleh Curran.
"Mengapa kita harus pergi ke tempatnya?"
Rein bertanya dengan wajah tidak senang. Meskipun pria itu hanya memiliki wajah yang mirip, namun Rein tetap tidak menyukainya.
Dia belum puas memukul wajahnya.
Curran menghela nafas.
"Dengar, dia adalah Tuan Lester, tamu Ayah. Dan kau melukainya tanpa sebab, jadi kita perlu bertanggung jawab."
"Dia terluka karena lemah!"
Rein mencibir dengan tatapan merendahkan yang dia arahkan pada Morgan.
"Bagaimana bisa seorang pembunuh sepertinya kalah dari anak kecil yang belum berusia 10 tahun?"
Tatapan Morgan berubah menjadi dingin. Ekspresi Curran menjadi kaku. Joy menyipitkan matanya menatap tajam. Sedangkan Croft, membalas ucapan Rein lewat pikiran.
[ Master, anda menyelimuti tangan anda dengan kekuatan angin. Itu menyebabkan pukulan yang anda lakukan menjadi tajam. ]
[ Lagipula, pria itu sedang menyamar sebagai seorang pedagang. ]
Rein menghiraukan ucapan Croft.
Morgan terkekeh kecil. Dia berdiri tegak tanpa bantuan dari Jhon, lalu mengusap darah yang berada di bibirnya, dan memperbaiki pakaiannya.
"Tuan muda Curran, putra anda sangat menarik."
Tidak hanya memiliki warna rambut dan mata yang mirip dengan mendiang istrinya. Putra angkat Curran juga mengetahui profesi dirinya sebagai seorang pembunuh dalam sekali bertemu.
'Sangat menarik.'
Morgan mengambil botol kecil yang berisi cairan biru, lalu meminumnya dalam sekali teguk. Setiap luka yang dia peroleh, segera sembuh dalam sekejap.
Morgan menaruh botol kecil kembali ke dalam saku. Lalu memasang senyum ramahnya.
"Hei nak, boleh Paman tahu namamu?"
Rein memasang wajah datar. Dia tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Morgan untuknya.
"Putraku bernama Rein Crimson."
Karena Rein tidak ingin menjawabnya. Jadi, Curran lah yang memberitahu namanya pada Morgan.
"Begitu, saya mengerti."
Curran memperhatikan setiap sikap yang dilakukan Morgan, lalu membuat kesimpulan dengan cepat.
"Tuan muda Curran, saya telah memberitahu tuan besar, dan beliau memberikan izin kepada anda untuk mengunjungi rumah Tuan Lester."
"Itu bagus."
Morgan menanggapi ucapan Mark.
"Saya akan menjamu kalian dengan ramah. Mari."
"Tentu."
Curran menanggapi dengan singkat.
Mereka pun berjalan menuju kereta kuda milik keluarga Lester.
Kini, terdapat tiga orang dan satu monster yang berada di dalam kereta. Morgan yang memiliki senyum ramah. Curran yang bersikap tenang terlihat santai. Dan Rein yang memiliki ekspresi tidak senang di wajahnya.
Rein tidak mengerti, mengapa dia harus ke rumah bajingan itu?
Bukankah dia sudah sembuh setelah meminum cairan biru di botol kecil.
"Nak, boleh Paman bertanya padamu."
Ucapan Morgan memecah keheningan yang terjadi di dalam kereta.
"Tidak."
Rein membalas dengan acuh tak acuh.
Curran menatap Morgan sebentar, lalu melirik ke arah Rein. Dia pun menghela nafas, lalu mengusap kepala Rein dengan lembut.
"Tidak apa-apa."
Rein mendongak ke atas. Menatap wajah Curran yang memiliki ekspresi tenang, dia pun menghela nafas.
Rein mengalihkan pandangannya, tidak ingin melihat wajah Morgan atau dia khilaf kembali memukul wajahnya.
"Katakan."
Sudut mulut Morgan berkedut.
"Darimana kau tahu bahwa aku seorang pembunuh?"
Suara berat Morgan terdengar rendah. Dia ingin memberikan sedikit ancaman pada Rein untuk menjawab pertanyaannya. Namun, Curran berada di dekatnya dan terlihat tenang.
Jadi, Morgan mengurungkan niatnya. Dia khawatir Curran akan membakar kereta miliknya.
Rein mengerutkan kening. Dengan enggan dia menjawab pertanyaan dari Morgan.
"Aku bertemu seorang anak bernama Yuda Lester, saat diculik kemarin."
"Disana, dia membunuh para penculik dengan brutal. Sampai darahnya mengenai pakaianku."
"Tapi ternyata penculik itu memiliki monster juga. Jadi, aku memintanya untuk berhenti dan meminta Moku untuk melawannya."
~ Myuu Myuu.
Moku menganggukkan kepalanya, untuk memberitahu bahwa ucapan Rein benar.
Rein menepuk-nepuk kepala Moku. Yang membuat Moku mengibaskan ekornya karena merasa senang.
"Setelah para penculik itu mati, dia memberitahu namanya padanya. Lalu menghilang dari sana."
Rein mengakhiri ucapannya.
Morgan memiliki ekspresi rumit di wajahnya setelah mendengar penjelasan dari Rein. Dia mengingat, saat putranya berbicara tentang seorang anak kecil yang mirip dengan mendiang istrinya.
Namun, dia tidak pernah menduga pertemuan mereka akan seaneh itu. Tidak heran, Rein langsung menyebutnya sebagai seorang pembunuh.
Sedangkan Curran mengerutkan keningnya. Dia ingat saat menemukan Rein yang berlumuran darah, ternyata memang benar bahwa itu bukan darah miliknya.
Joy memiliki ekspresi pahit di wajahnya. Dia tidak pernah menduga Rein akan menyaksikan adegan kejam di usianya yang masih muda. Dia menjadi semakin bertekad untuk menjadi pelindung bagi Rein.
Croft bersikap sangat santai. Dia sibuk menghitung sesuatu.
Kereta yang membawa mereka pun berhenti di sebuah bangunan rumah mewah.
"Tuan kita sudah sampai."
Jhon mengetuk pintu kereta untuk memberitahu orang yang berada di dalam.
Curran turun terlebih dahulu, lalu menggendong Rein. Dia tidak ingin Rein berada jauh darinya.
Mark segera berdiri di belakang Curran, sebagai pelayan yang melayaninya.
Morgan turun dari kereta dengan bantuan dari Jhon.
"Selamat datang di kediaman keluarga Lester."
Sret.
Trang.
Trang.
Sekelompok 10 orang berpakaian hitam tiba-tiba muncul, lalu mengarahkan pedang pada Curran, Rein, Mark, bahkan Moku.
Morgan memiliki seringai kecil di wajahnya.
Ekspresi wajah Joy berubah menjadi dingin. Tatapan matanya menggelap.