Suddely Became A Child

Suddely Became A Child
Eps 29


[ Master, saya sudah mengambil semua harta mereka. ]


Croft muncul di samping Rein setelah memungut emas milik para pria dewasa yang sedang di lawan.


'Itu bagus.'


Rein tersenyum tipis sebentar, sebelum kembali fokus melawan pria yang datang membawa pisau.


Rein mendorong mereka menggunakan kekuatan angin, lalu menusuk jantung mereka dengan belati.


Crash.


Rein mengambil kembali belati yang datang padanya.


[ Oh Master, saya menemukan ini. ]


Croft memasang perisai di sekitar tubuh Rein agar tidak ada yang datang mengganggu obrolan mereka.


Rein menghela nafas, lalu melihat benda kecil berwarna emas yang di pegang oleh kedua tangan mungil milik Croft.


"Pfftt."


Rein mengembungkan pipinya, berusaha menahan tawa melihat benda kecil yang Croft tunjukkan.


'Croft, gigi emas siapa yang kau ambil?'


Tubuh Rein sedikit bergetar, dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak tertawa di keadaan yang mencekam dan terdapat genangan darah di sekitarnya.


[ Saya tidak tahu. Kebetulan warnanya emas, jadi saya ambillah. ]


Croft menjawab dengan wajah polos saat memberitahu benda temuannya.


Rein mengalihkan pandangannya dari Croft, tubuhnya semakin gemetar, wajahnya memerah, bahkan ada sedikit air di ujung matanya.


'Kau bisa menyimpannya untuk mu.'


[ Benarkah? ]


Croft bertanya dengan mata berbinar.


Meski tidak melihat wajah Croft, Rein langsung menyetujui ucapannya.


'Ya, ya, kau bisa melakukannya.'


[ Baik Master. ]


Croft berseru dengan riang gembira, lalu dia memasukkan gigi emas temuannya ke dalam ruang inventori.


Rein memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya kembali. Setelah itu, dia mengatur nafas saat tawanya berhenti.


Kemudian, dia melirik wajah Croft yang cerah seolah-olah berada di tumpukan emas.


Grraaaooowwww...


Rein melihat Yuda yang mundur ke belakang, dan terdapat tiga monster berukuran cukup besar di hadapannya.


[ Oh, mereka adalah monster yang berhasil kelompok ini jinakkan. ]


[ Tapi anda tenang saja, dia berada di rank D. Lebih lemah dari Sunny. ]


Sunny merupakan nama monster ular putih yang berhasil Rein jinakkan saat berada di hutan Volker. Dia berada di rank C, rank terlemah di antara monster lainnya.


Salahkan para bangsawan yang membunuh monster terlemah terlebih dahulu, padahal Rein sudah memberitahu informasi setiap kelemahan dari para monster.


Rein menyalurkan kekuatan angin pada tubuh Yuda, lalu membawanya ke belakang agar dia bisa istirahat.


"Istirahat lah."


Sudut mulut Rein berkedut.


Ada sekitar kurang dari sepuluh di antara para pria dewasa yang di lawan, yang lain di bunuh oleh Rein. Sisanya di bantai oleh Yuda.


"Moku."


Rein berniat menghancurkan mereka semua beserta bangunannya, dia merasa jijik saat melihat potongan-potongan tubuh manusia yang di bantai.


Moku muncul di samping kanan Rein, bulunya lebih halus di banding saat pertemuan pertama mereka di hutan. Dia mengibaskan ekornya, karena merasa senang di panggil oleh Rein.


"Bakar mereka semua!"


~ Myuu!!


Moku berseru saat mendengar perintah dari Rein. Dia menatap ketiga monster di depannya dengan tatapan merendahkan.


Seorang pria dewasa yang melihat monster api besar di depan, berkata;


"Bos, mereka juga memiliki monster. Bagaimana ini?"


"Tenang saja, mereka hanya punya satu, dan kita memiliki tiga. Jelas mereka akan kalah."


"Saya mengerti Bos."


Pria tersebut kembali tenang, mendengar suara pemimpin yang terdengar meyakinkan.


Telinga Moku berkedut mendengar suara para manusia yang meremehkan kekuatan miliknya. Dia memiringkan kepalanya ke samping.


~ Myuu?


Matanya menatap ke arah manusia yang membicarakan tentang dirinya. Kemudian, dia memiliki ekspresi jahat di wajahnya saat memikirkan cara untuk bermain dengan mereka.


~ Myuu! Myuu!


Moku berseru, lalu kaki depannya mengetuk lantai. Dan bola-bola api merah menyala mengelilingi dirinya, kemudian dia melangkah maju menyerbu ketiga monster yang menurutnya jelek dan tidak keren.


Sreettt..


Bruukk...


Ggrrrmmm..


Moku mengangkat kaki depannya saat monster lainnya ingin menggigit kakinya. Kemudian dia menginjak kepala monster itu, lalu menendangnya.


Moku melawan ketiga monster dengan santai, bulu merah menyala miliknya tetap bersih dan lembut. Berbeda dengan ketiga monster yang sudah memiliki luka-luka di tubuhnya.


Pria dewasa yang melihatnya memiliki firasat buruk, dia pun mengambil belati miliknya. Kemudian melemparkan belati tersebut mengarah ke arah mata monster api.


Spring...


Set.


Moku menghindari belati tersebut dengan mudah, namun satu helai bulunya terpotong oleh belati itu dan jatuh di hidungnya.


Tatapan mata Moku menyipit, ekspresinya berubah tajam dan kejam.


~ Myuu!!!


Suara Moku berdesir amarah, dia menggunakan kekuatan api miliknya dan menyelimuti api tersebut ke seluruh tubuhnya.


Dia menunjukkan taring tajam miliknya, lalu mengetuk lantai dengan keras yang membuat api besar menyebar ke segala arah dan membakar apapun yang ada di dekatnya.


Aaarrrgghhh..


Ggrrroouuuwww...


Rintihan dan jeritan para pria dewasa serta monster saling bersahutan di dalam kobaran api merah besar yang membara.


Rein yang berada di dalam perisai milik Croft tertegun.


'Aku tidak akan memotong bulunya.'


[ Benar Master, anda tidak boleh melakukannya. ]


Croft yang duduk di pundak kiri Rein pun menyetujui, dia merasa merinding melihat kemarahan Moku.


[ Saya akan memberitahu monster lainnya untuk jangan memotong bulu milik Moku. ]


'Benar, benar.'


Netra biru pucat milik Yuda melihat kobaran api besar di depannya. Dan itu dilakukan oleh satu monster yang di perintah oleh bocah rambut pink.


Yuda menatap punggung Rein dengan tatapan rumit.


Seorang anak kecil yang mirip dengan mendiang ibunya.


Seorang anak kecil yang tidak bisa dia lihat masa lalunya.


Seorang anak kecil yang memiliki monster di sampingnya.


Seorang anak kecil yang lemah namun kuat.


Yuda tertarik dengan bocah rambut pink, sekaligus takut padanya.


"Siapa kau?"


Rein mengedipkan matanya. Dia lupa kalau ada satu anak kecil di belakangnya. Dia berbalik dan melihat seorang anak laki-laki rambut biru yang pakaiannya berlumuran darah.


"Kau terlihat mengerikan."


Rein berkomentar saat melihat penampilan Yuda.


"Siapa kau?"


Yuda menghiraukan komentar Rein, dan mengajukan pertanyaan yang sama padanya.


"Namaku Rein Crimson, bagaimana denganmu?"


Yuda terdiam. Dia sudah mendengar kabar tentang putra pertama Duke Crimson yang mengangkat seorang anak kecil.


Itu artinya bocah rambut pink di hadapannya bukankah anak kandung dari Curran Crimson.


'Mungkinkah?'


Yuda merilekskan tubuhnya. Dia menatap Rein dengan lembut.


"Namaku Yuda Lester."


Yuda menundukkan kepalanya agar lebih dekat dengan Rein, lalu berbisik di telinganya.


"Itu nama samaran keluargaku."


Yuda kembali menjaga jarak agar darah di tubuhnya tidak mengenai Rein.


"Sampai bertemu kembali adik kecil."


Yuda tersenyum lembut, sebelum menghilang dari pandangan Rein. Dia menggunakan batu teleportasi, saat merasakan magis familiar yang mendekat.


"Mengapa semua orang selalu memanggil ku adik kecil? Padahal 'kan aku bukan adik mereka."


Rein menggerutu di saat api masih membara. Dia sama sekali tidak mengerti pikiran mereka, terakhir kali Farenzo yang terus memanggilnya adik kecil. Dan sekarang Yuda.


[ Mungkin karena anda pendek. ]


"Bangsat!!"


[ Yak!! Saya hanya menduganya, mengapa anda mengumpat?! ]


Rein mendecakkan lidahnya.


Moku yang berada di belakang mereka, hanya memiringkan kepalanya melihat pertengkaran dua jenis makhluk di depannya.


~ Myuu??


"REIN!!!"