
"Kak Kinara, kaki mu terluka."
Kinara terdiam. Melihat Rein yang mengerutkan kening dan mendekati kakinya, Kinara menggigit bibirnya lalu menjelaskan bahwa dia baik-baik saja.
"Itu hanya luka kecil, aku baik-baik saja."
Rein mengerutkan keningnya.
[ Sepertinya itu sakit. ]
Rein setuju dengan komentar Croft. Dengan perlahan-lahan dia melepaskan sepatu Kinara.
"Re-Rein! Aku baik-baik saja, sungguh."
Rein menghiraukan ucapan Kinara. Terlihatlah kaki Kinara yang terluka, lecet, dan memerah.
Tatapan Rein menjadi rumit.
Kakinya terluka, namun Kinara mengatakan bahwa itu hanya luka kecil. Setelah di lihat-lihat, sepertinya Kinara tidak terbiasa melakukan perjalanan jauh dengan berjalan kaki. Hingga mengakibatkan kakinya terluka.
Lalu kenapa dia tidak mengatakan hal ini? Bukankah Kinara bisa mengatakan bahwa dia menginginkan istirahat karena kakinya yang sakit, sebaliknya dia malah mengabaikan dan tetap melanjutkan perjalanan.
Kinara merasa gugup melihat tatapan Rein yang mengarah padanya.
"Kak Kinara."
"Ya."
"Kau tidak perlu memaksakann diri."
"Hm?"
Kinara mengerutkan kening pada ucapan Rein. Dia melihat Rein menyentuh kedua kakinya, lalu sensasi hangat mulai terasa dan membuatnya rileks.
"Kalau terasa sakit, bilang saja sakit. Bila Kakak butuh istirahat, kau bisa mengatakannya."
"Kalau bukan kita yang memikirkan diri sendiri, lalu siapa lagi?"
Kinara terdiam. Ucapan Rein memang terdengar masuk akal. Kalau bukan dia yang memikirkan dirinya sendiri, lalu siapa lagi?
Tidak semua orang tahu dan mengerti apa yang dia rasakan, begitu juga dengan Rein.
Dia adalah seorang putri dari sebuah kerajaan. Dia harus tampil sempurna, dan mengetahui banyak hal untuk membantu kesejahteraan kerajaannya.
Ayahnya mengurus urusan eksternal dan internal kerajaan. Kakaknya pun membantu urusan diplomatik dan sebagian urusan lain kerajaan.
Di saat anak-anak lainnya belajar menulis dan membaca, dia sudah mempelajari bidang politik, ekonomi, hukum, administrasi, dan keuangan. Di saat anak lainnya bermain dengan teman sebayanya, dia mengisi posisi ratu yang kosong.
Ayahnya tidak ingin menikah lagi sejak ibunya meninggal. Hal itu membuatnya maju dan mengambil alih urusan-urusan seorang ratu yang perlu diperhatikan oleh dirinya.
Memiliki kehidupan selayaknya anak kecil pada umumnya, memanglah keinginan Kinara. Namun, ada sebuah tanggung jawab yang perlu dia emban.
Melihat kehidupan warganya yang aman dan nyaman, membuat rasa lelah yang dia rasakan sirna. Meskipun, kemampuannya yang bisa melihat kilasan masa depan cukup mengganggu.
Dapat melakukan perjalanan seperti ini dan melihat pemandangan alam yang indah, sudah cukup membuatnya bersyukur.
Dengan tersenyum lembut, Kinara membalas ucapan Rein.
"Aku mengerti, dan terimakasih, kaki ku sudah terasa lebih baik."
Rein mengangguk, dia pun kembali ke tempatnya duduk.
Joy dan Moya sudah kembali dengan membawa banyak ikan. Yuda dan Rein membersihkan sisik ikan dengan belati.
Kinara memperhatikan setiap gerakan yang mereka berdua lakukan, dan dia pun mencoba untuk mengikutinya. Awalnya berhasil, namun tangannya tergores sisik ikan di percobaan berikutnya.
Rein segera menggenggam tangan Kinara yang terluka, dengan kemampuan atribut alam pemulihan tangan Kinara kembali membaik.
Dia pun meminta Kinara untuk menunggu ikannya matang saja, dan membiarkan mereka yang mengurusnya sisanya.
Kinara tersenyum canggung. Dia mengiakan dan hanya memperhatikan aktivitas mereka.
Moku menjaga api agar tetap stabil dan tidak membakar ikan menjadi abu. Dia sudah mengetahui ukuran kekuatan api yang cocok untuk membakar ikan hingga matang.
"Aromanya harum."
Rein berkomentar.
~ "Cutie pie, kau harus berhati-hati saat memakan ikan. Jangan sampai kau memakan tulang dari ikan itu dan melukai tenggorokan mu lagi."
Rein terdiam, mendengar suara Joy yang menasehatinya dengan kejadian saat di goa.
~ "Itu benar Rein, tolong berhati-hatilah saat memakan ikan."
Croft hanya terkekeh geli melihat ekspresi wajah Rein. Dia menepuk-nepuk pundak Rein untuk memberinya semangat.
Kinara masih merasa aneh dengan suara-suara yang dia dengar. Karena suara-suara itu mengenali Rein, Kinara menutup mulut dan tidak bertanya-tanya.
Yuda mendengar suara langkah kaki yang mendekat, serta suara gesekan daun. Dia mengeluarkan belati, lalu bergerak mundur secara perlahan.
Namun, pergerakan miliknya terhenti karena sebuah tangan kecil menyentuhnya. Yuda melirik ke samping yang terdapat Rein di sebelahnya.
"Jangan di bunuh."
Suara bisikan kecil terdengar oleh telinganya. Yuda mengangguk dan mengembalikan belati miliknya, lalu mundur kembali secara perlahan.
Aarrghhh.
Bruk.
Semua mata langsung tertuju ke asal suara yang terlihat Yuda sedang menekan tubuh seorang gadis kecil yang memiliki kulit kecoklatan dan rambut panjang warna abu gelap.
Kinara melotot. Dia menaruh ikan bakar miliknya, lalu mendekati mereka.
"Yuda, apa yang kau lakukan? Turunkan kaki mu! Dia seorang gadis kecil."
Yuda hanya meliriknya sekilas, menghiraukan ucapannya dan kakinya masih menekan tubuh gadis itu yang berusaha untuk melepaskan diri.
"Yuda! Ini perintah!"
Kinara mengeluarkan suara tegas. Namun dia melihat Yuda tidak bergerak sedikit pun meskipun dia memberikan perintah. Hal itu membuatnya geram.
Rein menghela napas. Dia bangkit dari posisinya, lalu berjalan mendekati Kinara dan berdiri di sampingnya.
"Lepaskan."
Mendengar suara Rein, Yuda mengangkat kakinya lalu mengambil langkah mundur dan memperhatikan gerakan orang tersebut agar tidak melarikan diri.
Ekspresi wajah Kinara menjadi kaku, melihat Yuda yang mendengarkan ucapan Rein. Namun, dia segera menghiraukannya dan mendekati gadis itu untuk membantunya.
"Kau tidak apa-apa."
Setelah memastikan bahwa gadis kecil itu baik-baik saja, Kinara memandang Yuda dengan tatapan tajam.
"Apa kau bisa memperlakukannya dengan baik? Dia seorang gadis."
"Aku sudah melakukannya."
"Apa menurutmu menginjak tubuhnya sama dengan baik?!"
"Aku tidak membunuhnya."
Balasan datar Yuda membuat Kinara terbungkam. Apa itu artinya dia berniat untuk membunuh sebelumnya?
Kinara mengerutkan kening. Dia sama sekali tidak mengerti dengan pikiran anak kecil rambut biru yang menjadi kesatria pribadi Rein.
"Siapa nama mu?"
Rein bertanya pada gadis itu, dia menghiraukan perdebatan antara Kinara dengan Yuda.
Gadis itu menatap anak kecil rambut merah muda dengan mata hitamnya yang berkilau.
Dia sudah memperhatikan anak kecil ini yang terlihat imut dan cantik dengan rambut merah muda, meskipun anak kecil ini seorang laki-laki.
"Namaku Vira."
Rein mengangguk.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Vira terdiam. Dia keluar secara diam-diam dari tempat tinggalnya, lalu mencium aroma harum yang membuat perutnya berbunyi.
Mengikuti aroma tersebut, dia menemukan tiga orang anak kecil yang sepertinya seumuran dengannya. Hingga salah satu dari mereka memergokinya.
"Aku lapar."
Vira mengatakan kalimat tersebut dengan tatapan berbinar melihat ikan bakar yang tak jauh darinya.
Rein melihat arah tatapan mata Vira.
"Mari kita makan bersama."
* * *