
"Bagaimana bisa putraku kabur tidak ada di antara kalian yang melihatnya?!!!"
Suara Curran terdengar keras dan penuh amarah. Kobaran api menyelimuti seluruh tubuh Curran, bahkan netra hijau elegan miliknya berubah menjadi merah api yang menyala.
Para kesatria yang di perintahkan untuk menjaga Rein hanya bisa menunjukkan kepalanya, saat melihat amarah Curran.
"Curran, tenanglah."
Gilbert yang baru saja sampai di halaman depan kediaman melihat api milik putranya berkobar, seolah-olah siap membakar apapun yang ada di sekitarnya.
"Tapi Ayah-"
"Tenang."
Curran memejamkan matanya, nafasnya yang memburu perlahan-lahan mulai mereda. Dia kembali membuka matanya dan terlihat netra hijau emerald yang teduh.
Gilbert yang melihat bahwa putranya sudah mulai tenang, api yang menyelimuti tubuh Curran mulai menyusut.
"Nak, putramu masih di wilayah Duchy. Pergi dan carilah."
"Amarah tidak akan menemukan putramu."
Gilbert mengatakan kalimat tersebut, karena dia merasa yakin Rein masih berada di wilayah Crimson. Dan selama dia masih di wilayahnya, maka dia akan aman.
Lagipula, Gilbert merasa Rein tidak seperti anak kecil pada umumnya. Seolah-olah dia melihat bayangan Curran padanya.
Curran menghembuskan nafas panjang. Ucapan ayahnya memang benar, bila dia marah di sini, dia tidak akan menemukan Rein.
Dia berbalik, lalu melangkah ke depan menuju gerbang kediaman. Dia berniat untuk mencarinya sendiri.
Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara yang tidak asing di telinganya.
~ "MANUSIA MERAH! CUTIE PIE DI CULIK MANUSIA JELEK!!"
Joy berteriak saat melihat Curran. Dia di minta oleh Croft untuk memberitahu Curran tentang yang terjadi pada Rein.
Pandangan Curran menggelap, netranya kembali menjadi merah menyala.
"Bajingan mana yang minta di bunuh!!"
Joy merasa tertegun melihat ekspresi wajah Curran yang terlihat marah. Dia dapat mengerti, itu sebabnya Joy memiliki ekspresi serius saat menjawab pertanyaan dari Curran.
~ "Joy akan tunjukkan jalannya."
Gilbert yang berada di depan pintu kediaman merasa bingung dengan pergerakan Curran yang berhenti, lalu berjalan kembali dengan tekanan panas yang tajam.
"Mark, ikuti putraku."
"Baik Tuan."
Mark yang berada tak jauh dari Gilbert, membungkuk sebentar, lalu mengikuti Curran di belakangnya.
Rosaly yang baru saja menyelesaikan tugasnya, mengerutkan kening melihat Curran yang melewati dirinya dengan mata merah dan tatapan tajam.
'Sepertinya kakak sangat marah.'
Rosaly hanya berpikir dalam benaknya. Melihat para kesatria yang masih membungkuk, dan keberadaan ayahnya yang berada di depan.
"Nona muda, kita sudah sampai."
Ema keluar terlebih dahulu dari kereta, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Rosaly keluar dari kereta.
Rosaly berjalan dengan anggun, dan berhenti di hadapan Gilbert.
"Ayah, aku ingin melapor."
Gilbert memiliki senyuman yang menenangkan, melihat putrinya yang datang ekspresi wajah seperti seseorang yang baru saja bersenang-senang.
"Tentu, mari kita masuk."
"Baik Ayah."
* * *
"Jadi, bagaimana?"
Kini Gilbert sudah berada di ruang kerja miliknya, dengan Rosaly yang duduk di hadapannya. Dia langsung bertanya poin inti dari pertemuan mereka.
"Aku langsung membunuhnya, dan membakar toko bunga miliknya."
Rosaly menjawab dengan senyum manis yang terukir di wajahnya.
"Hm?"
Gilbert mengerutkan keningnya. Bukankah putrinya hanya ingin menghancurkan bunganya saja, lalu kenapa laporan pembunuhan?
Rosaly yang melihat ayahnya kebingungan dengan ucapannya, dia pun langsung menjelaskan maksud dari perkataannya.
"Aku bertemu dengan tuan Lester saat ingin menghancurkan bunga dari pedagang tersebut."
"Menurut tuan Lester, bunga itu merupakan bahan obat-obatan yang dapat membuat seseorang berhalusinasi secara berlebihan."
"Hal itu cukup berbahaya bila di konsumsi oleh manusia maupun hewan, obat itu dapat menghilangkan kesadaran yang membuatnya menghancurkan apapun yang ada di depannya."
"Jadi, aku langsung membunuhnya di lokasi dan membakar toko miliknya."
Gilbert mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan yang diberikan oleh Rosaly.
"Bagus, kau sudah melakukan yang terbaik. Pergilah istirahat."
Gilbert memuji bagaimana Rosaly bertindak. Dia lebih suka menjadi pemimpin yang kejam, agar warga dan wilayahnya aman.
Rosaly bangun dari kursi, lalu beranjak pergi dari sana.
"Ah."
Rosaly menghentikan langkahnya, saat mengingat sesuatu yang ingin dia laporkan pada ayahnya.
"Apa ada hal lain?"
"Tuan Lester akan datang besok bersama dengan putra keduanya, beliau ingin membahas bisnis dengan Ayah."
Gilbert terdiam sejenak, sebelum mengangguk.
"Aku mengerti."
Karena Rosaly sudah selesai memberikan laporan pada Gilbert, dia pun keluar dari ruangan tersebut.
"Lester yah."
Gilbert memiliki tatapan yang rumit saat menyebut kata itu.
* * *
[ Master, Master. ]
Kening Rein berkerut mendengar suara Croft yang terus memanggilnya, tak lama Rein membuka matanya dan terlihat balok kayu kumuh. Terlebih lagi, dia merasa berada di sebuah benda yang sedang bergerak.
[ Akhirnya anda sadar juga. ]
'Berapa menit aku tidak sadarkan diri?'
[ 15 menit. ]
Croft menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pikiran Rein.
Rein segera bergeser dari sandaran yang membuat lehernya tidak nyaman. Dia mengedipkan mata beberapa kali, dan mulai menyadari bahwa mulut di tutup oleh kain, serta tangannya di ikat dengan kain yang berbeda.
'Tunggu sebentar.'
Rein mengerutkan keningnya melihat tangannya yang di genggam oleh tangan lainnya. Dia pun mendongak ke atas dan melihat wajah halus Yuda yang menatapnya dengan lembut.
Rein segera menjauhkan diri, karena wajahnya terlalu dekat dengan wajah Yuda. Kemudian, dia mencoba untuk menarik tangannya agar terlepas dari genggaman tangan Yuda.
Rein mengerutkan kening saat usahanya tidak membuahkan hasil. Dia pun melayangkan tatapan tajam ke arah Yuda.
"Hpmmhh!! Hpmmhh!!"
'Lepaskan tanganku berengsek!'
Yuda merapatkan bibirnya agar tidak tersenyum. Melihat anak kecil di depannya menatap dengan tajam, terlihat seperti seekor kucing.
'Imut.'
Sudah tiga kali percobaan, Rein tetap tidak berhasil melepaskan tangannya dari genggaman tangan Yuda.
Dia pun menyerah.
Sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik kawan. Kalau tidak bisa, ya tidak bisa.
'Dimana Joy?'
Rein melupakan masalah tangan, dan bertanya pada Croft.
[ Saya memintanya untuk memberitahu Curran tentang kondisi anda. ]
Croft yang berada di pundak kiri Rein menjawab dengan santai. Tidak ada Joy, dan tidak ada yang bisa mendengar suaranya kecuali Rein. Membuat Croft merasa nyaman dan bebas.
'Oh.'
Rein tidak mempermasalahkannya, dia berniat merampok para penjahat kecil tersebut dan membiarkan Curran yang mengurus mereka.
Sesimpel itu rencananya.
Bruukk.
Rein meringis saat kereta yang membawa dirinya berhenti secara kasar, membuat kepalanya terbentur benda keras di depannya.
'Sialan!'
Croft yang tidak siap dengan kejadian tadi pun jatuh ke depan, dan tubuhnya menubruk tangan Yuda.
[ Sialan!! ]
Yuda menunduk untuk melihat kepala rambut pink yang menubruk dadanya. Namun, dia merasa bingung dengan rasa sakit di lengan kanannya.
Pintu yang mengangkut mereka berdua terbuka, dan terlihat seorang pria yang mengaku bernama Sam.
"Oh kalian sudah bangun, itu bagus."
Sam menurunkan mereka berdua, lalu membawanya masuk ke dalam sebuah bangunan yang terlihat tidak terawat.
Setelah itu, mereka masuk ke dalam ruangan yang terdapat banyak anak kecil sedang mengolah setangkai bunga yang memiliki kelopak warna merah.
"Kalian mau permen 'kan? Kalau kalian mau permen, kalian berdua harus kerja dulu seperti mereka."
Tatapan mata Rein menggelap.
'Croft, rencana berubah.'