Suddely Became A Child

Suddely Became A Child
Eps 61


"Apa itu?"


Moku menaruh benda itu di dekat Rein. Dia mendapatkannya setelah membakar salah satu tubuh monster Bufo Asper yang sedikit berbeda dengan monster lainnya.


Myuu Myuu.


~ "Joy tidak tahu, tapi yang jelas itu tidak bisa di makan."


Croft memutar matanya jengah. Dia yakin Joy akan mencoba memakan benda itu dulu sebelum di bawa oleh Moku.


Croft menatap benda itu untuk mencari informasi terkait tentangnya.


[ Itu batu magis. Batu magis sangat langka dan berharga. Karena batu magis memiliki kemampuan atau kekuatan tertentu. ]


[ Seperti batu magis ini, dia memiliki kemampuan regenerasi mirip dengan kemampuan monster Bufo Asper yang kita hadapi. ]


Rein menatap batu magis dengan seksama, lalu menatap ke arah Moku.


"Ambillah, itu milikmu."


Myuu?


"Ya, aku memberikannya kepada mu."


Myuu Myuu.


Moku mengibaskan ekornya. Dia merasa senang dengan pemberian dari Rein yang sangat berharga. Dia pun mulai memakan batu magis itu.


Joy menjatuhkan rahangnya melihat Moku yang bisa memakan batu magis.


[ Seperti yang di harapkan, saat ini Moku memiliki kemampuan regenerasi. ]


Rein tersenyum kecil, lalu menepuk-nepuk kepala Moku. Itu bagus, masa depan itu misteri. Rein tidak tahu hal seperti apa yang akan mereka hadapi, akan lebih baik bersiap untuk menjadi lebih kuat agar tidak tumbang.


"Rein."


Rein bangkit dari posisinya melihat Kinara dan Vira datang menghampiri.


"Rein, bagaimana keadaanmu?"


"Aku baik-baik saja."


Kinara menghela napas lega. Setelah melihat pertarungan yang Rein dan lainnya lakukan, dia menyadari sesuatu.


"Rein, kau bertarung dengan sangat keren!"


Vira berseru dengan penuh semangat. Dia sangat kagum melihat Rein dan Yuda yang bertarung dengan berani melawan monster, padahal mereka masih anak-anak yang seumuran dengannya.


"Itu benar, kau sangat hebat, Nak."


Rein melirik pria dark elf yang mengelus kepalanya. "Terima kasih, Paman."


"Oh benar, Rein. Dia Paman Lais, Pamanku," ucap Vira memperkenalkan Lais.


"Halo Paman, namaku Rein Crimson."


"Halo juga."


"Ini Moku dan itu Yuda."


Myuu Myuu.


Moku berseru saat namanya di sebut. Yuda yang telah bersih datang menghampiri mereka, lalu mengangguk kecil pada Lais.


Lais tersenyum pada Moku dan Yuda. Lalu dia menatap Rein dan mengajukan sebuah pertanyaan.


"Jadi, untuk apa kalian datang kemari?"


"Kami membawa banyak ikan."


"Hm?"


"Itu benar Paman, ikannya sangat lezat."


Melihat tatapan berbinar di mata Vira, Lais mengelus kepalanya.


"Aku mengerti niat baik kalian, tapi tempat ini cukup berbahaya bagi anak kecil seperti kalian."


"Aku bukan anak kecil."


Kata-kata itu keluar dari mulut anak laki-laki rambut pink, anak kecil yang paling muda dan ... Pendek di antara anak-anak yang lain.


Sudut mulut Lais berkedut.


"Lagi pula, Paman. Tidak baik menolak makanan enak."


Lais terkekeh geli. Dengan perasaan gemas dia mengangkat tubuh Rein lalu menggendongnya.


"Ya ampun Nak, kau sangat manis."


Ekspresi wajah Rein menjadi aneh.


Dia itu tampan, oke. Bukan manis.


"Baiklah, kalian semua boleh datang ke tempat kami."


"Terima kasih Paman."


Kinara menatap mereka yang terlihat bersemangat untuk mengunjungi tempat para dark elf tinggal, padahal telah di beritahu bahwa tempat itu cukup berbahaya.


Kinara semakin yakin dengan pemikirannya, bahwa ini bukanlah tempatnya. Dia tidak cocok bergabung dengan mereka.


Tap.


Kinara tersentak saat sepasang tangan menggenggam kedua tangannya. Dia menatap pemilik dari tangan tersebut.


"Ayo Kinara, aku akan memperkenalkan mu pada bibi Mey dan yang lainnya."


Senyuman manis terlukis di wajah Vira. Itu adalah senyum tulus, yang menjelaskan bahwa dia benar-benar memiliki perasaan senang.


Berbeda dengan senyuman yang sering Kinara lihat saat berada di istana.


Kinara tersenyum kecil, lalu mengangguk pada ucapan Vira.


Kinara berjalan berdampingan dengan Vira di sampingnya. Dia memandangi orang-orang yang bersama dengannya.


Bertemu dengan mereka, membuatnya sadar bahwa dia bukanlah seorang putri melainkan seorang gadis kecil bernama Kinara yang lemah dan tidak bisa melakukan apapun.


Untuk itu, Kinara telah mengambil keputusan bahwa dirinya hanya akan menjadi penonton agar tidak menghambat perjalanan mereka.


Dan, rasa penasaran mulai menguasai hatinya. Hal apalagi yang akan dia temukan saat bersama dengan mereka.


* * *


Sekelompok dark elf berkumpul di satu tempat menunggu kedatangan Lais yang pergi untuk memeriksa suara pertarungan.


Dark elf wanita bernama Mey menatap lorong gelap dengan ekspresi khawatir.


Pasalnya, dark elf kecil bernama Vira tidak ada di sini. Dan Lais yang sedang memeriksa keadaan pun belum kembali.


Belum lagi, dia mendengar suara tawa yang cukup keras bergema.


Apa itu monster baru yang muncul?


Mey menggigit bibirnya.


"Haruskah aku menyusulnya?"


Dark elf pria yang memiliki tubuh kekar menyentuh pundak Mey. "Tenanglah Mey, aku yakin Lais akan kembali."


Mey melirik ke samping, lalu membalas ucapan pria dark elf itu.


"Aku tidak mengkhawatirkannya, Tora. Hanya saja, Vira tidak ada di sini. Bagaimana kalau dia mencoba keluar dari tempat ini?"


Pria dark elf bernama Tora membawa tubuh Mey ke dalam pelukannya. "Vira adalah anak yang cerdas, aku yakin dia akan baik-baik saja."


"Semoga saja itu benar."


Para dark elf yang melihat dua sejoli memadu kasih, memasang ekspresi datar.


Dark elf wanita yang memiliki rambut merah, memutar matanya jengah. Di saat keadaan genting seperti ini pun mereka malah tebar kemesraan.


Tak lama, suara langkah kaki terdengar oleh telinga para dark elf.


"Ada yang datang."


Para dark elf segera memasang sikap waspada, itu karena mereka mendengar lebih dari satu langkah kaki. Yang berarti ada lebih dari satu yang akan mendatangi tempat mereka.


"Berhenti memainkan pipiku!"


"Hahaha, Apakah gumpalan lembut ini pipimu?"


"Mau ku pukul kau!"


"Hahaha, pasti rasanya sakit terkena pukulan dari tangan mungil-"


Bugh.


Para dark elf melihat sesuatu melayang menuju mereka, mereka pun menghindari hal itu yang membuat Lais terjatuh ke bawah dengan suara keras.


Bruukk.


"Ya ampun, ternyata rasanya memang sakit."


Lais bergumam pelan, sebelum suara pekikan terdengar memanggil namanya.


"Lais!!"


Mey menghampiri Lais, lalu membantunya untuk bangun. Dia memperhatikan sebelah bagian wajah Lais memiliki luka bekas pukulan, dan itu terlihat menyakitkan.


"Astaga Lais, siapa yang melakukan ini padamu?"


Lais meringis pada pertanyaan yang di berikan Mey. Tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya, bahwa dia di pukul oleh seorang anak kecil yang belum mencapai usia 10 tahun.


"Aku-"


"Hahaha, Paman kau di pukul oleh Rein."


Suara tawa ledekan dari Vira membuat para dark elf langsung mengalihkan pandangan dari Lais.


Mereka melihat dark elf kecil Vira bersama dengan tiga orang anak kecil dan seekor rubah merah.


"Vira."


"Bibi Mey."


Rein melihat Vira berlari memeluk dark elf wanita yang memiliki rambut panjang warna blonde. Dia mengambil langkah maju.


Bangunan di sini memiliki bentuk seperti kubus yang terbuat dari tanah dan ... Oke nggak cukup lanjut part dua.