
"Apa tidak ada tempat lain sebagai titik lokasinya, Yang mulia?!!"
Jasvier menelan ludah. Dia tidak menyangka kedatangannya malah di sambut oleh ekspresi marah wajah Curran.
"Saya memberi salam kepada matahari dan bulan kerajaan."
Semua mata tertuju pada Rein yang melakukan salam penghormatan selayaknya bangsawan.
Curran menghela napas.
Dia mengambil langkah maju, lalu membungkuk hormat.
"Saya memberi salam kepada matahari dan bulan kerajaan."
"Eh itu Ran, kau tidak perlu- Aww."
Jasvier meringis kesakitan saat kakinya di injak oleh adik perempuannya.
"Saya minta maaf atas kelancangan kami yang datang di waktu dan tempat yang tidak tepat."
Kinara melirik sekilas kakaknya, begitu dia mengatakan kalimat tersebut.
Sebenarnya, Kinara merasa kasihan terhadap kakaknya yang selalu memperhatikan Cristal komunikasi di setiap kegiatan atau pekerjaan yang dia lakukan.
Jadi, dia mengusulkan untuk mengunjungi wilayah timur laut. Tapi, dia tidak mengira kalau titik teleportasi yang mereka lakukan merupakan kamar pribadi milik Curran dan juga Rein.
Terlebih lagi, sepertinya Curran baru saja selesai mandi di lihat tetesan air yang jatuh dari rambutnya. Dan dia terlihat tidak senang dengan kedatangan mereka.
Itu ... Sebenarnya tidak salah, siapa yang senang saat ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya? Tentu saja tidak.
'Kakak, kau benar-benar menyedihkan.'
Kinara bersimpati pada Jasvier, namun dia perlu melanjutkan ucapannya atas kecerobohan kakaknya.
"Tapi kedatangan kami memiliki maksud dan tujuan yang penting."
"Saya mengerti, silahkan duduk."
Kinara menghela napas lega.
Dia mengambil tempat duduk yang berada di dekat kakaknya. Lalu melihat Rein yang berjalan dan duduk di pangkuan Curran.
"Bagaimana kabarmu?"
"Saya baik."
"Aku senang mendengarnya."
Jasvier menghela napas lega. Dia merasa khawatir dengan keselamatan Curran dan Rein yang pindah ke wilayah ini.
Apalagi dia belum mendapatkan kabar tentang kondisi mereka sejak pindahan, padahal dia telah memberikan Cristal komunikasi pada Curran.
Bagaimanapun wilayah timur laut masih belum aman sejak festival perburuan. Tidak ada yang tahu kapan serangan balasan akan terjadi di wilayah ini.
Begitu mendengar adiknya ingin mengunjungi wilayah timur laut, Jasvier langsung menyetujui sarannya dan melakukan teleportasi ke tempat ini.
"Tujuan apa yang membawa kalian berdua datang kemari?"
"Itu- "
"Tuan Curran, izinkan kami berdua untuk tinggal di kediaman ini selama dua hingga tiga hari ke depan."
Curran dan Jasvier mengerutkan keningnya pada ucapan Kinara.
Kinara merasa sedikit gugup, namun dia tetap melanjutkan perkataannya demi kebaikan bersama.
"Kak Vier perlu melakukan pemeriksaan terhadap wilayah ini, dan saya juga ingin tahu tentang wilayah ini karena saat festival terjadi saya tidak datang."
Curran merenungkan permintaan dari Kinara selama beberapa menit.
Wilayah timur laut masih cukup berbahaya untuk di tinggali oleh anggota keluarga Kerajaan.
Hingga Mark datang dengan membawa troli yang berisi makanan.
Curran menghela napas.
"Mark, siapkan kamar tamu untuk dua hari ke depan."
"Baik Tuan."
Begitu semua makanan telah berada di atas meja, Mark mendorong kembali troli keluar dari ruangan. Dan melakukan tugasnya.
"Saya akan mengizinkan kalian untuk tinggal di sini selama dua hari ke depan. Namun, bila terjadi sesuatu yang berbahaya saya harap kalian segera kembali ke istana."
Kinara tersenyum lebar mendengar ucapan Curran.
"Terimakasih Tuan Curran."
"Panggil aku Kakak."
"Ya, Kak Ran."
Curran mengangguk puas pada ucapan Kinara yang merupakan sepupunya dari pihak ibu.
Jasvier tersenyum melihat adiknya yang bahagia. Sepertinya adiknya menginginkan liburan. Jasvier mengelus kepala Kinara dengan lembut.
Rein mengangkat satu alisnya.
Aneh, sangat aneh.
Moya merasa terharu melihat Jasvier yang masih berhubungan baik dengan Curran, padahal saat kecil dia selalu ... Hm ya begitulah.
"Hei Ran, apa itu artinya kau sudah mau memanggil ku Kakak?"
Jasvier bertanya dengan alisnya yang naik turun.
Curran tersenyum tipis.
"Yang mulia, sepertinya kita perlu membicarakan tentang titik lokasi teleportasi untuk ke depannya."
Jasvier tertegun.
"Hahaha, sepertinya begitu."
Jasvier menjawab dengan suara tawa canggung.
* * *
"Sebenarnya kita ingin pergi kemana?"
Kinara mengajukan pertanyaan untuk yang kesekian kalinya. Untuk memberi ruang kepada kakaknya dan Curran, Kinara berinisiatif untuk ikut bersama Rein yang ingin pergi bermain.
Dan ini sudah beberapa menit berlalu mereka berjalan, namun masih belum sampai juga di tempat tujuan.
"Bermain, tentu saja."
Kinara menghela napas. Lagi-lagi Rein menjawab dengan jawaban yang sama setiap kali dia bertanya.
Kakinya sudah terasa sakit karena ini pertama kalinya Kinara melakukan perjalanan jauh dengan berjalan kaki.
Rasanya Kinara ingin sekali mengeluh dan meminta untuk beristirahat sebentar, namun dia mengurungkan niatnya.
Dia yang meminta untuk ikut bersama dengan mereka, jadi dia menahan rasa sakit tersebut dan melanjutkan perjalanan.
Mereka berjalan selama beberapa menit, sampai akhirnya mereka berhasil keluar dari hutan dan di sambut dengan cahaya matahari pagi.
"Kita sudah sampai."
Kinara melindungi matanya dari cahaya matahari yang menyilaukan. Dia memandang dengan takjub pemandangan gunung-gunung besar yang ada di hadapan mereka.
"Ini ... Indah."
"Tentu saja."
Rein menoleh ke samping, dia menjawab ucapan Kinara dengan seulas senyum di wajahnya.
Tanpa di ketahui oleh orang lain, Rein menggunakan skill Sensorik dan menemukan tempat ini. Apalagi, ada sesuatu yang menarik di balik gunung-gunung besar.
Hembusan angin menerpa wajah Kinara, dan menerbangkan helaian rambutnya. Dia tersenyum lebar. Usahanya dalam berjalan jauh menuju tempat ini terasa tidaklah sia-sia.
"Mari kita beristirahat di sana."
Rein mengambil langkah maju untuk memimpin perjalanan mereka.
Danau berukuran sedang mulai terlihat jelas oleh mata. Memiliki kedalaman 10 meter, itu tentu saja cukup dalam untuk anak-anak seperti mereka.
Rein menghentikan langkahnya, lalu melirik ke arah Croft.
'Ikan-ikan di sini bisa di makan?'
Croft memandangi danau di depan dan mulai mencari informasi yang di perlukan.
[ Bisa Master, dan tidak ada monster di danau tersebut. ]
Rein mengangguk puas pada jawaban Croft.
"Tangkap ikan di dalamnya."
Rein menunjuk arah danau dan memberikan perintah.
~ "Baik!"
~ "Moya mengerti."
Melihat Joy dan Moya yang bersemangat untuk menangkap ikan. Rein mendekati Yuda, lalu menepuk pundaknya.
"Kau dan Moku bagian memasak."
Yuda mengangguk. Dia melihat rubah merah mendekat dan mengibaskan ekornya.
Myuu Myuu.
Sudut mulut Yuda berkedut.
"Bagaimana denganku?"
Rein menoleh pada pertanyaan Kinara.
"Mari kita tunggu."
Kinara memasang ekspresi bingung pada jawaban Rein, lalu dia segera mengerutkan keningnya melihat Rein yang dengan bebas duduk di atas rumput tanpa alas.
Melihat Rein yang terlihat biasa saja saat melakukan hal tersebut, Kinara pun mengikutinya. Dia duduk bebas di atas rumput yang berada dekat dengan Rein.
"Kak Kinara, kaki mu terluka."
Kinara terdiam.