Suddely Became A Child

Suddely Became A Child
Eps 59


Apakah mereka harus melanjutkan perjalanan atau kembali pulang?


Rein memandang ke arah Vira yang juga sedang menatapnya.


"Kalian bisa kembali."


Sebenarnya Vira ingin memperkenalkan mereka pada bibinya, dan mengatakan bahwa langit itu luas dan indah. Tapi, melihat Kinara yang menangis dan ketakutan. Dia mengurungkan niatnya.


"Biarkan aku saja yang membawa ikan untuk keluargaku."


Rein merenungkan ucapan Vira.


Lalu, sebuah tangan kecil menyentuh pipinya.


~ "Cutie pie, Joy mau main. Pulangnya nanti saja."


Joy memasang wajah melas dan mata yang berkaca-kaca.


Bulu yang lembut pun mengelus kakinya. Rein melihat ke bawah yang terdapat Moku di sana.


Myuu Myuu.


Rein menghela napas. Dia mengambil langkah lebih dekat dengan Kinara, tak lupa mengambil sesuatu dari ruang inventori.


Plop.


Kinara terdiam. Dia merasa sesuatu yang manis masuk ke dalam mulutnya, matanya menatap polos wajah Rein.


'Ho, sepertinya berhasil.'


Rein memasukkan permen ke dalam mulut Kinara. Dia selalu melihat Croft melakukannya saat Joy menangis, tanpa di duga ternyata cara itu benar-benar berhasil.


Kemudian, Rein menepuk-nepuk kepala Kinara dengan lembut. "Tidak apa-apa. Kakak tidak perlu takut, aku akan melindungi mu."


Pipi Kinara memerah. Dia merasa malu, padahal Rein dua tahun lebih muda darinya tapi malah Rein yang bersikap dewasa di banding dirinya.


Kinara menggigit bibirnya, lalu mengangguk pada ucapan Rein.


"Baiklah, mari kita lanjutkan perjalanan."


Vira mengangguk pada perkataan Rein, dia berbalik untuk kembali memimpin perjalanan mereka. Tapi ...


Mengorek Mengorek Mengorek.


Beberapa monster Bufo Asper telah berada di depan mereka.


"A-apa yang harus kita lakukan?" Cicit Kinara.


"Lewat sini."


Vira menunjuk ke salah satu celah besar dan berlari menuju ke sana diikuti oleh yang lainnya di belakang.


Bruk.


Kinara tersandung kakinya sendiri yang membuatnya terjatuh dengan suara keras.


"Kak Kinara."


Kinara meringis kesakitan, dia bangkit dari posisinya lalu melihat salah satu monster Bufo Asper ingin menginjak tubuhnya.


"Kyaaaaa!!"


Bugh.


Rein memukulnya dengan cukup keras yang membuat monster tersebut terlempar jauh.


"Vira! Bawa Kak Kinara ke tempat yang aman, biar kami yang akan berma- ekhem maksudku menghalangi monster-monster ini."


Vira menatap Rein dengan takjub, lalu mengangguk pada perkataan Rein. Dia segera menggendong tubuh Kinara dan membawanya pergi meninggalkan Rein dan yang lainnya.


"Vira, kita tidak boleh meninggalkan mereka sendirian! Bagaimana bila mereka berdua terluka?"


"Tenanglah, atau para monster itu akan berbalik dan mengejar kita."


Kinara menutup mulutnya melihat sekelompok monster yang menghiraukan keberadaan mereka, dan malah melompat maju menuju tempat Rein dan Yuda berada.


Rein memandang puluhan monster Bufo Asper yang mengepung tempatnya berada.


"Joy, kau bersama dengan Moku. Angin dan api saling menguntungkan."


Joy tersenyum cerah, dia menatap Moku yang mulai mengibaskan ekornya.


"Moya, bantu Yuda. Aku akan bersama dengan Croft."


~ "Moya mengerti."


Yuda mengangguk. Dia mengeluarkan sabit kembar kesayangannya.


"Monster ini memiliki kemampuan regenerasi, dan ... Ayo bermain."


Rein menendang tanah yang membuat tubuhnya melayang di udara. Moku mengubah ukuran tubuhnya menjadi besar, lalu berlari ke arah yang berlawanan.


Yuda menginjak bola air yang melayang, setelah itu dia melempar salah satu sabit kembar dan melompat ke arah yang berbeda.


Kali ini Rein tidak mengeluarkan belati emas miliknya, dia mencoba kekuatan air yang telah di peroleh olehnya saat melakukan kontrak dengan Moya.


Splash splash splash.


Sampai suara Croft terdengar oleh telinganya.


[ Master, sepertinya setiap kali monster itu melakukan regenerasi ukuran tubuhnya menjadi lebih kecil di banding sebelumnya. ]


Sudut mulut Rein berkedut. Dia merentangkan tangannya, tak lama setelah itu terbentuklah cambuk panjang yang terbuat dari kekuatan air.


"Hohoho."


Seringai kecil terlihat di wajah Rein. Dia mengeratkan genggaman tangan pada cambuk, lalu melayangkan tebasan panjang ke arah monster yang ada di depannya.


Splash. Kwuukk.


Splash. Kwuukk.


Splash. Kwuukk.


Setiap kali Rein melayangkan tebasan cambuk panjang pada monster Bufo Asper, tubuh monster itu terbelah menjadi dua bagian lalu menyatu kembali dengan ukuran tubuh yang lebih kecil di banding sebelumnya.


Splash.


Dan hal itu terus terjadi berulang kali.


Crash.


Darah hijau menyembur mengenai kaki Yuda, tangannya menangkap sabit melingkar yang datang padanya.


~ "Manusia, sepertinya tubuh monster itu menyusut setiap kali menyatukan kembali anggota tubuhnya yang terpotong."


Moya membagikan pemikirannya. Karena tinggi monster yang baru saja menyatukan tubuhnya berbeda dengan tinggi monster lainnya.


Sudut mulut Yuda berkedut. Memegang pegangan sabit dengan erat, kemudian mengambil langkah maju dengan cepat. Setelah itu, Yuda melempar sabit kembar pada monster Bufo Asper.


Memotong memotong memotong.


Crash.


Darah hijau kembali menyembur mengenai tangan dan kaki Yuda, namun dia tidak memperdulikan hal itu dan melanjutkan aksinya.


Setelah sekian lama, akhirnya Yuda bisa merasakan perasaan segar saat membunuh monster tersebut. Dan dia akan menikmatinya dengan sepenuh hati.


Boom.


~ "Moku! Kau tidak boleh membakar makhluk jelek itu menjadi abu."


~ "Joy juga 'kan mau main."


Joy memasang wajah cemberut. Setiap kali dia ingin menyerang monster itu, bola api Moku akan mengenainya dan mengubahnya menjadi abu.


Myuu Myuu.


Moku mengangguk mengerti. Dia menurunkan kekuatan api yang hanya akan melukai monster tersebut tanpa membakarnya menjadi abu.


Moku mengetuk tanah hingga muncul bola api yang terlihat lebih cerah di banding sebelumnya, karena dia telah mengurangi kekuatan api miliknya.


Kemudian, Moku melemparkan bola api tersebut ke arah monster.


Kwuukk.


Monster Bufo Asper merintih kesakitan, lalu kembali bersikap biasa setelah tubuhnya melakukan regenerasi. Dia pun melompat untuk menyerang rubah merah.


Joy tersenyum cerah.


~ "Benar, itu benar."


Joy melambaikan tangannya, membuat monster yang melompat terpental jauh hingga menabrak dinding tanah.


Bruk.


~ "Lihat, ini baru yang namanya bermain."


~ "Tidak perlu membunuh mereka, kita hanya perlu melukai tubuh mereka hingga mati. Hihihi."


Joy tertawa cekikikan, lalu menggunakan kekuatan angin miliknya untuk menyerang monster tersebut.


Myuu Myuu.


Moku setuju dengan perkataan Joy. Dan dia pun melakukan hal yang sama.


Kinara tercengang memandangi pertempuran yang terjadi di hadapannya. Awalnya dia khawatir bahwa Rein akan terluka, namun yang terjadi sebaliknya.


Apalagi pertempuran yang di lakukan oleh Yuda, membuat perutnya terasa mual hingga Kinara mengalihkan pandangan darinya.


Vira memiliki tatapan mata berbinar-binar. Pertarungan yang di lihatnya sangat menakjubkan. Sejak orang tuanya meninggal, dia ingin sekali menjadi bagian dalam sebuah pertempuran.


Sayangnya sang bibi tidak mengizinkan, karena dia masihlah anak-anak.


Seandainya-


Vira memasang sikap waspada, telinganya mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Dia mengeluarkan batu cahaya lalu menekannya.


Tap.


Sring.