Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Benua Tengah


Setelah semua persiapan, kini Alice, Saka dan Sofia sudah siap untuk berangkat. Tinggal berpamitan saja kepada keluarga kerajaan. Untuk Pasukan Garuda dan yang lainnya sudah ia masukkan ke dunia cincin sejak tadi.


"Sudah siap?" tanya Saka yang diangguki oleh dua istrinya.


"Baiklah, kita bisa berpamitan sekarang!"


Ketiganya kemudian menuju istana untuk menemui Raja Dharma Ratu Rainsya, Putra Mahkota Alvaro dan Leluhur Thomas .


Setelah kedatangan Saka dan kedua istrinya diumumkan oleh kasim istana, pintu setinggi dua meter terbuka dan menampilkan ruang tahta.


"Salam hormat, Ayahanda, Ibunda, Putra Mahkota, semoga panjang umur dan sejahtera!" salam Saka dan kedua istrinya.


"Salammu kuterima, menantu!" balas Raja Dharma. "Apakah kedatangan kalian kali ini untuk berpamitan pada kami?" tebaknya yang tepat sasaran.


"Benar, Ayahanda! Sudah waktunya kami pergi. Keadaan di Benua Tengah saat mengkhawatirkan. Jika kita terlalu lama menunda perjalanan dikhawatirkan tidak ada lagi manusia baik yang bisa bertahan di sana," ucap Saka.


"Baiklah, tapi kalian harus tetap berhati-hati. Utamakan keselamatan dan tolong jaga putriku!" pesan Raja Dharma.


"Dengan nyawa saya, Ayahanda!"


"Putriku, kamu sudah menjadi seorang istri, patuhlah pada suamimu dan jadilah istri yang selalu mendukung suaminya." Kali ini petuah dari Ratu Rainsya kepada Sofia dan Alice.


"Baik, Ibunda!" balas Alice dan Sofia serempak.


"Adik ipar, kuharap kau dapat kembali suatu saat nanti. Aku sangat ingin mengikutimu, tapi posisiku sebagai Putra Mahkota tidak memberiku kebebasan untuk bepergian." Putra Mahkota Alvaro berkata dengan cemberut. Ia iri dengan Saka yang bisa bepertualang dengan bebas.


Saka terkekeh kecil. "Tenang saja, Kakak ipar! Jika keadaan Benua Tengah telah stabil, aku akan menjemputmu untuk jalan-jalan sebentar. Bukan begitu, Ayahanda?"


Raja Dharma menggelengkan kepalanya pelan. Saka dan Alvaro memang menjadi sangat dekat sejak pertemuan mereka usai lamaran tidak langsung dari Saka. "Baiklah, Putra Mahkota bisa pergi sekedar jalan-jalan asalkan tidak terlalu lama."


Senyum Putra Mahkota Alvaro melebar dan ia mengacungkan jempolnya ke arah Saka.


"Kau ingin berangkat sekarang, cucu menantu?" Thomas datang tiba-tiba, membuat semua orang terkejut kecuali Saka yang memang sudah merasakan kehadiran Thomas.


"Benar, Kek! Benua Tengah harus segera diselamatkan!" ucap Saka.


"Baiklah, berhati-hatilah!" Thomas tidak terlalu banyak bicara karena ia yakin jika kekuatan Saka mampu menakhlukkan Benua Tengah.


"Ayahanda, Ibunda, Kakak Ipar, di cincin ini ada sejumlah artefak untuk perlindungan kalian, juga beberapa sumber daya yang bisa meningkatkan kekuatan kalian." Saka menyerahkan satu cincin penyimpanan kepada Raja Dharma.


Raja Dharma yang penasaran dengan isi cincin pun mengalirkan energi untuk mengintip isinya. Mulut Raja  Dharma terbuka lebar melihat tumpukan artefak tingkat dewa, eliksir langka, batu roh tingkat menengah dan tinggi serta pil berbagai tingkatan dengan kualitas sempurna.


"I-ini ...."


Saka tersenyum melihat ekspresi terkejut dari ayah mertuanya itu.


"Kami mohon pamit!"


"Baik, pergilah!" balas Raja Dharma yang masih berusaha menenangkan diri.


Saka kemudian menyelimuti Alice dan Sofia menggunakan energi miliknya dan ketiganya pun menghilang dari ruang tahta.


*


Di tempat terjadinya pertempuran melawan Benua Tengah, Saka dan kedua istrinya muncul dari ruang kosong.


"Nah, dari sini kalian berdua tinggal di dunia cincin ya, aku tidak mau mengambil resiko membahayakan kalian," ucap Saka lembut mencoba memberi pengertian.


Sofia dan Alice mengangguk mengerti meski ekspresinya sedikit layu.


"Sayang, di antara kita aku yang sangat lemah, apakah tidak ada cara untuk membuatku menjadi kuat seperti kalian berdua?" Sofia memandang Saka dan Alice dengan penuh iri. Saka memang sengaja belum menceritakan tentang fisik khusus milik Sofia karena ia belum menemukan air pelangi tujuh warna. Saka tak ingin memberikan harapan palsu kepada Sofia. Apalagi sistem yang katanya serba ada pun tidak menyediakan item yang terlalu langkah seperti air pelangi tujuh warna.


"Janji?"


"Janji!" Saka menautkan kelingkingnya dengan kelingking milik Sofia sebagai ikrar janji.


"Sekarang masuklah! Untuk sumber daya kultivasi, silakan bicara dengan Ibu Sinta!" ucap Saka sembari membuka gerbang dunia cincin.


"Sasa, saat kondisi sudah kondusif, izinkan aku dan saudari Sofia untuk jalan-jalan di Benua Tengah," pinta Alice yang sejak tadi diam.


"Tentu, aku pasti akan mengajak kalian jalan-jalan."


Senyum kemudian merekah di bibir keduanya. Tak ada lagi ekspresi lesu seperti sebelumnya. Alice dan Sofia kini memasuki gerbang dengan senyum lebar yang tak pudar.


Setelah keduanya masuk, Saka mengeluarkan Orion sebagai teman perjalanan.


"Tuan Muda, apakah kita akan berangkat ke Benua Tengah sekarang?" tanya Orion saat menyadari keduanya berada di lokasi bekas perang yang berada di perbatasan.


"Benar, kita harus mempercepat langkah karena keadaan di Benua Tengah sangat genting," balas Saka.


Tanpa bertanya lagi, keduanya kemudian melesat dengan kecepatan penuh menyebrangi lautan yang menjadi pemisah antar benua. Lautan ini terkenal dengan monster dan badai angin yang sangat ganas. Jika tak memakai artefak kapal terbang, pasti orang yang kultivasinya berada di ranah Immortal ke bawah akan mati. Namun itu tak menjadi masalah bagi Orion yang sudah mencapai ranah Mahayana dan Saka yang tinggal selangkah lagi menembus ranag itu.


Tanpa beristirahat, Saka dan Orion selama dua hari dua malam terus terbang meski sesekali akan menghadapi badai angin, tapi itu tak terlalu menjadi halangan untuk keduanya.


Matahari baru saja muncul di ufuk timur saat Saka dan Orion menjejakkan kaki di daratan tepi Benua Tengah.


"Ada tanda-tanda kehidupan di sekitar sini," gumam Saka setelah mengedarkan persepsinya.


"Tuan Muda, haruskah aku memeriksanya" tawar Orion.


"Kita periksa bersama-sama saja."


Orion dan Saka kembali melesat menuju aura kehidupan yang sebelumnya dirasakan oleh keduanya. Lima ratus kilometer dari tepi pantai, aura kehidupan semakin terasa jelas. Meski dikatakan jelas, aura kehidupan itu hampir tidak terasa bagi kultivator biasa, tapj itu semua tak bisa disembunyikan dari Saka yang memiliki jiwa semesta.


"Berhenti!" Orion dan Saka berhenti di depan sebuah tebing yang mana terdapat jurang yang penuh dengan kabut putih yang tebal. Seolah-olah mereka kini sedang berdiri di atas awan.


Saka kembali mengedarkan persepsinya dan mendeteksi adanya array ilusi yang cukup kuat.


Saka menjentikkan jarinya, array ilusi itu kemudian hancur menampakkan sebuah goa yang sangat besar. Tak lama kemudian, beberapa manusia tampak keluar dari dalam goa dengan sikap waspada.


"Siapa kalian? Kenapa menghancurkan perlindungan kami?" tanya seorang pria paruh baya yang mungkin menjadi pemimpin.


"Aku hanya ingin memeriksa saja karena aku merasakan aura kehidupan setelah mendarat di sini. Apakah kalian penyitas?" tanya Saka to the point.


"Kami memang penyitas, tapi siapa kalian berdua? Apa kalian tidak tahu jika Benua Tengah sedang dalam bahaya?" Pria paruh baya itu balik bertanya.


"Aku Saka, dan ini kakaku Orion, kami dari Benua Timur." Jawaban Saka membuat semua orang yang ada di sana membelalakkan mata.


"Apakah Benua Timur juga sudah dikuasai oleh mereka?"


"Tidak! Kami berhasil mempertahankan Benua Timur dan tak ada lagi ancaman dari vampire."


Kembali, mereka semua membelalakan mata. "Apakah kau ke sini ingin melawan mereka?" Dengan berbagai dugaan, pria paruh baya itu bertanya.


"Yah, bisa dikatakan seperti itu," jawab Saka santai.


"Anak muda, bersemangat boleh, tapi jangan gegabah, vampire itu memiliki beberapa orang di ranah Mahayana." Pria paruh baya itu mencoba memperingati.


"Pak Tua, bahkan jika ada puluhan ranah Mahayana, bukan hal yang perlu diwaspadai oleh Tuan Muda." Orion menyeletuk, membuat semua orang yang ada di sana mematung tak percaya.


Saka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Niat hati mau merendah, apa daya Orion justru meniupnya terbang.