Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Hirawan vs Caraka 2


Karena keberadaannya sudah diketahui, Saka pun menghilangkan formasi ilusi dan melayang turun perlahan bersama Orion. Ada banyak tatapan dengan berbagai ekspresi menyambut datangnya Saka.


"Cucuku! Itu kamu!" Tetua Sana menyambut Saka dengan mata berkaca-kaca.


"Bajingan, katamu dia berada di ranah Bumi, lihat dia terbang, bukankah dia sekarang berada di ranah Langit?" Indra berisik kepada Jaila.


"A-aku tidak tahu, aku hanya mengatakan seperti yang dikatakan Tetua Solu," balas Jaila dengan gemetar. Ia tak menyangka jika sosok anak tirinya akan menjelma menjadi monster yang menakutkan. Mencapai ranah Langit di usia 17 tahun, adalah satu-satunya di alam kultivator.


"Ah, apa kehadiranku mengganggu kalian bersenang-senang?" tanya Saka dengan santai sembari berjalan ke tengah-tengah diikuti oleh Orion.


"Oh, bukankah ini Tuan Muda Saka, sepertinya Tuan Muda ini cukup beruntung sehingga tidak menjadi sampah selamanya," ucap Indra penuh provokasi, tapi Saka yang mendengar itu hanya tersenyum.


"Patriak Indra, sepertinya kamu sangat bangga dengan profesimu sebagai perampok berkelas," balas Saka tak kalah tajam.


Indra tertawa dengan keras. "Nak, jangan terlalu bangga dengan kekuatanmu, kamu masih terlalu muda sehingga tidak tahu luasnya langit dan bumi," ujar Patriak Indra sembari memberi isyarat kepada salah satu tetua yang juga berada di ranah langit awal.


"Nak, kamu memang sangat jenius, tapi kamu harus tahu, di atas langit masih ada langit," ujar tetua itu sambil bersiap memberikan serangan.


Tetua Sana yang melihat itu geram, tetapi saat akan bertindak langkahnya kalah cepat dengan Saka yang tiba-tiba sudah berada di depan tetua keluarga Caraka dan mencekik lehernya.


Krek!


Tanpa banyak kata, Saka langsung mematahkan leher tetua itu yang membuat semua orang menghela napas melihat kekejaman Saka. Bahkan Jenderal Kota pun menghela napas berat.


"Ka-kamu berani membunuh anggota keluarga Caraka? Apa menurutmu Tuan Kota akan melepaskanmu?" ancam Indra dengan mata melotot. Ia masih tak percaya dengan penglihatannya. Bagaimana mungkin tetua yang berada di ranah langit awal bisa kalah dalam satu kali serangan?


"Oh, ya? Kalau begitu ... Jenderal Kota, apakah Tuan Kota akan ikut campur dengan urusan keluarga Caraka dan Hirawan?" tanya Saka sembari melihat ke salah satu arah yang membuat semua orang ikut menoleh. Mereka cukup heran karena tak mendeteksi siapa pun selain kedua belah pihak.


Tak berapa lama, dari balik pohon muncul Jenderal Kota. Sesuai instruksi dari Saka, Orion pun memberikan aura penindasan yang khusus diarahkan ke Jenderal Kota. Ranah Langit tingkat terakhir sama sekali tidak bisa menahan penindasan dari ranah Saint King. Beruntung Orion tak mengeluarkan penindasan penuh sehingga Jenderal Kota masih bisa mempertahankan posisi berdiri meski kakinya gemetar.


"Ranah Saint King? Sebenarnya monster seperti apa yang bersembunyi di keluarga Hirawan? Kenapa aku tidak pernah mengetahuinya?" batin Jenderal Kota dengan pandangan rumit.


"Tidak, pihak Kota tidak akan ikut campur, aku di sini hanya untuk memantau jangan sampai pertikaian kalian merugikan penduduk," jawab Jenderal Kota yang membuat Indra pucat pasi.


"Bagaimana bisa pihak kota berbuat seperti itu? Bukankah Tuan Kota harus melindungi semua warga yang ada di dalamnya? Apa Jenderal tidak melihat jika keluarga Hirawan sudah membunuh salah satu keluarga Caraka?" Alisha yang sejak tadi diam membuka suara. Gadis itu menatap Saka dengan pandangan penuh kebencian. Ia benci dengan semua keberuntungan yang diperoleh Saka.


Mendengar ucapan Alisha, Saka tertawa terbahak-bahak. "Apakah aku tidak salah dengar? Bukankah kalian yang datang dengan rombongan tanpa pemberitahuan berniat untuk mengintimidasi keluarga Hirawan? Bukankah tua bangka itu yang pertama kali berniat menyerangku? Lalu, di mana letak salah keluarga Hirawan? Dasar keluarga tidak tahu malu, cuih!" umpat Saka sembari meludah jijik.


"Kamu ... kamu ...." Wajah Alisha merah padam menahan marah dan malu. Ia sampai tak bisa mengeluarkan suaranya.


"Kenapa? Haruskah aku membuat list perbuatan licik dan tercela kalian?" Saka menatap keluarga Caraka dengan nyalang terutama ke arah Raden, Jaila dan Alisha. "Aku akan bertanya dan jawab dengan sejujur-jujurnya. Jawaban kalian akan menentukan nasib keluarga Caraka ke depannya. Bisa jadi keluarga Caraka hanya tersisa sejarah jika kalian tidak bijak menjawabnya."


"Sombong! Dengan ranah Langit tingkat awal kau pikir bisa menghancurkan keluarga Caraka? Jangan mimpi! Hari masih sangat siang," cibir Indra.


"Haruskah kubuktikan?" tanya Saka lalu dengan gerakan cepat, ia menebas leher semua orang yang berada di ranah Langit kecuali Indra. Bahkan, seorang tetua yang berada di  ranah Langit tingkat menengah pun tak sempat merespon saat malaikat maut menjemput.


"Sangat cepat," desis Jenderal Kota melihat pergerakan Saka.


"Kamu ... kamu terlalu berani!" Indra gemetar. "Dasar pembunuh!" pekiknya.


"Oh ya? Lalu ... bagaimana dengan yang kau lakukan pada ibuku? Aku yakin kematian ibuku ada kaitannya denganmu," ucap Saka sembari menatap Indra tajam.


Keluarga Hirawan yang hanya menjadi penonton pun ikut gugup, terutama Pandu. Ia sangat ingin mendengar kebenaran tentang kematian istrinya.


"Itu fitnah! Jaila sendiri yang merencanakan semuanya, ini tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga Caraka," bantah Indra.


"Hmm, benar seperti itu Jaila?" Saka mengalihkan pandangan ke arah Jaila. Menggunakan teknik mata ilusi miliknya dan menguasai jiwa Jaila. Kini, Jaila seperti terkena hipnotis.


"Aku memang melakukannya, tapi Patriak Indra yang menyuruhku."


"OMONG KOSONG! DASAR ******!" Indra memekik sembari melesat ke arah Jaila dan mencekiknya dengan kuat.


"APA YANG AYAH LAKUKAN PADA IBU?" pekik Raden tanpa sadar. Ya, selama ini ia sudah mengetahui siapa ayah kandungnya yang sebenarnya. Sontak, hal itu membuat semua orang berdecak dan mengumpat. Beberapa kultivator bebas dan penduduk yang sengaja menyaksikan hanya menggelengkan kepala geram. Keluarga Caraka benar-benar sangat licik dan menjijikkan.


Pandu mengepalkan tangan dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya tersengal hingga terasa manis di tenggorokan.


Hueek!


Terlalu marah, Pandu sampai muntah darah.


"Patriak!" Beberapa Tetua mendekat ke arah Pandu dan membantu pria itu untuk berdiri tegak, kini seluruh tubuh Pandu gemetar karena amarah dan penyesalan. Sorot mata Pandu beralih ke arah Saka yang berdiri dengan tenang tanpa ekspresi. Amarahnya lenyap, tersisa penyesalan yang membuat tubuhnya melemas dengan air mata yang mulai bercucuran.


"Nak, maafkan ayah," bisiknya lirih tak berani mendekat ke anak kandung yang pernah ia kucilkan dulu. Jika dulu ia merasa sangat bangga dengan kejeniusan Saka, kini tersisa perih karena ia merasa Saka terbang semakin menjauh darinya.


Tetua Sana pun menatap sang cucu dengan nanar. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Sebagai kakek, ia juga merasa sangat bersalah karena tidak ada di samping Saka saat cucunya mengalami masa yang menyakitkan.


"Baiklah, aku terlalu malas membuang waktu," Saka mengorek telinganya dengan malas melihat semua anggota keluarga Caraka saling menyalahkan.


"Jenderal Kota!"


"Ya, Tuan Muda!" Jenderal Kota mendekat dengan hati-hati sembari melirik ke arah Orion yang terdiam dengan pandangan datar.


"Apakah Tuan Kota akan keberatan jika aku menghapuskan keluarga Caraka dari kota Tanica?"


Jenderal Kota terdiam. Ia tidak menyangka jika jalan itu yang akan diambil oleh Tuan Muda keluarga Hirawan ini. Meski keluarga Caraka sudah sangat merugikan banyak pihak, tetapi langsung memusnahkan satu keluarga bukanlah permasalahan kecil.


"Sepertinya Jenderal Kota tidak bisa membuat keputusan. Baiklah, aku akan menjemput Tuan Kota sendiri." Lalu Saka menghilang begitu Saka dibawah tatapan terkejut dari semua orang.


Hanya dalam beberapa hela napas, Saka muncul kembali di tempat semula bersama dengan Tuan Kota yang tampak memejamkan mata dan berdiri dengan limbung sebelum kemudian berjongkok.


Hueekk!!