Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Upgrade Sistem Selesai


Setelah berjalan agak jauh dari Desa Paju, Saka segera membuka pintu dunia cincin dan mengantarkan Arunika ke dalamnya. Awalnya, gadis cilik itu enggan beranjak saat ia akan dikirim ke tempat lain karena ingin selalu bersama Saka, tapi saat Saka mengatakan jika di sana adalah tempat keluarga Saka berada, wajah antusias kemudian muncul yang membuat Saka terkekeh kecil.


"Apa kau mau ikut, Tigra?" tanya Saka saat mereka akan masuk ke dunia cincin.


"Apakah boleh, Penguasa?" tanya Tigra penuh harap.


"Tentu saja boleh, di dalam juga ada Paman Gentala, mungkin kau akan mengenalnya."


Mata Tigra membelalak. "Jenderal Gentala? Dia masih hidup?"


Saka mengangguk, lalu ketiganya masuk ke dunia cincin.


Kedatangan mereka disambut oleh semua penghuni dunia cincin, kecuali Raden dan Alisha yang kini hanya berani melihat dari kediamannya.


"Yang Mulia Tigra!" Gentala tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya saat melihat seseorang yang familiar berdiri di belakang Saka.


Meskipun sudah diberitahu oleh Saka, Tigra sendiri cukup terkejut. Hampir sejuta tahun mereka tak bertemu karena saat peperangan antara ras phoenix dan ras naga, ras lainnya tidak ada yang ikut campur.


"Gentala? Kau benar-benar masih hidup? Tapi bagaimana bisa?"


Mendengar pertanyaan Tigra, Gentala hanya mampu menghela napas lesu. "Yang Mulia mengirimku ke sini dengan teknik terlarang, setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi." Suara Gentala tampak penuh kesedihan. "Lalu, kenapa Yang Mulia bisa ada di alam rendah ini?"


Kini berganti Tigra yang menghela napas lesu. "Tepat setelah terjadinya perang besar antara ras phoenix dan naga, ras iblis dari Neraka Kuno menyerang Alam Primordial dengan pasukan yang sangat besar."


Kedua makhluk berbeda ras yang pernah hidup dalam satu alam itu pun berbincang ria membahas semua hal yang terjadi di Alam Primordial, sehingga Saka memilih untuk pergi.


Tak jauh dari tempat Tigra dan Gentala, Sinta dan yang lainnya juga tengah menunggu. Saka menggandeng tangan Arunika dan berjalan menghampiri Sinta disertai dengan senyuman kecil.


"Ibu, kau sangat hebat karena sudah menembus ranah Raja tingkat akhir," ucap Saka saat mendapati kultivasi Sinta meningkat drastis. Ia yang awalnya hanya berada di ranah Jenderal akhir sudah meningkat ke ranah Raja akhir. Tak membutuhkan waktu lama pasti sudah bisa menembus ranah Bumi.


"Semua ini karena sumber daya yang anak ibu ini berikan," balas Sinta dengan senyuman kecil.


Saka kemudian menoleh ke arah Alice yang cemberut.


"Kenapa itu mulutnya monyong-monyong?" goda Saka yang semakin membuat Alice kesal.


"Aku juga sudah meningkat pesat, kenapa hanya ibu yang dipuji?" sungut Alice lalu memalingkan muka.


Saka terkekeh pelan. "Baiklah, Alice yang cantik juga hebat karena sudah menembus ranah Raja menengah."


Blush!


Semburat merah hadir di pipi Alice mendengar pujian dari Saka.


Semua orang lantas terkekeh melihat Alice yang tersipu.


"Saka, siapa gadis cilik yang cantik ini?" tanya Sinta sambil menatap lembut ke arah Arunika yang sejak tadi terdiam sembari memegang tangan Saka dengan erat.


"Ah, ini adik angkatku, anak ibu juga, namanya Arunika," ucap Saka memperkenalkan. "Nah, Aru! Ini adalah ibu Kak Saka, ke depannya akan menjadi ibumu juga, yang berbaju biru namanya Kak Alice, yang berbaju hitam Kak Venus, yang berbaju putih Kak Vega, yang berbaju ungu Kak Rion, dua orang di sana, adalah Paman Gentala dam Paman Tigra," lanjutnya.


Arunika tersenyum manis, lalu sedikit membungkukkan badan, lalu melambaikan tangan. "Halo semuanya, namaku Arunika, aku adik Kak Saka yang baru," ucapnya dengan nada riang yang lucu. Mata bulatnya berbinar membuat semua orang gemas.


"Astaga, anak ini," gumam Saka sembari tersenyum kecil, merasa lucu melihat tingkah Arunika yang riang, berani tetapi sangat manja padanya.


Saka kemudian berdiri dan beralih memandang empat orang yang ada di hadapannya. Senyum tipis pun ia layangkan melihat peningkatan kekuatan mereka.


"Selamat, untuk peningkatan kekuatan kalian," ucap Saka yang disambut dengan senyuman oleh semua orang kecuali Alice.


"Kenapa lagi kamu, hm?"


Alice tidak menjawab, tetapi matanya berkaca-kaca.


"Baiklah, setelah ini kita bicara berdua."


Raut wajah Alice kembali ceria, dengan cepat ia mengecup pipi Saka dan berlari ke dalam istana. Vega yang melihat itu hanya mampu menunduk dengan pipi memerah, sementara Venus dan Orion hanya menghela napas pasrah melihat keromantisan di depan mata saat jomblo melanda.


"Kak Rion, aku akan langsung ke kota Ngiwa untuk menghapus Sekte Bukit Tengkorak dari Alam Kultivator. Saat ini, para vampire sedang menyempurnakan portal yang akan digunakan untuk membawa pasukan yang berada di ranah Immortal. Berita baiknya, portal itu belum sempurna, tapi berita buruknya, portal itu tidak hanya satu, ada tiga portal yang mereka gunakan dan semuanya menyebar di beberapa kota. Aku takut terlambat untuk mencegah semuanya." Tampak sorot khawatir di mata Saka. Pasalnya membutuhkan waktu berbulan-bulan hanya untuk menuju ke kota Mojo di mana Sekte Lembah Hitam yang menjadi portal utama berada. Sialnya, ia tak mendapati gambaran tentang Sekte Lembah Hitam dari ingatan yang pernah diserapnya sehingga ia tak bisa merobek ruang menuju ke sana.


"Aku siap membantu, Tuan Muda!" sahut Orion.


"Tuan Muda, aku juga ingin membantu," ucap Vega yang sejak tadi terdiam.


Saka tampak menimbang sejenak. Saat ini kultivasi Vega dan Venus berada di ranah Jenderal menengah, terhitung sebagai jenius di Alam Kultivator ini. Namun Saka tak ingin gegabah dan membahayakan nyawa remaja kembar ini.


"Aku akan melihat dulu kekuatan mereka, jika memungkinkan aku akan mengijinkan kalian untuk turun langsung ke medan perang."


"Baik, Tuan Muda!"


Usai memberikan pengarahan kepada Vega dan Venus tentang kultivasi, Saka melesat menuju ke puncak gunung tertinggi. Duduk di atas pohon, menutup mata dan merenung. Kira-kira langkah seperti apa yang akan ia ambil untuk ke depannya. Karena Saka ingin secepatnya naik ke Alam Langit dan meningkatkan kekuatan.


Terlalu larut dalam lamunan, Saka bahkan tak menyadari jika malam telah tiba. Suasana di dunia cincin tampak begitu damai. Saka juga masih enggan untuk turun dan merasa nyaman rebahan di dahan pohon yang sangat besar.


[Ding! Upgrade sistem selesai, sebagai hadiah upgrade, Tuan Mendapatkan kotak hadiah berlian]


Saka langsung membuka mata. Binar bahagia tak bisa ia sembunyikan.


"Sistem, kau sudah bisa beroperasi normal lagi?"


[Ding! Bisa, Tuan! Upgrade sistem telah selesai, sekarang sistem sudah versi 2.0]


"Baiklah sistem, karena kau sudah kembali maka tampilkan statusku."


[Ding! Menampilkan status]


***


maaf sebenernya draft udah selesai dari tadi, tapi aku kelupaan update hehe


numpang promosi bagi kalian yang suka Romance juga silakan mampir, masih berantakan sih tulisannya tapi aku mager revisi jadi ya .... gitu hehe