Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Hari Pernikahan


Hari pernikahan.


Suasana tampak semarak dengan datangnya tamu undangan dari berbagai kalangan. Keluarga besar dan sekte-sekte aliran putih. Bersamaan dengan itu, penjagaan juga diperketat. Pasukan Garuda bersama dengan Tigra, Gentala dan Orion turun langsung memastikan keamanan bagi pernikahan Saka dan kedua calon istrinya.


Aula istana yang sangat luas kini sudah dihiasi dengan berbagai ornamen khas untuk pernikahan. Ribuan kursi untuk tamu undangan, dan di panggung terdapat kursi untuk pengantin dan keluarga.


Saka saat ini ada di ruangan khusus sebelum ia keluar untuk mengikrarkan janji suci. Ia tengah dilema haruskah mengabarkan pernikahan ini kepada keluarganya? Terutama sang kakek.


"Aku harus menjemput kakek," ucapnya kemudian setelah merenung beberapa saat. Saka kemudian merobek ruang yang langsung menuju kediaman sang kakek. Saat ini, Tetua Sana tengah membaca buku di perpustakaan, ia cukup terkejut mendapati Saka di hadapannya, lengkap dengan pakaian pengantin.


"Cu-cucuku, apakah kamu akan menikah?" Suara Sana bergetar.


Saka tersenyum lembut. "Benar, Kek! Saka akan menikah hari ini  dan Saka datang untuk menjemput kakek."


Tetua Sana tersenyum haru, ia memeluk Saka erat. "Cucu kakek sudah besar ternyata," ucapnya lalu terkekeh. Ia tak menyangka waktu berlalu dengan sangat cepat. Namun, ia juga bahagia karena Saka tak melupakannya.


"Baiklah, Kek! Sekarang kakek ganti baju dan kita segera kembali. Tidak lucu jika acara pernikahan  dimulai tapi pengantin prianya masih di sini," ujar Saka dengan kekehan kecil.


Dengan penuh semangat, Tetua Sana kembali ke kamar dan berganti baju terbaik dan termewah yang ia miliki. Ia tak ingin mempermalukan sang cucu dengan memakai pakaian biasa.


"Kakek sudah siap!" ucap Tetua Sana dengan gagahnya. Saat ini kekuatan Tetua Sana sudah menembus ranah Immortal sehingga posturnya kembali muda, meski umur sebenarnya sudah lebih dari seratus tahun, tapi Tetua Sana sekarang hanya terlihat seperti laki-laki paruh baya usia 45 tahun.


Saka kemudian merobek ruang. "Ayo, Kek!"


Tetua Sana tampak ragu-ragu sejenak. "Tapi, Nak! Ayahmu–"


"Maaf, Kek! Aku hanya ingin kakek yang mendampingi pernikahanku," potong Saka.


Tetua Sana menghela napas panjang. Ia merasa kasihan dengan putranya, yang sejak kepergian Saka, Pandu tampak tak lagi memiliki jiwa. Namun ia juga tak bisa memaksa cucunya. Karena luka hati memang tak bisa sembuh begitu saja. Tak cukup dengan pil layaknya luka fisik.


"Baiklah, ayo kita berangkat!" Keduanya masuk ke robekan ruang dan menghilang dalam diam.


Saka dan Tetua Sana muncul lagi di ruangan tempat Saka sebelumnya mempersiapkan diri. Tepat pada saat itu, pintu diketuk.


"Siapa?"


"Tuan Muda, Tuan Muda sudah ditunggu karena acara akan segera dimulai," ucap pelayan yang sebelumnya mengetuk pintu Saka.


"Baiklah, aku akan segera keluar!"


"Ayo, Kek! Kita keluar!"


Tetua Sana masih linglung mendapati mereka muncul di sebuah ruangan mewah. Ia juga belum menerima penjelasan dari Saka tentang siapa sang mempelai wanita. Saka menyadari kebingungan sang kakek hanya tersenyum simpul. Ia sengaja diam untuk memberikan kejutan.


Sementara Tetua Sana, dibimbing oleh pelayan untuk menduduki kursi orang tua di pihak Saka. Betapa kagetnya Tetua Sana saat mendapati Raja dan Ratunya duduk di kursi besan.


"Mohon ampun, Yang Mulia! Hamba tidak bisa menyiapkan hadiah apa pun karena cucu hamba tidak mengatakan apa-apa dan menjemput saya secara mendadak," ucap Tetua Sana sembari berlutut memberi hormat.


"Bangunlah, Tetua! Salammu kuterima. Jangan terlalu formal karena kita sebentar lagi akan menjadi besan. Untuk masalah hadiah, cucumu bahkan sudah memberikan hadiah terbesar untuk Kerajaan Victoria. Cucumu adalah pahlawan utama bagi kerajaan ini, karena berkatnya, kerajaan Victoria bisa menang melawan invasi aliansi Benua Tengah," ucap Raja Dharma dengan senyum bangga.


Kota Tanica adalah kota kecil di ujung benua sehingga berita tentang perang dan aksi heroik Saka belum terdengar sampai sana. Maka dari itu, Tetua Sana kaget luar biasa mendengar langsung kabar itu dari sang raja.


"Yang Mulia, mohon maafkan hamba yang baru saja mendengar berita ini. Sungguh, hamba sangat terkejut mendengarnya," ujar Tetua Sana yang membuat Raja Dharma dan Ratu Rainsya terkekeh.


"Cucumu adalah keajaiban bagi kerajaan ini, Tetua!" sambung Ratu Rainsya.


Rasa bangga tak terperi dalam diri Tetua Sana. Hingga acara dimulai, ketiga mempelai berjalan ke panggung utama, netra Tetua Sana tak pernah lepas dari cucunya. Ia juga memuji selera sang cucu yang ternyata tidak kaleng-kaleng. Keduanya sangat cantik, bahkan salah satunya memiliki identitas yang bahkan tak pernah dibayangkan oleh Tetua Sana jika ia akan berbesanan dengan keluarga kerajaan.


Acara demi acara berjalan dengan lancar, diiringi dengan komentar kekaguman atau pun ketidaksukaan, lantaran kecantikan nomor satu Kerajaan Victoria kini sudah ada yang punya. Banyak pula yang iri karena Saka bisa menyanding dua bidadari.


Namun berkat keamaan extra dari Pasukan Garuda, tak ada yang berani berbuat onar. Hingga acara selesai dan semua tamu undangan pulang ke tempat masing-masing setelah berpesta tujuh hari tujuh malam.


Tetua Sana dengan enggan kembali ke Kota Tanica. Saka hanya membukakan ruang dan tak bisa mengantar karena ia dan kedua istrinya sedang bersiap memulai perjalanan.


"Pulanglah sekali-kali temui kakek," pesan Tetua Sana sebelum menghilang dibalik robekan ruang.


Sampai di kediaman Hirawan, Tetua Sana sudah disambut oleh Pandu dan para tetua.


"Ada apa ini?" tanya Tetua Sana heran.


"Harusnya kita yang bertanya pada ayah, ayah dari mana saja selama satu minggu tidak ada di kediaman? Kenapa pula ayah terlihat sangat rapi?" cecar Pandu.


Tetua Sana terdiam sesaat memandang Pandu dengan sendu.


"Putramu menikah."


Hanya dua kata sebagai jawaban dan Tetua Sana langsung pergi ke dalam rumah. Meninggalkan Pandu mematung dengan dada yang terasa sakit, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya sehingga aliran darahnya menjadi kacau. Bernapas pun terasa sangat sulit.


"Nak, maafkan ayah!" Hanya itu yang bisa diucapkan Pandu dalam hati sebelum melesat pergi ke tempat yang akhir-akhir ini menjadi tujuannya menenangkan diri.


Makam ibu Saka.


"Zea, Saka benar-benar benci padaku," adunya sembari bersimpuh dengan air mata bercucuran. "Bahkan ia tak mengundangku saat menikah!" lanjutnya sembari menangis terisak-isak. Tak ada lagi sosok patriak tegas dalam diri Pandu, yang tersisa hanya sosok ayah dan suami rapuh yang dipenuhi penyesalan.


"Aku harus apa biar Saka memaafkanku, Zea?"