
Keesokan harinya, keadaan Desa Pringku lumayan stabil. Karena sudah ada prajurit kota, maka Saka meminta para prajurit kota untuk mengantarkan sepuluh remaja yang ternyata berasal dari Desa Raband.
"Mohon bantuannya Komandan, karena ada hal yang harus aku selesaikan. Siang hari seperti ini, tidak akan ada vampire yang terlihat," ucap Saka sembari berpamitan kepada para penduduk desa yang enggan melepaskan Saka.
"Tuan Muda, sekali lagi terima kasih telah menolong kami." Kepala Desa membungkuk entah berapa kali, mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada Saka dan Orion.
"Tidak masalah, Tuan Muda! Kemarin kita sudah melapor ke Tuan Kota, setidaknya sekarang Kota Tanica sedang dalam kondisi siaga dan pembersihan skala besar," ucap sang Komandan.
Saka pun membenarkan dalam hati. Sesuai dengan yang diucapkan Komandan, kota Tanica dalam kondisi siaga tinggi. Meski sebisa mungkin menekan berita agar tidak menghebohkan rakyat biasa, nyatanya berita itu tetap tersebar hingga membuat semua penduduk tak memiliki keberanian untuk keluar rumah. Kota Tanica yang biasanya ramai, kini layaknya kota mati. Namun hal ini lebih memudahkan bagi para petinggi kota untuk menyusuri tempat-tempat yang diduga markas para bandit dan klan darah. Tetua Rama bahkan secara pribadi kembali ke Kota Baya untuk melaporkan hal ini ke pihak istana. Temuan tentang munculnya vampire membuatnya sangat terkejut.
Kembali ke Saka yang kini sedang bersiap-siap pergi, tampak dua orang remaja yang tengah gelisah. Sesekali menunduk, lalu menatap Saka, membuka mulut tapi tak ada kata yang terucap.
Saka yang menyadari itu semua memusatkan perhatiannya kepada dua remaja tersebut.
"Bicaralah, sepertinya ada yang ingin kalian katakan kepadaku," ucap Saka yang membuat kedua remaja itu tersentak.
Setelah saling menyikut, sang remaja laki-laki memberanikan diri berbicara. "Tuan Muda, bolehkah kami ikut denganmu?"
Suasana tampak hening, semua orang kaget dengan yang diucapkan oleh dua remaja itu.
Saka tersenyum tipis, menyembunyikan kegembiraannya karena mendapatkan dua orang yang sangat potensial menjadi pengikutnya.
"Kenapa kalian ingin mengikutiku? Tidakkah kalian ingin pulang dan bertemu keluarga?"
"Tuan Muda, kami sudah tidak memiliki keluarga lagi." Saka sedikit terkejut, tapi mampu menyembunyikan ekspresinya dengan baik.
"Kalau itu yang kalian inginkan, maka kemarilah!"
Dua remaja itu dengan cepat menghampiri Saka dan berdiri di belakangnya.
"Siapa nama kalian?" Meski sudah mengetahui dari panel sistem, tapi Saka lebih memilih untuk bertanya secara manual.
"Nama saya Venus, dan ini adik kembar saya, Vega!" ucap remaja laki-laki itu.
"Baiklah, Komandan! Mereka berdua akan ikut denganku, dan sisanya aku serahkan kepada kalian untuk mengantar mereka ke rumah masing-masing."
"Tentu, Tuan Muda! Tapi sebelum itu, bisakah saya tahu siapa nama Tuan Muda ini?" Karena terlalu larut dengan masalah munculnya vampire, semua orang bahkan lupa menanyakan nama Saka.
"Panggil saja aku, Saka!" ucap Saka dengan senyum tipisnya. "Baiklah, Paman! Komandan! Kami pergi dulu!" pamit Saka sekali lagi, lalu melirik ke arah Vega dan Venus. "Kalian berdua mendekatlah, lalu tutup mata!"
Vega dan Venus menurut tanpa bantahan, meski tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Saka. Sementara itu, Orion yang sepertinya sudah paham apa yang akan dilakukan Saka, ikut memejamkan mata. Hanya dalam dua hela napas, Saka dan ketiga orangnya lenyap tanpa jejak aura. Meninggalkan semua prajurit yang menganga dan penduduk desa yang mulai terbiasa.
*
[Ding! Selamat Tuan, telah berhasil membantu Desa Pringku dan menghancurkan markas Klan Darah, mendapatkan kotak hadiah berlian]
Saka baru saja mendarat di lembah merah saat suara sistem terdengar. Kotak hadiah berlian, hal itu mampu membuat senyum Saka kian melebar. Pasalnya, kotak hadiah berlian terakhir kali sangat bermanfaat untuknya.
Melihat tiga orang yang sedang menutup mata sembari berpengangan tangan, Saka tersenyum kecil dan melanjutkan teleportasi langsung masuk ke dalam goa.
"Buka mata kalian!"
"Ah!"
Alice muncul di ruangan secara tiba-tiba yang mengejutkan semua orang. Tampilannya sangat kacau, meski tidak bisa menutupi kecantikan alaminya.
"Kak Saka!" Alice sangat gembira mendapati orang yang ditunggunya sudah pulang. Sejak Saka pergi, Alice terus bertekat kepada dirinya sendiri untuk menjadi kuat. Ia akan menagih janji Saka saat ia sudah berada di ranah Bumi.
"Hmm, lumayan! Hanya dalam satu hari kamu sudah menembus ranah Jenderal," sambut Saka dengan senyum tipis. Alice yang menerima pujian itu pun tersenyum lebar, ketakutan dan trauma saat mati di cermin dimensi kini menghilang. Tersisa rasa bangga dan tekat untuk menjadi kuat agar bisa terus bersama Saka.
"Mereka siapa, Kak?" tanya Alice begitu menyadari keberadaan orang asing di antara mereka.
"Kenalkan! Mereka Vega dan Venus. Aku sempat menyelamatkan mereka dari bahaya dan mereka memilih untuk ikut denganku," jelas Saka.
Alice menganggukkan kepala lalu tersenyum. "Selamat datang di kediaman kecil kita."
Vega dan Venus yang awalnya masih tampak canggung mulai bis beradaptasi berkat Alice yang ramah. Setelah istirahat sejenak, Saka kemudian menatap Vega dan Venus.
"Saat ini kekuatan kalian hanya berada di ranah Prajurit akhir. Kalian memutuskan untuk ikut denganku, artinya kalian sanggup mengikuti pelatihanku bukan?" Saka mengamati reaksi Vega dan Venus. Kedua saudara kembar itu tampak menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Kami siap, Tuan Muda!"
"Baiklah, jika begitu ambil ini!" Saka memberikan pil penambah energi dan penguat pondasi. "Masuk ke dalam array gravitasi di sana. Jika sudah mampu beradaptasi, telan pil ini lalu berkultivasilah! Jika sudah berada di ranah Jenderal, masuk ke cermin dimensi di sana untuk melatih kekuatan tempur kalian. Tenang saja, jika kalian terbunuh di dalam, kalian akan dibawa keluar tanpa terluka."
Vega dan Venus tampak berbinar mendengar pengaturan Saka. "Baik, Tuan Muda! Kami akan melakukan semuanya dengan baik dan tidak akan mengecewakan Tuan Muda." Venus dan Vega tampak begitu bersemangat dan langsung masuk ke array gravitasi meskipun langsung mencium lantai setelahnya.
"Tuan Muda, bolehkah aku ikut masuk ke cermin dimensi?" Orion mengajukan diri.
"Tentu saja boleh, Kak!"
Setelah Orion masuk ke dalam cermin dimensi, tersisa Alice dan Saka.
"Oh ya, di mana ibu?" tanya Saka begitu tak mendapati sosok Sinta.
"Ibu ada di dalam cermin dimensi. Beliau sangat hebat, aku sudah mati berkali-kali dan beliau masih bertahan," sungut Alice begitu mengingat pengalamannya saat masuk ke cermin dimensi. Bahkan, pernah satu kali ia baru saja masuk tapi langsung keluar lantaran muncul di sarang serigala.
Saka terkekeh, lalu mengusak rambut Alice pelan. "Semua butuh proses, kamu pasti akan lebih kuat suatu saat nanti." Saka mencoba menghibur Alice agar tak patah semangat.
"Aku tahu, Kak Saka pasti akan membuatku menjadi wanita yang hebat." Senyum merekah di bibir Alice, lalu menatap Sak dengan penuh cinta. Tak bisa dipungkiri, rasa kagum bisa berubah menjadi sayang, lalu berubah lagi menjadi cinta.
"Muaah! Aku masuk dulu!" Setelah mengecup pipi Saka, Alice langsung melesat masuk ke cermin dimensi.
Saka tersenyum masam, ini adalah pertama kalinya ia dicium perempuan. Huh, sungguh mengenaskan.
"Oh iya, bukankah aku punya kotak hadiah berlian dari sistem?" Saka hampir saja lupa dengan hadiah itu.
"Sistem, buka kotak hadiah berlian."
[Ding! Membuka kotak hadiah berlian]