Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Pamit


"Kau benar-benar akan pergi?" Sofia bertanya dengan enggan. Ada keinginan untuk melarang tetapi ia tak menemukan alasan, sehingga hanya bisa memendamnya.


Saka mengangguk kecil. Usai menjual beberapa eliksir dan senjata dengan bahan perak murni sebagai antisipasi melawan vampire, Saka pun mengutarakan keinginannya untuk pergi sekalian berpamitan. Bagaimana pun, token dari Sofia sangat membantunya untuk mendapat identitas lain kecuali keluarga Hirawan.


"Kenapa harus pergi?" Suara Sofia tercekat, wajahnya memerah karena pertanyaan yang tidak terduga justru keluar dengan sendirinya.


Saka tersenyum jahil, dengan alis terangkat sebelah dan tatapan menggoda, Saka berkata, "Kenapa? Apa kau ingin ikut?"


Wajah Sofia semakin memerah. Matanya melotot dengan tangan terkepal kuat. "Buat apa aku ikut denganmu, huh?! Aku hanya penasaran saja," elaknya.


"Yakin? Apa kau tidak akan merindukanku?" Tatapan Saka semakin menggoda sembari memainkan alisnya.


"Enyahlah! Jangan terlalu percaya diri!" Sofia mendorong Saka keluar dari pintu dan membanting pintunya tepat di depan hidung Saka.


"Buseett, galak bener," gerutu Saka saat merasakan jantungnya berdetak lebih kencang akibat terkejut.


"Sofia, aku pergi sekarang! Jangan merindukanku," ucap Saka sembari terkekeh lalu mulai melangkah keluar dari Paviliun Bunga Mekar, menghampiri Orion yang menunggu di dekat gerbang.


"Apa kau akan pergi sekarang?" Tetua Tama tiba-tiba saja muncul di belakang Saka.


"Benar, Tetua! Mumpung belum terlalu malam."


Tetua Tama menghela napas panjang, ia memandang Saka lekat. Ia tentu saja mengetahui kabar keterlibatan Saka dalam pemberantasan markas vampire di Desa Pringku.


"Hati-hati! Jika sampai di ibukota, kamu visa mampir di keluarga Wiraga. Mereka akan menyambutmu dengan senang hati jika kau membawa ini." Tetua Tama memberikan sebuah token keluarga Wiraga.


"Terima kasih, Tetua!" Saka tak menolak kebaikan dari Tetua Tama meski ia yakin bisa masuk ke kota mana pun tanpa halangan berarti.


Saka dan Orion kemudian pergi dari Paviliun Bunga Mekar diiringi tatapan sendu dari Sofia yang melihat dari jendela ruangannya.


"Sudahlah Sofia, kenapa kamu harus bersikap menyedihkan hanya karena orang berandalan itu pergi?"


Suasana hati Sofia sudah sangat buruk, tetapi kedatangan Ansel semakin memperburuk suasana.


"Enyahlah! Seorang pengecut yang hanya tahu bersembunyi apakah pantas mengatakan orang lain berandalan?"


Ansel terhenyak, ini adalah pertama kali Sofia berbicara begitu kasar padanya. Dulu meski marah, Sofia akan tetap menjaga ucapannya.


"Sofia, ka-kamu ...." Ansel tercekat, amarah dan rasa malu membuncah dalam dirinya tapi tak ada keberanian untuk mengacau. Semua pengawalnya sudah mati saat mereka bertemu dengan bandit pembawa racun itu sehingga kini hanya tersisa dirinya sendiri.


Menelan amarahnya, Ansel keluar dari ruangan Sofia yang kembali merenung sendu.


*


Sementara itu Saka berdiri gamang di dekat kediaman Hirawan. Ia ragu, akankah berpamitan atau langsung pergi.


"Apa yang menganggu Tuan Muda?" tanya Orion, karena mereka sudah diam di udara lebih dari lima belas menit.


Tanpa menunggu jawaban Orion, Saka langsung menggunakan teleportasi usai menemukan keberadaan sang kakek melalui persepsinya.


Seorang pria paruh baya yang tengah berkultivasi di ruangannya membuka mata saat merasakan aura kuat mendekat ke arahnya.


"Kakek, aku datang!"


Sikap waspada berganti dengan suka cita saat mendengar suara yang begitu dirindukannya. Tak menunggu lama, Tetua Sana menghambur keluar, menyambut Saka yang sudah berdiri di halaman kediamannya.


"Cucuku, kamu datang!"


Saka tersenyum simpul, lalu menyambut uluran tangan sang kakek dan memeluknya. Tubuh tua sang kakek masih terlihat gagah, jika di bumi mungkin kesempatan hidup tidak lebih dari dua puluh tahun lagi, tapi di Alam Kultivator ini, seseorang akan memiliki umur yang sangat panjang selama dia bisa terus meningkatkan kekuatannya.


"Masuklah, kita bisa berbicara di dalam." Tetua Sana dalam suasana hati yang bahagia. Selain pondasi kultivasinya yang sudah kokoh dan sewaktu-waktu bisa menembus ranah Immortal, ia juga menyaksikan banyak anggota keluarga Hirawan yang naik ranah berkat formasi pengumpulan energi yang diciptakan Saka.


"Kakek, aku tidak bisa berlama-lama, aku ke sini karena ingin berpamitan."


Ucapan Saka membuat kebahagiaan Tetua Sana lenyap. Raut sendu tak dapat lagi disembunyikan di wajahnya yang mulai berkeriput.


"Kau ... akan pergi?" Tetua Sana bertanya dengan enggan.


Saka mengangguk. "Apa kakek mau ikut?" Saka bertanya asal.


Tetua Sana tampak termangu, kemudian menghela napas panjang. "Aku tidak bisa, sebagai tetua keluarga Hirawan, aku tidak bisa mengabaikan keluarga ini. Aku akan malu bertemu dengan leluhur jika itu terjadi." Tetua Sana dalam dilema. Niat hati ingin mengikuti kemana pun sang cucu pergi, tetapi tanggung jawab yang ia emban memaksanya untuk tinggal.


Saka tersenyum, jawaban itu sudah ia prediksi sejak awal.


"Kakek, di cincin ini ada sumber daya yang bisa membuatmu melangkah ke ranah Immortal dengan mudah, bahkan kalau beruntung kakek bisa sampai ke ranah Saint. Tetaplah hidup dan sehat sampai kita bertemu lagi suatu saat ini." Suara Saka sedikit gemetar. Rasa haru tiba-tiba saja menyeruak membuat suasana hening menyedihkan. Bahkan, Tetua Sana mulai mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh.


Tanpa kata, Tetua Sana kembali memeluk Saka dengan erat sembari menciumi kepala Saka. Ia seolah ingin menyimpan banyak interaksi dan memori antara dirinya dan cucu kesayangannya. Ia bahkan tak mempedulikan cincin yang tadi diberikan oleh Saka.


"Jaga kesehatan, utamakan keselamatan, jangan telat makan. Cucu kakek harus hidup bahagia." Suara Tetua Sana tercekat. Jika tak mampu mengendalikan diri, ingin rasanya ia menangis tersedu-sedu. Tak sanggup lagi mengucapkan banyak kata karena takut terbawa suasana dan memberatkan perasaan sang cucu, Tetua Sana hanya memendam semua rasa sedih dan kehilangannya.


Mata Saka ikut memerah, tapi sekuat tenaga ia menahan air mata. Dengan senyum simpul, Saka mengurai pelukan, perlahan melangkah mundur, tangannya melambai sebelum kemudian menghilang dalam sekejap.


Tetua Sana terduduk dengan air mata yang bercucuran. Jika dulu setiap mereka berpisah akan ia pastikan bertemu kembali, tapi kali ini ia tak yakin. Kepergian Saka dari keluarga Hirawan membawa banyak luka. Ia bahkan memilih untuk keluar dari silsilah keluarga. Jadi Tetua Sana hanya mampu berdoa dan berharap akan dipertemukan di masa yang akan datang.


Di sebuah sudut rumah yang terhalang oleh sebuah pohon yang besar, sesosok pria paruh baya juga terduduk dengan tangis pilu. Tangannya memukul-mukul dada, berharap sesak yang ia rasakan mereda.


"Nak, segitu bencinya kamu dengan ayah sampai enggan berpamitan?" ringisnya pilu. Rasa sakit diabaikan oleh darah dagingnya sendiri sukses membuat patriak keluarga Hirawan itu jatuh dalam keterpurukan.


"Ternyata ini yang kamu rasakan saat itu, kamu pasti sangat menderita. Harusnya ayah menghiburmu, tapi orang tua bodoh ini justru mengabaikanmu, maafkan ayah, Nak!"


Tak ada kata yang bisa mengungkapkan penyesalan Pandu. Hanya kata andai yang tak bisa mengembalikan Saka dalam pelukannya. Tak ada lagi putra membanggakan yang dulu ia elu-elukan. Ia tak lagi memiliki hak untuk berbangga atas semua pencapaian yang diraih oleh Saka.


Penyesalan, adalah hukuman yang paling mengerikan daripada kematian.