
Dengan berbagai bujuk rayu dan menjual tampang sang ibu, Saka kini bisa mencabut dua pohon yang ternyata buah persik abadi yang bisa menguatkan jiwa dan mental seseorang. Pohon itu ia tanam di dunia cincin. Tak ingin menyia-nyiakan sumber daya, Saka juga menguras habis air danau dan memindahkannya ke dunia cincin.
Gentala menghela napas panjang melihat semua harta karun yang selama ini ia jaga telah ludes tanpa sisa.
"Paman, jangan sedih! Paman kan bisa tinggal di dunia cincin milikku. Nanti aku juga bisa mengembalikan paman ke Alam Primordial," bujuk Saka saat melihat tampang lesu Gentala.
Gentala mendelik. "Memangnya kamu tahu caranya ke sana?"
"Asal paman memberikan gambaran tentang Alam Primordial, aku bisa merobek ruang menuju ke sana."
Mata Gentala dipenuhi kejutan. "Kamu bisa teknik Ruang dan Waktu?"
Saka mengangguk, ia kemudian memejamkan mata berkonsultasi untuk merobek ruang.
Sratt!
Sebuah robekan ruang terlihat di hadapan mereka meski hanya bertahan selama dua detik.
Gentala menganga, sementara Saka berdehem canggung. "Yah, meskipun belum sempurna, lebih baik ada harapan bukan meskipun hanya sedikit? Dengan persik abadi aku pasti bisa merobek ruang dengan leluasa nantinya."
Gentala berdehem. "Yah, kamu benar! Lebih baik ada harapan daripada tidak sama sekali, meskipun nanti akan membutuhkan waktu yang lama."
"Hei, Paman! Jangan meremehkanku! Aku bisa mencapai ranah ini di usia tujuh belas tahun bukankah jenius?" Saka mendengkus tak suka saat dirinya diremehkan.
Gentala hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan malas. Melihat itu, Saka mendengkus kesal dan berjalan cepat untuk turun gunung.
"Paman, kamu mau ikut tidak?" tanya Saka yang tiba-tiba sudah berada cukup jauh dari tempat Gentala.
"Hei, kau mau ke mana?" teriak Gentala sembari menyusul Saka.
"Tentu saja pulang, Paman! Panas sangat terik, akan lebih nyaman jika kita tidur di kamar atau minum es kelapa muda."
"Kau mengajakku pulang?"
Saka menghentikan langkah, lalu menatap Gentala aneh. "Apa paman mau tetap di sini?"
Gentala menggeleng. "Hanya saja aku heran, kau seperti tidak pernah waspada kepadaku sejak awal."
"Dengan ranah Mahayana paman, apa aku masih bisa kabur meskipun bersikap waspada? Sejak awal jika paman berniat membunuhku, paman bisa melakukannya," ucap Saka dengan santai, tak melihat respon Gentala yang kaget luar biasa.
"Bagaimana kamu bisa mengetahui ranahku?" tanya Gentala kaget.
"Paman, aku tidak terpengaruh dengan kabut ilusi dan pembatas persepsi bukankah sudah menjadi jawaban untukmu?" jawab Saka dengan nada malas.
Bukk!
Seperti layang-layang, Saka melesat terbang ke langit saat bokongnya ditendang oleh Gentala.
Saka yang ditendang tiba-tiba tentu saja terkejut karena persepsinya sedikit terlambat bekerja sehingga hanya bisa pasrah saat bokongnya mati rasa.
"Paman kejam!" gerutu Saka saat posisinya sangat tinggi sehingga terik matahari seolah membakar kulit. Saka mengeluarkan sayap garuda emas miliknya, lalu menukik dengan kecepatan tinggi kembali ke hadapan Gentala yang kini melongo melihat sayap Saka.
Wuushh!
Sapuan angin berskala besar dari sayap Saka membuat beberapa pohon patah dan Gentala harus rela terdorong beberapa meter dari tempatnya berdiri.
"Paman, pertanyaan itu selalu kau ulangi setiap saat, apa kau tidak bosan? Jika kau berniat membunuhku meski aku mencium kakimu, aku akan tetap menjadi bubur daging. Kau bahkan menendang bokongku sampai aku merasa hampir mencapai matahari." Saka mendarat dengan mantap sembari mengelus bokongnya yang masih terasa kebas.
Gentala mendengkus. "Sudahlah, tidak ada gunanya berdebat denganmu, hanya membuatku emosi saja. Cepat masukkan aku ke dunia cincinmu," desak Gentala.
"Paman, apa kau tidak mau bertemu ibuku terlebih dahulu? Ibuku sangat cantik dan kau akan menyesal jika tidak bertemu dengannya sekarang." Saka tetap gencar menjadi mak comblang.
"Bocah, sebenarnya apa yang ada di otak kecilmu itu? Apakah kau tidak takut ditendang bokongmu oleh ayahmu karena terus menawarkan ibumu padaku?"
Saka mengedikkan bahunya. "Dia ibu angkatku, dan belum pernah menikah sama sekali, jadi terjamin segelan!" Saka mengangkat ibu jarinya ke arah Gentala, seolah mengisyaratkan jika apa yang ia tawarkan adalah produk unggulan.
'Bocah ini', wajah Gentala memerah malu sekaligus geram. Saat ini ia ingin kembali menendang Saka hingga mencapai matahari.
"Paman, wajahmu sangat merah, tapi aku akan maklum. Sembilan ratus tahun lebih paman jomlo, jadi mungkin ini bukan hal yang mudah untuk paman. Aku bisa memaklumi jika paman merasa malu." Saka mengangguk-angguk bak orang bijak, tidak ingat jika dirinya juga menjomblo sampai akhir hidupnya saat di bumi.
"Bocah keparat! Kamu minta ditendang sampai nirwana rupanya." Gentala bersiap mengumpulkan energi dan ingin kembali menendang, tetapi Saka dengan cepat menyambar Gentala dan melakukan teleportasi masuk ke dalam goa.
Brukk!
Hueekk!
Meski sudah berada di tahap Mahayana, tak pelak Gentala tetap merasa mual saat melakukan teleportasi. Ini berbeda dengan gerakan kilat dimana mereka masih bergerak normal meski kecepatan berada di luar nalar. Teleportasi layaknya memotong waktu, dan jika belum terbiasa akan membuat orang yang melakukan teleportasi akan merasa mual dan pusing.
Mendengar keributan, Sinta yang tengah berada di kamarnya keluar. Ia mendapati putranya dengan seorang laki-laki asing yang tengah memuntahkan isi perutnya.
"Saka, ada apa ini? Siapa dia?"
Saka tersenyum melihat kedatangan Sinta. Melirik ke arah Gentala yang terduduk lemas, Saka berkata, "lihatlah, Paman! Ini ibuku, cantik bukan?"
Gentala terpana dengan sejuta sumpah serapah yang tertahan di lidah. Bocah sialan ini! Tidak bisakah Ia melihat dirinya yang kacau? Lebih sialan lagi, Saka terlihat tak merasa bersalah telah membuatnya berada dalam kondisi seperti ini.
"Nak, apa maksudnya?" Suara lembut Sinta membangunkan lamunan Gentala. Harus ia akui jika Sinta memang sangat cantik, dengan tempramen lembut dan anggun, akan ada banyak pria yang rela mengantri untuk mendapatkannya.
"Pantas saja bocah ini terus menjodohkanku dengannya," gumam Gentala yang hanya mampu didengar olehnya sendiri.
"Ini Paman Gentala, Bu! Tampan bukan?"
Sinta menatap Saka dengan tatapan heran sementara rona merah mulai menjalar di wajah Gentala.
'Bocah sialan, bocah laknat! Tutup mulutmu sebelum aku menendangmu lagi ke angkasa' Gentala terus mengumpat di dalam hati.
"Namanya laki-laki tentu saja tampan, seperti putra ibu ini yang sangat tampan," jawab Sinta sembari mengerutkan kening karena ia masih tak mengerti dengan maksud ucapan Saka.
"Nah, Paman Gentala tampan, Ibu cantik, tidakkah terpikirkan jika kalian adalah pasangan yang cocok? Ibu, bagaimana menurutmu jika Paman Gentala menjadi ayahku?"
Beberapa detik dalam keheningan, Gentala lantas bangkit dengan cepat.
"Bocah laknat! Mulutmu terlalu berbahaya!" Genta menyalak sembari mengangkat kaki siap menendang bokong Saka.
Merasakan bahaya, Saka lantas berlari dan berlindung di belakang Sinta.
"Paman, ibuku sangat cantik dan banyak pria yang mencoba melamarnya. Kamu harus bergerak cepat, aku tidak bertanggung jawab jika kamu-aargghh paman, jangan menendang bokongku!"