
"Lihaatt! Ini semua gara-gara kamu, Bodoh! Tidak hanya gudang harta ludes, bahkan cucu kesayanganku pun tidak diketahui rimbanya. Apa kamu sudah puas mengacaukan keluarga Hirawan, ha?" Tetua Sana meledak penuh amarah saat semua orang suruhannya pulang dengan tangan kosong. Tak menemukan Saka, juga tak menemukan Raden maupun Jaila.
Pandu hanya menunduk dengan pandangan kosong ke arah lantai. Ribuan penyesalan menumpuk terutama saat teringat pesan dari mendiang sang istri untuk menjaga Saka apa pun yang terjadi. Ia tak hanya mengingkari janji itu, bahkan hubungan darah mereka juga terancam terputus.
Penyesalan Pandu semakin bertambah saat ia ternyata membiarkan orang yang telah membunuh istrinya memberikan pengaruh hingga ia salah mengambil langkah.
"Jika sampai besok tidak ada kabar tentang cucuku, lebih baik kamu yang pergi. Aku tidak butuh anak bodoh sepertimu!"
Sementara itu di kediaman keluarga Caraka, beberapa orang tampak sedang bersiap-siap untuk pergi. Diantaranya ada Raden dan Jaila. Tanpa semua orang tahu, Jaila adalah salah satu selir dari Indra Caraka dan otomatis, Raden Hirawan adalah anak biologis Indra Caraka.
"Ayo pergi! Saatnya memberi peringatan kepada keluarga Hirawan jika mereka hanyalah keluarga bobrok yang tidak bisa bersaing dengan kita." Patriak Indra berkata dengan senyuman lebar. Ia sedang sangat bahagia karena berhasil menguras habis harta keluarga Hirawan. Kini ia yakin jika keluarga Hirawan akan jatuh dan tidak lagi menjadi salah satu dari empat keluarga besar di kota Tanica.
Raden yang melihat itu hanya tersenyum sinis. Ia sama sekali tidak memiliki penyesalan meski sudah hidup lama di keluarga Hirawan. Saat ini, rombongan keluarga Caraka yang menuju ke keluarga Hirawan membuat kota Tanica gempar. Apalagi saat melihat kehadiran Raden dan Jaila di antara rombongan, sontak desas-desua pun beredar. Berbagai rumor dari yang mendekati sampai yang sangat konyol pun terdengar.
Berita itu juga sampai ke telinga Tuan Kota. Pria paruh baya itu mengembuskan napas kesal. Sejak dulu, ia memang kurang menyukai keluarga Caraka yang terkenal sangat licik.
"Apa yang harus kita lakukan, Tuan Kota?" tanya salah satu Jenderal.
"Pergilah ke keluarga Hirawan! Jangan lakukan apa pun jika tak ada pertarungan. Segera hentikan jika ada yang bertarung!" perintah Tuan Kota yang langsung dilaksanakan oleh sang Jenderal.
Kabar itu juga terdengar oleh Paviliun Bunga Mekar. Tetua Rama dan Tetua Tama tengah berdiri di atap Paviliun memandang ke arah kediaman keluarga Hirawan.
"Apa kita harus membantu mereka, Kak? Bagaimana pun mereka tetap keluarga bocah itu." Tetua Tama membuka pembicaraan.
"Tidak perlu," sahut Tetua Rama. "Bocah itu bisa menyelesaikan semua masalahnya sendiri, bahkan aku justru mengkhawatirkan kelangsungan keluarga Caraka."
"Apa kakak mengetahui sesuatu tentang bocah itu?" Tetua Tama penasaran, Saka adalah misteri yang sangat menarik baginya.
Tetua Rama menghela napas panjang. "Apa kau tahu kalau Saka memiliki saudara yang sudah mencapai ranah yang lebih tinggi dariku?"
"Apa?! Itu tidak mungkin!"
Tetua Rama hanya mengedikkan bahunya saja melihat ekspresi Tetua Tama yang terlihat sangat terkejut.
"Bahkan aku curiga dia bukan saudara sebenarnya, karena sikap dari saudaranya itu sangat sopan, seperti seorang bawahan dan tuannya."
Tetua Tama kini terdiam dengan pandangan rumit. Semenjak terbangun dan dikabarkan menjadi sampah, Saka datang dengan berbagai misteri yang cukup membingungkan.
"Sudahlah! Itu bukan urusan kita selama Saka tidak meminta bantuan kepada kita. Bahkan aku sendiri ragu jika Saka akan membantu keluarganya. Kebencian bocah itu lumayan menakutkan." Tetua Rama memandang eliksir yang didapatkannya dari Saka dengan kening yang mengkerut. Bohong jika ia tidak penasaran dengan semua yang terjadi dengan Saka. "Hah, yang penting jangan sampai kita menyinggung perasaannya, aku tidak yakin kita bisa menanggung kemarahan dari bocah itu. Bahkan aku merasa, leluhur kerajaan pun bukan tandingan saudara bocah itu." lanjutnya dengan pasrah.
Tetua Tama menelan ludah, jika bukan tandingan dari leluhur kerajaan, berarti tidak ada seorang pun di alam kultivator yang bisa menandinginya. Kerajaan Victoria adalah kerajaan terkuat di alam kultivator karena leluhur kerajaan yang sudah mencapai ranah Saint tingkat puncak. Tidak ada kerajaan lain yang berani menyinggung kerajaan Victoria, kecuali sebuah organisasi misterius yang akhir-akhir ini selalu menyebarkan teror.
Tetua Rama kembali menghela napas panjang. "Klan darah sudah semakin merajalela, bahkan mereka sudah sampai di kota ini. Kemarin, mata-mata memberitahuku jika bandit yang menjadi bawahan klan darah telah memusnahkan kampung nelayan."
"Bagaimana kalau kita meminta bantuan kepada Saka? Bagaimana pun kekuatan klan darah yang sebenarnya sangat mengerikan. Meskipun berada di ranah yang sama, kita tidak bisa mengalahkan mereka. Apalagi mereka hanya keluar di malam hari," usul Tetua Tama.
"Mungkin bisa dipertimbangkan. Aku akan berbicara dengan Saka setelah masalah keluarga Hirawan selesai," putus Tetua Rama dan keduanya kemudian memilih untuk diam setelahnya.
*
Sementara itu rombongan keluarga Caraka sudah sampai di kediaman Hirawan. Kedua kubu tampak berhadapan dengan tegang. Aura kemarahan, tak bisa disembunyikan oleh anggota keluarga Hirawan melihat sosok Jaila dan Raden yang berada di antara keluarga Caraka.
"Apa maksudmu, Indra?" Pandu membuka suara. Meski berbicara kepada patriak keluarga Caraka, tapi pandangan Pandu tertuju pada Jaila. Sorot kebencian dan kemarahan membuat dadanya bergejolak dan tidak sabar untuk membunuh wanita yang pernah mendampinginya.
"Patriak Pandu, kita ke sini ingin menuntut keadilan untuk Jaila dan Raden, bukankah mereka anak dan istrimu? Kenapa kamu ingin membunuhnya sehingga mereka harus mencari perlindungan kepadaku?"
Mendengar ucapan Indra, bibir Pandu berkedut. Matanya semakin berkobar dengan penuh amarah.
"Omong kosong! Raden dan Jaila adalah buronan yang sudah merampok gudang harta keluarga Hirawan, siapa kamu sampai menuntut keadilan buat mereka?"
"Patriak Pandu, aku tahu kamu sedang marah dan tertekan karena anakmu sempat menjadi sampah itu memutuskan hubungan dengan keluarga Hirawan, tapi itu tidak menjadi alasan kamu melampiaskan kepada orang lain. Jika kamu tidak bisa memberikan penjelasan yang masuk akal, aku khawatir bahkan Tuan Kota tidak akan bisa melindungi keluarga Hirawan lagi."
Tetua Sana yang sudah tidak tahan dengan omong kosong dari keluarga Hirawan pun melangkah maju dengan aura penindasan dari ranah Langit tingkat puncak.
"Katakan! Siapa yang tidak bisa melindungi keluarga Hirawan? Apakah akan ada yang menyerang kami? Katakan! Aku akan meledakkan tubuhnya hingga dia mati tanpa mayat."
"Le-leluhur Sana," gumam Indra dengan tergagap. Kehadiran leluhur Sana tidak pernah berada dalam barisan rencananya. Ia pun menoleh dan menatap Jaila tajam. Sementara Jaila dam Raden memilih untuk membuang muka karena merek lupa mengatakan jika leluhur keluarga Hirawan telah pulang dari pengasingan.
"Indra, keluarga Caraka sangat hebat bukan? Kalian sangat totalitas dalam merampok sampai-sampai mengirimkan anak dan selirmu untuk menyusup ke keluarga Hirawan!"
Boomm!
Ucapan Tetua Sana tidak hanya membuat keluarga Hirawan terkejut, tetapi juga Jenderal Kota yang tengah mengamati situasi di kediaman keluarga Hirawan.
Sementara itu di atas mereka, Saka dan Orion mengamati dengan tenang sebelum ucapan dari Tetua Sana membuat Saka yang awalnya sedikit mengantuk langsung terjaga. Tanpa sadar auranya merembes keluar meski mereka sudah berlindung dibalik ilusi.
Merasakan aura kuat yang asing, membuat semua orang mendongak.
"Siapa itu?"