Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Membantu Desa Paju


Sangat jelas dalam visi Saka dan Tigra jika desa di depan mereka tengah terjadi pembantaian massal. Namun, hal paling keji yang mereka lakukan adalah merudapaksa semua wanita dari remaja sampai paruh baya, disaksikan oleh anggota keluarga lainnya yang sudah tak berdaya setelah dihajar oleh segerombolan orang berpakaian serba hitam dengan gambar tengkorak di bagian belakang.


Keji dan tak bermoral. Darah Saka mendidih melihat itu semua.


"BAJINGAN KEPARAAT! KALIAN SEMUA BINATANG!" teriak Saka penuh amarah yang membuat kegiatan orang-orang berpakaian hitam itu terhenti.


Sementara Tigra yang mendengar teriakan Saka cemberut. "Penguasa, bahkan binatang sepertiku masih memiliki moral dibanding mereka."


Saka tercengang. Ia melupakan fakta jika dua orang terdekatnya adalah binatang suci.


"Oh, maaf aku lupa," jawab Saka dengan senyuman malu.


Namun, saat menatap ke arah desa, wajah Saka kembali datar.


"KALIAN SEMUA DILAHIRKAN DARI SEORANG WANITA TAPI KELAKUAN KALIAN BAHKAN LEBIH HINA DARIPADA YANG TERHINA! SEKARANG KATAKAN! KALIAN MAU MATI DENGAN CARA APA?"


Salah seorang pria yang sepertinya petinggi dari orang-orang berpakaian hitam itu mencibir.


"Anak muda, aku tahu jika jiwa muda itu sangat luar biasa, tapi kamu juga harus lihat siapa yang kamu singgung. Jangan menjadi katak dalam tempurung yang tidak tahu tingginya langit."


Saka terkekeh. Ia mengukur kekuatan dari lelaki itu yang hanya berada di ranah Langit tingkat enam. Karena sistem sedang upgrade, Saka tidak bisa meminta sistem untuk menunjukkan data diri lengkap dari gerombolan orang-orang biadab itu.


"Hanya ranah Langit tingkat enam sudah berbicara tentang tingginya langit? Apa aku tidak salah dengar?" sinis Saka yang mampu membuat pria paruh baya itu terkejut. Pria paruh baya itu kemudian mencoba mengukur kekuatan Saka dan Tigra, tetapi hanya lubang hitam yang ia dapatkan. Mendapati kenyataan itu, wajahnya memucat dan kakinya gemetar.


"Tu-tuan! Tolong lepaskan kami, kami akan pergi dari sini dan tidak pernah kembali lagi."


Anggota lain yang mendapati petinggi mereka memohon pun mamatung di tempat tanpa berani melakukan hal lain. Karena kekuatan tertinggi di kelompok mereka ada pada pria itu.


"Hahaha, pergi? Setelah semua hal biadab yang kalian lakukan, kalian ingin pergi?"


Aura mematikan merembes keluar dari Saka menekan semua orang-orang berbaju hitam tengkorak itu hingga semaunya tersungkur dan muntah darah. Bahkan yang berkekuatan paling rendah sudah pingsan.


Langkah demi langkah, Saka mendekat ke arah pria paruh baya ranah Langit itu yang kini juga tersungkur akibat tekanan aura Saka.


Saka berjongkok, menjambak rambut pria paruh baya itu pelan hingga tatapan keduanya bertemu. Menggunakan mata ilusi, Saka melihat semua memori milik pria paruh baya itu. Di tengah-tengah proses itu, sang pria paruh baya tampak menjerit-jerit kesakitan saat jiwanya tersiksa, sesekali kilat keterkejutan juga tampak di mata Saka.


"Kalian sungguh sekte biadab!" umpat Saka setelah selesai melihat memori pria paruh baya itu. Dalam ingatan yang dilihatnya, orang-orang ini berasal dari Sekte Bukit Tengkorak, salah satu sekte menengah di Kota Ngiwa, yang mana Sekte Bukit Tengkorak adalah cabang dari Sekte Lembah Hitam di Kota Mojo.


Saka cukup terkejut mendapati kenyataan jika para vampire bekerjasama dengan salah satu sekte aliran hitam terkuat di Kerajaan Victoria, apalagi portal yang membawa pasukan vampire hampir sempurna dan bisa membawa pasukan yang memiliki kekuatan di atas ranah Immortal.


"Aku tidak menyangka jika rencana mereka sudah sejauh ini," gumam Saka lalu memenggal kepala pria paruh baya yang sudah kehilangan jiwanya itu.


Salah satu kekhawatiran Saka adalah jika ia terlambat sampai di Sekte Lembah Hitam dan para vampire berhasil menyempurnakan portal, maka hanya kehancuran yang akan dialami oleh Alam Kultivator.


Bahkan jika ia berniat menggunakan hukum ruang dan waktu, ia tak memiliki gambaran sama sekali tentang ibukota.


"Tigra, bunuh semua orang kecuali penduduk desa ini, lalu kumpulkan di satu tempat, sebelum itu ambil cincin penyimpanan mereka!"


"Baik, Penguasa!" Lalu Tigra melenggang santai sembari melambai pelan, tetapi setiap lambaian mengirim dua atau tiga orang ke alam kematian.


Para penduduk desa kini sudah berkumpul saling memeluk dengan penuh ketakutan. Saka yang melihat itu kemudian mendekat.


"Jangan takut paman, bibi dan semuanya. Setelah ini tidak akan ada lagi yang menindas kalian, aku akan memastikan untuk memberantas semua anggota sekte sesat itu hingga ke akar-akarnya," ucap Saka yang sedikit menenangkan para penduduk desa.


"Terima kasih, Tuan Muda! Jika tidak ada Tuan Muda entah apa yang akan terjadi dengan kami," ucap seorang pria paruh baya yang tengah memeluk dua wanita yang mana mereka adalah istri dan anaknya. Kedua wanita yang baru saja dirudapaksa tepat di depan matanya.


"Tidak apa-apa, Paman! Tapi bolehkah aku bertanya apa yang sebenarnya terjadi?"


"Sebelumnya, perkenalkan namaku Hariawan, Tuan Muda! Aku adalah kepala desa di Desa Paju ini . Semua bermula saat sekelompok orang itu tiba-tiba masuk ke dalam desa dan tiba-tiba saja menyeret semua gadis muda yang mereka temui. Kami mencoba melawan, tetapi kekuatan kami tidak seberapa dan inilah yang terjadi," ucap Kepala Desa Hariawan itu dengan sendu. Ia merasa gagal sebagai Kepala Desa karena tidak bisa melindungi warganya, ia juga gagal sebagai kepala keluarga karena tidak bisa melindungi anak dan istrinya.


Mata Saka menajam, hawa membunuh begitu kuat menguar dari dirinya membuat para penduduk bergidik ngeri.


"Kakak!"


"Sini, adik kecil namanya siapa?" tanya Saka lembut sembari memberi isyarat agar gadis cilik itu mendekat. Dengan penuh keberanian, gadis itu mendekat ke arah Saka.


"Kakak, namaku Arunika, apakah aku nanti saat besar bisa sekuat kakak?" tanya gadis cilik itu tanpa rasa takut sedikit pun.


Saka tersenyum kecil. "Em, jika kamu sudah besar, kamu akan sekuat kakak," ucap Saka. Ini bukan hanya sekedar ucapan menenangkan anak kecil, tetapi Saka merasakan sebuah kekuatan besar tengah tersegel dalam diri gadis cilik ini. Namun, ia tak bisa mendeteksi jenis kekuatan itu, dan hanya bisa menunggu sistem selesai upgrade baru ia bisa bertanya.


"Yeayy! Aku mau jadi kuat seperti kakak, jadi aku bisa membanggakan ayah dan ibu di surga," ucap gadis cilik itu dengan riang yang membuat Saka membeku.


Melalui telepati, Saka menanyakan hal itu kepada kepala desa dan dijawab dengan anggukan pelan.


"Arunika yang cantik, apakah kamu mau ikut kakak berpetualang?"


Mata Arunika semakin berbinar. "Bolehkah?"


"Tentu saja boleh, dan kakak akan membuat Arunika menjadi wanita yang sangat kuat."


"Yeaayy! Makasih kakak!" Satu kecupan ia layangkan di pipi Saka sebagai wujud kegembiraannya.


Saka hanya tertawa kecil, ikut bahagia melihat gadis cilik itu tak bersedih meski telah kehilangan orang tuanya.


Saka kemudian menatap Tigra, tampak di ujung yang agak jauh, sudah bertumpuk mayat para anggota Sekte Bukit Tengkorak. Saka melambaikan tangannya, dan Api Naga Abadi membakar tumpukan mayat menjadi abu.


Semua itu tak luput dari pandangan semua penduduk desa yang kini menatap Saka dengan kagum.


"Paman, ini adalah harta rampasan dari para anggota sekte itu, gunakanlah untuk membangun kembali desa, dan ini adalah pil pengumpul energi serta peningkat ranah untuk para kultivator sehingga keamanan desa ini lebih terjamin. Lalu ini adalah pil penyembuhan yang bisa digunakan untuk semua orang," ucap Saka sembari memberikan sebuah cincin penyimpanan yang mana di dalamnya terdapat banyak koin emas, pil, senjata dari berbagai tingkat, dan batu roh tingkat menengah.


Kepala Desa adalah kultivator ranah Jenderal tingkat lima, sehingga ia bisa membuka cincin penyimpanan yang mana membuat kedua matanya melotot lebar setelah melihat isinya.


"Tuan Muda, i-ini ...."


"Terimalah, Paman! Hanya ini yang bisa kulakukan untuk membantu desa ini."


Kepala Desa itu tampak berkali-kali mengambil napas panjang menenangkan diri.


"Terima kasih untuk bantuannya yang sangat besar, Tuan Muda! Tapi bolehkah yang tua ini tahu siapa gerangan Tuan Muda?"


"Ah, maaf karena terlambat mengenalkan diri, Paman! Namaku Saka."


"Tuan Muda Saka, sekali lagi terima kasih."


"Terima kasih, Tuan Muda!" Semua penduduk desa menunduk penuh rasa terima kasih.


Saka tersenyum lembut. "Baiklah, paman, bibi, dan semuanya, aku mohon pamit, dan izin membawa Arunika bersamaku," ucap Saka sembari mengelus rambut Arunika yang sejak tadi tak berhenti tersenyum.


Para penduduk desa yang melihat senyum Arunika pun ikut tersenyum, mereka tak keberatan sama sekali dan justru merasa bahagia karena Arunika berada di tangan orang yang tepat.


"Tidak masalah, Tuan Muda! Kami percaya Tuan Muda akan menjaga Arunika dengan baik," ucap Kepala Desa sebagai perwakilan.


"Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu!"


Diiringi dengan lambaian tangan para penduduk desa, Saka dan kedua keluarga barunya kembali melanjutkan perjalanan.


***


maaf baru bisa update sekarang soalnya baru pulang kerja dan kepala pusing banget nggak bisa diajak mikir dari tadi siang.


Oh ya, ini novel pertamaku yang bertema kaya gini, jadi maaf kalau ada kekurangan atau mungkin detail2 yang terlupakan hehe, komen aja kalau ada yang janggal ya, jadi aku bisa perbaiki


thank you


muah