Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Perkembangan Pasukan Garuda


Hari berganti, Saka terbangun dengan senyum puas sembari menatap Alice di sampingnya yang terlihat kelelahan meski terdapat senyum puas di wajahnya.


Setelah mengecup kening Alice, Saka bangkit dari ranjang untuk membersihkan diri. Hari ini, ia akan mulai melatih anak-anak itu menjadi kultivator hebat yang akan menjadi cikal bakal berdirinya Pasukan Garuda.


Alice yang sebenarnya sudah bangun pun membuka mata saat merasakan Saka sudah keluar dari kamar. Rona merah tak bisa disembunyikan dari wajahnya. Permainan panas yang membuatnya hampir gila tadi malam membuatnya masih merasa lemas. Ia tertatih-tatih bangkit dari ranjang , memungut pakaian yang berserakan dan mengenakannya.


"Monster," gumamnya saat teringat ia berkali-kali hampir pingsan saat meladeni Saka. "Mungkin aku perlu saudari baru," lanjutnya kemudian.


Di sisi Saka yang sudah selesai membersihkan diri, kini ia sudah berada di depan istana di mana puluhan anak-anak yang rata-rata berumur 7-13 tahun berada, hanya Ren yang paling tua, ia berusia 15 tahun.


"Apa kalian sudah siap?" tanya Saka sembari tersenyum tipis melihat semangat yang mereka tunjukkan.


"Siap, Tuan Muda!" jawab mereka serentak.


Saka mengangguk puas. Ini adalah semangat yang ia harapkan.


Saka kemudian membuat beberapa array dengan tingkat gravitasi beragam. Dari dua kali lipat, sampai dua puluh kali lipat.


"Nah, tugas kalian sekarang adalah masuk ke dalam array pertama, jika kalian sudah bisa berjalan bebas bahkan berlari di sana, kalian bisa melanjutkan ke array selanjutnya. Siapa yang pertama kali bisa menyelesaikan tantangan ini, maka aku akan memberikan hadiah yang spesial!"


Sontak saja mendengar kaya hadiah semua anak semakin bersemangat. Mereka kemudian mulai masuk ke array, satu per satu tersungkur, tapi Saka bisa melihat tekad yang kuat dari mata mereka, membuatnya sangat bangga.


Saat tengah sibuk mengamati anak-anak yang tengah berjuang menakhlukkan tekanan gravitasi ciptaannya, Saka merasakan celananya yang ditarik-tarik.


Saka menoleh dan mendapati Arunika yang sudah menatapnya penuh harap dengan mata bulatnya yang bersinar.


Saka tersenyum masam, teringat ungkapan gaul saat di bumi. Mleyot, melihat mata seperti bintang dibingkai wajah loli yang imut.


Saka mengembuskan napas, lalu mengangguk. Arunika dengan semangat menyusul anak-anak yang lain untuk berlatih di array tekanan gravitasi.


"Mungkin Aru tidak akan kesepian berlatih saat ada banyak teman," gumam Saka saat melihat Aru yang sudah bisa duduk.


"Tuan Muda!" Orion datang menghampiri Saka dengan senyuman yang mekar.


"Kak Rion, selamat! Sebentar lagi menembus ranah Mahayana!" sambut Saka saat mendapati ranah kultivasi Orion yang naik pesat.


"Ini semua berkat Tuan Muda!" jawab Orionq merendah. Memang karena adanya menara kultivasi, sehingga membuat kultivasi mereka bisa meningkat lebih cepat.


Saka kemudian memandang sekitarnya. "Jika aku membangun dua menara lagi, bagaimana menurutmu?" tanya Saka.


"Menara apa yang akan dibangun, Tuan Muda?"


"Menara penempa fisik dan menara penempa jiwa."


"Sepertinya itu ide yang bagus, apalagi untuk anak-anak seperti mereka, jika kita menampa fisik dan jiwa mereka sejak dini, maka kelancaran kultivasi mereka akan terjamin."


Saka tanpa berbasa-basi langsung membeli dua menara yang cukup menguras kantong. Setelah membangun di lokasi berjejer dengan menara kultivasi, Saka kembali ke lokasi anak-anak. Ada dua anak yang sudah bisa berjalan dengan bebas. Keduanya adalah Ren dan Arunika.


"Keduanya sangat jenius," gumam Saka. "Oh ya, Kak Rion! Aku minta tolong untuk memetik semua buah persik abadi yang sudah matang. Aku akan memberikannya kepada anak-anak saat mereka istirahat sebelum lanjut ke array berikutnya."


Orion dengan patuh mengangguk lalu berjalan ke belakang istana di mana buah persik abadi berada.


*


Selama empat bulan di dunia cincin, atau setara satu bulan di dunia luar, Saka terus menggunakan waktunya untuk melatih anak-anak. Setelah merasa pondasi fisik mereka sempurna, Saka membelikan macam-macam fisik istimewa dari sistem agar kultivasi mereka semakin cepat. Untung saja, sistem sudah level dua, sehingga fitur shop untuk bagian fisik terbuka. Hanya saja, fisik istimewa yang terbuka hanya level rendah jika menurut sistem, tidak bisa dibandingkan dengan Fisik Dewi Es apalagi Fisik Dewa Abadi.


Hasilnya pun tidak mengecewakan. Kultivasi paling rendah mereka ada di ranah Raja, sementara paling tinggi ada di ranah Langit, yang mana dicapai oleh Ren bersaudara, dan Arunika.


Melihat peningkatan kultivasi yang mengerikan ini, Orion dan para binatang suci hanya mampu meneguk ludah.


"Tuan Muda, bukankah ini terlalu menakjubkan?" Orion menatap anak-anak yang sedang berlatih tanding sesuai instruksi Saka.


"Mereka yang akan menjadi Pasukan Garuda, pasukan terkuat di Alam Kultivator, sebelum aku naik ke alam yang lebih tinggi," jawab Saka, matanya tak beralih dari gerakan para muridnya dan sesekali memberikan masukan.


"Kak Rion, tolong panggilkan Paman Gentala dan Tigra, ada yang ingin kubicarakan!"


Tanpa bertanya, Orion dengan patuh memanggil Gentala dan Tigra yang juga sedang berlatih tanding di bagian dunia cincin yang lain karena pertarungan tingkat Mahayana bukanlah hal yang bisa diremehkan. Keduanya bisa saja menghancurkan satu kerajaan hanya dengan satu serangan. Beruntung Saka bisa membentuk sebuah dunia kecil yang khusu untuk keduanya berlatih tanding.


Tak menunggu lama, Tigra, Gentala dan Orion terbang mendekat ke arah Saka.


"Salam, Penguasa!"


"Salam, Yang Mulia!"


"Salam, Tuan Muda!"


Saka tersenyum masam. Meski berkali-kali ia membenarkan, hanya sehari dua hari dilakukan dam selanjutnya akan kembali ke setelan awal. Saka sudah terlanjur lelah mengingatkan sehingga ia hanya bisa menerima saja semua panggilan mereka.


"Paman Gentala, Tigra dan Kak Rion, setelah ini aku menyerahkan pelatihan Pasukan Garuda kepada kalian. Aku akan keluar dari sini dan sesuai tujuan awal, membasmi sekte dan keluarga yang berkolusi dengan vampire. Setidaknya, aku harus menghancurkan semua portal yang digunakan makhluk-makhluk kegelapan itu agar tidak terus menginvasi alam ini, dan untuk Paman Gentala, jangan lupa terus pantau telur phoenix itu," jelas Saka panjang lebar.


"Dimengerti, Yang Mulia!" jawab Gentala.


Saka tersenyum puas lalu mencari Alice. Ia berniat mengajak Alice untuk menghancurkan sekte Bukit Tengkorak, hitung-hitung sebagai latihan tempur untuk mengeluarkan potensi penuh dari Fisik Dewi Es miliknya.


"Kita keluar?" tanya Alice yang tiba-tiba dijemput Saka saat ia baru saja keluar dari menara kultivasi. Kenaikan ranahnya juga tak mengecewakan, ia sudah naik ke ranah Langit tingkat tujuh.


"Iya, kita akan menghancurkan sekte Bukit Tengkorak, dan semua orang yang berkolusi dengan vampire."


"Tuan Muda!"


Baru saja ingin keluar, kedua saudara kembar menghampiri mereka.


"Ada apa?" tanya Saka heran.


"Bolehkah kami ikut? Kami juga ingin menambah pengalaman kami dalam bertempur," pinta Venus.


Kultivasi keduanya juga tidak mengecewakan, karena sudah terbuka elemen cahaya milik Vega, den elemen kegelapan milik Venus yang dibantu oleh Tigra, keduanya sudah berada di ranah Bumi.


"Kalian yakin?"


"Yakin, Tuan Muda!"


"Baiklah, kalian bisa ikut, tapi ingat! Jangan memaksakan diri, jangan mati tanpa seizinku!" tegas Saka.


Vega dan Venus tersenyum. Mereka sangat bahagia menjadi bawahan Saka karena merasa sangat dihargai. Untuk kali ini, tidak ada kata menyesal dengan pilihan yang mereka ambil.


**


monggo mampir