Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Kebersamaan


Keramaian yang berbeda dari biasanya kini tampak di Kerajaan Victoria. Dua wanita paruh baya yang masih cantik jelita tampak sibuk dengan tugas masing-masing. Keduanya tampak begitu bersemangat untuk mempersiapkan acara pernikahan untuk anak tercinta. Berita tentang putri bungsu yang akan segera menikah sudah menyebar luas yang menimbulkan kegegeran. Namun untuk para bangsawan yang telah melihat yang terjadi di halaman istana, mereka sudah bisa menebak garis merahnnya. Termasuk Ansel yang mengurung diri di kediamannya.


Ia sangat tak terima dan ingin memberontak tetapi begitu mengingat kekuatan yang dimiliki oleh Saka, hanya putus asa yang ia rasakan. Meski ia mengerahkan seluruh keluarga Orlando, mereka tak akan bisa menang setelah melihat sendiri kekuatan Pasukan Garuda dan kabar lain yang mengatakan jika Saka bisa membunuh vampire yang berada di ranah Mahayana.


Bahkan Damar Orlando yang awalnya begitu ingin membalaskan dendam sang anak kini mencium setelah mendengar cerita dari pasukannya yang ikut bertempur di medan perang. Cerita tentang bagaimana Saka memperlakukan vampire ranah Mahayana seperti bola pimpong yang dipukul dan ditendang ke sana ke mari tanpa bisa membalas sedikit pun.


"Mundur saja! Jangan mengacau atau keluarga kita akan musnah!" Damar dengan tegas memerintahkan Ansel untuk mengubur impiannya mempersunting Sofia. Ia bahkan memerintahkan pasukan elit untuk berjaga di sekitar kediaman Ansel karena takut jika anak itu akan nekat dan membawa kehancuran untuk keluarga mereka.


Meski tak terima, tak ada yang bisa dilakukan oleh Ansel. Ia hanya bisa mengurung diri di kamar meratapi gadis pujaannya yang sebentar lagi akan menjadi istri orang lain.


Sementara itu sang pengantin kini tengah duduk bertiga di depan danau dunia cincin. Tampak seekor burung hinggap di dahan pohon persik.


"Tuan, aku kembali!"


Freya sebenarnya tak ingin mengganggu kebersamaan tuannya bersama calon istri-istrinya, tetapi kabar yang ia dapat harus disampaikan dengan segera.


"Freya, bagaimana situasi Benua Tengah?" tanya Saka langsung. Ia memang memberi tugas kepada Freya untuk melihat situasi Benua Tengah sejak perang dimulai.


"Tuan, Benua Tengah sedang dalam kondisi krisis. Semua keluarga kerajaan di penjara di bawah tanah. Banyak warga yang ditangkap dan dijadikan makanan oleh para vampire dan iblis. Sekte-sekte aliran putih juga terkena pukulan yang sangat dahsyat sehingga mereka memilih untuk menyegel sekte mereka dan mengurung diri dari dunia luar. Jarang terlihat ada manusia biasa di sana. Benua Tengah sudah dipenuhi oleh sekte aliran hitam, vampire dan juga iblis," lapor Freya.


Saka menghela napas panjang. "Sepertinya setelah menikah kita tidak bisa bersantai," kata Saka dengan penuh penyesalan.


Alice dan Sofia saling memandang kemudian tersenyum.


"Tidak apa-apa, masih banyak waktu untuk kita. Kita harus menyelamatkan Alam Kultivator ini terlebih dahulu," jawab Sofia dengan bijaksana.


"Benar, kita harus memusnahkan semua ancaman yang ada di Alam Kultivator ini, barulah kita bisa pergi ke alam lain dengan tenang," sahut Alice.


Saka tersenyum lembut lalu mengecup kening keduanya. "Terima kasih sudah mengerti," ujarnya dengan kehangatan hati melihat kedua calon istrinya yang begitu pengertian. Ah, inilah nikmatnya menjadi lelaki perkasa dan tampan luar biasa? Tak perlu mencari, wanita datang sendiri. Tentu saja, Saka tak akan sembarangan menerima wanita.


Ketiganya lanjut bercengkerama, menikmati keindahan danau hingga datang dua orang manusia yang tak diharapkan.


"Sa-saka!"


Wushh!


Duakk!


Raden memuntahkan seteguk darah usai dirinya terlempar menabrak pohon akibat lambaian tangan Saka.


"Siapa yang kau sebut Saka? Kamu tidak pantas memanggil namaku," ucap Saka dengan intonasi dingin dan menusuk.


Raden dengan wajah pucat pasi mencoba untuk bangkit, sementara Alisha mematung dengan mata berkaca-kaca. Meski selama ini Saka tak secara pribadi menyiksa mereka, tetapi keberadaan Orion menjadi momok yang menakutkan. Tiada hari tanpa siksaan.


Sebenarnya Saka tahu tentang hal ini, tapi memilih diam karena ia mendukung apa yang dilakukan Orion. Dulu, menyiksa Raden dan Alisha adalah tujuannya, tapi siapa yang menyangka jika hari-harinya akan sangat sibuk hingga melupakan tujuan utamanya tetap membiarkan kedua manusia pengkhianat itu tetap hidup.


"M-maaf, Tuan!" ujar Raden terbata-bata.


"Siapa yang memberimu keberanian hingga datang mengganggu kebersamaanku bersama kedua calon istriku?" Tanpa melepaskan tatapan tajam pada keduanya, Saka bertanya.


Alisha menatap Saka dengan pandangan rumit. Ada penyesalan, amarah, benci dan takut secara bersamaan. "Tu-tuan, bolehkah kita memakai eliksir di kebun untuk mengobati kami?" tanya Alisha lirih.


Alice dan Sofia yang sudah diceritakan tentang kehidupan Saka sebelumnya, memilih untuk diam meski merasakan amarah.


"Gunakanlah, tidak seru jika kalian mati begitu saja, bukan?" ucap Saka yang membuat Alisha dan Raden gemetar. Keduanya mengutuk nasib buruk yang menimpa tiba-tiba.


"Ba-baik, terima kasih," ucap Raden lalu dengan dibantu Alisha, keduanya pergi.


Saka menghela napas panjang kala kilasan masa lalu yang menyakitkan tiba-tiba terlintas usai berinteraksi dengan Raden. Bukan hanya ingatan buruk saat di kediaman Hirawan, tapi juga saat di bumi.


"Sistem, bisakah aku pergi ke bumi?"


[Ding! Tuan bisa pergi ke bumi setelah Tuan mencapai ranah Dewa]


Alis Saka terangkat sebelah. "Kenapa? Bukankah aku sudah bisa merobek ruang dengan leluasa asalkan pernah mengunjungi alam yang ingin aku datangi?"


[Ding! Memang benar, Tuan! Tetapi bumi adalah tempat makhluk fana yang tidak berkultivasi. Sistem menyarankan Tuan untuk pergi setelah mencapai ranah Dewa karena prinsip dunia di bumi sangat ketat. Hanya seorang Dewa yang bisa turun ke bumi. Itu pun kekuatan mereka akan ditekan sampai ranah Jenderal]


Saka tak bisa tak terkejut mendapati itu semua. Ia pikir bisa sesuka hati datang dan pergi ke bumi, ternyata ada banyak syaratnya.


"Saka, kenapa kamu melamun?" Saka tersentak saat suara Sofia terdengar.


"Ah, maaf! Aku hanya teringat masa lalu tadi."


Sofia dan Alice serempak memeluk Saka dari kedua sisi berbeda. "Ada kami di sini, kamu tidak akan sendirian lagi," ucap Alice lirih.


"Kak Alice benar. Kita akan selalu mendampingimu di situasi apa pun," tandas Sofia yang membuat Saka tersenyum haru.


"Terima kasih, tapi kita sepertinya dipanggil para orangtua," ucap Saka saat mendapat tranmisi suara dari Gentala yang sengaja ia taruh di luar untuk melindungi Sinta.


"Benarkah? Memangnya untuk apa memanggil kita?"


Saka menggeleng. "Entahlah, mungkin berhubungan dengan pernikahan kita."


"Baiklah, ayo kita keluar!" Dengan penuh semangat, Sofia dan Alice bangkit lalu mengangkat Saka untuk bangkit.


"Hei, hei! Pelan-pelan jangan terburu-buru. Di luar baru beberapa menit meski kita di sini berjam-jam," ucap Saka yang kaget dengan semangat kedua wanitanya.


"Hehe!" Sofia dan Alice hanya terkekeh malu.


Di sudut danau yang lain, sepasang mata menatap ketiganya sembari menggigit bibir. Matanya bergetar.


"Sudahlah Alisha, Saka tidak akan pernah menerimamu lagi," ucap pemuda yang berada tidak jauh dari gadis itu berucap.


"Diam, Raden! Jika bukan karena rencana ayah dan ibumu aku tidak akan mengalami nasib sial seperti ini," sentak Alisha lalu pergi membawa penyesalan yang tak pernah usai.


...****************...


Sebenarnya kemarin waktu update, tapi aku sibuk nyiapin materi jadi baru bisa up hari ini, maaf ya