Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Masalah Kecil


Banyak orang bertanya-tanya saat melihat kemunculan Tuan Kota bersama dengan Saka dan Alice. Di kursi para petinggi sekte dan keluarga besar juga tak kalah heran, tetapi tak sedikit juga yang mengenali Saka dan akhirnya diskusi panas pun terjadi. Kabar tentang Pendekar Saka yang bersama Tuan Kota akhirnya merembet dan hampir seluruh orang yang ada di alun-alun akhirnya tahu.


Beberapa petinggi sekte menatap Saka penuh minat. Dengan ranah Immortal semuda ini, mereka ingin sekali merekrut Saka menjadi bagian dari mereka.


Setelah Tuan Kota dan Saka duduk di tempat yang paling tinggi, seorang jenderal kota yang bertindak sebagai pembawa acara masuk ke tengah arena untuk memulai acara turnamen.


Saka sendiri hanya duduk dengan tenang, sebelum kemudian ia merasakan tatapan intens dari salah satu bangku peserta. Melirik sejenak, Saka tersenyum miring mendapati sosok yang dikenalnya.


"Hai, kawan lama!" sapa Saka melalui telepati.


Tampak orang itu terkejut dengan mata yang membola. Saka hanya terkekeh ringan dan mengedipkan matanya.


Tuan Kota yang melihat tingkah Saka pun mengikuti pandangan Saka yang mengarah ke kelompok Sekte Naga Bumi.


"Nak Saka, apakah kau mengenal seseorang di Sekte Naga Bumi?" tanya Tuan Kota.


Saka tersenyum tipis. "Kebetulan aku mengenal seorang kawan lama yang juga berasal dari kota yang sama denganku, Tuan Kota," jawab Saka.


Tuan Kota mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia kemudian menatap gadis muda yang kebetulan duduk di sebelah Mario Olsen, sang Tuan Muda dari keluarga Olsen, mantan saingan Saka. Kenapa mantan? Tentu saja Mario tidak akan mampu lagi bersaing dengan Saka meski ia mengurung diri berkultivasi selama seratus tahun.


"Nak Saka, apakah kau melihat gadis yang memakai pakaian hijau itu?"


Saka mengikuti pandangan Tuan Kota dan menemukan gadis yang dimaksud. Lumayan cantik, hanya satu tingkat di bawah Alice.


"Dia putriku, saat ini menjadi murid inti Sekte Naga Bumi dengan kultivasi ranah Jenderal tingkat tujuh di umur sembilan belas tahun," ucap Tuan Kota dengan bangga. Meski tidak bisa dibandingkan dengan Saka, tetapi jika dibandingkan dengan generasi muda lain, bakat putri Tuan Kota memang di atas rata-rata.


"Putrimu memiliki bakat kultivasi yang bagus, Tuan Kota!" puji Saka dengan sungguh-sungguh.


Tuan Kota tampak membusungkan dada dengan bangga mendengar pujian Saka. Bahkan sebelumnya ie berencana untuk menjodohkan putrinya dengan Saka, tetapi saat melihat Alice yang sangat cantik dengan bakat yang tak kalah mengerikan akhirnya Tuan Kota hanya bisa menyerahkan semuanya kepada takdir. Memang jenius akan selalu berpasangan dengan jenius lainnya.


Saka tersenyum tipis melihat tingkah Tuan Kota, lalu pandangannya beralih ke arena di mana pertarungan kelompok pertama sudah dimulai. Dengan ranah rata-rata Prajurit tahap akhir dan Jenderal tahap awal, pertarungan itu sedikit imbang.


Saka menatap penuh minat. Meski dulu ia digadang-gadang sebagai jenius Kota Tanica, nyatanya di Kota Rogo ini banyak jenius lainnya. Memang benar kata pepatah di atas langit masih ada langit.


Turnamen berlangsung dengan meriah. Meski yang bisa ikut hanya dua puluh tahun ke bawah, tetapi mereka sangat bangga melihat para generasi muda yang menjanjikan.


Saat sedang menyaksikan pertarungan antara Sekte Naga Bumi dan Sekte Arumdalu, di mana semua anggotanya adalah perempuan, Saka merasakan kehadiran kuat yang sedang menuju ke alun-alun.


"Immortal tingkat lima? Apakah leluhur keluarga Rajasa?" gumam Saka yang didengar oleh Tuan Kota.


"Apa ada sesuatu, Nak?"


Saka tersenyum tipis. "Sepertinya kita akan kehadiran tamu tak diundang," ucap Saka lalu melambaikan tangan. Sebuah formasi tipis menyelubungi alun-alun tanpa ada yang menyadari kecuali Tuan Kota, Alice dan para petinggi sekte.


"Ada apa ini? Kenapa ada formasi yang mengurung kita?" Para petinggi sekte itu panik, pasalnya formasi yang mereka rasakan adalah formasi tingkat tinggi yang tidak mungkin mereka hancurkan.


"Tenaglah, Tetua! Sebentar lagi akan ada tamu tak diundang, aku hanya tak ingin para peserta pingsan karena dominasi aura tamu tak diundang itu," ucap Saka melalui telepati yang membuat para petinggi sekte itu serempak menoleh ke arah Saka yang disambut dengan senyuman tipis.


Para petinggi sekte yang mendapati kenyataan itu pun menelan ludahnya dengan susah payah. Bagaimana mungkin pemuda itu tahu akan ada tamu tak diundang padahal mereka sudah mengedarkan persepsi mereka tapi tak mendapati apa-apa. Namun tak ada setengah batang dapat berlalu, mereka pun merasakan aura kuat yang setara dengan Tuan Kota mendekat ke arah mereka. Meski begitu, mereka tak merasakan tertekan berkat formasi yang mengelilingi alun-alun.


Semua orang yang merasakan kehadiran entitas kuat itu mendongakkan kepala.


"Itu leluhur keluarga Rajasa!" pekik salah satu penonton yang mengenali rupa pria tua yang melayang di atas alun-alun.


"SIAPA YANG MEMUSNAHKAN KELUARGA RAJASA?" Suara pria itu menggelegar penuh amarah.


Semua orang menatap leluhur keluarga Rajasa dengan ngeri, kemudian serentak menoleh ke arah Saka yang masih duduk dengan tenang.


Saka tersenyum miring, tangan kirinya melambai sementara tangan kanan terbuka lalu mengepal dengan cepat.


"BERISIK PAK TUA!" Ucapan Saka jatuh bersamaan dengan leluhur keluarga Rajasa yang terjun bebas tanpa bisa menguasai dirinya sendiri lalu menghantam arena tanpa ampun dengan wajah yang terlebih dahulu mendarat.


Menggunakan elemen anginnya, Saka memanipulasi udara di sekitar leluhur keluarga Rajasa untuk menekannya sehingga ia tak sanggup bangkit setelah menghantam lantai.


Semua orang melihat itu dengan mulut menganga tak percaya. Seorang Immortal menengah kini tak berdaya di depan seorang pemuda.


Saka kemudian melambaikan tangannya, mengendalikan angin untuk mengangkat leluhur Keluarga Rajasa yang sudah bersimbah darah dengan sorot mata ketakutan. Ingin melepaskan diri, tetapi seolah energinya diblokir oleh suatu kekuatan asing, sehingga ia hanya bisa pasrah saat perlahan melayang ke tempat Saka yang duduk tenang dengan satu tangan yang terangkat menyambut kehadiran leluhur Keluarga Rajasa.


"Halo, Pak Tua!" sapa Saka dengan senyum miring yang terlihat begitu mengerikan bagi leluhur Keluarga Rajasa itu.


"Si-siapa kau? Aku tidak ada urusan denganmu," ucap leluhur Keluarga Rajasa itu dengan gemetar.


"Oh ya? Bukankah kamu mencari siapa yang memusnahkan keluarga Rajasa? Kamu sudah berhadapan dengan orang itu dan kamu tidak mengenalinya? Ah, aku sangat kecewa." Dengan wajah dibuat murung, Saka mampu membuat leluhur Keluarga Rajasa itu mengumpati seluruh keturunannya yang menyinggung monster.


"Ma-maafkan aku, Anak Muda! Sepertinya ada kesalahpahaman di sini, mari kita selesaikan semuanya di sini." Leluhur Keluarga Rajasa itu mencoba melarikan diri.


Saka tersenyum manis, tetapi bagi orang lain senyum Saka bagaikan iblis.


"Tahukah kamu mengapa aku memusnahkan seluruh keturunanmu?"


Leluhur Keluarga Rajasa itu menggeleng.


"Apa kau tidak mengetahui kalau keturunanmu sudah mengkhianati umat manusia dengan menampung vampire yang berniat menginvasi alam ini?" pancing Saka. Ia menatap mata leluhur Keluarga Rajasa itu yang terlihat terkejut.


"Aku tidak tahu," jawabnya lemas. "Tiga puluh tahun aku mengasingkan diri dan baru keluar saat melihat giok jiwa milik keturunanku pecah," lanjutnya dengan jujur.


Saka yang memang sudah menggunakan mata ilusi tanpa merusak jiwa milik leluhur Keluarga Rajasa pun mengangguk-anggukkan kepala percaya.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan? Seluruh keturunanmu sudah musnah olehku, apakah kamu akan lanjut balas dendam?"


Leluhur Keluarga Rajasa itu menggeleng pelan. "Yang tua ini tidak berani, Tuan Muda!"


"Baiklah, aku akan mengampunimu karena kamu tidak tahu," ucapnya lalu mengeluarkan sebuah pil berwarna biru dan putih. "Minum ini!"


Tanpa membantah, leluhur Keluarga Rajasa itu meminumnya. Luka-lukanya langsung pulih seketika, lalu energi yang meluap-luap terasa di tubuhnya. Ia merasakan dinding penghalang untuk menerobos semakin tipis.


"Tuan Muda!" Leluhur Keluarga Rajasa itu menatap Saka dengan kaget.


"Aku mengampunimu, tapi untuk hukuman kepadamu karena sebagai leluhur tidak becus mendidik keturunannya, kamu harus mengelilingi seluruh kota dan membantai semua vampire yang ada. Selain pil penyembuh yang kamu minum, juga ada pil pengikat jiwa, jadi jangan berpikir macam-macam atau aku akan menyiksa jiwamu tanpa akhir," ancam Saka.


"Baik, Tuan Muda! Yang tua ini akan melaksanakan perintah Tuan Muda!" Leluhur Keluarga Rajasa itu kemudian membungkuk sebagai penghormatan.


"Baik, pergilah! Anggap saja ini sebagai oleh-oleh!" ucap Saka sembari melemparkan sebuah cincin dimensi dengan berbagai pil dan senjata di dalamnya.


"Terima kasih, Tuan Muda!" ucap leluhur Keluarga Rajasa itu lalu melesat pergi dari alun-alun.


Semua orang yang menyaksikan kejadian itu hanya mampu menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri.


Saka yang menyadari situasi mencekam itu kemudian tersenyum tipis.


"Ah, maaf karena masalah kecil ini mengganggu jalannya turnamen, silakan dilanjutkan!"


Masalah kecil kepalamu!