Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Undangan Tuan Kota


Hari berganti malam, Kota Rogo bergejolak. Musnahnya keluarga terbesar di Kota Rogo benar-benar mengguncang semua orang. Keberadaan vampire yang awalnya hanya sebatas rumor, kini benar-benar dipercayai setelah banyaknya orang yang bersaksi. Tuan Kota langsung pusing tujuh keliling.


Sementara sang pelaku, sedang bersantai dan bermesraan di penginapan. Meski begitu, nama Pendekar Saka melambung tinggi sebagai kultivator ranah Immortal yang memiliki elemen es. Keberadaannya tidak bisa disinggung oleh siapa pun mengingat kultivator yang menguasai elemen sangatlah langka.


Begitu pun Tuan Kota, ia bertindak sangat hati-hati dan memilih untuk membereskan semua kekacauan sebelum mengundang Saka ke istana kota untuk membicarakan beberapa hal terkait dengan vampire. Karena sejauh ini hanya Saka yang memiliki pengalaman langsung berhadapan dengan makhluk penghisap darah itu.


Farzan Abizar, adalah Tuan Kota Rogo yang sudah menjabat selama seratus tahun. Kekuatannya pun tidak lemah, ia berada di ranah Langit tingkat lima. Namun masalah yang terjadi di kota Rogo kali ini benar-benar membuat rambutnya yang semua hitam langsung memutih.


"Tuan Kota, saat ini seluruh sumber daya dari keluarga Rajasa sebagian sudah dialokasikan kepada masyarakat dan sebagian lagi disimpan di gudang istana kota." Salah satu Jenderal memberikan laporan.


"Baiklah, bagaimana dengan korban penculikan?"


"Saat ini para prajurit tengah mengantar mereka kembali ke desa masing-masing. Kami juga memberikan koin emas dan sumber daya sebagai kompensasi."


"Kerja bagus!" puji Tuan Kota. "Lalu untuk masalah Pendekar Saka, menurutmu apa yang harus aku lakukan?" Tuan Kota Farzan sedikit kebingungan mengambil keputusan. Karena sedikit saja menyinggung kultivator kuat itu, maka nasib seluruh rakyat Kota Rogo berada di ambang bencana. Bisa dibilang saat ini nyawa semua rakyatnya ada di tangannya.


"Tuan Kota, akan lebih baik jika Tuan Kota mengundang Pendekar Saka ke istana dan menjamunya. Bagaimana pun, Pendekar Saka sudah berjasa memusnahkan vampire yang bisa saja suatu saat nanti menargetkan kita sebagai makanan mereka. Kita harus membangun hubungan baik dengan Pendekar Saka," ucap sang jenderal memberikan masukan.


Tuan Kota tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kita memang harus membangun hubungan baik dengannya. Seorang pemuda yang belum berusia dua puluh tahun tapi sudah mencapai ranah Immortal? Masa depannya sungguh tak terbatas." Tuan Kota tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. "Baiklah, kalau begitu besok kirimkan undanganku kepada Pendekar Saka di penginapan. Aku akan menjamu Pendekar Saka sebelum acara turnamen berlangsung," titah Tuan Kota yang langsung disanggupi oleh bawahannya.


*


Pagi hari, Saka membuka mata saat pintu kamarnya diketuk. Ia melirik ke samping di mana Alice tertidur dengan lelap berbantal lengannya.


Saka tersenyum kecil, lalu mengecup kening Alice pelan sebelum memindahkan kepala wanitanya ke bantal dengan hati-hati.


Saka kemudian membuka pintu dan mendapati salah satu pelayan penginapan berada di depan kamarnya.


"Ada apa?" tanya Saka dengan suara serak khas bangun tidur.


"Mohon maaf menganggu tidurnya, Tuan! Tapi di bawah ada utusan dari istana kota yang ingin bertemu Tuan," jawab pelayan itu yang mampu membuat kening Saka berkerut.


"Ada urusan apa?"


"Saya juga tidak tahu, Tuan!"


Saka menghela napas pelan, ia sepertinya bisa menebak kenapa utusan dari istana kota mendatanginya. "Baiklah, katakan padanya aku akan datang dalam lima belas menit."


"Baik, Tuan!" jawab pelayan itu dengan patuh dan langsung pergi meninggalkan Saka yang kemudian memilih untuk membersihkan diri.


Sepuluh menit kemudian Saka sudah keluar dari kamar mandi. Ia melihat Alice yang rupanya sudah bangun dan sedang duduk di ranjang memandangnya.


"Selamat pagi," sapa Saka dengan senyum kecilnya.


Wajah Alice sedikit memerah mendapat sambutan manis dari sang kekasih. "Pagi," jawabnya singkat.


"Mandilah! Di bawah ada utusan dari Tuan Kota, setelah ini sepertinya kita akan pergi ke istana kota. Aku akan menunggu di bawah," ucap Saka sembari memberikan kecupan kecil di bibir Alice.


"Baiklah, aku akan mandi terlebih dahulu," balas Alice yang kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi.


Saka yang sudah rapi kemudian turun untuk menemui utusan dari Tuan Kota. Tampak di depan penginapan, seorang pria paruh baya tengah menunggunya.


"Maaf, karena membuat kalian menunggu lama," sapa Saka dengan sopan.


"Baiklah, ada apa kalian ke sini?" tanya Saka langsung.


"Tuan, kami diperintahkan oleh Tuan Kota untuk mengundang Tuan menghadiri jamuan sebagai rasa terima kasih karena Tuan sudah memberantas vampire yang bersembunyi di kota ini."


Saka mengangguk-anggukkan kepalanya. Sesuai dengan apa yang ia prediksi. Namun, jamuan di pagi hari? Ini sangat tidak biasa bukan?


Melihat raut wajah Saka yang sedikit aneh, utusan itu buru-buru berbicara, "Ini memang terlalu aneh, Tuan! Tapi Tuan Kota benar-benar meminta maaf karena mengundang Tuan di waktu yang tidak tepat. Turnamen di adakan hari ini, dan Tuan Kota harus datang untuk membuka acara, Tuan Kota hanya memiliki waktu di pagi hari. Tuan Kota juga takut terlambat jika menunda undangan untuk Tuan, takutnya Tuan sudah terlanjur pergi dari Kota Rogo sebelum kita sempat berterima kasih."


Saka hanya mengulum senyum. "Baiklah, aku akan datang, tapi kita tunggu istriku dulu. Sebentar lagi dia akan turun."


"Baiklah, Tuan!" sahut sang utusan patuh.


Mereka juga tak menunggu lama, Alice turun dengan anggun. Sosoknya yang dibalut dengan gaun biru langit dipadu warna putih sangat menampilkan sisi cerah tapi dingin di waktu yang bersamaan.


"Kita pergi sekarang, Sayang?" tanya Alice yang dijawab anggukan oleh Saka.


Ketiganya lalu pergi dari penginapan menuju istana kota. Hari masih sangat pagi, tetapi aktifitas sudah terlihat begitu padat. Beberapa orang yang mengenal sosok Saka menundukkan kepala saat berpapasan. Tak ada yang berani menatap mata Saka setelah mendengar semua sepak terjangnya.


Saka sendiri hanya membiarkan saja. Selama tidak ada yang mengganggunya, maka ia juga akan diam saja.


Karena letak penginapan yang tidak jauh dengan istana kota, hanya dalam waktu dua puluh menit mereka sudah tiba di gerbang istana. Tak ada halangan yang berarti sampai kemudian mereka sampai di salah satu ruangan istana, di mana saat ini banyak sekali makanan yang terhidang di meja.


Saka dan Alice dipersilakan untuk duduk sementara utusan itu akan memanggil Tuan Kota.


"Selamat datang di istana kecilku, Tuan Pendekar!" sapa Tuan Kota yang muncul dari salah satu pintu.


Saka bangkit dari duduknya menyambut kedatangan Tuan Kota. "Terima kasih untuk undangannya, Tuan! Meskipun saya rasa ini adalah tindakan yang berlebihan saat saya tidak melakukan apa-apa," ujar Saka merendah.


Tuan Kota tersenyum tipis. Ia menyukai karakter sopan dari Saka. Meski kuat, tapi tak memandang rendah orang lain.


"Maafkan saya karena mengundang Anda pagi-pagi seperti ini, Tuan Pendekar!"


"Tuan Kota, panggil saja aku Saka, dan ini adalah kekasihku, Alice!" ucap Saka memperkenalkan diri.


"Baiklah Nak Saka, mari kita sarapan terlebih dahulu. Ini adalah jamuan sederhanaku sebagai rasa terima kasih karena Nak Saka sudah membantu kota ini dengan memberantas para vampire dan antek-anteknya."


"Bukan apa-apa Tuan, aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Alam Kultivator tidak seharusnya diinvasi oleh makhluk lain. Apalagi tindakan mereka sudah di luar batas dengan menganggap kita hanyalah makanan mereka."


"Apa yang Nak Saka katakan memang benar. Para vampire itu sudah sangat meresahkan semua orang, untung saja ada Nak Saka yang membunuh mereka," ujar Tuan Kota dengan perasaan yang lebih lega. Selama ini ia hidup was-was karena takut kotanya juga menjadi tempat persembunyian para vampire layaknya di Kota Tanica. Namun, kekhawatirannya benar-benar terjadi.


"Tuan Kota, sebaiknya Tuan Kota memerintahkan banyak prajurit menyisir seluruh wilayah. Perbekali mereka dengan senjata berbahan perak, aku takut ada di antara mereka yang bersembunyi di dalam hutan dan berkolusi dengan para bandit seperti di Kota Tanica."


"Tentu, saya akan melakukan saran dari Nak Saka."


Suasana ruang makan di isi dengan perbincangan antara Saka dan Tuan Kota, sementara Alice lagi-lagi hanya diam.


"Nak Saka, apakah kamu tidak tertarik menonton turnamen?"


*


Maaf baru update, soalnya aku lembur


lembur mulu tapi gak tajir-tajir ini macem mana??