Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Perang dengan Vampire


[Ding! Selamat Tuan, telah membunuh 237 kultivator ranah Langit, mendapatkan 237 poin pengalaman]


[Ding! Selamat Tuan, telah membunuh 3 kultivator ranah Immortal, mendapatkan 30 poin pengalaman]


[Ding! Selamat Tuan ....]


Dering notifikasi dari sistem terus terdengar saat Saka menghabisi para petinggi pasukan musuh satu per satu. Meski begitu, semua yang bertempur sekarang adalah manusia. Masih ada vampire yang sepertinya akan menyerang di akhir.


Saka, Alice dan Thomas serta para Jenderal besar masih berada di barisan belakang sebagai antisipasi pasukan vampire yang belum muncul. Meski begitu, Saka tetap memegang senapan mesin miliknya dan sesekali menembak.


Ledakan terus menggema saat pasukan musuh menginjak ranjau. Terlihat seperti pembantaian sepihak yang membuat Saka menghela napas panjang.


"Ada apa?" tanya Alice yang melihat tingkah Saka.


"Tidak ada, hanya menyaksikan manusia-manusia bodoh yang mau diperalat oleh makhluk lain," ucap Saka sembari mengisi ulang peluru miliknya. "Demi ambisi tak seberapa, mereka bahkan tidak sadar kalau sedang dimanfaatkan. Pasukan vampire masih utuh, sementara manusianya sudah terbantai, aku tidak tahu harus mendeskripsikan bodohnya mereka seperti apa," lanjut Saka sembari mendesah pelan.


Thomas yang mendengar ucapan Saka pun menimpali, "Itulah manusia Nak Saka, mereka bisa lebih iblis dari iblis itu sendiri."


Saka membenarkan dalam diam. Bahkan ia pun mengalami bagaimana sang ayah mengabaikannya hanya karena ia sudah tak berguna. Bagi orang-orang seperti mereka, manusia lain hanya sebuah alat demi menggapai ambisi.


Tak berapa lama, Saka merasakan pergerakan besar-besaran dengan kekuatan yang sangat besar.


"SEMUA PASUKAN! MUNDURR!" teriak Saka menggunakan energi yang mampu didengar oleh semua prajurit.


Tanpa membantah, semua pasukan mundur dengan cepat sambil membantu teman mereka yang terluka.


"Pedang Semesta! Niat sejuta pedang!"


Jutaan pedang terbentuk dari elemen angin yang dipadatkan hingga menutupi seluruh area pertempuran. Semua orang yang melihat pedang itu bergidik ngeri. Para prajurit Kerajaan Victoria mempercepat langkah mereka untuk mundur sementara pasukan musuh waspada dan tidak ada kesempatan untuk mengejar pasukan yang mundur lantaran takut dengan jutaan pedang yang mengambang di udara.


"Bantai!"


Jutaan pedang turun dengan kecepatan extrim membantai seluruh pasukan musuh yang tersisa. Area lapang seluas hampir lima belas kilometer kini penuh dengan potongan mayat.


Saka kemudian mengeluarkan Orion dan Gentala.


"Kalian pakai ini, kita akan menyambut mereka sebentar lagi," ucap Saka sembari memberikan armor kepada Alice, Thomas, Orion, Gentala dan para Jenderal.


Semua orang yang menerima armor dari Saka tampak membola dengan tangan gemetar.


"A-artefak tingkat De-dewa!" Suara Thomas bergetar dan menatap Saka dengan takjub. Ia tak bisa mendeskripsikan seberapa kaya pemuda di hadapannya ini. Ia bahkan memberikan artefak tingkat dewa tanpa berkedip, yang mana artefak ini sebelumnya tidak pernah ada di Alam Kultivator dan hanya ada dalam catatan kuno saja.


"Cepatlah kalian pakai! Kecuali serangan dari ranah Dewa, maka kalian akan aman," ucap Saka enteng. Semua orang meneguk ludah lalu memakai armor masing-masing. Cahaya emas terlihat saat mereka memakainya, tapi sesaat kemudian cahaya tersebut menghilang bersamaan dengan armornya. Armor tersebut menyatu dengan sang pengguna.


Semua orang melebarkan senyum. Kini, mereka tak akan khawatir mati dengan jaminan artefak dewa.


"Baiklah, sudah saatnya kita berpesta!" seru Saka sembari mengangkat pedang miliknya.


Sebelas orang termasuk Saka, langsung melesat menyambut pasukan vampire yang hampir tiba. Sementara para prajurit kembali memulihkan diri di perkemahan. Mereka tidak bisa ikut berperang karena kekuatan yang sama sekali tidak sebanding.


Thomas menelan ludah saat melihat pasukan vampire di kejauhan.


"Nak Saka, pasukan yang sekarang memang hanya berjumlah lima ratus ribu, tapi kekuatan terendah di ranah Immortal, bukankah jika hanya mengandalkan kekuatan Kerajaan Victoria kita hanya akan menjadi makanan mereka?" ucap Thomas sembari bergidik ngeri.


Saka terkekeh. "Vampire yang tidak terkena efek matahari hanya mereka yang berada di ranah inmortal, dan mungkin saja portal di Benua Tengah sudah sempurna sehingga bisa membawa pasukan sekuat ini," ucap Saka menjelaskan.


Sebuah serangan mendadak berskala besar terarah kepada mereka, tetapi Saka dengan cepat membuat ruang kacau semacam black hole dan menelan serangan itu.


"APA?!" Mata semua orang membola melihat itu.


Saka terkekeh kecil. "Apa lagi yang kalian tunggu? Mari kita BANTAI!" serunya sambil menghilang dan muncul di depan pemimpin pasukan para vampire yang sudah berada di ranah Mahayana.


"Halo, Bro!" sapa Saka yang muncul tiba-tiba membuat pemimpin itu terjengkang.


BANG!


Satu pukulan murni menggunakan tenaga fisik membuat vampire itu terbang menghantam bukit kecil hingga hancur.


Saka terdiam dengan mulut terbuka. Ia hanya berada di ranah Saint King tingkat akhir dan lawannya adalah Mahayana tingkat dua. Namun ia tak menyangka, hanya dengan tenaga fisik saja bisa membuat vampire itu melesat bak peluru.


"Benar-benar kuat," gumam Saka dengan senyum lebar. Ia kemudian menyusul vampire itu yang tengah berusaha bangkit setelah memuntahkan seteguk darah.


"Ayo bangun, ini perang bukan waktunya malas-malasan," ucap Saka yang sudah berada di dekat sang pemimpin vampire.


Pemimpin vampire itu tampak terkejut melihat Saka. Ia tadi sedang melihat jalannya pertarungan, tapi tiba-tiba ada seseorang memukulnya hingga seperti ini. Ia pikir seorang monster tua datang sebagai pertahanan terakhir Kerajaan Victoria, tapi yang ia lihat kini justru seorang pemuda yang belum genap dua puluh tahun.


"Apa kamu yang memukulku?" tanya vampire itu ingin memastikan.


"Hei, kau jangan main fitnah, ya! Mana ada aku mukul! Itu tadi hanya salam kesopanan karena kita baru saja bertemu. Tapi siapa sangka kamu akan terbang saat kutepuk," ejek Saka yang membuat vampire itu merah padam menahan amarah.


"SIALAN! AKU AKAN MEMBUNUHMU!" Tekanan kuat ranah Mahayana menyebar, tapi beruntung Saka sudah membuat antisipasi dengan memasang formasi yang mengurung keduanya sehingga orang-orang di luar tidak terkena imbas.


Vampire itu melesat dengan kecepatan tinggi. Jika Saka tak memiliki mata dewa, maka akan sangat kesulitan untuk melihat pergerakan vampire yang memang terkenal dengan kelincahan dan ketajaman inderanya.


Serangan demi serangan dilemparkan oleh vampire itu tetapi bisa dihindari oleh Saka dengan mudah. Tentu saja menggunakan teknik teleportasi, karena Saka tak yakin bisa mengimbangi pemimpin vampire itu jika ia menggunakan langkah angin.


BUGH!


DUAAK!


Setelah memblokir satu serangan, dengan gerakan cepat Saka menyarankan tendangan yang lagi-lagi membuat vampire itu menukik tajam.


BRAAKK!


Meski begitu, kemampuan alami regenerasi vampire tak bisa diremehkan. Hanya dalam hitungan tarikan napas, vampire itu kembali dalam kondisi seperti semula.


"Ohoho! Vampire jelek! Apa kamu lelah?" Saka tersenyum mengejek.


Vampire itu terdiam sembari mengusap darah yang ada di bibirnya.


"Anak muda, kau terlalu naif. Bahkan jika kau bisa mengalahkanku, semua teman-temanmu juga akan mati," ucap vampire itu sembari tertawa keras.


Saka menoleh ke arah Alice dan yang lainnya. Kini mereka tengah ditekan oleh beberapa vampire yang berada di ranah Saint King. Meski begitu berkat armor yang mereka gunakan, mereka tidak terluka dan justru energi mereka seperti diisi ulang.


"Bagaimana mungkin?" Vampire itu tak percaya saat melihat serangan gabungan dari anak buahnya tak bisa melukai sebelas orang yang tengah menggila membantai semua vampire yang ada.


Saka terkekeh. "Apa aku pikir aku adalah MC naif yang merasa tak tertandingi dan terlena dengan wanita lalu bertemu dengan tokoh kuat dan aku kehilangan orang yang aku sayangi? Sorry aja ya, plot MC naif adalah hal yang sangat aku benci. Cih, apa gunanya sok kuat dan sok baik kalau nggak bisa lindungin diri sendiri dan orang yang disayang?" Tak sadar, Saka justru mengomel kala tiba-tiba teringat salah satu novel yang ia baca, di mana karakter utama sangat bodoh dan naif hingga terus dimanfaatkan sampai akhir hayat pun mati mengenaskan.


Sang vampire yang tiba-tiba mendengar omelan pun hanya menatap Saka heran karena tak mengerti dengan kosakata yang digunakan oleh Saka.