Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Berlatih 2


Hamparan padang ilalang setinggi lutut menyapa netra Saka saat muncul di dalam dimensi cermin. Namun, baru saja ingin menghela napas, Saka merasakan aura binatang buas level enam yang setara dengan ranah Langit.


"Berhati-hatilah, ada hewan buas tidak jauh dari sini, hewan buas itu setara dengan ranah Langit," ucap Saka memberikan peringatan kepada Vega dan Alice yang dengan cepat mengeluarkan senjata masing-masing. Alice dengan pedang, dan Vega menggunakan panah.


Benar saja, tak berapa lama usai Saka berbicara, seekor hewan buas tampak menatap ketinganya dengan agresif.


"Sial, itu cheetah! Kalian mundurlah! Kecepatannya tidak akan bisa kalian ikuti!"


Tak menunggu dua kali, Vega dan Alice mundur sedikit jauh dari tempat Saka berada.


"Baiklah, kucing kecil! Mari kita bermain!" ucap Saka dengan seringai tipis. Ia akan mencoba kekuatan barunya kepada kucing malang di depannya ini.


Cheetah itu tampak mendengus, hewan yang terkenal dengan kecepatannya yang mampu menandingi mobil itu melesat dalam hitungan detik dengan kedua cakar yang siap merobek apa pun yang ada di depannya.


Saka juga tak kalah cepat, melesat menggunakan langkah anginnya menyongsong serangan sang cheetah sembari mengumpulkan energi di kepalan tangannya.


Saat jaraknya tinggal beberapa meter, Saka berseru, "Harimau Membelah Gunung!" Gumpalan energi berputar dengan ganas di kepalan tangan Saka yang langsung ia arahkan kepada cheetah yang sudah melompat siap menerima Saka.


Duaakk!


Boom!


"Eh, mati?" Saka hanya menatap bodoh ke arah cheetah yang kepalanya sudah hancur tak berbentuk menyisakan sebuah inti energi yang tergeletak di tanah.


"Kak Saka, kamu tidak apa-apa?" Alice dan Vega mendekat dengan cepat.


Saka mengedikkan dagunya ke arah sang cheetah yang tergeletak tanpa kepala.


"Sebaiknya kalian ambil inti energi itu, meski tidak bisa dibawa keluar, tetapi akan bermanfaat jika kultivasi di sini."


Alice tanpa malu langsung mengambil inti energi itu karena ia harus secepatnya mencapai ranah Bumi untuk menagih hadiah yang sudah dijanjikan oleh Saka.


Lanjut berjalan, mereka hanya menemukan monster dan hewan buas level dua atau tiga yang mana digunakan oleh Vega dan Alice untuk latihan sementara Saka memantau dari belakang.


"Masih terlalu lambat, jika hewan buasnya sejenis cheetah kalian akan langsung mati," ucap Saka mengomentari pertarungan Alice dan Vega dengan tiga ekor beruang grizzly level dua yang setara dengan ranah Jenderal menengah. Namun seperti layaknya hewan buas dan monster, meski berada di ranah yang sama, insting dan kekuatan tarung mereka di atas rata-rata manusia.


"Cari celah untuk menyerang!"


"Gunakan tipuan!"


"Pertajam insting!"


"Jangan membuka celah, hewan buas dan monster terbiasa bertarung dengan acak dan tidak bisa ditebak, jadi kalian harus bisa berimprovisasi sendiri saat bertarung."


Bukk!


Kepala beruang grizzly terakhir tumbang bersamaan dengan Vega dan Alice yang tergeletak kelelahan.


"Huh ... huh ... ternyata kau sangat cerewet," keluh Alice sembari mengatur napas.


"Ini resiko, kalian sendiri yang ingin mengikutiku berlatih," sahut Saka tak acuh sembari memberikan dua pil pemulih energi kepada Alice dan Vega.


Keduanya lantas menyerap pil itu dan dalam hitungan beberapa hela napas, vitalitas mereka kembali pada puncaknya.


"Baiklah, hari sudah mulai malam, sebaiknya kita mencari goa untuk beristirahat," ucap Saka sembari mengedarkan persepsinya mencari keberadaan goa yang sepertinya cukup susah karena mereka berada di padang ilalang.


Akhirnya dalam jarak dua puluh lima kilo di arah tenggara, Saka menemukan keberadaan goa yang ada di atas tebing.


"Pegangan dan pejamkan mata dengan erat."


Kedua gadis itu hanya mengangguk patuh tanpa bertanya meski penasaran. Saka tersenyum simpul lalu melakukan teleportasi di ke dalam goa setelah sebelumnya tidak mendeteksi ancaman bahaya.


"Buka mata!"


Kedua gadis itu membuka mata, tetapi mereka kemudian dibuat takjub saat mendapati sudah berada di dalam goa hanya dalam hitungan detik. Tidak seperti saat bersama Alice di mana Saka menggunakan langkah angin sehingga Alice masih mampu merasakan angin yang menerpa wajahnya, kini Alice hanya merasa menutup mata sesaat tanpa merasakan apa pun dan tiba-tiba sudah berada di dalam goa.


Saka kemudian memasang sebuah formasi pertahan di pintu goa, lalu berjalan masuk diikuti oleh Alice dan Vega.


"Kalian tunggu di sini, aku akan mencari kayu bakar di luar."


Lantas tanpa menunggu jawaban kedua gadis itu, Saka langsung menghilang dan muncul kembali di luar goa. Dengan cepat, ia mengumpulkan ranting kering untuk nanti ia gunakan sebagai api unggun di dalam goa.


Tak butuh waktu lama, kayu bakar terkumpul dan Saka kembali ke dalam goa lalu membuat api unggun saat mentari benar-benar telah tenggelam. Cahaya di dalam goa sedikit temaram dan tidak segelap tadi berkat api unggun ini.


Vega dan Alice tampak mengerutkan kening. "Apa itu mie ayam dan bakso?"


Saka menepuk keningnya sendiri karena lupa jika di dunia ini tidak ada yang mengenal makanan itu. Lantas, Saka pun melambaikan tangan dan di depannya kini sudah tersedia satu mangkuk bakso dan satu mangkuk mie ayam, lengkap dengan botol kecap, saus dan sambal.


"Yang ini namanya bakso, yang ini namanya mie ayam," jawab Saka sembari menunjuk kedua mangkuk secara berurutan.


Alice dan Vega tampak terpana dengan hidung yang bergerak-gerak.


"Baunya enak, aku mau yang ini," ucap Aluce sambil menunjuk mangkuk bakso.


"Aku mau yang ini," ucap Vega sembari menunjuk mangkuk mie ayam.


"Baiklah, begini cara makannya." Saka kemudian memberikan racikan bumbu di mangkuk bakso Alice. "Kamu suka yang pedes apa enggak?"


"Pedes." Saka kemudian menambah sambal.


"Kenapa kamu nggak ngikutin?" tanya Saka kepada Vega saat melihat gadis itu justru melongo melihat mangkuk milik Alice yang sudah berubah warna.


"Eh, itu ... bagaimana kalau Kak Saka membantuku? Aku takut rasanya tidak enak," jawab Vega dengan sedikit takut. Bagaimana pun ia tak terlalu akrab dengan Saka.


Saka tersenyum tipis. "Baiklah!"


Kedua mangkuk berbeda menu kini sudah siap disantap, tetapi bukannya makan, kedua gadis itu justru menatap Saka intens.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Saka dengan alis yang terangkat sebelah, heran.


"Mangkuk Kak Saka mana?"


Haaa, ternyata itu yang terjadi. Saka melambaikan tangan sekali lagi dan semangkuk mie bakso pun tesaji. Mengulangi hal yang sama seperti yang ia lakukan di mangkuk Alice dan Vega, Saka menambah porsi sambal agar lebih pedas.


"Sudah, ayo kita makan!" ucap Saka lalu mulai menyantap mie bakso miliknya dengan nikmat.


"Kak Saka, kenapa di mangkukmu ada keduanya?" protes Alice tak terima.


"Memangnya kenapa, nggak boleh?" tanya Saka usil yang membuat Alice memberengut. Namun, saat satu sendok bakso menyapa indera pengecapnya, rasa kesal Alice menghilang seketika dan mulai sibuk dengan bakso miliknya.


Malam itu, ketiganya hanya mengobrol ringan setelah makan sehingga membuat kedekatan mereka semakin intens.


**


Hiks!


Indera pendengar Saka yang peka menangkap suara tangisan yang akhirnya membuat matanya terbuka.


"Alice, kenapa?" Saka mendekat ke arah Alice yang menangis, tapi saat itu juga ia menyadari rasa dingin ekstrem yang membuat Alice kesakitan dan Vega meringkuk kedinginan, sampai tak sanggup untuk sekedar berbicara.


Dengan cepat, Saka melapisi Vega dengan energi miliknya bercampur dengan setitik Api Naga Abadi yang menghangatkan. Tak selang lama, Vega mulai bisa menguasai dirinya dan tak lagi menggigil.


"Kak Saka," ucapnya lemah.


Saka mengangguk, lalu menatap Alice yang meringkuk kesakitan. "Kamu tetap di sini, aku akan membantu Alice."


Vega mengangguk, Saka kemudian mendekat ke arah Alice. Sebagai pemilik inti es semesta, Saka tak terpengaruh dengan dingin ekstrem yang dikeluarkan dari tubuh Alice.


"Alice, tenang ya, kamu akan baik-baik saja," ucap Saka sembari mengalirkan energi hangat dari punggung Alice. Namun seperti memiliki lubang hitam, energi Saka tersedot tanpa satu pun bertahan di badan Alice.


Saka kemudian melepaskan tangannya, sedikit kebingungan karena elemen api miliknya bahkan tidak membantu.


"Sistem, apa yang terjadi dengan Alice?"


[Ding! Ini adalah proses kebangkitan fisik Dewi Es miliknya, Tuan!)


"Sial, kenapa harus sekarang?" Saka hanya mampu mengumpat.


***


Novel ini memang sudah kontrak dengan NT, dan aku juga MENGUSAHAKAN untuk update setiap hari, tapi ada kalanya aku juga lembur di kerjaan sampai belasan jam. Jadi, kalau aku libur sehari nggak update nggak salah kan? aku juga butuh istirahat, di sini pendapatanku nggak seberapa, sehari seribu, dapat beras berapa biji emang?


Jadi, mari kita saling menghargai aja ya, aku juga udah berusaha kok, kalau ada yang bilang ini resiko penulis, memang benar! Tapi kami para penulis juga manusia, kecuali kalian nyawernya piala muehehehe