
Saka gemetar menahan kegembiraan. Teknik Hukum, Ruang dan Waktu terlalu luar biasa untuknya. Ini adalah teknik tingkat tinggi di mana penggunanya mampu memanipulasi ruang, waktu, bahkan membuat domain atau yang lebih besar membuat dunia.
"Sistem, siapa di alam ini yang mempunyai teknik Hukum, Ruang dan Waktu?"
[Ding! Tidak ada, Tuan! Karena Tuan yang ditakdirkan menjadi penguasa alam, maka ke depannya, hanya Tuan satu-satunya yang menguasai teknik ini]
Ugh! Saka semakin tremor.
"Sistem, beli teknik Hukum, Ruang dan Waktu, langsung pasang!"
[Ding! Membeli teknik Hukum, Ruang dan Waktu menggunakan voucher gratis 24 jam
... pembelian berhasil]
[Ding! Memulai pemasangan]
Merasakan hal yang sama seperti sebelumnya, Saka kini tak lagi merasa terganggu. Ia sangat bahagia karena menemukan teknik yang luar biasa. Bukankah dengan begini ia bisa pergi ke alam mana saja sesukanya?
[Ding! Pemasangan berhasil, sekarang Tuan sudah menguasai teknik Hukum, Ruang dan Waktu. Harap Tuan banyak-banyak berlatih sehingga teknik itu bisa digunakan secara maksimal demi keseimbangan alam semesta]
Saka tersenyum. Ini bahkan lebih berharga dibanding penemuan goa dan isinya.
Saka kembali menggulir layar. Ia terus membeli semua hal yang sekiranya ia butuhkan. Meski beberapa kali harus mendecak kesal karena item yang ia inginkan masih berwarna abu-abu.
Asyik berbelanja, Saka bahkan tidak sadar sudah berapa banyak item yang ia beli sampai-sampai siatem mengeluarkan sirine, yang membuat Saka tersentak kaget hingga matanya terbuka.
"Sistem, kenapa kau membuat suara sirine? Apakah ada manusia yang terancam nyawanya di sekitar sini?" tanya Saka polos.
[Ding! Tidak, Tuan!]
"Lalu kenapa kamu membuat suara sirine? Untung saja aku tidak punya penyakit jantung!" gerutu Saka yang masih belum pulih dari rasa terkejutnya. "Perbuatanmu termasuk kategori membahayakan, tau?"
[DING! PERBUATAN TUAN TERMASUK KATEGORI PERAMPOKAN!]
Saka terhenyak. Meski suara sistem masih datar, tetapi volumenya lebih tinggi dua kali lipat membuat kepalanya sedikit pusing.
"Sistem, kamu marah?" tanya Saka dengan hati-hati.
Tak ada jawaban, membuat Saka kemudian melihat list belanjanya di toko sistem hari ini.
- 1 juta pil penyembuhan
- 1 juta pil pemulih energi
- 1 juta pil penguat pondasi
- 1 juta pil penguat jiwa
- 2 kaca dimensi
- 1 cincin dunia
- 1 pagoda naga
- 1 juta eliksir temulawak ungu
- 1 juta eliksir kembang piring pecah
- 1 juta eliksir akar rimpang
- 1 juta eliksir timun lima warna
- Teknik Pedang Semesta
- Teknik Auman Naga
- Teknik Hukum, Ruang, dan Waktu
- Teknik Jari Setan
- Teknik Menyatu Alam
- Teknik Mata Ilusi
- Teknik Jejak Jiwa
- Teknik Tombak Penghancur Langit
- Teknik Alkemis
- 1 Pedang Dewa
- 1 Tombak Legenda
Saka menggaruk alisnya. Ternyata banyak juga, batinnya dengan tersenyum malu.
"Sistem, ini bukan perampokan, tapi memanfaatkan kesempatan. Aku tidak tahu akan ada kesempatan seperti ini kapan lagi, sementara aku mendapat firasat jika sesuatu telah terjadi di alam kultovator ini. Sebagai calon penguasa, bukankah tugasku untuk menyeimbangkan alam?" Saka berkelit dengan lihai meski ia mengatakan yang sebenarnya.
Menunggu beberapa saat, tak ada suara dari sistem, membuat Saka bingung. Apakah sistem masih marah?
Tak ingin ambil pusing, Saka pun memutuskan untuk memasang semua teknik yang belum terpasang.
"Sistem, pasang semua teknik yang belum terpasang!"
[Ding! Memulai pemasangan!"
"Tuan Muda, apa yang terjadi?" Dengan panik, Orion mendekati Saka yang berguling-guling di kasur.
Orion segera memeriksa Saka dengan seluruh kemampuannya, tetapi ia tidak menemukan sesuatu yang salah. Ia kemudian mencoba mengalirkan energi, tetapi mendapat tolakan yang cukup kuat hingga membuatnya tersentak.
"Apa yang terjadi?" gumam Orion sembari melihat Saka yang sudah basah kuyup oleh keringat.
Saka saat ini tak mempedulikan Orion yang panik dan gelisah. Rasa sakit ini seperti hukuman yang sengaja diberikan oleh sistem.
Saka menggeretakkan gigi menahan teriakan. Sialan, Sistem! Bukankah hukumanmu ini tidak manusiawi?
Saka hanya mampu mengumpat dan mengeluh di dalam hati. Ia tak sanggup lagi berbicara lain kecuali menjerit kesakitan. Proses ini berlangsung selama dua puluh menit.
Selama itu pula sudah tak terhitung berapa nama hewan yang saka absen menemani acara mengumpat sistem.
Saat rasa sakit mereda, Saka hanya mampu terbaring lemas di ranjang. Ia tak mampu berbicara saat Orion menanyakan keadaannya. Hanya berkedip dua kali, berharap pemuda itu memahami isyaratnya, setelah itu hanya gelap menyapa.
*
Saka membuka mata saat jarum jam di panel sistem menunjukkan angka delapan. Saka bangun dari ranjang dengan perasaan yang sangat segar. Semua teknik yang kemarin dipasang telah dikuasainya.
"Tuan Muda, Anda sudah tidak apa-apa?" Orion yang sejak tadi malam tidak pernah beringsut dari pinggir ranjang, bertanya dengan sangat khawatir. Ia merasa tak berguna karena tidak bisa melakukan apa-apa demi mengurangi rasa sakit yang diderita oleh Tuannya.
"Tidak apa-apa, kau tidak perlu khawatir," jawab Saka. Sembari meregangkan tubuhnya, Saka memfokuskan persepsinya untuk mendeteksi luar kamar, dan hanya bisa mendesah pasrah saat dua wanita beda usia itu tengah mondar-mandir di depan kamarnya.
"Orion, di luar nanti ada ibu dan adikku, nanti aku akan memperkenalkanmu sebagai kakak angkatku, yang tidak sengaja bertemu dan ikut tinggal di sini. Aku hanya tidak mau mendapat banyak tanya dari ibuku."
"Baik, Tuan Muda! Saya akan mengikuti aturan Tuan Muda!"
Sudut mulut Saka sedikit berkedut. Mana ada seorang kakak yang memanggil adiknya dengan sebutan Tuan Muda? Namun Saka tak bisa mengubah semua itu seenaknya. Sebagai bawahan setia, Orion tidak bisa bersikap lebih lancang dari ini.
"Baiklah!"
Saka kemudian menghilangkan formasi array kedap suara, lalu berjalan keluar kamar diikuti oleh Orion.
"Saka!"
"Kak Saka!"
Saka hanya tersenyum menyambut sapaan keduanya.
"Ada apa, Bu? Sepertinya kamu sangat gelisah?"
Sinta menatap Saka dengan khawatir. "Aku sudah memanggilmu sejak tadi, tapi kau tidak menyahut juga. Aku takut terjadi apa-apa."
"Tenanglah, Bu! Aku baik-baik saja, hanya terlambat bangun karena terlalu lelah tidur." Saka berbohong, tak ingin membuat ibunya khawatir.
"Eh!"
Sinta dan Alice berteriak bersamaan. Mereka baru menyadari tampilan baru Saka. Mungkin karena sangat khawatir, maka hati merespon lebih cepat daripada mata.
"Kak, ini benar-benar kamu?" Mata Alice berbinar. Meski masih ada gurat malu, tapi Alice sudah lebih nyaman berinteraksi dengan keluarga barunya.
"Tentu saja ini aku, memangnya siapa lagi?" Saka tersenyum masam, ia lupa mengubah penampilannya.
"Kau sangat tampan, Nak!" Sinta tak henti berdecak kagum melihat perubahan Saka.
"Ah, Ibu! Bukankah aku sudah tampan sejak lahir?" Sedikit narsistik tidak masalah bukan?
"Memang benar, tapi saat ini kau berkali-kali lipat lebih tampan. Lihat saja Alice, dia sampai mengeluarkan air liur."
Saka menoleh, dan Alice segera mengusap sudut bibirnya yang kering. "Ibuuu!"
Saka dan Sinta terkekeh. Perhatian Sinta kemudian beralih ke pemuda yang ada di belakang anaknya.
"Siapa dia, Saka?"
Saka membawa Orion lebih dekat padanya dan memperkenalkan dengan keluarganya.
"Perkenalkan, Bu! Namanya Orion Dirgantara, mulai saat ini dia akan menjadi kakakku!"
"Salam, Nyonya! Nama saya Orion!"
Sinta menggeleng-gelengkan kepalanya. "Karena kau sekarang menjadi kakak anakku, maka kau juga anakku, panggil aku Ibu seperti yang lain."
Mata Orion sedikit mengembun. "Baik, Ibu!"
"Nah, berhubung semuanya sudah berkumpul, mari kita semuanya masak dan sarapan."
Sinta bergegas ke dapur untuk memasak. Karena tadi begitu khawatir dengan Saka, ia bahkan belum sempat membuat sarapan.
"Tidak perlu, Bu! Aku memiliki makanan untuk kita," ucap Saka lalu mengeluarkan berbagai makanan yang ia beli dari sistem.
Melihat berbagai makanan aneh di meja, semua orang menatap Saka bingung.
"Makanan apa itu?" tanya Sinta penasaran.
"Oh, itu namanya mie instan, lengkap dengan dua telur, untuk makanan penutupnya adalah puding coklat dan strawberry. Ayo semuanya kita makan!"
Saka bernostalgia dengan rasa mie instan miliknya.
"Bumi, kapan aku bisa kembali?" bisiknya pelan nyaris tak terdengar.