
Di sebuah wilayah sekte yang berada di Lembah Hitam, Kota Mojo, seorang pria paruh baya tampak menggebrak meja hingga hancur berkeping-keping.
"APA KATAMU?"
Seorang murid sekte yang berada di ranah Raja tampak menggigil ketakutan tertekan oleh aura ranah Immortal tingkat satu milik patriak Sekte Lembah Hitam itu.
"A-ampun Patriak, pasukan yang kita kirim ke kota Tanica semuanya telah dibantai oleh seorang pemuda yang memiliki kekuatan misterius. Kini, para penduduk kota Tanica juga mengetahui tentang keberadaan vampire dan melakukan banyak persiapan dengan senjata perak," ulang murid itu dengan terbata.
"Bagaimana ini bisa terjadi, Mandra?" Seorang laki-laki paruh baya lain yang memiliki kekuatan lebih tinggi keluar salah satu sudut yang gelap.
"Tuan, Zen!" Patriak Mandra tergagap. Ia yang sudah berada di ranah Immortal pun merasakan tekanan dari pria paruh baya bernama Zen itu.
"Mandra, apakah hanya ini yang bisa kamu lakukan? Jika sampai pihak kerajaan mengetahui keberadaan kami, kita semua akan hancur sebelum portal bisa sempurna dan membawa pasukan kami yang berada di atas ranah Immortal. Saat ini portal hanya mampu membawa orang yang berada di ranah Immortal dan itu belum cukup untuk melawan pihak kerajaan." Pria paruh baya dengan jubah hitam dan kulit pucat itu murka sekaligus gelisah.
"Tuan Zen, aku juga tidak tahu kenapa ini bisa terjadi, tapi aku akan mengerahkan murid-muridku untuk meredam berita yang beredar," ucap Patriak Mandra yang juga menahan geram. Padahal tinggal sedikit lagi rencana merek akan berhasil, tetapi ada seseorang yang merusaknya.
"Lakukan dengan cepat, Mandra! Waktu kita tidak banyak." Selesai berucap, pria paruh baya itu menghilang dengan cepat.
"Tunggu apa lagi? Cepat menyebar dan bunuh semua orang yang mengetahui tentang keberadaan vampire!" teriak Mandra kepada murid yang sedari tadi terdiam ketakutan.
"Ba-baik, Patriak!" Dengan langkah gemetar, murid itu melesat keluar dari ruangan pemimpin sekte mereka.
Saat Sekte Lembah Hitam tengah mengerahkan pasukannya untuk meredam berita tentang vampire, kini Tetua Rama sudah sampai di istana dan bertemu dengan Raja Victoria.
"Salam, Yang Mulia!" ucap Tetua Rama sembari berlutut di hadapan Raja Victoria yang bernama Dharma.
"Bangunlah, Tetua! Salammu keterima," sambut Raja Dharma dengan penuh wibawa.
Ruang pertemuan Kerajaan Victoria kini sudah dipenuhi oleh para pejabat tinggi yang akan memulai rapat tentang Klan Darah yang semakin merajalela, sehingga kedatangan Tetua Rama yang ingin membawa kabar tentang Klan Darah pun disambut dengan hangat.
"Berita apa yang kau bawa, Tetua Rama?" tanya Raja Dharma setelah hening selama beberapa saat.
"Ampun Yang Mulia, kedatangan hamba ke Istana Kerajaan ingin memberikan kabar tentang Klan Darah," ucap Tetua Rama dengan hati-hati sebelum kemudian melanjutkan ucapannya. "Klan Darah sudah menyebar di seluruh kota-kota yang ada Kerajaan Victoria, termasuk di Kota Tanica. Seperti yang terjadi di beberapa kota lain, Klan Darah menggaet para bandit untuk menculik dan menjarah penduduk di siang hari, sementara saat malam hari mereka yan bergerak. Namun, suatu ketika ada seorang Tuan Muda yang memiliki kekuatan yang sangat besar menemukan markas Klan Darah dan memusnahkannya, dari situ akhirnya kita semua tahu identitas asli dari Klan Darah, mereka adalah vampire."
Suara mendesis dan dengungan terdengar setelah Tetua Rama selesai berbicara. Keadaan di ruang pertemuan menjadi tidak kondusif, semua orang mengemukakan ketidakpercayaannya.
"Diam!" Suara Raja Dharma disertai dengan energi membuat suasana di ruang pertemuan kembali hening.
"Apa benar yang kamu katakan tadi, Tetua Rama?"
"Ampun Yang Mulia, hamba tidak berani membuat cerita bohong. Ada banyak warga desa yang menjadi saksi perubahan para vampire itu saat mereka bertarung dengan Tuan Muda Saka," jelas Tetua Rama mencoba meyakinkan.
"Siapa Saka?"
"Tuan Muda Saka adalah Tuan Muda yang memberantas Klan Darah di Kota Tanica, Yang Mulia!"
"Tuan Muda Saka awalnya adalah Tuan Muda Keluarga Hirawan, tetapi akibat konflik internal, Tuan Muda Saka memutuskan hubungan dengan Keluarga Hirawan dan menjadi kultivator bebas, tetapi dia sangat kuat, karena bisa bertarung dengan lawan yang dua tingkat di atasnya. Saat ini Tuan Muda Saka berumur 17 tahun dan sudah mencapai ranah Langit," jawab Tetua Rama. Andai Tetua Rama tahu, jika saat ini Saka sudah berada di ranah Immortal dan lebih kuat darinya, mungkin ia akan muntah darah.
"APA? RANAH LANGIT?" Tak hanya Raja Dharma, tetapi para menteri dan jenderal juga sangat terkejut mendengar ucapan Tetua Rama. Ribuan tahun dalam sejarah Kerajaan Victoria, tidak pernah ada yang bisa mencapai ranah Langit di usia 17 tahun.
"Ada jenius seperti itu? Bagaimana tidak pernah terdengar?" tanya Raja Dharma dengan heran. Diskusi kemudian pecah di ruangan itu hingga mereka tak sadar jika pembahasan sudah berubah arah.
"Mohon Ampun, Yang Mulia! Sepertinya pembahasan kita sudah melenceng jauh." Tetua Rama mengingatkan, barulah semua orang akhirnya sadar jika saat ini prioritas mereka adalah Klan Darah.
"Baiklah, jika beritamu benar adanya, berarti kelemahan mereka adalah perak," ucap Raja Dharma yang diangguki oleh semua orang. "Jenderal Gara, kumpulkan pasukan dan mulai patroli ke semua kota dan desa yang ada di ibukota kerajaan. Menteri Sumber Daya, berikan mereka perbekalan senjata berbahan perak. Tetap waspada dan laporkan apa pun yang terjadi," titah Raja Dharma.
"Baik, Yang Mulia! Kami mohon undur diri untuk melaksanakan perintah!" ucap kedua orang yang mendapatkan perintah dari rajanya.
"Untuk Jenderal Giri, pergilah ke sekte Bukit Dewa, kabarkan berita hari ini dan minta mereka berhati-hati. Untuk Jenderal Gito, sebar mata-mata di seluruh kekuatan yang ada di Kerajaan Victoria, aku curiga ada kekuatan lain yang bekerja sama dengan vampire kecuali para bandit." Raja Dharma berhenti sejenak lalu menatap Tetua Rama. "Untuk Tetua Rama, sebarkan ke seluruh cabang Paviliun Bunga Mekar untuk memasok senjata berbahan perak sebanyak-banyaknya."
"Dimengerti, Yang Mulia!"
"Yang Mulia, hamba mohon undur diri untuk menjalankan tugas!" Tetua Rama meminta izin.
"Tunggu, Tetua! Bisakah kamu mengundang pemuda itu untuk datang ke kerajaan atas namaku?"
Tetua Rama tampak termangu sejenak untuk menimbang baik buruknya. Bagaimana pun, tidak ada yang bisa menyinggung Saka karena kekuatan di belakangnya tidak bisa dibayangkan. Tetua Rama yang sudah melihat sendiri sehingga ia tahu seberapa kuat orang yang ada di belakang Saka.
"Yang Mulia, hamba takut tidak bisa melakukan itu. Kabar terakhir yang saya dengar dari Adik Tama, Tuan Muda Saka sudah pergi dari Kota Tanica," jawab Tetua Rama dengan sedikit takut jika jawabannya kurang memuaskan rajanya.
Raja Dharma tampak tidak puas, tetapi ia juga tidak bisa menyalahkan Tetua Rama.
"Hah, sudahlah! Jika jodoh mungkin kita akan bertemu suatu saat nanti," ucap Raja Dharma dengan pasrah. "Baiklah Tetua, kau boleh pergi!"
*
Sementara itu, Saka dan Tigra terbang dengan kecepatan tinggi di atas Hutan Jurang. Hanya dalam waktu lima belas jam, mereka mulai melihat sebuah desa yang menjadi batas antara Kota Tanica dan Kota Rogo.
Namun, penampakan yang terjadi di desa itu membuat darah Saka mendidih penuh amarah.
"BAJINGAAAN!"
☆☆☆
Heii, aku baru inget kalau ada salah satu pembaca novel ini di platform sebelah yang nyaranin aku buat nulis novel ini di NT, katanya dia mau nyawer wkwkwkk
Hei kamu udah ada di sini belum? Coba angkat gigi!