
Mata Saka membelalak lebar mendengar misi dari sistem.
Ini adalah hal yang tidak biasa. Membuat pasukan terkuat di Alam Kultivator dengan kumpulan anak-anak dan lansia? Apa sistem sedang bercanda?
[Ding! Sistem tidak bercanda! Anak-anak adalah masa yang pas untuk membentuk pasukan yang hebat. Tuan juga bisa membeli macam-macam tipe fisik dari sistem yang akan membantu proses kultivasi pada anak-anak, sementara untuk yang tua, Tuan bisa menjadikan mereka pelayan di dunia cincin]
Mata Saka menyipit, menatap anak-anak yang tengah lahap menyantap hidangan di depannya. Semua anak-anak yang ada di sini belum ada yang berkultivasi, mungkin karena faktor ekonomi juga.
"Baiklah, Sistem! Karena ini misi darimu, maka aku akan membuat pasukan terkuat di Alam Kultivator." Saka tampak terdiam sejenak kala teringat anggota pasukannya saat di bumi. "Sistem, bisakah aku menamakan pasukanku nanti sebagai ... Pasukan Garuda?"
[Ding! Tuan bisa menamakan pasukan itu sesuka hati Tuan]
Bibir Saka melengkung ke atas. Sembari memberantas vampire di Alam Kultivator, ia bisa membentuk Pasukan Garuda yang akan menjadi pasukan terkuat di alam ini.
"Hmm, aku memiliki dunia cincin dan sumber daya melimpah, ini bukan hal sulit," gumam Saka lirih yang hanya mampu didengar olehnya sendiri. "Tapi aku membenci pengkhianat, sebaiknya aku memberikan mereka pil pengikat jiwa."
Saka tentu saja masih ingat dengan rentetan kejadian pengkhianatan dari orang terdekatnya, dan Saka tak ingin lagi menjadi naif. Sejauh ini hanya Orion, Sinta, Arunika, Tigra dan Gentala yang tak ia beri pil pengikat jiwa. Untuk Orion, ia percaya dengan sistem, untuk Sinta, Saka tak ada lagi keraguan, hanya Sinta yang selalu ada untuknya di setiap kondisi. Arunika masih terlalu kecil, sementara Tigra dan Gentala adalah ras suci yang menjunjung tinggi kesetiaan. Apalagi ia juga memiliki aura Penguasa yang bisa menekan para ras binatang suci.
"Sistem, beli satu juta pil pengikat jiwa!"
[Ding! Membeli satu juta pil pengikat jiwa seharga 100.000.000 poin sistem berhasil, pil berada di inventory]
Saka tersenyum puas.
"Baiklah sistem, tampilkan statusku!"
[Ding! Menampilkan status]
Nama : Arsaka Dirgantara
Status : Calon Penguasa Alam
Kultivasi : Ranah Saint⁷
Tipe Tubuh : Fisik Dewa Abadi
Ketrampilan Aktif :
- Tinju militer (max)
- Taekwondo (max)
- Snipper (max)
- Langkah angin (6/10)
- Harimau membelah gunung (3/10)
- Mata Dewa (2/10)
- Teknik Pedang Semesta
- Teknik Auman Naga
- Teknik Hukum, Ruang, dan Waktu
- Teknik Jari Setan
- Teknik Menyatu Alam
- Teknik Mata Ilusi
- Teknik Jejak Jiwa
- Teknik Tombak Penghancur Langit
Pekerjaan : - Master Array 3/10
- Master Alkemis 4/10
Elemen : Api Semesta, Cahaya,Angin, Es Semesta, Tanah, Logam, Petir
Energi mental : Jiwa Semesta
Ketrampilan Pasif :
Poin Pengalaman : 132/100M
Poin Sistem : 50.099 ps
Inventory : Senapan Steyr SSG 69, revolver, selengkapnya 》》
Versi Sistem : 2.0
"Ada tambahan elemen ternyata," gumam Saka sembari tersenyum tipis.
"Apa yang Sasa katakan?" tanya Alice saat mendengar gumaman lirih Saka.
"Tidak apa-apa, aku hanya sedang berpikir membuat pasukan dengan mereka."
Mata Alice menyipit, ia tak melihat keistimewaan dari orang-orang di hadapannya.
"Memang mereka tidak istimewa, tapi aku punya caranya," ucap Saka saat paham maksud tatapan dari Alice.
Alice hanya mengangguk patuh, percaya dengan apa yang diucapkan oleh Saka. Ia sendiri sudah menyaksikan berbagai kehebatan yang ditunjukkan oleh Saka sehingga tanpa sadar semua itu membuatnya tunduk secara mutlak, bahkan jika Saka menginginkannya mati, maka Alice tak akan ragu. Sejak ia selamat dari insiden itu, Alice sepenuhnya menyerahkan hidupnya kepada sang penyelamat. Bahkan jika nanti Saka ingin mencari wanita lain, Alice pun tak akan protes.
Sesaat kemudian, semua orang telah selesai makan. Wajah berseri-seri kini menyelimuti semua orang.
"Terima kasih untuk makanannya, Tuan Muda!" Seorang kakek tua yang pertama kali mendekati Saka lalu membungkuk sebagai tanda terima kasih.
"Sudahlah, Kek! Ini semua rejeki dari Sang Pencipta, saya hanya sebagai perantara saja," ucap Saka merendah.
Kakek tua itu tersenyum hangat melihat sikap Saka yang sopan dan rendah hati.
"Andai semua orang sepertimu anak muda, maka kita tidak akan seperti ini," gumam kakek itu dengan wajah sayu. Raut kesedihan tampak tak bisa disembunyikan.
"Memangnya apa yang sebenarnya terjadi dengan wilayah ini, Kek? Kenapa hanya ada anak-anak dan lansia?" tanya Saka penasaran.
Kakek tua itu menghela napas panjang. "Ini bermula dari dua minggu yang lalu, Sekte Bukit Tengkorak entah kenapa tiba-tiba saja membawa semua generasi muda yang ada di sini, jika ada yang menolak, langsung dibunuh di tempat, kami sudah lapor kepada Tuan Kota, tapi Tuan Kota bahkan tidak berani bertindak."
Saka terdiam, tetapi niat untuk membantaj Sekte Bukit Tengkorak semakin tinggi.
"Kakek, bagaimana kalau kalian semua ikut aku? Kalian akan tinggal di tempatku dan anak-anak ini bisa kuajarkan berkultivasi, aku akan membuat mereka menjadi kultivator kuat yang akan bisa melindungi keluarganya kelak."
Mata kakek tua itu berbinar. "Benarkah, Tuan Muda?"
"Tentu saja, Kek! Sebenarnya tujuanku ke sini ingin menghancurkan Sekte Bukit Tengkorak itu, jadi kalau nanti aku menemukan warga sini yang disekap, aku akan membebaskan mereka dan mempertemukan kalian."
"Nak Saka, terima kasih!" Rasa haru tak mampu ditahan oleh kakek tua itu.
"Tapi Kek ...." Ada jeda sejenak di ucapan Saka. "Aku tidak mau ada pengkhianatan, jadi aku akan memberikan pil pengikat jiwa kepada setiap orang yang mau mengikutiku, tapi aku tidak akan memaksa."
Kakek tua itu terdiam sejenak. Meski hanya berada di ranah Jenderal menengah, ia juga tak asing dengan pil pengikat jiwa, sama saja dengan menjadi budak.
"Aku tidak menolak, Nak! Selama kamu bisa menghancurkan setke terkutuk itu, mati pun aku rela," tegas kakek tua itu. Mata tuanya memancarkan ketegasan yang membuat Saka terkagum sejenak.
"Baiklah, Kek! Mari kita tanya mereka semua!"
Saka sekali lagi mengumpulkan semua orang. Ia mengatakan hal yang sama dengan yang ia katakan kepada kakek tua yang telah berdiri di sebelahnya. Meski sempat hening sejenak, saat Ren menyatakan persetujuan, semua orang ikut setuju. Saka pun membagikan pil pengikat jiwa kepada semua orang dibantu oleh Alice. Ibu Ren juga ikut.
Setelah semua selesai, Saka membuka pintu portal ke cincin dunia miliknya. Beberapa orang tampak terkagum melihat istana megah yang ada di hadapan mereka.
Saka dan Alice juga ikut masuk. Di depan sudah nenunggu Orion, Tigra, Gentala, Sinta, Arunika, Vega dan Venus.
"Semuanya, selamat datang di duniaku!" Saka membuka pembicaraan. Mengalihkan rasa terpesona semua orang dan kini terfokus pada Saka.
"Untuk para paman, bibi, kakek dan nenek, kalian bisa ikut berkultivasi atau pun menjadi pelayan di sini, sementara untuk anak-anak kalian akan aku ajarkan berkultivasi, apakah kalian mau?"
"Kami mau, Tuan Muda!" Jawaban penuh semangat terdengar dari barisan anak-anak.
"Baiklah, karena hari sudah sore, aku akan mempersiapkan hunian untuk kalian terlebih dahulu!"
Saka kemudian berjalan ke arah timur, berjarak satu kilo meter dari istana. Di hamparan padang rumput yang luas, Saka mulai membangun puluhan rumah yang setipe. Saka mengadopsi sistem perumahan selama ia di bumi. Jadi kompleks perumahan itu terlihat sangat rapi dan megah. Di dalamnya juga sudah lengkap dengan peralatan rumah tangga, bahkan ada kulkas yang berbahan bakar batu roh.
"Nah, ini tempat tinggal kalian, silakan pilih masing-masing dan istirahatlah! Besok datang ke istana, untuk para orang tua, temui ibuku dan beliau yang akan mengatur semuanya, untuk anak-anak, temui aku karena besok kita akan mulai belajar berkultivasi."
"Baik, Tuan Muda!"