Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Membebaskan Tawanan


"Makhluk jahat! Kembalikan anakku!"


"Bedebah! Kalian makhluk penghisap darah menjijikkan!"


"Kembalikan adikku!"


"Kalian sudah mengambil semua harta milikku, matilah!"


Semua penduduk desa melampiaskan kemarahannya kepada satu vampire yang sudah diikat dengan rantai perak. Kondisi vampire itu sangat memprihatinkan. Karena kekuatannya tersegel, kemampuan alami regenerasi vampire pun tak berguna. Bahkan dengan lembaran batu dari pada penduduk pun, akan membuat lecet dan mengalirkan darah.


"Semuanya, tolong hentikan!" Saka berdiri di depan sang vampire untuk menghentikan tindakan brutal para penduduk.


"Kenapa menghentikan kami, Tuan Muda! Vampire itu harus dihukum seberat-beratnya." Salah satu penduduk tidak terima.


"Tenanglah, aku juga tidak akan mengampuninya, tapi jangan sampai tindakan kalian justru membunuhnya, saat ini yang terpenting adalah mengetahui markas para vampire ini dan menyelamatkan kerabat kalian yang diculik." Saka dengan tenang berbicara. Kemarahan penduduk pun mulai mereda dan membenarkan ucapan Saka.


Melihat keadaan sudah terkendali, Saka pun berjongkok di depan sang vampire dan tersenyum miring.


"Kau sudah dengar 'kan? Sebaiknya kau bersikap patuh dan tunjukkan markas kalian di kota Tanica atau aku akan membuatmu merasa mati lebih baik daripada hidup."


Vampire itu bergetar sesaat, sebelum kemudian menggeretakkan gigi dan menatap Saka dengan nyalang.


"Jangan harap bisa mendapatkan sesuatu dariku, bahkan jika kamu menyiksaku," ucapnya dengan tatapan benci.


"Benarkah?" Kilat keemasan terlihat di mata Saka. Menggunakan mata ilusi, Saka masuk ke dalam jiwa vampire itu dan mengobrak abrik memorinya.


"Aarrghh! Apa yang kau lakukan padaku, Sialan!" Vampire itu menjerit kesakitan. Suaranya bahkan membuat para penduduk bergidik. Dari suara saja, mereka bisa membayangkan betapa sakit yang diderita sang vampire, padahal pemuda itu hanya diam dan menatapnya.


"Mencari jawaban dari pertanyaanku tentu saja, kau menolak memberitahu, maka aku mencari tahu sendiri." Saka menyeringai saat ia menemukan ingatan di mana markas para vampire itu berada. Namun, ekspresinya berubah menjadi datar dan tatapannya semakin tajam. Aura membunuh yang kuat menguar dari tubuhnya hingga membuat para penduduk mundur tanpa komando dengan tubuh menggigil ketakutan.


"Bedebah!" Usai melihat semua memori vampire di depannya, Saka langsung memenggal kepala sang vampire dan membakarnya. Aura membunuh masih menguar dari tubuhnya sehingga tak ada yang berani mendekat. Orion pun hanya terdiam menunggu perintah dari Saka.


"Kalian masuklah ke dalam rumah dan kunci pintu rapat-rapat. Jangan membuka pintu kecuali ada perintah dariku." Saka memandang para penduduk yang ketakutan. Tak menunggu dua kali, para penduduk itu masuk ke rumah masing-masing.


Saka kemudian membakar semua mayat vampire dan berjalan perlahan ke tempat Orion.


"Tutup matamu, Kak!"


Orion langsung menutup mata tanpa menunggu diperintah dua kali. Ia cukup trauma melakukan teleportasi dengan mata terbuka.


Dalam tiga hela napas, Saka meminta Orion membuka mata.


Lima ratus meter di depan, terlihat sebuah goa yang dijaga ketat oleh sekelompok orang yang berada di ranah Raja tingkat rendah.


"Siapa itu?" Salah seorang penjaga mengangkat pedangnya saat persepsinya menangkap kehadiran orang asing. Saka memang sengaja menunjukkan diri. Ia enggan berbasa-basi dengan makhluk yang begitu keji.


Duaaar!


Saka langsung melepaskan serangan api naga abadi miliknya sehingga kumpulan penjaga itu langsung menjadi abu tanpa sempat menjerit kesakitan.


Beberapa saat kemudian sosok-sosok yang lebih kuat bermunculan dari dalam goa.


"Siapa yang berani membuat kekacauan di daerahku!" raung salah satu vampire yang memiliki kultivasi ranah Langit tingkat delapan. Sepertinya, dia adalah pemimpin vampire di kota Tanica ini.


"Sejak kapan Alam Kultivator menjadi milik para vampire keji seperti kalian? Apakah Alam Nuvoleon telah kiamat?" Saka berucap santai sembari berjalan perlahan diikuti oleh Orion yang waspada.


Pemimpin vampire itu terkejut saat identitasnya diketahui, bahkan pemuda manusia di depannya ini mengetahui alam tempatnya berasal.


"Siapa kamu? Kenapa kamu mengetahui alamku?" tanya pemimpin Vampire itu dengan bingung.


"Siapa aku itu tidak penting, yang jelas tidak seharusnya makhluk seperti kalian berada di sini apalagi menjadikan manusia sebagai makanan." Suara Saka semakin memberat karena menahan emosi. Dari ingatan salah satu vampire di desa tadi, Saka menyaksikan sebuah peristiwa keji di mana para manusia yang diculik dijadikan sebagai makanan bagi para vampire, bahkan gadis-gadis akan digilir sebelum dihisap darahnya hingga kering. Benar-benar biadab!


Pemimpin vampire itu menyeringai. "Bukankah ini hukum alam? Manusia adalah makanan bagi para vampire, seperti hewan-hewan yang kalian pelihara sebelum kemudian kalian makan."


Saka langsung menggunakan elemen cahaya yang merupakan musuh alami bagi para makhluk kegelapan termasuk vampire. Jeritan kesakitan saling bersahutan bersama dengan semakin tebalnya cahaya yang menyelimuti goa. Beberapa vampire yang memiliki ranah kultivasi rendah, langsung lenyap tanpa menyisakan abu.


Pemimpin vampire yang kultivasinya lebih tinggi daripada Saka masih mampu bertahan dengan elemen kegelapan miliknya. Melihat itu, Saka melirik Orion. Seolah memahami maksud dari lirikan itu, Orion mengeluarkan elemen petir miliknya dan melilit pemimpin vampire hingga tak berkutik.


"Bajingaan! Jangan menggunakan elemen cahaya jika kau berani manusia sialan!" Pemimpin vampire itu meraung melihat satu persatu bawahannya lenyap di ketiadaan.


Saka tersenyum miring. "Aku terlalu malas untuk bermain. Jika ada yang lebih mudah kenapa aku harus susah payah bertarung denganmu?"


Aarghhh!


Pemimpin vampire itu menggunakan seluruh kekuatannya mencoba terlepas dari lilitan petir milik Orion. Namun perbedaan kekuatan mereka sangat besar sehingga energi milik vampire itu hanya terbuang sia-sia.


Lima hela napas kemudian, semua vampire lenyap menyisakan sang pemimpin yang berada dalam kondisi menyedihkan.


Saka mendekat ke arah pemimpin vampire dan menatap matanya lekat.


"Aarrghh apa yang kau lakukan?" jerit sang pemimpin vampire saat merasakan jiwanya tercabik-cabik.


Saka tak menjawab dan hanya fokus menggali semua memori pemimpin vampire itu. Semakin dalam Saka melihat, rasa geram dan marah semakin ia rasakan. Selesai melihat semua memori pemimpin vampire, Saka langsung membakarnya menjadi abu.


Saka langsung masuk ke dalam goa yang sangat gelap diikuti oleh Orion.


Lima ratus meter berjalan, Saka mendapati sebuah ruangan yang ditutupi sebuah batu besar.


Duaarr!


Aargh!


Batu besar itu hancur oleh pukulan Saka diiringi jeritan dari manusia yang ditawan para vampire.


"Huhu ... aku mau pulang, aku tidak mau di sini!"


"Tolong maafkan kami, kamu mau pulang!"


Berbagai permohonan dari orang-orang yang diculik membuat Saka menggeretakkan gigi menahan marah.


"Tenanglah, kalian aman sekarang!" ucap Saka sembari masuk ke dalam ruangan. Ruangan itu sangat kecil, hanya sekitar 2x4 meter yang berisi dua puluh tiga orang. Sangat sempit.


"Benarkah? Kita bisa pulang?" Seorang anak kecil berusia tujuh tahun memberanikan diri bertanya.


"Tentu saja, tapi besok pagi kita akan pulang. Sekarang sudah terlalu malam dan berbahaya jika kita memaksakan diri pulang. Ada banyak monster di hutan," ucap Saka dengan senyum menenangkan sembari mengelus rambut anak laki-laki itu dengan sayang.


"Tuan Muda, me-mereka vam-vampire!" Seorang gadis berwajah bulat yang berusia tiga tahun di bawah Saka mendekat dengan kaki yang gemetar.


"Tenanglah, kalian aman sekarang! Vampire-vampire itu sudah mati."


"Tapi ada para bandit yang bekerja sama dengan mereka."


Saka tetap tersenyum. "Aku janji, kalian akan pulang dengan selamat. Jangan pikirkan hal yang lain. Apa kalian sudah makan?"


Para tawanan itu menggeleng. Meski mereka diberi makan pun, nafsu makan mereka sudah menghilang entah kemana. Apalagi saat melihat rekan dan saudara mereka yang mati mengering di tangan para vampire.


Saka kemudian membeli burger dan cola dari sistem, sementara untuk anak kecil, Saka membeli susu.


Makanan aneh yang baru pertama kali mereka lihat itu pun membuat mereka takjub dan sekejap lupa dengan rasa takut yang meneror mereka selama menjadi tawanan pada vampire.


Suasana kemudian mencair, para tawanan mulai bisa bercerita dan bercengkerama, hingga merasakan sekelompok orang terdeteksi oleh persepsinya.


"Makanlah dengan pelan, jika kalian masih lapar, bilang saja! Aku akan keluar dulu!" pamit Saka yang kemudian menghilang dengan cepat.


"Hilang begitu saja?" Para tawanan itu tercengang.