Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Memulai Penyerangan 2


Setelah memasang array untuk memastikan tak ada yang bisa kabur, Saka kembali ke tempat Alice dan yang lain berada. Ia juga mengeluarkan semua Pasukan Garuda. Terlihat sangat lucu di mana pasukan milik Saka terdiri dari remaja dan anak-anak, tapi memiliki aura intimidasi yang kuat.


"Pasukanku, apakah kalian siap?" tanya Saka begitu melihat tatapan membunuh yang dilayangkan oleh pasukannya.


"Siap, Tuan!"


"Serang!"


Boomm!


Semua Pasukan Garuda, bersama dengan Vega, Venus dan Alice merangsek maju ke dalam sekte setelah menghancurkan gerbang. Kedatangan mereka pun disambut dengan serangan semua murid dan beberapa tetua yang langsung berhadapan dengan Alice dan Ren.


[Selamat Tuan, telah membunuh kultivator ranah Jenderal, mendapatkan 1 poin pengalaman]


Saka tertegun, padahal ia belum membunuh siapa pun.


"Sistem, apakah aku mendapatkan poin pengalaman dari orang yang dibunuh pasukanku?" tanya Saka saat notifikasi terus berdering bersamaan dengan pasukannya yang terus membunuh musuh.


[Ding! Benar Tuan, Tuan akan mendapatkan poin dari setiap makhluk yang dibunuh oleh pasukan Tuan]


Saka mengamati pertempuran itu dengan tenang di udara. Sayap garuda emas miliknya mengembang lebar. Jubah putih, rambut perak dan mata emas, keberadaan Saka terlihat begitu agung membuat Pasukan Garuda menjadi lebih semangat karena tak ingin mengecewakan tuan mereka.


"SIAPA YANG BERANI MENYERANG SEKTEKU?"


Beberapa orang dengan aura yang lebih kuat mendekat. Saka memicingkan matanya melihat empat orang laki-laki dan seorang perempuan paruh baya juga melayang di atas sekte. Sepertinya mereka adalah para petinggi Sekte.


"BAJINGAN! KALIAN SUDAH MEMBUNUH MURID SEKTE BUKIT TENGKORAK, KALIAN HARUS ... MATI!"


Sebuah serangan energi ranah Langit tingkat delapan diarahkan kepada Pasukan Garuda yang terlihat mendominasi pertempuran. Namun sebelum serangan energi itu mengenai pasukan, sebuah black hole tiba-tiba muncul dan menelan serangan energi itu hingga hilang tak tersisa.


"Sebaiknya kalian diam saja jangan ikut campur," ucap Saka yang kemudian keberadaannya baru disadari oleh mereka.


Tatapan terkejut tak bisa disembunyikan  oleh mereka. Melihat manusia yang mempunyai sayap dengan aura agung yang seolah memaksa mereka untuk berlutut.


"Siapa kamu? Apa tujuanmu menyerang sekteku?" Patriak Sekte Bukit Tengkorak bertanya dengan hati-hati. Entah kenapa hatinya gelisah dan merasa terancam melihat tatapan tenang milik Saka.


"Aku? Aku adalah pemilik Pasukan Garuda, Arsaka Dirgantara. Ingat namaku baik-baik sebelum bertemu dengan Dewa Kematian dan sampaikan salamku padanya," ucap Saka sebelum sesaat kemudian empat orang lainnya terjatuh dengan lubang di keningnya. Tersisa patriak sekte yang menatap Saka dengan ngeri. Ia tak tahu bagaimana para tetua sektenya itu mati dengan lubang di dahi. Ia tak merasakan fluktuasi energi dan tahu-tahu mereka terjatuh lalu mati.


"Nah, tersisa dirimu. Aku tidak mau bertele-tele dan suruh semua vampire yang bersembunyi itu agar keluar atau aku akan membakarnya dengan apiku," ancam Saka.


Wajah patriak itu tampak jelek. Ia merasakan firasat buruk mendengar tentang rahasia sektenya yang terungkap dengan jelas.


"Nak, terkadang rahasia harus menjadi rahasia, kalau kamu terlalu banyak tahu, maka kamu harus mati!"


Seolah sudah lupa dengan bagaimana para tetuanya mati, patriak Sekte Bukit Tengkorak menyerang Saka dengan kekuatan penuh. Sementara yang diserang tetap diam dengan raut tenang. Saka hanya melambaikan tangan dan serangan energi yang sangat besar menyapu patriak sekte yang sebentar lagi mencapai Saka hingga terpental menabrak bangunan sekte.


Uhuk!


Seteguk darah dimuntahkan oleh Patriak Sekte yang merasakan organ dalamnya terluka parah.


"Sial, bagaimana mungkin dia sangat kuat di usianya yang bahkan belum menginjak dua puluh tahun? Apa dia bukan dari alam ini?" gumam Patriak Sekte sembari berusaha berdiri tegak menatap Saka dengan waspada. Sekeras apa pun ia berpikir, ia sama sekali tidak bisa menebak sekuat apa pemuda bersayap yang masih melayang dengan tenang di atas sektenya.


"Pak Tua, aku apakah kamu akan mati-matian membela makhluk busuk penghisap darah itu?" tanya Saka sekali lagi.


Tak berapa lama kemudian, muncul seseorang berjubah hitam berdiri di depan Patriak Sekte.


"Tuan Armaro, tolong bantu sekteku!"


Saka menyeringai menatap vampire di depannya.


"Ranah Immortal tingkat lima? Terlalu buruk," gumam Saka sembari menjentikkan jari lalu array ruang dan waktu membatasi pergerakan dari Vampire Armaro.


"Ini buruk," kata Armaro saat merasakan kekacauan ruang dan waktu di sekitarnya. Sedikit saja bergerak, ia akan musnah tersedot kekacauan ruang dan waktu.


"Tu-tuan Armaro, apa yang terjadi?" tanya Patriak Sekte saat melihat vampire yang ia panggil justru tak bisa bergerak dan wajahnya yang pucat semakin menjadi.


"Dasar bodoh! Siapa sebenarnya yang kamu singgung bajingan! Bukankah aku sudah mengatakan untuk tidak melakukan pergerakan besar karena keberadaan kaumku yang sudah diketahui? Tunggu sampai portal teleportasi sempurna dan pasukan elit kami bisa ke sini, Dasar Bodoh!"  Armaro meraung penuh amarah menatap Zuki, sang Patriak Sekte Bukit Tengkorak yang kini gemetar ketakutan. Ia seolah bisa melihat akhir dari sekte yang sudah dipimpinnya selama puluhan tahun.


Saka menatap kedua orang di depannya dengan malas. Ia juga memantau pertempuran pasukannya yang bertempur dengan sangat baik. Hampir setengah dari seluruh murid sudah mati di tangan Pasukan Garuda.


Senyum tipis tampak di sudut bibirnya. Namun, senyumnya menghilang saat melihat  kedua orang itu masih saja berdebat.


"Hoi, idiot! Bisakah kalian diam?" bentak Saka lalu menjentikkan jari dan kepala Zuki pun berlubang. Hanya dalam satu hela napas, Patriak Sekte mati tanpa sempat melawan.


Saka kemudian menatap Armaro yang tengah gelisah.


"Kenapa? Apa kamu takut?"


"Cih, lepaskan aku! Kita bertarung secara jantan kalau kamu berani! Jangan jadi pengecut!" Armaro mencoba memancing emosi Saka.


Namun, harapannya sirna saat Saka justru tersenyum. "Kenapa? Kamu berharap aku terpancing? Maaf saja aku bukan ikan," jawab Saka dengan kekehan geli.


Armaro tampak kehabisan akal. Ia tak bisa bergerak bebas lantaran array ruang dan waktu yang mengurungnya.


Saka yang tak ingin membuang waktu juga langsung menggunakan mata ilusi untuk membaca semua ingatan dari Armaro. Dengan kultivasinya yang sudah berada di ranah Immortal, pasti posisi Armaro lebih tinggi daripada pemimpin yang ada di kota Tanica.


"Hmm, jadi begitu," gumam Saka setelah selesai membaca memori milik Armaro.


"Jika tidak segera dihentikan, maka Alam Kultivator akan jatuh ke dalam kekacauan. Aku tidak mengira jika Kerajaan Victoria adalah markas terakhir mereka. Bahkan di dua kerajaan lain para vampire dibantu dengan iblis sudah terang-terangan beraksi," lanjut Saka dengan wajah rumit.


Menghela napas berat, Saka kemudian menjentikkan jari. Api semesta seukuran kelereng melesat dan menghanguskan Armaro menjadi debu.


Saka kemudian menyebarkan persepsinya untuk menemukan persembunyian para vampire. Ia akan mempercepat proses penyerangan Sekte Bukit Tengkorak karena masih banyak hal yang harus ia lakukan setelah membaca semua memori milik Armaro.


Duaarr!


Tanpa ampun, Saka membobardir tempat persembunyian para vampire hingga mereka tak ada pilihan lain kecuali keluar. Bahkan saat keluar jika mereka tidak mati kepanasan, maka akan mati karena Saka. Usai dengan para vampire, Saka juga mendatangi portal yang digunakan oleh para vampire dan menghancurkannya.


Penyerangan itu berlangsung selama tiga jam hingga tak ada lagi aura kehidupan yang terasa. Setelah memasukkan Pasukan Garuda, Vega dan Venus kembali ke dunia cincin, Saka mengepakkan sayapnya, menyapu seluruh bangunan Sekte Bukit Tengkorak hingga rata dengan tanah.


Saka dan Alice kemudian melesat pergi. Setelah kepergian keduanya, tampak seorang laki-laki paruh baya keluar dari persembunyiannya, menatap area sekte yang hancur lebur sembari menarik napas dingin.


"Kekuatan yang luar biasa."