
Suasana mencekam menyelimuti tiga orang yang kini tengah duduk di meja makan.
"Cepat katakan! Siapa yang memiliki Api Naga Abadi ini?" Pertanyaan kedua dilontarkan Gentala saat mendapati Saka hanya terdiam.
Bukannya Saka tak ingin menjawab, tapi kini imajinasi Saka dipenuhi dengan tebakan liar yang cukup mencengangkan. Saka terbangun dari imajinasi liarnya saat tekanan aura membuat tubuhnya terasa berat. Saat itulah ia melihat Gentala yang terbiasa menendang bokongnya dengan wajah kesal terlihat begitu serius dengan pandangan tajam.
"Ehm! Paman, api itu milikku, apakah ada yang salah?" tanya Saka sembari mengeluarkan Api Naga Abadi dari tangannya.
Gentala yang melihat Api Naga Abadi secara alami berlutut.
"Yang Mulia!"
Sontak saja perbuatan Gentala membuat Sinta dan Saka terkejut.
"Paman, apa yang kau lakukan?" tanya Saka dan dengan cepat menarik Gentala agar berdiri. Namun seolah dipaku dengan tanah, Gentala tak bergerak meski seinci.
Semua bermula saat Saka dan Gentala sudah kelelahan bermain tendang bokong. Gentala yang merebahkan diri di lantai akhirnya menyadari api naga abadi yang menjadi penerangan di dalam goa. Kegembiraan dan rasa haru membuat tubuhnya gemetar. Ia kemudian mendesak Saka untuk bertanya siapa pemilik api naga abadi ini.
"Paman, apa yang terjadi?" Karena tak bisa membuat Gentala bangkit padahal sudah mengerahkan banyak tenaga, Saka hanya bisa bertanya.
"Yang Mulia! Maafkan bawahanmu yang berani bertindak lancang! Hamba siap dihukum!"
Tak mempedulikan pertanyaan Saka, Gentala tetap dalam posisinya dengan kepala yang semakin menunduk.
Saka menghela napas panjang. "Sistem apa yang terjadi?"
[Ding! Di Alam Primordial, Api Naga Abadi adalah entitas yang memilih Raja Naga. Siapa pun yang diakui oleh Api Naga Abadi, maka orang itu yang akan menjadi raja selanjutnya dan para naga akan takhluk tanpa syarat kepada pemilik Api Naga Abadi]
Saka membatu, jika seperti itu, bukankah ia yang menjadi Raja Naga selanjutnya?
"Paman, berdirilah! Ini perintah!" Mendengar itu, Gentala langsung berdiri tanpa membantah.
Di tempatnya, Sinta masih tak bisa mempercayai peristiwa yang dilihatnya. Bagaimana mungkin, sosok pemuda yang menjadi anaknya tiba-tiba dipanggil Yang Mulia.
"Ap-apa maksudnya?" Sinta tergagap.
Saka menghela napas sekali lagi. "Bu, sebenarnya Paman Gentala adalah naga dari Alam Primordial."
Wajah Sinta semakin aneh, ia tak bisa mengontrol ekspresi bodohnya saat mendengar ucapan Saka.
"Saka, ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda bukan?"
Saka mendengkus. Tidak akan ada yang percaya jika tidak ada bukti.
"Paman, berubahlah menjadi naga, tapi versi mini, bisa kan?"
Tanpa bantahan, Gentala merubah dirinya menjadi seekor naga versi kecil, hanya sebesar paha orang dewasa. Namun meski begitu, Sinta tetap saja terkejut, ia hampir terjengkang jika tidak ditangkap oleh Saka.
"Bagaimana, Bu? Sudah percaya bukan?" tanya Saka dengan sedikit ekspresi geli melihat respon dari Sinta.
"Ba-ba-bagaimana bisa?" Seumur hidup Sinta, naga hanya menjadi cerita turun temurun dan tidak pernah melihat wujud sebenarnya.
"Paman, kembalilah!"
Gentala kemudian kembali berubah menjadi manusia.
"Ceritanya sangat panjang, Bu! Nanti ibu akan mengerti sendiri sambil berjalannya waktu. Petualangan kita masih sangat panjang," ucap Saka dengan senyuman.
Sinta hanya mengangguk kaku. Meski masih sangat penasaran, ia juga merasa tak sanggup lagi menerima kejutan lain.
"Ibu, setelah ini kita akan pergi ke ibukota kerajaan. Ada hal yang harus aku selidiki."
Sinta mengangguk saja. Ia sudah mempercayakan hidup sepenuhnya kepada Saka.
"Pergi ke mana, Saka? Apakah ibu tidak bisa pergi denganmu saja?" tanya Sinta dengan panik.
"Jangan panik, Bu! Ibu hanya pergi ke sini." Saka menunjuk cincin di tangannya. "Ini adalah dunia cincin. Energi di sana lebih banyak daripada di dunia luar. Ada buah persik abadi juga yang akan menambah kekuatan jiwa kita. Jadi ibu bisa berkultivasi sepuasnya di sana. Akan ada Raden dan Alisha yang melayani semua kebutuhan ibu."
"Mereka di sana?" Kilat keterkejutan muncul di mata Sinta.
Saka tersenyum tipis lalu mengangguk.
"Baiklah, Paman Gentala juga sebaiknya ikut ke dalam!"
"Baik, Yang Mulia!"
Saka mendesah, ia sedikit tidak nyaman dengan perubahan sikap Gentala. Bukan berarti ia suka bokongnya ditendang, tetapi sikap formal dari Gentala seolah menciptakan dinding tebal di antara mereka.
"Paman, bisakah memanggilku seperti biasa? Aku tidak nyaman berbicara formal dengan paman seperti ini, dan lagi tawaran menikah dengan ibuku masih berlaku."
Plakk!
Tangan Sinta melayang menepuk pantat Saka dengan keras.
"Aduh, Bu! Kenapa kau ikut-ikutan menganiaya bokongku?" keluh Saka dengan wajah memelas. "Kalian berdua memang pasangan yang cocok, suka sekali menganiaya bokong semokku."
Gentala memutar bola matanya. Melihat Saka yang bercanda seperti itu, Gentala mulai bisa bersikap biasa. Meski masih sangat berhati-hati, tetapi kekakuan itu mulai mencair.
Usai dengan perdebatan tanpa arti, Saka segera membawa Sinta dan Gentala ke dunia cincin. Ekspresi takjub tak bisa disembunyikan oleh Sinta, sementara Gentala yang sudah akrab dengan istana pun tak memberi reaksi berlebihan. Ia hanya terkejut saat merasakan kekentalan energi yang berlipat ganda dibanding dunia luar.
"Ibu bisa memilih kamar sendiri di Istana itu. Di belakang istana ada danau tempat Paman Gentala bersembunyi sebelumnya. Di sebelah danau ada pohon persik abadi. Ibu bisa memakannya secara berkala untuk meningkatkan kekuatan jiwa ibu. Aku akan membuat formasi untuk mempercepat waktu di dunia cincin ini sehingga ibu akan mempunyai banyak waktu berkultivasi." Saka terus menjelaskan keadaan di dunia cincin dan memastikan ibunya nyaman. Saka juga menyerahkan beberapa pil peningkat ranah dan penguat pondasi, sementara untuk Gentala, Saka memberikan tambahan pil penyembuhan. Sejak pertama bertemu, Saka sudah menyadari luka dalam milik Gentala yang belum sembuh sepenuhnya.
Setelah selesai mengatur segala sesuatu, Saka memetik beberapa buah persik abadi dan menyimpannya di cincin penyimpanan.
"Aku harus segera menaikkan kekuatan mental dan jiwaku agar bisa merobek ruang," gumam Saka.
Ia juga membuat formasi yang mengatur waktu dunia cincin. Satu bulan di dunia cincin, sama dengan satu minggu di dunia nyata.
"Nah, beres! Saatnya menjemput Alice dan Kak Rion!"
Saka kemudian muncul kembali di dalam goa dan mendapati Alice serta Orion yang tengah berkultivasi formasi gravitasi.
Saka tersenyum tipis, tetapi tidak mengganggu kultivasi mereka. Ia justru sibuk memanen semua eliksir yang ada di dalam goa hingga tak tersisa. Semuanya ia pindahkan ke dunia cincin dan memberikan perintah kepada Raden dan Alisha untuk menanamnya di kebun yang sudah ia ciptakan.
"Tuan Muda!" sapaan Orion mengakhiri kegiatan Saka memanen eliksir bersamaan dengan lahan yang kini kosong melompong.
"Kak Rion, kita akan pergi sebentar lagi. Tolong bangunan Alice!"
"Baik, Tuan Muda!"
Saka kemudian mendekat ke arah Orion dan Alice yang baru saja menghentikan kultivasinya.
"Kita mau ke mana, Kak?" tanya Alice begitu melihat keadaan goa yang kosong. Saka memang membawa semua perabotan yang ada di dalam goa. Meski memiliki yang lengkap di dunia cincin, tapi Saka tidak bisa mengekspos dunia cincin begitu saja kepada dunia luar.
"Kita pergi ke ibukota kerajaan. Sebelum itu, aku akan mengantarmu ke suatu tempat, di sana sudah ada ibuku. Kau bisa berkultivasi dengan nyaman. Jangan berhenti sebelum mencapai ranah Bumi."
Alice sedikit memberengut, ia sebenarnya ingin menemani Saka dalam perjalanan.
"Menurutlah! Akan ada hadiah besar jika kamu sudah mencapai ranah Bumi." Saka mengusap rambut Alice dengan pelan.
Alice yang menerima perlakuan lembut Saka pun tersipu dan mengangguk.
"Kita langsung pergi, Tuan Muda?" tanya Orion setelah tersisa mereka berdua.
"Kita ke suatu tempat dulu, aku harus menepati janji," ucap Saka lalu memegang pundak Orion dan melakukan teleportasi.