
Embun masih membasahi dedaunan saat rombongan Saka mulai bergerak perlahan menyusuri hutan kembali ke desa. Jarak tempuh lumayan jauh, sekitar tiga puluh kilometer dari Desa Pringku, membutuhkan waktu hampir satu hari penuh di jalan.
Saat rombongan sampai di gerbang desa, rombongan Saka berhenti sejenak karena gerbang desa yang tertutup rapat tanpa penjaga. Saka tersenyum tipis saat ucapan terakhirnya benar-benar diikuti oleh para penduduk.
"Buka gerbangnya, kami kembali." Suara Saka menggema ke seluruh desa, tak butuh waktu lama, gerbang terbuka dengan para penduduk yang mulai berkerumun.
Saat pintu gerbang terbuka lebar, pemuda dan pemudi yang berada di belakang Saka langsung menghambur ke keluarga masing-masing. Tangis haru menghiasi gerbang desa di sore hari. Namun, beberapa keluarga yang tidak mendapati sanak saudara mereka kembali, hanya mampu menangis pilu.
Saka hanya mampu menatap mereka dengan pandangan tak berdaya. Tangannya mengepal kuat dan bertekat untuk memberantas semua vampire di Alam Kultivator.
"Tuan Muda, terima kasih sudah menyelamatkan generasi muda di desa kami." Kepala Desa adalah orang pertama yang bisa menenangkan diri, langsung mendekat ke tempat Saka dan membungkuk dengan khidmat.
"Terima kasih, Tuan Muda!" Gerakan Kepala Desa diikuti oleh para penduduk desa, sementara sepuluh orang yang di belakang Orion dan Saka hanya mampu mengusap air mata. Mereka mulai merindukan keluarga.
"Sama-sama, ini juga kewajibanku menolong sesama yang membutuhkan," ucap Saka dengan senyum lembut. Orion yang melihat senyum Saka hanya berdecak di dalam hati. Sikap ini sangat berbeda dengan Saka saat berada di hadapan musuh.
"Tidak, Tuan Muda! Ini adalah sebuah bantuan besar yang mungkin tidak akan bisa kita balas," ucap salah satu penduduk yang anggota keluarganya kembali dengan utuh.
"Tidak masalah, kalian bisa membalasnya dengan meningkatkan kekuatan agar peristiwa seperti ini tidak terjadi lagi." Saka kemudian menatap cakrawala yang mulai membiaskan cahaya orange. "Hari sudah menjelang malam, sebaiknya kita bergegas masuk dan mengunci gerbang."
"Ah, Tuan Muda benar! Mari, mari kita masuk! Kita harus menyiapkan jamuan untuk Tuan Muda!"
Semua orang masuk ke dalam gerbang termasuk sepuluh pemuda pemudi yang berasal dari desa lain. Mereka terpaksa menahan rasa rindu karena tidak mempunyai cukup keberanian untuk pulang sendiri.
Saat semua orang sudah masuk, gerbang desa ditutup rapat dan dikunci. Saat itu, persepsi Orion dan Saka menangkap sekelompok orang tengah mendekat ke arah desa.
Orion dan Saka saling pandang, kemudian melihat Kepala Desa yang tengah berhenti karena melihat keduanya juga berhenti berjalan.
"Ada apa, Tuan Muda?" tanya Kepala Desa dengan heran.
"Ada sekelompok orang yang sedang mendekat ke desa ini. Kalian pulanglah ke rumah masing-masing. Aku dan Kak Rion yang akan memastikan kedatangan mereka."
Beberapa penduduk desa yang mendengar itu ketakutan. Sepertinya rasa trauma saat mendapat kunjungan dari tamu tak diundang masih mereka rasakan.
"Jangan takut, selama aku ada di sini, tidak ada yang bisa menyakiti kalian. Sebaiknya kalian segera pulang dan istirahat." Saka kemudian menatap Kepala Desa. "Paman, bisakah aku menitipkan teman-teman dari desa lain ini? Tolong dijamu dan berikan tempat istirahat. Karena hari sudah sangat malam, aku baru bisa mengantar mereka besok."
"Tidak masalah, Tuan Muda! Kami akan memberikan yang terbaik untuk menjamu mereka."
"Jangan memaksakan diri, yang penting layak."
Saka dan Orion kemudian melesat ke depan gerbang, menunggu orang-orang yang sebelumnya terdeteksi oleh persepsi keduanya.
*
Sementara itu tak jauh dari Desa Pringku, dua puluh orang dengan ranah terendah di ranah Jenderal menengah tengah berjalan dengan kecepatan yang stabil menuju arah desa.
"Sebelum matahari terbenam seharusnya kita sudah sampai di Desa Pringku. Ayo! Percepat langkah kalian!" Seseorang yang berada paling depan memberikan semangat melihat beberapa orang sudah tampak lelah.
"Benar, sebelum malam dan klan darah berkeliaran." Yang lain menyahut.
Rombongan itu kemudian semakin bersemangat dan berjalan lebih cepat. Namun, baru beberapa kilo berjalan, orang yang berada paling depan menghentikan langkah, keningnya berkerut saat merasakan kedatangan orang lain selain mereka.
"Waspada! Ada seseorang datang!"
Tampak di depan mereka dua orang pemuda tengah melayang mendekat.
"Sial, keduanya berada di ranah Langit," bisik seseorang kepada temannya.
"Bagaimana ini? Yang berada di ranah Langit hanya Komandan," sahut yang lain dengan ekspresi cemas.
"Tuan-Tuan! Sekiranya hal apa yang membuat Tuan berdua ini mendatangi kami?" Laki-laki paling depan yang berposisi sebagai Komandan menyapa.
Kedua pemuda yang tak lain adalah Saka dan Orion pun tersenyum melihat kedatangan prajurit Istana Kota.
"Tuan Prajurit semuanya, tidak usah khawatir, kedatanganku kemari hanya ingin memastikan jika kedatangan kalian tidak membahayakan penduduk Desa Pringku," sahut Saka sopan.
Mendengar jawaban Saka, semua Prajurit tanpa sadar menghela napas lega, seolah baru saja lepas dari maut.
"Tuan-Tuan, kami diutus oleh Tuan Kota untuk menyisir seluruh wilayah kota termasuk pelosok desa untuk menemukan markas para bandit dan klan darah, tapi karena hari sudah hampir malam, kami memutuskan untuk singgah di Desa Pringku dan melanjutkan perjalanan besok pagi." Komandan Prajurit itu menjelaskan saat tak mendapati potensi mengancam dari dua pemuda asing di depannya.
Saka hanya mengangguk saja. "Kalau begitu, mari kita ke desa. Para penduduk pasti akan merasa lebih aman jika ada prajurit kota di antara mereka," ajak Saka yang langsung diangguki oleh semua Prajurit.
Benar saja, begitu rombongan para prajurit kota masuk ke desa, para penduduk sangat bahagia. Mereka mulai mempersiapkan pesta penyambutan yang akan dilakukan malam ini. Malam sangat terang, dan Desa Pringku sedang sangat sibuk.
Saat ini, Saka bahkan tak diijinkan untuk membantu. Ia hanya duduk di balai desa sembari menguap bosan sesekali.
"Tuan Muda, tidak adakah yang bisa kita lakukan?" tanya Orion. Sepertinya pemuda itu sudah sangat bosan hanya duduk termenung.
"Memangnya apalagi yang bisa kita lakukan? Mereka semua melarang kita untuk membantu," jawab Saka dengan tak berdaya.
"Tuan Muda, apakah kau masih punya makanan pedas itu?" Pertanyaan Orion merujuk pada permen mint yang ia makan setelah sempat mabuk akibat teleportasi dengan mata terbuka.
"Ini?" Saka mengeluarkan dua bungkus besar permen mint. Pada saat ini, sang Komandan Prajurit mendekat. Ia melihat bungkus permen mint itu dengan pandangan heran. Apalagi dengan tulisan yang tak ia mengerti.
"Ini makanan pedas, Komandan! Apa Komandan mau?" Orion menyodorkan satu biji permen mint yang diterima oleh Komandan dengan heran.
Seperti yang pernah dilakukan oleh Orion, Komandan itu memasukkan permen beserta bungkusnya.
"Rasanya sangat aneh."
Saka merasa tertekan, ini adalah kedua kalinya setelah Orion.
"Bungkusnya dibuka dulu, Komandan!" Dengan sabar, Saka memberi contoh.
"Nah, sebaiknya Komandan bagikan saja kepada para penduduk desa, lumayan sebagai camilan sembari menunggu semua makanan matang," ucap Saka sembari memberikan sisa permen kepada Komandan.
Sang Komandan yang sudah merasakan enaknya makanan kecil di tangannya ini pun girang dan memanggil semua bawahannya untuk membantu membagikan permen kepada para warga.
"Hmmm, penduduk desa ini sepertinya sangat mahir di bidang kuliner. Baunya sangat harum, membuatku lapar," gumam Saka lirih. Namun, dua detik kemudian matanya membelalak.
"Kak Rion, berjaga di sini. Jika ada yang bertanya, jawab saja jika aku akan keluar sebentar."
"Tuan Muda mau ke mana?"
"Menjenguk Alisha dan Raden. Aku lupa kalau mereka sudah menjadi manusia biasa dan aku tidak memberi mereka makan selama dua hari, hehe!" Sambil menyengir, Saka kemudian menjentikkan jari dan dirinya berpindah ke dunia cincin.